A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Ijin Menikah 2



Tampak di ruangan keluarga Sean masih dengan santai berbincang dengan Om Donald dan yang lainnya.


"Sudah selesai? Aku mau ke tempat Santo sebentar setelah itu kita ke Rutan tempat wanita itu di tahan" Ucap Linny menengahi pembicaraan semuanya.


Nicolas menatap heran pada Linny yang masih mau mengunjungi wanita iblis yang tak lain tak bukan adalah ibu kandung mereka.


"Untuk apa ke sana. Dia bukan siapa-siapa kita lagi Kak"  Ucap Nicolas tidak suka Linny bertemu dengan Sisca Natalie.


"Untuk membuat dia semakin menyesal. Kau tenang saja. Kalau kau tidak mau menemuinya maka aku akan antarkan kau pulang dulu"  Ucap Linny pada Nicolas.


Ayu menggenggam tangan Nicolas dan menggeleng agar Nicolas tidak begitu mengikuti ego dan emosinya.


"Tidak apa-apa. Aku ikut Kakak saja"  Ucap Nicolas.


Mereka pun berpamitan pada Om Donald dan segera menuju rumah Wisnu Negara.


Tidak banyak yang mereka bicarakan selain Linny menyerahkan sendiri undangan pernikahannya pada Wisnu Negara. Dia sangat menghormati pria hebat itu.


Setelahnya mereka menuju rumah Santo Wisnu Negara karena ada yang ingin Linny bicarakan juga dengan Santo.


Tiba di sana mereka di sambut oleh Shinta dan Sania - Kakak kandung Santo yang kebetulan ada di rumah Santo.


Linny pun turut mengundang Shinta dan Sania ke acara pernikahannya. Mereka duduk di ruang tamu dan berbincang.


Linny diam-diam menghubungi Santo dan mendapati Santo sedang di paviliun rahasianya di taman belakang.


Linny segera berjalan menuju paviliun dan melihat Celly - Kekasih Santo berjalan perlahan mendekati paviliun.


Dia tampak penasaran dan heran dengan paviliun yang tak pernah digunakan itu.


"Kau untuk apa kemari?"  Tanya Linny dengan nada datar dan dingin.


Celly terkejut melihat Linny yang tiba-tiba di belakangnya.


"Ah tidak. Tadi aku mendengar suara di dekat sini"  Ucap Celly terkejut.


Linny menatap mata Celly dan mencari kebohongan dari perkataan gadis itu. Tapi tampaknya gadis itu jujur.


"Suara apa?"  Tanya Linny.


"Suara seperti minta tolong"  Ucap Celly jujur.


Linny cukup terkejut. Dia yakin Santo sedang menyekap seseorang. Tapi terlalu ceroboh. Celly yang tidak tau siapa Santo akan sangat terkejut jika tau siapa sesungguhnya kekasih yang sangat dia cintai itu.


"Kau salah dengar. Jangan sembarang memasuki area yang di larang"  Ucap Linny terdengar dingin.


Tak lama Pak Agung - Pegawai setia Santo mendekati mereka.


"Ada apa ini Nona-Nona?"  Tanya Pak agung.


Dia memang di tugasi memperhatikan Celly di rumah itu dan mencegahnya mendekati ruangan rahasia Santo.


"Awasi Nona mu dengan baik Pak Agung"  Ucap Linny dengan menekan perkataannya.


Pak Agung tau siapa Linny. Dia tak jauh beda tingkat kekejamannya seperti Tuan Muda yang dia layani, tapi Linny versi yang waras. Sedangkan Santo versi gilanya.


"Maaf. Ah, Nona Celly. Ayo kita ke dalam. Sudah waktunya menyiapkan keperluan Tuan Santo, tadi Tuan berpesan ingin makan masakan Nona"  Ucap Pak Agung beralasan.


Celly hanya mengangguk meskipun sesekali dia masih menatap ke arah paviliun dan Linny dengan heran. Seolah Linny tau tentang paviliun itu.


Linny mendekati salah satu sudut rahasia dan membukanya. Terlihat tangga menuju ruang bawah tanah. Bau anyir cukup tajam di tempat itu.


Linny melihat seorang pria dan seorang wanita sedang di siksa dengan kejam di sana.


"Loh Linny?"  Ucap Santo terkejut melihat Linny datang ke sana.


Linny memang mencarinya melalui pesan WhatsApp tadi, tapi dia tidak tau Linny ada di rumahnya itu.


"Kau harus berterima kasih padaku. Hampir saja kekasih mu yang polos itu tau tempat ini"  Ucap Linny.


"Apa??" Santo terkejut.


"Hati-hati dengan tindakan mu. Kau tau dia murid cerdas tapi kau ceroboh!"  Ucap Linny menegur Santo.


"Terima kasih. Akan aku urus itu. Si Agung tidak becus menjaganya"  Ucap Santo geram.


"Bukan Agung yang harus kau hukum. Tapi peringatkan kekasihmu agar tidak melewati batasan. Entah lah aku merasa dia bukan wanita yang bisa di percaya sepenuhnya"  Ucap Linny.


Santo paham maksud Linny. Linny yang dia kenal memang sangat peka dan tidak suka ada yang terlalu tau jauh tentang kehidupan mereka.


"Siapa mereka?"  Tanya Linny.


"Salah satu dari team yang membuat obat ini. Dan salah satunya adalah apoteker di rumah sakit tempat kau pernah di rawat"  Ucap Santo.


"Oh. Banyak juga kaki tangannya ya" Ucap Linny dengan santai.


"Tenang. Akan aku bereskan dengan bersih tanpa menyangkut dirimu. Biar mereka berpikir aku sedang merasa di usik beberapa kecoak bodoh ini"  Ucap Santo.


"Jadi obat apa itu?"  Tanya Linny.


"Sejenis morfin tapi lebih berbahaya. Yang mengonsumsi bisa hilang ingatan sebagian. Dan dia akan sangat butuh ini. Dari seminggu sekali. Menjadi semakin sering dia butuh kan, jika tidak dia akan selalu haus dan lapar. Hingga mereka akan mati dalam waktu 3 bulan karena indikasi kurang gizi hingga mengering" Ucap Santo menjelaskan.


"Se-berbahaya itu?"  Tanya Linny lagi memastikan.


"Benar. Sangat berbahaya. Mungkin ini obat khusus untuk mereka melenyapkan musuh atau pengkhianat agar mereka tidak perlu kesulitan membunuh orang itu. Siapa pun yang pernah mengonsumsi ini akan langsung ketagihan walau hanya satu tetes"  Ucap Santo.


"Apa ada yang lain yang terlibat?"  Tanya Linny.


"Belum pasti tapi beberapa orang pemerintahan sudah aku cek 70% pasti terlibat proyek gilanya ini. Dari pengakuan dua orang itu ini baru sample yang sedikit. Untuk membuat banyak mereka sedang mengumpulkan banyak dana dan bahan. Dan mungkin jika terdesak akan di jual kepada orang-orang yang sedang tertekan banyak masalah untuk sebagai pelarian mereka"


Santo menjelaskan dengan rinci dan Linny cukup puas dengan info itu.


"Terima kasih atas bantuan mu. Kau harus lebih memperhatikan gadismu. Jangan sampai dia mengacau semua rencana mu dan menjadi luka mu seperti yang sebelumnya"  Ucap Linny mengingatkan.


"Tidak akan"  Jawab Santo dengan senyum tipis.


Keduanya keluar bersama dari paviliun meninggalkan dua orang itu yang terluka parah.


Body guard Santo masih menyiksa mereka agar mungkin bisa mendapat informasi tambahan lainnya.


"Loh? Kalian di sini?"  Tanya Sean yang ternyata mencari Linny sejak tadi.


Linny mencoba tenang saat Sean menatapnya dan Santo dengan heran.


.


.