
Di sebuah pemakaman kristiani. Terlihat Sean - Linny , Nicolas - Ayu , juga para pengawal Linny sedang mengelilingi sebuah makam.
"Di sini terbaring kasih cinta Tuhan . Berbaring dengan damai : FRANS JOHN PRATAMA"
Linny meletakkan seikat bunga krisan putih dipadu dengan bunga lily putih di atas makam almarhum Papanya.
"Pa. Ini Kim. Kim datang dengan Nic. Kim mau ijin menikah lusa. Papa doakan ya agar Kim dan Nic bisa selalu bahagia" Ucap Linny sambil mengelus nisan makam Frans itu.
Sean turut berjongkok di sebelah Linny dan menyentuh nisan calon mertuanya itu.
"Om. Mungkin aku belum sempurna ataupun sebaik yang lain. Tapi kau janji akan melindungi Linny dan Nicolas dengan nyawa ku sendiri" Ucap Sean berjanji di depan makam Frans.
Baik Linny mau pun Nicolas terkejut mendengar janji Sean. Sean bukan hanya berjanji melindungi Linny tapi juga menjaga Nicolas.
Mendengarkan hal itu tentu membuat Linny senang dan terharu.
Setelah itu mereka bersama-sama menuju rumah Om Wisnu dan Tante Lisa. Rumah orang tua Andrean - Sisilia.
Om Wisnu dan Tante Lisa tentu menyambut hangat mereka semua. Bahkan Tante Lisa menyiapkan banyak camilan untuk mereka.
"Ayo duduk. Di makan camilannya" Ucap Om Wisnu yang sangat senang.
"Maaf ganggu Om. Kami datang mau minta restu Om dan Tante untuk menikah. Sean mau minta ijin menikahi Linny" Ucap Sean pada Om Wisnu dan Tante Lisa.
Om Wisnu dan Tante Lisa terkejut mendengar itu. Linny dan Sean meminta ijin pada mereka yang tidak ada hubungan darah dengan Linny.
"Loh? Kenapa dengan kami?" Tanya Om Wisnu heran.
"Om dan Tante sudah seperti orang tua Linny dan Nicolas. Om dan Tante yang berjasa besar merawat Linny dan Nicolas saat mereka dulu terpuruk. Jadi sudah sepantasnya kami minta ijin pada Om dan Tante" Ucap Sean menjelaskan.
Mendengarkan itu tentu Om Wisnu dan Tante Lisa sangat terharu dan tidak menyangka. Linny yang mereka rawat saat terluka dulu menganggap mereka sebegitu pentingnya.
"Tentu. Om dan Tante setuju. Tapi Om hanya mau pesan. Jika nanti. Jika suatu saat nanti kamu sudah tidak mencintai Linny. Jika kamu sudah tidak bisa bersama Linny. Mohon jangan sakiti dia secara fisik ataupun batin. Kembalikan pada Om dan Tante. Ah tidak. Hubungi Om. Biar Om yang akan membawanya kembali menjadi bagian keluarga kami"
Ucap Om Wisnu terdengar lirih dan tulus. Seolah dialah Ayah kandung Linny.
Linny terkejut, Om Wisnu bahkan sangat memikirkan dirinya yang akan menikah.
"Tidak akan pernah Om. Sean janji akan mencintai Linny sampai mati. Dan akan melindungi Sean dan Nicolas dengan nyawa Sean" Ucap Sean dengan yakin tanpa gentar.
Tante Lisa meneteskan air matanya terharu. Dia senang Linny sudah menemukan orang yang tepat untuk menjaganya seumur hidup.
Setelahnya mereka mencicipi camilan yang ada dan berbincang ringan lalu berpamitan karena harus menemui Om Donald.
Mereka segera menuju rumah Om Donald yang jauh dari keributan di kota.
Tiba di rumah Om Donald tentu mereka langsung di sambut Om Donald.
Om Donald memeluk mereka semua satu persatu dengan hangat.
"Sini Nicolas. Duduk sini samping Om" Ucap Om Donald yang memang sangat sayang pada Nicolas.
menurut Om Donald. Nicolas merupakan replika 90% dari Frans. Wajah dan gesturnya sangat mirip sekali.
"Kau semakin mirip Frans. Om senang. Om seperti melihat sahabat Om lagi" Ucap Om Donald pada Nicolas.
Nicolas tersenyum saat Om Donald mengatakan hal itu.
"Ah Om. Kami datang karena Sean mau-"
"Sudah Om restui. Ingat jaga Linny dengan baik. Jangan sampai sakiti dia"
Ucap Om Donal memotong perkataan Sean yang belum selesai.
Hal itu membuat mereka semua tertawa senang.
Erik memandang Sean yang tampak bahagia. Kabar pernikahan itu juga membuat Erik turut senang.
"Ada apa?" Bisik Joe pada Erik yang diam menatap ke arah Sean dan yang lainnya.
"Tidak. Ayo kembali sebelum Sean melihat kita" Ucap Erik dengan pelan sambil menarik Joe untuk kembali ke ruang bawah tanah.
Linny menyadari Erik yang melihat mereka langsung pamit untuk ke kamar mandi. Linny menyusul Erik yang ada di ruang bawah tanah.
"Kau sudah semakin membaik sepertinya" Ucap Linny menatap Erik.
"Hepatitisnya sudah di tangani. Dokter sangat cepat. Kini kita bisa fokus dengan kanker rektum nya" Ucap Joe yang selalu memantau kondisi Erik.
Linny tampak senang. Setidaknya kondisi Erik sudah lebih baik. Wajahnya juga tampak lebih cerah dan tidak sekurus sebelumnya.
"Kau merawatnya dengan baik Joe" Ucap Linny.
"Sudah kewajibanku. Setelah dia sehat maka aku akan keluar dari sini. Kau boleh memerintahku untuk apa pun tentang Rain" Ucap Joe pada Linny.
Erik terkejut. Jika melakukan itu sama saja Joe bunuh diri.
"Enggak. Aku tidak setuju kau kembali ke sana sendiri. Jika kau mau pergi aku ikut" Ucap Erik yang takut Joe akan celaka.
"Tidak apa-apa. Ini sudah janjiku pada Linny. Kau harus tetap di sini dan hidup bahagia. Jangan muncul lagi sampai Rain bisa ku habisi" Ucap Joe menenangkan Erik.
"Dia itu berbahaya. Kau tidak bisa menghancurkannya dengan mudah. Kau lupa janji mu menikahiku dan hidup sampai tua?" Tanya Erik setengah terisak.
Linny yang mendengar kedua insan sejenis itu sedikit sedih juga kesal. Astaga entah mengapa dia teringat saat-saat Sean masih bersama Erik. Mungkin seperti itu kemesraan keduanya.
"Ekhem!!! Sudah selesai drama cinta konyol kalian?" Tanya Linny menahan kesalnya.
Joe dan Erik terdiam. Mereka merasa tidak enak pada Linny.
"Tidak usah. Aku punya cara sendiri. Dan itu tidak dengan mengorbankan mu menjadi tikus di sana, Joe. Aku tidak seceroboh itu. Erik bisa menggila kalau kau terluka. Kau lupa dia itu bucin akut? Dulu saja Sean hampir mati karena nya" Ucap Linny setengah kesal.
Mendengar itu Erik terkejut. Linny masih saja mengungkit kisahnya dengan Sean.
"Hei! Kau masih saja cemburu tentangku dan Sean. Itu sudah berlalu. Aku sudah melepasnya. Ya memang sih dia itu jago di ranjang dan sentuhannya itu-"
Tiba-tiba Erik terdiam. Dia tersadar kini kekasihnya adalah Joe dan Joe menatapnya dengan pandangan yang penuh cemburu.
Linny tertawa senang melihat Erik yang gelagapan.
"Okey lah. Kalian selesaikan ya urusan kalian sendiri. Aku gak mau ikutan dengan masalah percintaan kalian. Bye" Ucap Linny yang tertawa senang.
"Sialan kau Linny! Hei! Ish!" Umpat Erik.
Erik menatap takut-takut pada Joe. Dia takut kekasihnya itu marah dan meninggalkannya.
"Ma-maaf. A-Aku-"
Joe langsung mencium bibir Erik untuk membungkam kata-katanya.
"Jika itu masa lalu maka jangan diungkit. Aku paham kau sangat lama dengan Sean dan dia sangat berarti. Tapi aku juga bisa cemburu dan terusik" Ucap Joe yang berusaha mengontrol rasa cemburunya.
Erik memeluk Joe dengan senang. Dia senang Joe yang bisa cemburu tapi tidak meninggalkannya bahkan tetap lembut padanya.
"Tidak apa-apa kau cemburu. Aku suka. Tapi jangan meninggalkanku" Ucap Erik.
"Tidak akan pernah. sampai mati aku akan di sisi mu" Ucap Joe.
.
.