A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Seperti Bom Waktu...



Singapore~


 Andrean tiba di sebuah toko kue. Dia mencari kue lemon kesukaan Angel. Andrean ingat Angel pernah berkata dia sangat suka kue itu saat Andrean bersama Linny dan Sisilia mengunjungi negara Singapore bersama-sama.


 Andrean memilih beberapa jenis kue selain kue lemon yang di sukai Angel. Sejenak Andrean masih memikirkan apa yang harus dia ucapkan jika bertemu dengan Angel.


 Ini tentu berbeda dengan saat dia harus menghadapi rekan bisnis lainnya. Rasanya Andrean lebih memilih menemui partner bisnis yang terkenal garang dan sulit di ajak bicara daripada harus bertemu Angel saat ini.


  Ya, Andrean merasa bersalah atas kejadian yang tidak di inginkan sekaligus Andrean yang sudah berbicara kasar pada Angel.


 Meskipun tidak memaki namun tetap saja perkataan Andrean terasa menusuk siapapun yang mendengarkannya.


 Andrean tiba di depan klinik Angel praktik. Dia masih berdiri tegap mematung di luar klinik. Andrean mencoba menarik nafas sebelum melangkah masuk.


 Tiba-tiba terlihat Angel berjalan mendekat ke arah pintu kaca. Tanpa sengaja mata keduanya berjibaku dan saling menatap sekian detik sebelum Angel berbalik kembali masuk ke dalam kliniknya.


 Andrean terkejut, Angel benar-benar menjauh darinya.


"Hah~~"  Andrean menghela nafas berat sebelum masuk ke dalam klinik Angel.


 Perlahan Andrean membuka pintu kaca dan mengetuk pintu ruangan Angel.


 Tanpa ijin Andrean langsung masuk dan terlihat Angel yang duduk di kursinya. Tampak mata Angel memerah berkaca-kaca menahan air matanya.


 Sejenak mata Andrean terpaku pada leher Angel yang tampak berbekas cekikan.


 Andrean ingat, luka itu dia yang torehkan. Dia benar-benar seperti binatang memperlakukan Angel malam itu.


"Ada apa?"  Tanya Angel dengan tenang.


 Meskipun tersenyum tipis namun tampak Angel benar-benar menahan rasa sakit bertemu langsung dengan Andrean.


 Andrean meletakan kuenya di meja kerja Angel lalu duduk di hadapan Angel tanpa ijin.


"Maaf"  Ucap Andrean.


 Sepatah kata itu membuat keduanya hening tanpa suara.


 Seolah saling tenggelam dalam pikiran masing-masing.


 Angel memejamkan matanya dan menarik nafas berat sebelum membuka suaranya.


"Untuk apa? Jika kau datang hanya untuk itu silahkan pergi. Setengah jam lagi pasien ku tiba"  Ucap Angel tanpa menatap Andrean.


 Andrean yang sudah sangat frustrasi dengan semua hal yang terjadi menarik tangan Angel agar wanita itu mau menatapnya dan berbicara tentang masa depan mereka.


"Aku akan tanggung jawab"  Ucap Andrean tanpa ragu.


 Mendengar perkataan Andrean malah Angel tertawa sinis.


"Tanggung jawab? Are you kidding me?"  Tanya Angel dengan sinis.


"Gel. Aku yang sudah merusak masa depan mu. Jadi aku juga yang harus bertanggung jawab. Bagaimana kalau kau hamil nanti"  Ucap Andrean.


 Angel menatap lirih pada Andrean. Pria itu hanya ingin bertanggung jawab karena takut Angel hamil. Bukan karena dia ingin membuka hatinya untuk Angel.


"Tak perlu khawatir. Jika itu terjadi maka aku akan mengakhiri hidup bayi itu dengan tangan ku sendiri"  Ucap Angel tanpa ragu.


"Kau gila! Kau mau membunuh nyawa yang tidak bersalah?"  Tanya Andrean kesal.


 Dia tidak menyangka Angel memiliki pemikiran seperti itu.


"Lebih baik dari pada dia terlahir tanpa rasa cinta. Orang yang membuatnya tercipta tidak saling mencintai dan dia juga akan hanya menjadi beban tanggung jawab. Untuk apa dia dilahirkan untuk hal seperti itu"


 Ucapan Angel membuat Andrean tersentak terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka Angel memiliki niat dan pemikiran sejauh itu.


"Pergi. Bawa pergi semua makanan ini. Dan anggap kita tidak pernah mengenal satu sama lain"  Tegas Angel tanpa mau menatap Andrean lagi.


"Aku sudah membeli kue itu setidaknya ambil dan makan lah. Itu kue kesukaanmu"  Ucap Andrean berusaha selembut mungkin.


"Bawa pergi atau aku buang"  Ucap Angel dengan tegas.


"Kau tidak akan mungkin membuang makanan"  Jawab Andrean yang tahu Angel selalu menghargai makanan itu.


 Tanpa diduga Angel beranjak dari kursinya dan membuang sekotak kue itu ke tong sampah di dekat wastafel di ruang kerjanya.


 Mata Andrean membelalak terkejut melihat sikap Angel yang benar-benar tidak bisa dia sangka itu.


"Pergi sebelum aku menelepon polisi dan mengatakan kau mengganggu tempat praktik ku!"  Tegas Angel lagi.


 Angel yang biasanya selalu lembut dan ceria menyambutnya.


 Angel yang biasanya selalu menghargai sekecil apapun pemberian Andrean.


 Kini Angel berubah. Seolah Andrean hanya sebuah luka yang mendekatinya dan dia tidak ingin luka itu terus mendekat padanya.


 Angel kini seperti bom waktu yang meledak tanpa di ketahui Andrean. Seolah menyimpan semua rasa letih dan sakit yang menumpuk dan kini Angel menumpahkan kekesalannya.


"Gue memang brengsek"  Umpat Andrean pada dirinya sendiri.


 Andrean memutuskan kembali ke hotel untuk menelepon Sisilia. Mungkin Sisilia bisa memberi dia saran lain.


.


.


Bali ~


 Semua hal yang di cari Linny sudah dia dapatkan. Dia tinggal mencari arsitek dan membuat design untuk Bar yang akan dia buka.


 Linny sudah mendapatkan sewa atas tanah yang menghadap ke pantai juga kepemilikan Ruko terbengkalai yang akan dia jadikan Bar dan Cafe itu.


Untuk Ruko Linny berencana membuat penginapan model hostel dengan cafe di bawahnya.


 Sedangkan untuk tanah dekat pantai, sesuai dengan rencana awal akan dia bangun Bar tanpa merusak lingkungan sekitarnya.


"Lusa kita kembali ke jakarta. Dimana Dewi?"  Tanya Linny pada Sean.


Sean baru masuk kembali ke kamar setelah berbicara sebentar dengan Jun.


"Ada di ruangan televisi dengan Farid dan Jun. Jun sedang mengajari Farid berhitung dan bahasa asing"  Jelas Sean sambil membantu mengeringkan rambut Linny yang basah.


 Sean dan Linny baru selesai mandi dan tentunya bercinta di dalam kamar mandi. Hal yang tak mungkin di lewatkan Sean barang sekalipun.


 Olahraga terbaik yang bisa menyehatkan isi pikirannya dan membantu metabolisme. Kata siapa sih? Ya kata Sean tentunya.


 Selesai mengeringkan rambut keduanya menuju ruang televisi. Sean dan Linny melihat Jun yang begitu akrab dengan Farid. Senyum dan tawa Farid begitu ceria.


 Menyadari Nona-nya tiba membuat Jun langsung berdiri menghormat pada Linny dan Sean.


 Dewi juga ikut menghormat pada Linny dan Sean serta menyuruh Farid menghormat pada penyelamatnya itu.


"Duduklah. Apa yang kalian kerjakan??"  Tanya Linny memperhatikan banyaknya kertas coretan di atas meja.


"Ah ini. Saya sedang mengajari Farid sedikit bahasa Asing dan cara berhitung cepat Nona"  Jelas Jun sambil mengelus kepala Farid.


"Oh ya?"  Tanya Linny sambil mengambil beberapa kertas yang di corat coret itu.


"Iya Nona. Farid sangat pintar dan cepat tanggap. Sayang dia tidak melanjutkan sekolahnya"  Ucap Jun yang memang begitu cepat dekat dengan Farid tanpa di sangka.


 Padahal awalnya Jun sudah berburuk sangka pada Dewi. Kini malah dia sangat akrab dengan Farid -Adik Dewi satu-satunya itu.


"Kau mau sekolah?"  Tanya Linny pada Farid.


"Mau Tante"  Jawab Farid dengan senyum lebarnya.


"Apa kau bisa menjamin akan belajar dengan baik dan tidak sembarang berteman nantinya?"  Tanya Linny lagi.


"Iya Farid janji Tante"  Jawab Farid dengan bersemangat.


"Okey kalau begitu. Jun, siapkan dua tiket untuk mereka ikut kita kembali ke jakarta. Dan kau aku beri tanggung jawab baru untuk mengurus keperluan sekolah dan kuliah Dewi. Kau yang urus tempat tinggal dan keperluan mereka. Paham?"  Tanya Linny pada Jun.


"Paham Nona. Akan saya laksanakan"  Jawab Jun.


 Dewi tersenyum bahagia dan terus berterima kasih pada Linny yang sudah mau membantunya. Sedangkan Farid tampak senang dan terus berkata "Yeay!! Farid bisa tinggal sama Kak Jun!! Farid sudah punya kakak laki-laki. Hore!!"


 Sungguh anak kecil yang polos dan mudah merasa puas. Namun nasibnya cukup tragis. Beruntung tubuhnya cepat pulih.


 Linny teringat harus menghubungi Angel saat tiba di Jakarta nanti.


 Farid setidaknya harus mendapat konsultasi satu kali untuk memastikan kejiwaannya tidak terpengaruh yang bisa menjadi bom waktu yang membuat Farid menyimpang di masa remajanya nanti.


.


.


.