
Koh Sa Mui~
Paginya Sean dan Linny memilih menikmati sarapan di dalam ruangan. Mereka menikmati fasilitas Floating Breakfast di kolam renang.
"Hari ini mau kemana?"
Sean menatap Linny sambil menikmati sarapan bersama. Dan tetap Sean dengan setia menyuapi Linny.
"Big Buddha Temple"
Jawab Linny singkat sambil mengunyah salad yang di suapi Sean.
"Oh ya. Aku dengar pemandangan di sana bagus. Tapi apa boleh yang masuk bukan umat Budhis seperti kita?"
"Itu tempat wisata. Bebas selama sopan"
Linny menjawab dengan santai dan masih fokus dengan iPadnya.
"Kenapa main iPad terus?"
Sean tampak gemas dengan Linny yang masih sempat mengecek masalah perusahaan. Padahal mereka sedang berlibur bahkan honeymoon.
Bukannya sibuk bermesraan malah sibuk dengan pekerjaan yang tak akan habisnya itu.
Linny langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan Sean.
Pria itu sepertinya ingin terus di perhatikan Linny selama liburan kali ini.
"Ayo habiskan sarapan setelah itu kita pergi"
Sean kembali menyuapi Linny dengan telaten. Linny hanya patuh menghabiskan makanan yang ada.
Keduanya tampak sesekali saling bercanda kecil. Sean memperlakukan Linny tetap sama. Dia selalu memperlakukan Linny seperti ratu. Bahkan tampak Sean semakin mencintai Linny.
Tak sedikitpun dia melepaskan pandangan dan melupakan Linny di setiap aktivitasnya. Dia selalu rutin mengecek waktu makan Linny dan apa Linny kelelahan dan membutuhkan sesuatu.
Jun dan Alfa pun bisa turut merasakan perhatian berlebih Sean itu. Seolah Linny anak 5 tahun yang harus terus di jaga dan di pantau.
Sean tetap akan bangun lebih pagi dari pada Linny untuk memastikan sarapan tersedia sebelum Linny bangun dan lapar.
Sean tampak menepati perkataannya akan selalu menjaga dan mencintai Linny tanpa berkurang setetes pun.
Bahkan jika di mata orang itu pasti akan tampak berlebihan. Si mantan gay itu akan selalu posesif pada wanitanya.
Jika orang tau Sean adalah mantan gay tentu tidak akan ada yang percaya. Karena memang se-bucin itu Sean pada Linny.
Bahkan orang bisa melihat Sean lah yang sangat mencintai Linny, sedangkan Linny bersikap sewajarnya saja. Tidak pernah berlebihan namun tetap menghargai dan mengangkat derajat Sean di hadapan siapapun.
Di setiap bertemu dengan siapapun dan melakukan apapun dia akan memberitahu Sean. Mungkin sejenis meminta ijin tapi sebenarnya Sean tidak mengijinkan pun tetap akan dia lakukan.
Dia hanya mau Sean tau kegiatannya dan Dia bertemu siapa saja, agar Sean tidak terlalu khwatir ataupun cemburu.
Mantan Gay itu sangat pencemburu. Waktu itu saja Linny harus menjelaskan sangat detail siapa Santo Wisnu Negara hingga Sean bisa berhenti cemburu tidak jelas lagi pada pria muda berusia 23 tahun itu.
Dan tidak mungkin Linny menyukai brondong itu. Hal yang tidak akan pernah terjadi menurut Linny.
"Sudah siap? Ayo berangkat"
Sean mengulurkan tangannya untuk di gandeng Linny. Keduanya tampak sangat serasi dengan warna baju senada.
Mereka menuju beberapa tempat wisata di pulau itu. Salah satunya Big Buddha Temple yang terkenal.
Tempat itu begitu indah karena berseberangan dengan laut indah. Tentu itu menjadi pemandangan menakjubkan tersendiri.
Sean dan Linny sangat terpesona dengan keindahan alam di pulau itu. Tidak salah mereka memilih berlibur di tempat itu.
Hingga waktu menunjukkan sore mereka bersiap kembali sebelum melakukan acara makan malam yang romantis di dekat laut.
Salah satu kegiatan yang tidak boleh di lewatkan tentunya oleh pasangan manapun yang sedang honeymoon di sana.
Saat tiba di tempat dinner itu. Keduanya tersenyum. Tempat itu di hias sedemikian mungkin untuk makan malam romantis sambil menikmati laut di malam hari.
Hal itu tentu membuat Sean dan Linny senang. Mereka bisa melupakan sedikit masalah-masalah berat yang silih berganti mengganggu hidup keduanya.
Baik itu masalah Sean maupun masalah Linny. Kehidupan keduanya seolah tak akan pernah bisa tenang tanpa masalah.
Namun semakin masalah itu datang semakin kuat pula Linny. Sedangkan Sean mungkin sedikit terganggu dan lengah. Dia bahkan hampir menyerah dengan takdirnya.
Jika bukan karena Linny juga sahabat-sahabat mereka di pastikan Sean sudah menyerah jauh-jauh hari.
Dia tidak akan sekuat itu menghadapi semuanya sendirian. Sean merasa beruntung bisa mengenal Linny.
Gadis kecil yang cengeng, yang dulunya dia tolong dan lindungi tanpa sadar kini menjadi pelindung Sean. Takdir memang semenarik itu.
Semua hal bisa saja terjadi dan mereka pun sudah melewati banyak hal hingga bisa menikah.
Tapi Sean sadar, pernikahan itu bisa di katakan untuk menyelamatkan aset Linny dari kekuasaan ibu kandungnya.
Sean belum pernah mendengar kemauan dan ke-ikhlasan Linny untuk menikah dengannya.
Sean sempat berpikir apakah pernikahan itu benar. Sedangkan tidak ada lamaran seperti orang pada umumnya.
Spontan pertunangan dan pernikahan itu di lakukan dengan cepat agar aset Linny tidak bisa di ganggu oleh Sisca Natalie.
"Ada apa?"
Tanya Linny saat melihat Sean menatap kosong ke arah laut. Pria itu tidak bisa menyembunyikan rasa bimbangnya.
"Kau. Apa kau menyesal menikah denganku? Maksudku, apa kau benar-benar mau menikah dengan ku karena cinta?"
Sean menatap Linny dengan dalam. Entahlah benar atau tidak dia bertanya hal seperti itu di saat liburan honeymoon mereka.
Namun Sean masih sering terganggu dengan pikiran-pikiran itu. Bahkan Sean takut suatu saat Linny akan meninggalkannya jika dia melakukan kesalahan.
Linny adalah perempuan yang sangat mandiri. Sean ingat jelas perkataan Linny yang mampu membesarkan anaknya sendiri tanpa sosok suami ataupun ayah untuk anaknya.
Linny tampak menatap tajam pada Sean. Entah apa isi pikiran mantan gay itu. Kenapa bisa pria itu berpikiran hal tidak penting seperti itu.
"Karena pernikahan kita bisa terjadi karena ide Andrean agar aset mu tidak jatuh ke tangan Sisca Natalie. Sebelumnya setiap pembicaraan pernikahan pasti akan kau hindari"
Sean tampak mengeluarkan beban di pikirannya.
"Apakah itu penting saat status kita sudah resmi suami istri? Apa kau pikir ucapan janji pernikahan di depan altar Tuhan itu main-main?"
Linny tampak menahan emosinya. Dia sangat kesal kenapa Sean bisa berpikir hal yang tidak penting itu.
Linny bukan typikal wanita yang bisa bermanja, romantis atau apalah itu. Dia hanya tau jika dia berani melangkah maju dan berkomitmen maka dia akan menjalani itu dengan sepenuh hati.
Dan hal yang aneh dari pertanyaan Sean. Jika Linny tidak mencintainya dan tidak punya keinginan hidup bersamanya dengan sah di mata Negara juga Tuhan. Linny tidak akan mentah-mentah menerima ide Andrean.
Dia masih bisa menggunakan cara orang bawah tanah untuk menekan Sisca Natalie. Masalah yang di timbulkan Sisca Natalie dan ide dari Andrean hanya sebuah pemicu besar.
Memang jika bukan karena pemicu itu dia tidak punya alasan meyakinkan diri dan mencabut sumpahnya untuk tidak menikah. Tapi tetap saja Linny mau karena dia memang sudah menganggap Sean adalah jantung di dalam tubuhnya.
Memikirkan Sean yang sendirian dan akan terluka saja bisa membuat Linny frustrasi. Maka dia sangat tidak tenang jika melihat musuh-musuh Sean masih berkeliaran bebas dan bisa sewaktu-waktu mencelakakan Sean.
Sean hanya bisa diam saat Linny melontarkan kata-katanya. Terdengan dingin dan menusuk.
"Aku tidak mau bertengkar. Aku rasa ini bukan hal yang perlu kau bicarakan setelah kita resmi menikah. Seharusnya kau bertanya ini saat kita belum sah. Dan mungkin aku bisa membatalkan pernikahan kita"
Linny tampak marah dengan pertanyaan dan isi pikiran Sean. Entah apa yang membuat Sean berpikir Linny seburuk itu menjalani pernikahan.
"Aku~"
Sean terdiam saat Alfa tampak tergesa-gesa mendekati mereka. Dua orang berpakaian serba hitam mengikuti Alfa. Sean belum pernah melihat mereka sebelumnya.
"Ada apa?"
Linny menatap heran pada Alfa.
"Kau. Bram?"
Linny mengenali salah satu orang yang datang bersama Alfa.
"Maaf Nona. Saya butuh bantuan"
Pria bernama Bram itu tampak terengah-engah.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Linny langsung menerka sesuatu terjadi karena wajah Bram sangat panik.
"Tuan Santo menghilang. Saya takut dia di jebak"
Bram merupakan asisten pribadi Santo Wisnu Negara. Pria itu sangat setia pada Santo. Santo menghilang tanpa jejak.
"Apa? Kok bisa?"
Linny terkejut. Santo tidak pernah berkeliaran sendirian tanpa Bram di sisinya.
"Tadi Tuan berkata akan keluar sebentar saja dan tidak mau di ikuti. Jadi kami membiarkannya karena masih bisa melacak ponselnya. Tapi sampai sekarang Tuan tidak ada kabar dan ponselnya kami temukan dekat hutan di sana"
Ucap Bram menjelaskan. Bram tampak jujur juga panik.
"Sialan! Bawa aku ke sana. Dia pasti tidak jauh"
Linny langsung berdiri meninggalkan Sean yang masih terpaku mematung.
Melihat Linny yang pergi bersama Bram membuat Sean refleks mengikutinya.
Jun mendekati Sean dan mencegahnya untuk ikut. Jun tau Nona CEO nya pasti akan berburu karena sesuatu terjadi pada temannya.
"Tuan. Lebih baik kita kembali. Biarkan Nona membereskan urusannya"
Saran dari Jun. Dia takut Sean syok jika melihat Linny membunuh orang dengan sadis. Wajah Linny sudah berubah sangat menakutkan.
"Tidak, dia istriku dan aku harus membantunya di setiap saat. Lagi pula aku mengenal Santo. Aku tidak mau dia kenapa-kenapa juga"
Ucap Sean yang tetap memaksa mengikuti Linny.
Tiba di ujung pulau yang terdapat hutan belantara. Linny tampak mempehatikan beberapa jejak dan menemukan botol kecil.
"Obat bius" Gumam Linny yang bisa mencium aroma Klorofom yang samar dari botol kecil itu.
"Dia pasti di jebak dan lengah. Apa kalian mengejar anak wanita gila itu di sini?"
Linny menatap tajam pada Bram. Dia menerka Santo sengaja berlibur ke tempat itu sekalian mencari putra lain dari wanita yang sangat Santo benci.
Karena sebelumnya Santo pernah kehilangan jejak targetnya di negara itu, dan dari pembicaraannya dengan Santo bisa di simpulkan anak dari wanita itu masih ada di negara gajah putih.
"Benar Nona. Kami mengejarnya. Tapi belum ada jejak berarti jadi kami menyamarkannya dengan liburan di sini agar tidak di curigai"
Jelas Bram yang menyesal membiarkan Tuan Mudanya bergerak sendiri.
"Kau buat alasan jangan sampai Celly tau. Aku akan masuk ke hutan. Beberapa berjaga di sini"
Titah Linny yang langsung berlari masuk ke dalam hutan.
Linny yang mengenakan gaun putih itu tidak kesulitan bergerak cepat di dalam hutan.
Dia mengeluarkan pisau yang selalu dia selipkan di pinggang dan merobek gaunnya agar lebih pendek dan mudah untuknya bergerak.
Tentu saja dia mengenakan celana pendek di dalam gaun sehingga tidak akan mengekspos keindahan kulit tubuh bawahnya itu.
Sean ikut berlari mengikuti arah Linny bergerak. Linny tampak menajamkan mata dan telinganya.
Semakin dalam mereka berlari ke dalam hutan semakin gelap pula kondisi di sana. Tapi itu memberi keuntungan bagi mata tajam Linny karena dia melihat sebuah cahaya di tak jauh dari pencariannya.
"I got it" Gumam Linny sambil tersenyum mengerikan.
.
.
.