
"Mau makan di restoran jepang itu?" Tanya Sean.
"Boleh. Aku butuh tenaga sebelum menghajar mantan pacarmu yang gila itu" Ucap Linny.
Sean terkejut, dia sudah lupa akan Erik. Baru dia tersadar masih ada urusan masa lalu yang harus dia selesaikan.
Keduanya masuk ke dalam restoran jepang itu bersama Jun dan Alfa.
Mereka duduk di meja terpisah dari Jun dan Alfa namun masih berdekatan.
Saat asyik menikmati makanan, seorang wanita mendekati meja Sean dan Linny. Reflek Alfa dan Jun langsung menghadang wanita itu.
Linny dan Sean langsung melihat ke arah Jun dan Alfa yang sedang menghadang wanita itu, bahkan beberapa tamu lainnya juga refleks memperhatikan mereka.
"Angel??" Ucap Linny terkejut.
Wanita bernama Angel itu tampak tersenyum pada Linny.
"Nona mengenali wanita ini?" Tanya Alfa memastikan.
"Iya. Dia teman Andrean juga. Minggirlah" Ucap Linny memerintah.
Jun dan Alfa kemudian menghormat lalu kembali duduk di meja mereka.
Angel langsung mendekati Linny dan keduanya berpelukan hangat.
"Wow. Kau sangat berbeda sekarang. Ternyata benar kata Andrean. Aku pikir dia membohongiku" Ucap Angel.
"Bohong? Emang ada apa?" Tanya Linny heran.
"Kau tahu sendiri dia suka sekali menipuku! Dia sering berbohong kalau memiliki kekasih padahal tidak ada. Jadi bagaimana mungkin aku percaya perkataannya kalau kau sudah memiliki pasangan bahkan dijaga ketat sekarang oleh bodyguard. Ck!" Keluh Angel.
Linny tertawa mendengar penuturan Angel yang tampak kesal itu.
"Jangan katakan kalau kau masih bertahan menyukai Andrean?? Seriously??" Tanya Linny bingung.
"Ya begitulah. Kau tahu sendiri aku tidak mudah jatuh cinta, tapi sekali jatuh cinta akan sulit bagiku melupakan orang itu" Ucap Angel.
Linny hanya menggelengkan kepalanya heran. Heran karena bagaimana bisa Andrean tidak tertarik pada Angel yang bisa dibilang wanita sempurna. Masih muda, seorang psikolog, juga dari keluarga berada dan keluarga yang sehat alias tidak toxic.
"Jadi gimana?" Tanya Linny.
"Gimana apanya?" Tanya Angel balik.
"Hah. Terserahlah. Susah emang ngomong sama yang bucin" Ucap Linny.
Sean tersedak mendengar komentar Linny tentang orang yang bucin kepada orang yang dia sukai. Merasa ya Bang Sean???
"Eh ini yang namanya Sean? Kemarin Andrean ada suruh aku hubungi kau, mana tau perlu sesi terapi" Ucap Angel dengan santai.
"Iya dia Sean. Coba aja terapi dia. Mana tau dia makin suka sama cewek apalagi secantik kau" Ucap Linny dengan santai.
"Sorry yah aku kagak doyan sama bekas orang lain" Ucap Angel sambil memeletkan lidahnya.
"Jadi kapan mau terapi dia? Sekarang?" Tanya Linny tanpa bertanya kesediaan Sean.
Emang berani Sean menolak jika sang Ratu bertitah? Tentu saja tidak kawan-kawan.
"Ya sudah. Sehabis ini kita ke tempatku. Bukan terapi, lebih tepatnya konsul dulu. Aku akan lihat perlu atau tidak terapi khusus" Ucap Angel menjelaskan.
Sean dan Linny hanya mengangguk setuju dan percaya saja pada Angel.
Selesai makan mereka menuju bangunan klinik milik Angel.
"Kau tunggu di luar saja Linny. Tenang, milikmu enggak akan aku sentuh kecuali dia yang tergoda padaku" Ucap Angel yang masih sempat-sempatnya meledek Linny.
"Ck!" Linny hanya berdecak kesal.
Linny duduk di ruang tunggu di temani kedua bodyguard-nya. Mata Linny terpaku melihat sebuah berita tentang kehancuran keluarga Reza dan tindakan kecurangan yang diduga dilakukan oleh keluarga Reza. Dapat dipastikan Reza dan keluarganya akan mendapat masalah hukum.
Linny hanya mampu menghela nafas berat. Dia hanya tertawa pelan melihat kehancuran keluarga yang pernah menginjaknya itu.
Sejam berlalu, Sean akhirnya keluar dari ruangan konsul bersama Angel.
Linny hanya menatap mereka bergantian. Angel memberi kode pada Linny untuk berbicara berdua.
Keduanya masuk kedalam ruangan konsul.
"Kau mau teh? Kopi?" Tanya Angel menawarkan.
"Tidak usah. Langsung saja. Ada apa?" Tanya Linny tanpa basa basi.
Linny hanya dia tidak menanggapi perkataan Angel. Linny bukan orang yang bisa bersikap lembut saat ini. Dia merasa sudah cukup melindungi Sean dari ancaman orang-orang laknat itu.
"Dia masih di incar bukan? Semoga akar masalah itu bisa selesai di urus. Karena dia punya kecenderungan takut akan sangsi sosial. Karena keluarganya terlalu menjunjung tinggi hal itu tentu akan berdampak baginya. Setahuku biasanya kalau orang-orang seperti komunitas itu cenderung melakukan apa pun hal nekat demi mendapatkan kembali yang mereka inginkan" Tambah Angel.
Hal itu tentu Linny ketahui melihat sikap Erik juga Agus Cs yang begitu gila dan terobsesi pada Sean.
"Tapi bukan hanya dia. Aku rasa kau juga butuh konseling" Ucap Angel lalu menyesap kopi buatannya sendiri.
"Aku??" Tanya Linny heran.
"Ya. Kau. Sepertinya trauma mu masih menjalar sampai kau tetap tidak ingin menikah bukan?" Tanya Angel memastikan.
"Apa Sean yang mengatakan itu?" Tanya Linny heran.
"Bukan. Sisilia dan Andrean yang menceritakan sikap mu tetap sama meskipun kau sudah menerima Sean sedekat itu di sekitarmu. Jadi aku bisa menebak kalau kau masih pada pendirianmu" Ucap Angel menjelaskan.
Memang Sean tidak mengatakan apa pun tentang Linny yang begitu keras dan memberinya persyaratan untuk bisa hidup bersama Linny.
"Aku sudah nyaman begini. Tak masalah buatku jika itu hanya sebuah surat sah pernikahan. Lagi pula aku tidak berencana memiliki keturunan. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan" Ucap Linny dengan santai.
"Kau dan Sean sepertinya memang tercipta untuk saling mengobati. Kau tahu, di setiap perkataannya dan rencana hidupnya selalu ada namamu. Aku bisa melihat cintanya yang begitu dalam. Tapi jika cintanya itu tersakiti tidak menutup kemungkinan dia kembali pada kebiasaannya dulu dan lebih parah lagi." Ucap Angel.
"Aku merasa senang tapi juga khawatir. Karena kau begitu keras, entah dia akan salah paham atau tidak jika kau terus menolak tentang pernikahan dan keturunan. Padahal itu salah satu cara terbaik membuatnya benar-benar terobati dari trauma masa lalunya. Dia memiliki mimpi sebuah keluarga kecil yang harmonis dan menyayangi anak-anaknya tanpa pilih kasih akan gender mereka. Dia bahkan takut jika anak-anaknya mengalami kehidupan menyakitkan seperti yang dia alami saat ini" Tambah Angel.
Linny menghela nafas berat lalu menatap Angel.
"Untuk hal apa pun aku bisa ikuti tapi tidak untuk pernikahan dan anak. Keputusanku tidak bisa di ubah Angel. Kau paham betul bukan?" Tanya Linny pada Angel.
"Aku paham. Aku hanya memberi saran. Selepas itu hak kalian yang menentukan akan bagaimana. Ah ya bagaimana? Kau masih bermimpi buruk?" Tanya Angel yang tahu kondisi Linny yang selalu mengalami mimpi buruk dalam tidurnya.
"Sudah berkurang bahkan jarang. Sejak bersama Sean dan dia tahu segala sesuatu tentangku membuatku bisa tidur tanpa terganggu mimpi-mimpi sialan itu" Ucap Linny jujur.
"Seperti dugaanku. Kalian saling melengkapi. Aku hanya bisa berdoa semoga kalian bisa melewati semua ini. Dan yang bisa aku pastikan, dia sangat mencintai mu Linny. Dia akan lebih rela kau membunuhnya dari pada kau meninggalkannya apalagi mengkhianatinya" Ucap Angel menekankan kalimat terakhir ucapannya.
"Terima kasih atas waktu mu. Berapa biaya yang harus aku bayar?" Tanya Linny sambil tersenyum.
"Sialan kau ini! Tidak usah begitu. Lebih baik kau doakan Andrean bisa melembut dan membuka hati batunya itu. Dia benar-benar workaholic!" Ucap Angel kesal.
"Haha. Apa perlu aku menjebak kalian one night stand dan kau segera hamil anaknya. Dia tidak akan bisa menolak jika sampai itu terjadi bukan?" Ucap Linny dengan ide gilanya.
"Ah~ Kau benar sekali. Mungkin ya aku harus seperti itu. Tapi sialan! Reputasiku bisa hancur gila!" Ucap Angel sambil melempar sebuah bolpoin ke arah Linny.
Linny dengan sigap menangkap bolpoin itu sambil tertawa. Di letakkannya kembali bolpoin itu di atas meja kerja Angel.
"Sudahlah. Aku harus kembali. Jika kau ada waktu kembalilah ke tanah air. Aku akan menjamu mu. Mungkin aku dan Sisilia bisa mencari cara membuat Andrean seharian bersama mu. Selebihnya itu sudah menjadi urusanmu!" Ucap Linny menawarkan.
"Wah terima kasih Nona CEO Kim yang terhormat. Ya sudah hati-hati ya. Ingat pesanku!" Ucap Angel.
Linny hanya menunjukkan jempol kanannya lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Terlihat Sean menunggu dengan santai sambil membaca sesuatu di ipadnya.
"Baca apa?" Tanya Linny yang membuat Sean terkejut.
"Ah sudah selesai bicaranya? Tidak ini hanya berkas laporan team sales di kantor" Ucap Sean menunjukkan layar iPad nya.
"Oh" Linny lalu mengajak Sean keluar dari klinik itu.
"Bicara apa?" Tanya Sean penasaran.
"Hanya membahas Andrean. Kau tau dia jatuh cinta pada Andrean bukan? Dia ingin minta tolong" Ucap Linny berbohong.
"Ohh" Sean hanya ber-oh-ria.
"Kalian bicara apa di dalam?" Tanya Linny kembali.
"Dia hanya memintaku bercerita tentang masa laluku secara lengkap. Masalahku. Juga bagaimana bertemu dengan mu dan perasaanku saat ini" Ucap Sean jujur.
Linny hanya diam mendengar perkataan Sean. Mata Linny terpaku melihat penjual kembang gula di dekat mereka.
"Aku mau itu" Ucap Linny.
Sean dengan sigap langsung menuju ke penjual itu di temani Jun dan memesankan kembang gula untuk Linny. Sean sesekali menoleh ke arah Linny menunggu bersama Alfa. Senyum manis terlihat di wajah Sean saat mata mereka bertemu.
Linny pun membalas senyuman itu.
' Apa kau masih percaya cinta dan kesetiaan? ' Batin Linny.
.