A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Yang Sudah Berlalu...



Ting... Tong.....


Tiba-tiba bell kamar mereka berbunyi.


Linny dan Sean saling bertatapan heran, mereka tidak memesan layanan kamar. Juga tidak berjanji temu dengan siapa pun.


Siapa yang datang????


Sean bergerak menuju pintu untuk memastikan siapa yang menekan bell.


Saat pintu dibuka, Sisilia langsung menyelonong masuk tanpa ijin.


"Hei sayang, jangan berlari begitu"  Tegur William yang terkejut melihat tingkah istrinya yang baru sah semalam itu.


Sisilia langsung memeluk Linny dengan erat.


"Kau tidak apa-apa kan??"  Tanya Sisilia khawatir.


"Apanya yang kenapa-kenapa? Heboh banget main nyelonong masuk. Ganggu aja"  Ucap Linny kesal karena aktivitas bercocok tanamnya terganggu akibat kehadiran Sisilia dan William.


Ternyata Aston, Danu dan Doni juga ikut masuk ke kamar Sean dan Linny.


"Ih. Aku khawatir dengan kau Linny"  Ucap Sisilia kesal dengan respons Linny.


"Khawatir apa?"  Tanya Linny sambil menaikkan satu alisnya.


"Itu si Reza kan muncul mendadak. Apa dia ngomong sesuatu dengan mu?"  Tanya Sisilia penasaran.


Linny menghela nafas kasar. Kedatangan Sisilia hanya untuk membahas manusia yang sudah menorehkan luka bagi Linny.


"Kami sudah tidak ada urusan apa pun sejak dia memutuskan untuk tidak menjalin hubungan denganku lagi. Jadi semua sudah berakhir Sisilia. Tidak ada yang perlu di bahas"  Ucap Linny dengan tegas.


Dia tidak ingin memikirkan masa lalu yang sudah dia selesaikan. Baginya itu sangat tidak penting.


"Kau yakin??" Tanya Sisilia menelisik ekspresi Linny saat berbicara.


Linny hanya menatap Sisilia dengan menaikkan satu alisnya.


"Kau sudah dengar kalau dia batal menikah? Sampai sekarang dia selalu gagal menikah dan dia bilang pada Andrean dia masih mencintai mu"  Ucap Sisilia.


Linny yang mendengar itu hanya tertawa meremehkan. Semurah itu kata cinta bagi pria bernama lengkap Reza Ardian Wijaya itu.


"Bukan urusanku"  Ucap Linny acuh tak acuh.


"Tapi dia bilang kalau dia ingin kembali dengan mu. Kata Andrean kabarnya calon istrinya yang akan dia nikahi setelah meninggalkan mu ternyata simpanan suami orang. Bahkan istri dari orang itu datang ke acara pernikahan mereka dengan membawa bukti perselingkuhan mereka yang masih berjalan hingga saat Reza dan perempuan itu akan menikah"


"Sungguh kacau kondisinya sampai pernikahan di batalkan sesaat sebelum pemberkatan dimulai. Keluarga Wijaya yang merendahkan mu dulu dengan mengata-ngataimu gadis buruk malah ternyata mendapat calon menantu yang benar-benar buruk. Hahaha"  Ucap Sisilia sangat bersemangat sambil menertawai kisah memalukan Reza dan Keluarga Besar Wijaya itu.


"So?"  Tanya Linny tampak tidak peduli.


Linny malah bangkit dari sofa menuju meja bar kecil di ruangan kamar. Dia malah dengan santai menyeduh teh untuk dirinya sendiri.


"Sampai sekarang kisah cinta dia berakhir tragis dan dia bilang baru tahu kejadian tentang perlakuan Nyonya Wijaya pada mu setahun belakangan saat Nyonya Wijaya  mulai sakit-sakitan dan menyesal"  Jelas Sisilia.


Linny menatap Sisilia dengan santai sambil menikmati teh yang dia seduh.


"Ih Linny. Kau dengar enggak sih perkataanku??"  Tanya Sisilia yang kesal.


"Dengar. Terus? Emang mau gimana?"  Tanya Linny sambil tersenyum.


"Kau santai sekali. Aku kira kau akan senang atau malahan sedih. Secara-kan dulu dia cinta pertamamu juga. Satu-satunya orang yang pernah masuk ke hatimu dan kau cintai"  Ucap Sisilia ceplos.


"Cinta pertamaku hanya Papaku"  Ucap Linny sambil melanjutkan meminum tehnya.


"Kau tidak ingin memberinya kesempatan??" Tanya Sisilia lagi.


Sean terkejut dengan perkataan Sisilia. Begitu juga dengan William, Aston, Danu dan Doni.


"Aku tidak akan pernah mengambil kembali apa yang sudah aku buang. Kau mengerti bukan maksudku?"  Tanya Linny pada Sisilia dengan pandangan yang tajam.


"Kau benar, dia sudah menorehkan luka yang dalam hingga kau tidak percaya tentang cinta, kesetiaan maupun pernikahan. Tapi aku juga senang kau tidak terpengaruh dengan kehadirannya. Jujur aku takut kau terluka lagi mengingat kejadian menyakitkan dulu"  Jelas Sisilia yang dasarnya sangat menyayangi Linny.


Linny hanya tersenyum santai menanggapi hal itu. Sedangkan Sean mendesah pelan. Dia baru saja menenangkan Linny hingga Linny bisa kembali pada sifat dinginnya. Tapi itu jauh lebih baik daripada melihat Linny yang menangis bagi Sean.


"Kebetulan kalian kemari. Bagaimana kalau kita bertaruh di meja casino sambil menunggu waktu kapal tiba di Singapore? Aku sungguh bosan"  Ucap Linny.


"Tidak! Aku enggak ikutan. Dan kau sayang, jangan coba-coba ikutan!"  Ancam Sisilia pada William.


"Why???"  Aston bingung mendengar Sisilia yang tidak mau ikut bermain di meja casino.


"Dia itu gila! Kau belum pernah bukan melihat bandar sampai menyerah dan lebih memilih membiarkan dia bermain tanpa bertaruh apa pun dengan syarat kalau menang juga dia tidak bisa mengambilnya. Jadi dia tidak rugi juga tidak untung! Dia bisa membuat bandar bangkrut dalam semalam!"  Ucap Sisilia menceritakan kegilaan tangan dan peruntungan Linny di casino.


"Wow...."  Aston, Doni, dan Danu berdecak kagum bersamaan.


Sedangkan William dan Sean hanya mampu membolakan mata seolah tidak percaya.


"Jadi lebih baik jangan mau bertaruh dengannya di meja casino. Permainan apa pun tetap kalian akan kalah"  Jelas Sisilia lagi.


"Hanya beruntung saja. Lagi pula kalau aku berhasil mengeruk uang teman sendiri lebih seru bukan? Toh uangnya bisa kita pakai buat bersenang-senang bersama juga"  Ucap Linny dengan cuek.


"Sialan kau! Enggak pokoknya enggak. Udah ah aku mau balik kamar istirahat dulu"  Ucap Sisilia yang bangkit dari duduknya menuju William.


"Bilang aja mau bercocok tanam!"  Seru Linny mengejek.


"Boleh silakan saja. Jangan lupa berikan aku banyak keponakan yang lucu!"  Ucap Linny sambil tersenyum tipis.


"Dan siap-siap saja harus memberiku hadiah yang banyak untuk anak-anakku nanti"  Jawab Sisilia.


"Akan aku tunggu!"  Linny sengaja mengejek Sisilia.


Tentu baginya tidak masalah memberikan hadiah untuk anak-anak Sisilia nantinya. Lagi pula tanpa diminta dia juga pasti akan memberikan hadiah terbaik untuk Sisilia.


"Kita juga keluar deh. Mau berenang. Kau mau ikut Sean?"  Tanya Aston sebelum keluar dari kamar Sean dan Linny.


"Sepertinya tidak. Jika mau aku akan menyusul"  Ucap Sean sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Kami keluar dulu ya!"  Ucap Aston berpamitan.


Setelah semuanya keluar, Sean kembali memeluk Linny.


"Boleh lanjut yang tadi?"  Tanya Sean dengan senyuman menggodanya.


"Aku ingin berendam dulu"  Ucap Linny.


Dengan patuh Sean membawa Linny masuk ke kamar mandi dan menyalakan jacuzzi untuk mereka berendam.


Sean dan Linny berendam dengan posisi Linny duduk dipangku Sean di dalam air jacuzzi.


"Nanti kabari Andrean, minta dia booking salon di Singapura tempat aku sering ke sana. Aku ingin mengganti gaya rambutku"  Ucap Linny.


"Baiklah. Akan aku minta Andrean menghubungi mereka. Apa kau ingin memotong rambut mu?"  Tanya Sean penasaran.


"Iya. Aku ingin mencari suasana baru"  Ucap Linny dengan santai.


Sean paham tentu risi dengan rambut yang sudah sangat panjang itu. Sean tahu itu karena membutuhkan waktu setengah jam untuk mengeringkan rambut Linny setiap sehabis mandi.


Linny tiba-tiba bergerak berbalik menghadap Sean lalu mencium bibir Sean.


"Kau memancingku?"  Tanya Sean sambil mengelus punggung Linny yang polos itu.


"Tanpa aku pancing juga dia sudah mengeras begini"  Jawab Linny sambil menyentuh si Pluto yang sudah siap tempur sejak tadi.


Linny langsung menaiki tubuh Sean dan menggerakkannya perlahan.


"Ah.... Ya terus begitu... Itu benar-benar nikmat Linny"  Erang Sean.


Suara air bergerak saat Linny bergerak liar membuat hasrat mereka semakin tinggi.


Posisi Linny di atas itu sangat disukai Sean. Terlebih saat Linny bergerak liar diatas-nya.


Keduanya terus bersama memacu kenikmatan dengan berbagai posisi hingga sejam lamanya. Setelah merasa puas dan lelah keduanya akhirnya tertidur bersama.


Linny tertidur dalam posisi memeluk Sean. Jarang sekali hal itu terjadi, tentunya Sean tidak keberatan dengan itu, malah dia sangat senang.


Linny bermimpi bertemu sang Papa yang berkata :


..."Papa sudah bisa pergi dengan tenang. Sekarang akan ada yang benar-benar bisa menjaga dan mencintai mu Kim-Kim sayang. Berbahagialah sayang"...


.


Malam menjelang, kapal mulai merapat di pelabuhan Marina Bay. Sean terbangun terlebih dahulu dan melihat ke arah balkon yang tidak tertutup tadi. Hari sudah gelap. Ternyata dirinya dan Linny tertidur sangat lama. Mungkin efek kelelahan.


"Linny. Kita sepertinya sudah hampir tiba. Ayo bangun dan mandi. Kau akan ke salon bukan??"  Tanya Sean mencoba membangunkan Linny perlahan.


Linny langsung membuka matanya dan melihat keluar. Hari memang sudah malam. Baru kali ini dia bisa merasa tidur nyenyak bahkan memimpikan sang Papa. Sebelumnya dia hanya selalu bermimpi buruk tentang potongan masa lalunya. Tanpa sadar Linny tersenyum sendiri.


"Apa kau bermimpi indah?"  Tanya Sean yang memperhatikan gerak gerik Linny.


"Iya"  Jawab Linny sambil menatap Sean.


* 'Apa maksud Papa jika orang itu adalah kau Sean? Tapi aku tidak bisa percaya akan cinta. Kau hanya membutuhkanku sama seperti aku membutuhkanmu menjadi pelampiasan **** ku' * Batin Linny.


"Kau tampaknya sudah jarang bermimpi buruk. Baguslah. Ayo mandi"  Ucap Sean lalu membawa Linny untuk mandi bersama. Linny tidak mencuci rambutnya karena dia akan langsung ke salon langganannya di Singapura.


Kapal berlabuh dengan baik. Sean dan Linny turun dari kapal dan berpas-pasan dengan yang lainnya.


"Mau ke mana guys?"  Tanya Danu antusias.


"Aku akan menemani Linny ke salon sebentar. Kalian pergilah dulu, nanti kami susul"  Ucap Sean.


"Baiklah"  Jawab Aston.


Sean merangkul Linny sambil berjalan menuju salon yang tak jauh dari tempat kapal berlabuh.


Reza menatap tidak suka melihat Linny di peluk oleh Sean. Hatinya terbakar api cemburu.


"Aku tidak akan melepaskan mu lagi Kimberlyn"  Gumam Reza.


.


.


.