
"Jadi kau si gadis cengeng?" Tanya Sean berbinar.
Linny menatap heran pada Sean. Sean ikut berdiri mendekati Linny dan meletakkan tangannya mengelus kepala Linny perlahan.
"Jangan cengeng. Jangan terus menangis. Tidak ada yang bisa berubah hanya dengan menangis. Jika merasa tidak ada yang berpihak padamu, genggam gantungan kucing ini dan tatap langit, berdoalah maka akan ada malaikat lewat yang mendengarkan mu" Ucap Sean perlahan sambil menatap Linny.
Linny mematung membeku. Ucapan Sean persis ucapan pemuda yang sudah Linny lupakan wajahnya itu.
"Jangan bilang kau 'Kakak' taman itu?" Tanya Linny penasaran.
"Iya. Aku yang memberikan gantungan ini. Ini hasil prakaryaku dulu saat sekolah. Aku memang pernah memberikannya kepada gadis kecil yang pernah aku tolong" Ucap Sean sambil tersenyum.
Sean memeluk Linny dengan penuh perasaan, dia tidak menyangka kalau wanita yang dicintainya ini sudah pernah bertemu dengannya di masa lalu.
"Aku sudah lupa wajahmu" Ucap Linny jujur.
"Aku juga. Tapi aku sangat bodoh tidak mengenalimu ketika kau menceritakan diselamatkan seorang pemuda di taman saat kau hampir dilecehkan ayah tirimu" Ucap Sean memang merasa bodoh.
Padahal dia sudah mendengar cerita dari Linny jika dirinya pernah diselamatkan seorang pemuda dulu yang ternyata itu adalah Sean.
Sean yang kala itu patah hati sering berkeliling sendirian di tempat sepi. Hal itu juga yang menjadi keberuntungan Linny yang diselamatkan Sean.
"Kita pernah bertemu dulu? Kenapa bisa begitu?" Tanya Linny masih penasaran
Dia pernah menaruh rasa kagum pada penyelamatnya itu dulu. Dan kini penyelamatnya itu malah menjadi partner ranjangnya tanpa mereka saling ingat pernah mengenal sebelumnya.
"Mungkin Takdir dan Jodoh. Kalau aku tidak pernah di sakiti saat itu mungkin aku tidak bisa bertemu dengan mu di taman. Dan jika aku tidak pernah di sesatkan oleh Agus maka aku juga tidak mungkin bertemu dengan mu lagi di Bar RB" Ucap Sean yang malah kini bersyukur akan setiap hal yang pernah dia alami.
Meskipun semua merupakan pengalaman buruk dan membuat Sean hampir hancur, namun dibalik itu dia malah menemukan Linny yang sejak awal sudah ditunjuk Tuhan untuk saling bertemu.
"Mulai sekarang aku akan menjaga mu. Bahkan dari keluarga tiri mu itu" Ucap Sean tulus.
Linny yang memang merasa nyaman sejak bersama Sean, kini semakin merasa nyaman dan dekat karena Sean-lah orang yang pernah menyelamatkannya dan menghiburnya dulu.
Meskipun dia belum yakin bisa mencintai Sean, tapi dia tahu Sean bisa dipercaya dan dia sangat nyaman bersama Sean.
"Tapi aku tidak cengeng dan tidak lemah seperti dulu. Aku yang sekarang bisa membunuhmu" Ucap Linny jujur.
"Tidak masalah. Kalau aku mati ditangan mu aku yakin aku pasti akan mati dalam bahagia" Ucap Sean sambil terkekeh.
"Sialan! Jangan mengada-ngada!" Ucap Linny kesal.
"Maaf. Kau lapar bukan? Biar aku yang buatkan roti bakarnya" Ucap Sean.
"Aku mau dua" Ucap Linny sambil melepas pelukannya.
"Mau ikut ke dapur?" Tanya Sean.
"Mau dan jangan mengendongku" Ucap Linny ketus dan langsung berjalan lebih dulu.
Karena bergerak spontan dan terlalu cepat membuat perutnya yang terluka sedikit nyeri.
"Argh... Ssshhh" Lirih Linny memegang perutnya.
Sean terkejut melihat Linny kesakitan.
"Linny.. Kan sudah ku katakan biar aku gendong" Ucap Sean panik dan langsung mengendong Linny tanpa ijin.
Sean menurunkan Linny di atas kursi makan lalu dirinya segera membuatkan roti bakar untuk mereka.
Selesai membuat 3 roti bakar, Sean menyuapi Linny perlahan. Setelahnya Sean membawa Linny kembali ke kamar dan menemaninya menggosok gigi bersama.
Sean juga memastikan Linny meminum obat dari dokter sebelum tidur.
"Ayo tidur. Pokoknya besok kau di rumah saja. Jangan banyak bergerak dan jangan bergerak tiba-tiba seperti tadi. Paham?" Ucap Sean seperti seorang ibu yang menceramahi anak perempuannya.
"Paham Om" Ucap Linny mengejek.
"Om??" Tanya Sean heran.
"Usia mu sudah usia Om-Om. Apa salahnya aku memanggil kau 'Om'??" Tanya Linny tanpa rasa bersalah.
Sean tersenyum dan mencubit pipi Linny geram. Linny langsung menatap tajam Sean tanda tidak suka di cubit begitu.
"Jangan sampai Om ini meniduri mu hari ini ya!" Ancam Sean.
"Coba saja kalau tega" Tantang Linny.
"Astaga. Kau tahu jika aku tidak akan tega melihat mu kesakitan. Jika kau sembuh jangan salahkan aku bermain semalaman tanpa henti" Ucap Sean geram.
"Terserah" Linny tampak tidak peduli dan langsung memejamkan matanya. Efek obat yang baru dia minum membuatnya cepat mengantuk.
Sean tersenyum melihat Linny. Linny tetaplah Linny. Meskipun mereka pernah mengenal dulu, Linny tetap tidak berubah sikapnya.
Jika marah dia akan marah, jika tidak suka maka dia tentu akan melawan. Waktu yang telah berlalu sudah membuat hati dan pikiran Linny begitu keras.
Sean kemudian ikut menyusul Linny menuju alam mimpi.
.
.
Pagi itu cahaya matahari sudah mengintip. Sean segera bangun. Dan melanjutkan aktivitasnya. Menyiapkan sarapan dan membangunkan Linny.
Sean memilih membantu menyeka tubuh Linny dengan wash lap dan memastikannya sarapan serta meminum obatnya sebelum Sean berangkat ke kantor. Linny akan bekerja di rumah saja. Lagi pula tidak ada pertemuan atau meeting penting yang harus di hadiri Linny.
"Aku berangkat dulu" Ucap Sean lalu mengecup kening Linny.
"Padahal sudah aku katakan aku tidak apa-apa" Ucap Linny kesal.
Bahkan Andrean dan Sisilia mendukung Sean untuk melarang Linny datang ke kantor. Alfa juga tidak membantah Sean untuk memastikan Linny diam di rumah.
Seolah saat ini yang menjadi boss mereka bukan lagi Linny, tapi Sean.
"Sebentar lagi sepertinya FP Corporation akan berganti CEO" Gumam Linny kesal.
.
Sean tiba di kantor sendirian. Tentu banyak yang bertanya-tanya dan tidak ada yang tahu kondisi Linny. Andrean dan Sisilia juga menyembunyikan fakta apa yang terjadi semalam.
Tentu tidak boleh ada yang tahu. Setiap ada yang bertanya maka Sean, Andrean dan Sisilia kompak menjawab Linny kelelahan dan harus beristirahat lebih cukup untuk beberapa hari ke depan.
Pekerjaan Sean kini juga di bantu Jun. Selain pintar dalam bela diri ternyata Jun juga merupakan lulusan manajemen dari salah satu universitas terbaik di negara +26 itu. Begitu pula Alfa merupakan lulusan Akuntan.
Hal yang tidak di sangka siapa pun karena pekerjaan yang digeluti Jun dan Alfa menjadi bodyguard. Alasannya karena mereka kalah saing untuk bisa masuk di perusahaan besar karena mereka dari ekonomi rendah.
Beruntung Jun dan Alfa memiliki kemampuan bela diri yang baik juga sangat pintar bersosialisasi bahkan bisa membentuk perkumpulan yang menyediakan jasa bodyguard.
Tidak heran jika Jun dan Alfa sangat loyal terhadap Tuan mereka. Karena menjaga Linny dan orang-orangnya dengan baik maka Linny juga memperlakukan bodyguard nya dengan baik dan layak. Bahkan gaji mereka setara dengan manager di perusahaan Linny, juga mendapat bonus dan perlakuan layaknya keluarga sendiri.
"Jun. Kau tidak tertarik bekerja di perusahaan?" Tanya Sean serius.
"Tidak Tuan. Tugas saya menjaga Tuan Sean dengan baik dan membantu Tuan" Ucap Jun dengan sopan.
"Tapi kalau aku menunjukmu sebagai asistenku juga, apa kau keberatan?" Tanya Sean serius.
"Saya? Ah jangan Tuan. Saya hanya bodyguard" Ucap Jun merendah.
"Tapi kau sangat pintar dan cekatan. Sayang sekali jika kau hanya menjadi bodyguard. Aku yakin Linny juga pasti akan setuju. Lagian kau asisten khususku dan akan ikut aku ke mana pun" Ucap Sean membujuk.
"Jika memang itu untuk membantu dan mendukung Tuan maka saya siap" Ucap Jun dengan pasti.
Sean tampak tersenyum senang. Jun memang anak yang loyal dan menurutinya untuk setiap hal yang memang baik.
"Ah setelah ini kita belanja bahan makanan. Kebetulan barang di kulkas habis. Dan sepertinya mulai saat ini kau dan Alfa akan tinggal di kamar lantai bawah di penthouse Linny. Kami sempat membahas hal itu agar kalian tidak terlalu lelah pergi pulang. Linny sudah membeli seluruh kamar di satu lantai di bawah penthouse untuk kalian semua" Ucap Sean memberi tahu Jun.
"Baik Tuan" Jawab Jun patuh.
Sean segera menyelesaikan pekerjaan nya agar dapat pulang lebih cepat untuk memasak makan malam untuk Linny.
Ponsel Sean bergetar, terlihat panggilan masuk dari Eni. Tampak Sean ogah-ogahan mengangkatnya.
"Halo?" Sapa Sean singkat.
"Se-Seannn... Seannn.. Hiks" Suara Eni menangis di ujung telepon.
"Ada apa?" Tanya Sean yang masih cuek.
"Sean.. Papa... Hiks" Ucap Eni terbata-bata.
Sean terdiam sejenak. Eni terdengar menangis sesenggukan.
"Papa kenapa?" Tanya Sean ragu-ragu.
"Papa masuk rumah sakit...." Ucap Eni.
"Apa????" Sean terkejut.
Jun pun terkejut melihat reaksi Sean yang panik itu.
.
.
.
IG Visual Karakter @lunagelim.author