A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Menjadi Keluarga..



Hingga melewati waktu makan siang Sean baru selesai dari seluruh sesi medical check up-nya.


"Sudah selesai?"  Tanya Linny saat Sean masuk ke dalam ruangan.


"Sudah. Besok hasilnya"  Ucap Sean sambil tersenyum manis.


"Kemarilah"  Ucap Linny sambil mengulurkan tangannya pada Sean.


"Jangan. Aku belum tau apa aku baik-baik saja"  Ucap Sean menolak.


"Kau baik-baik saja. Percayalah. Jika kau tidak biak-baik saja maka aku sudah lama tertular bukan?"  Ucap Linny mencoba menenangkan pikiran Sean.


Sean pun mengalah dan berjalan mendekati Linny lalu memeluknya dengan erat.


"Kau sudah makan?"  Tanya Sean pada Linny.


"Belum. Aku menunggumu"  Ucap Linny yang masih memeluk Sean dengan erat.


"Kenapa?"  Tanya Sean bingung.


Linny memukul pelan dada Sean hingga Sean memekik terkejut.


"Sepertinya otak mu juga harus di cek! Masih tanya kenapa lagi! Memangnya siapa yang selalu temani aku makan setiap waktu? Bagaimana bisa aku makan sendirian sekarang kalau tidak ada kau"  Ucap Linny kesal.


Sean tersenyum bahagia. Linny sudah mengantungkan hidupnya sehari-hari pada Sean.


"Maaf. Ayo kita makan"  Ucap Sean sambil memeluk Linny.


Sean melihat ke arah meja dekat sofa. Terlihat dua tas besar berisi kotak makanan.


"Om Wisnu dan Tante Lisa yang kirim ini?"  Tanya Sean sambil mengeluarkan kotak makanan beserta alat makan yang sudah di steril itu.


"Iya. Katanya untuk kita"  Ucap Linny.


Sean paham lalu menyusun makanan itu untuk di suapi ke Linny.


Hingga malam menjelang tampak teman-teman mereka bergiliran mengunjungi Sean dan Linny. Sean bahkan bekerja di ruangan rawat Linny karena Linny belum di ijin kan pulang.


Dewi dan Farid juga datang menjenguk Linny. Farid bahkan membuatkan Linny sebuah kartu ucapan yang mendoakan Linny agar cepat sembuh dan kembali ke rumah.


Sungguh manis anak kecil itu. Sean juga senang melihat Farid yang tampak mampu membuat Linny tertawa.


"Kau sangat lucu, Siapa yang mengajari mu membuat  kartu ucapan ini? Ini buatan tangan?"  Tanya Linny pada Farid.


"Iya Tante. Ini Farid buat sendiri. Tapi kata-kata bahasa inggris itu di bantu Kak Jun. Farid takut salah tulisnya"  Ucap Farid dengan polos dan jujur.


Linny membelai lembut kepala Farid dengan penuh kasih sayang. Semua tersikap melihat Linny yang mau menyentuh Farid.


Linny cenderung menjauhi pria dan tak ingin bersentuhan fisik meskipun itu anak kecil. Linny hanya mau berdekatan dengan Nicolas, Om Donald juga Sean.


"Kau punya cita-cita?"  Tanya Linny pada Farid.


"Punya Tante. Setiap orang harus punya cita-cita bukan?"  Ucap Farid.


"Benar. Semua orang harus punya cita-cita. Terus apa cita-cita mu?"  Tanya Linny lagi.


"Mau jadi dokter"  Jawab Farid dengan polos.


Jawaban itu tentu membuat orang dewasa tertawa. Setiap anak kecil akan selalu menjawab cita-cita mereka itu menjadi dokter ataupun guru. Hal yang lumrah bagi mereka. Begitu pula dengan orang-orang yang sedang berkumpul di ruangan itu. Mereka hanya tertawa dan menganggap Farid sama seperti anak-anak pada umunya. Nanti jika sudah dewasa pasti akan berubah.


Tapi tidak dengan Linny, dia melihat ada kesungguhan di mata Farid yang polos itu.


"Apa alasannya. Kenapa harus jadi dokter? Banyak profesi lainnya"  Ucap Linny dengan santai.


"Sebenarnya Farid mau jadi dokter juga pebisnis hebat"  Ucap Farid dengan sungguh-sungguh.


"Jelaskan"  Ucap Linny lagi.


"Jika jadi dokter Farid bisa menyelamatkan nyawa orang. Terutama orang miskin. Biar tidak ada lagi orang miskin yang di usir dari rumah sakit seperti Ibu dan Kak dewi yang pernah di usir karena tidak ada uang berobat. Tapi jika harus bisa membantu yang miskin, Farid juga harus ada banyak uang. Kan obat-obatan dan perawat harus di bayar. Kalau Farid tidak di bayar tidak apa-apa tapi Farid juga butuh makan bukan biar bisa merawat pasien"


Penjelasan panjang anak sekecil itu membuat semua orang tersikap. Farid yang polos memiliki pemikiran sedewasa dan sedetail itu.


Pahitnya kehidupan telah memaku di otak anak kecil itu dan membuatnya memiliki keinginan untuk membantu orang miskin yang kesulitan pengobatan seperti apa yang pernah dia lalui.


Sungguh logis perkataan Farid. Seorang dokter biarpun ingin menolong orang miskin dia juga harus memiliki kemampuan materi. Karena obat dan perawat tetap butuh biaya pengadaannya.


Tak mungkin perawat tak bergaji seumur hidup. Dan siapa yang akan menjual obat kepada pihak rumah sakit jika tidak di bayar.


Maka Farid berpikir dia juga harus punya bisnis yang bisa dia gunakan hasilnya untuk membantu biaya perawatan orang miskin nantinya.


"Kau. Mau jadi anak ku? Sepertinya keren kalau aku punya anak Dokter yang bisa membantu orang miskin. Aku akan membiayai semua kebutuhanmu"  Ucap Linny.


Semua orang tersikap mendengar perkataan Linny. Bahkan Dewi sampai memastikan pendengarannya pada Jun.


"Nona mau Farid jadi anaknya??"  Tanya Dewi sambil menatap Jun dengan heran dan tak percaya.


Jun hanya membalas tatapan Dewi dengan wajah datar karena sama-sama tidak tau apa niat sang Nona.


Tak ada yang tak terkejut mendengar Linny yang hendak menjadikan Farid anaknya.


"Eh? Kalau Farid jadi anak tante. Kak Dewi bagaimana?"  Tanya Farid dengan polos.


Dia berpikir jika menjadi anak Linny maka dia harus meninggalkan kakak satu-satunya itu.


"Pilih. Mau hidup denganku dan bisa menjadi dokter atau hidup dengan kakak mu"  Ucap Linny terdengar sengaja menantang Farid.


Anak laki-laki itu tampak berpikir lalu menatap Linny.


"Kalau harus pisah dari Kakak. Farid enggak mau. Farid bisa kok tetap jadi dokter dengan belajar keras. Kalau gak ada uang sekolah, Farid bisa bantu jualan kue atau kerja di pasar saat liburan dan pulang sekolah"  Ucap Farid dengan lantang.


Sean tersenyum melihat Farid. Pantas jika Linny menyukai Farid dan mau menjadikannya anak angkat. Farid memiliki sifat dan karakter yang kuat dan bisa sukses di masa depan.


"Kau yakin? Susah loh jadi dokter kalau tidak ada uang banyak dan jika tidak ada kenalan"  Ucap Linny kembali meledek Farid.


"Yakin! Kak Dewi jauh lebih penting dari pada hidup mewah yang katanya menjamin masa depan. Lagi pula kapan saja kita bisa miskin lagi tante. Farid juga sudah biasa hidup susah bareng Kak Dewi. Jadi tidak masalah kalau harus susah bekerja agar bisa sekolah tinggi"  Ucap Farid lagi.


Linny tertawa mendengar ucapan Farid. Feeling-nya tidak pernah meleset. Sejak bertemu Farid dan melihat sikap anak itu yang begitu kuat menghadapi kondisi kehidupannya. Dia tau Farid seperti permata tersembunyi.


"Jun uruskan berkas Farid. Ubah aku menjadi wali sahnya Farid dan Dewi. Masukan Farid dalam berkas keluarga ku sama seperti Sean"


Ucap Linny dengan santai.


Semua mata memandang Linny heran. Bukan karena Linny menjadikan Farid sebagai anak angkatnya. Tapi mereka terkejut Sean sudah ada dalam berkas keluarga Linny.


Bukan hanya teman-teman mereka, Sean saja bingung. Dia tidak tahu menahu hal itu.


"Linny??? Apa maksudmu? Aku?? Berkas keluarga??"  Tanya Sean bingung.


Dan kini semua memandang heran pada Sean yang kebingungan itu.


Sean juga tidak tahu apa yang sudah Linny lakukan.


.


.


.