A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Mencoba Mengalah...



"Suruh orang ikuti Sean. Jangan sampai manusia-manusia laknat itu menyentuhnya"  Ucap Linny memerintah.


Alfa langsung meminta beberapa orang mengikuti lagi mobil Sean dari jarak tertentu.


Tak lama Alfa kembali ke ruangan Linny dan menyerahkan kotak obat pada Linny. Perlahan Linny bergerak menyeka luka-lukanya sendiri. Luka semalam akibat tusukan Erik dan beberapa luka baretan pisau akibat pertarungannya tadi dengan kekasih Rain.


Alfa terkejut melihat luka perut Linny yang terbuka dan mengeluarkan darah.


"Nona. Lebih baik kita ke rumah sakit"  Ucap Alfa yang takut sesuatu buruk terjadi pada Linny.


"Tenanglah. Ini hanya luka kecil. Luka yang lebih besar dari ini sudah pernah aku dapatkan"  Ucap Linny dengan santai.


Linny memang sudah pernah mendapat luka besar pada punggung dan bahu kirinya bahkan dia hampir terancam lumpuh dulu.


"Nona butuh apa lagi?"  Tanya Alfa agar Linny tidak perlu banyak bergerak saat terluka.


"Tidak ada. Aku bisa sendiri. Kau keluarlah dulu"  Ucap Linny memerintah.


Alfa lalu keluar dari ruangan Linny membiarkan Nona CEO-nya itu membersihkan lukanya sendiri. Linny memang tidak mau di sentuh siapapun selain Sean selama ini. Bahkan untuk dokter saja dia enggan sebenarnya di sentuh jika tidak terpaksa.


Selesai menyeka lukanya dan membalutnya kembali dengan kain kasa bersih. Linny bergerak menuju walk in closetnya untuk menyediakan pakaian tidur Sean.


Kebiasaan yang sudah lama dia dan Sean lakukan jika salah satu sedang tidak sibuk maka mereka akan menyiapkan pakaian untuk satu sama lainya.


Linny mengingat Sean belum makan dengan baik. Sean hanya memakan sebungkus mie instan dan itu juga tidak di habiskan.


Takut jika Sean lapar saat kembali membuat Linny tergerak untuk memasak. Sudah lama dia tidak pernah memasak untuk orang lain.


Bahkan biasanya Linny juga malas memasak untuk dirinya sendiri. Dia lebih banyak memakan makanan instan atau memesan. Sejak adanya Sean barulah Linny makan dengan baik karena Sean selalu memasakkan makanan untuk mereka.


Sean juga banyak belajar memasak makanan lain yang lebih rumit agar bisa membuat Linny makan dengan layak. Padahal Linny tidak pernah meminta hal itu.


Linny yang memang pintar memasak tidak kesulitan membuat makanan untuk Sean. Namun siapa yang menyangka luka di perutnya membuat dia kesulitan bergerak bahkan hampir terjatuh.


"Nona!!!"  Alfa terkejut melihat sang Nona yang dia jaga hampir terjatuh di lantai dapur.


"Maaf Nona. Saya gendong"  Ucap Alfa yang tau jika Linny benci di sentuh sembarang orang.


Alfa langsung mengendong Linny dan membaringkannya di tempat tidur.


"Nona. Akan saya siapkan mobil untuk ke rumah sakit"  Ucap Alfa yang mulai panik itu.


"Tidak usah. Berikan saja obatku. Aku cuman perlu istirahat. Ah pastikan Sean makan saat dia kembali. Belikan beberapa makanan untuknya"  Ucap Linny sambil menahan rasa perih di perutnya.


Rembesan darah kembali mengalir dan membasahi bajunya. Linny pun tertidur tanpa ingat apa pun lagi.


.


.


Paginya saat terbangun Linny melihat Sean tertidur di sampingnya sangat lelap. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Biasanya Sean akan bangun pukul 6 lewat. Sepertinya Sean memang kelelahan.


Linny bergerak perlahan dan mencabut infusnya yang masih tersisa seperempat itu. Linny mencuci wajahnya sendiri lalu bergerak menuju dapur.


Meskipun perutnya masih terasa sakit saat bergerak tidak membuat Linny berdiam diri. Dia ingin membuatkan makanan untuk Sean.


Hanya makanan yang mampu meluluhkan hati pasangan bukan? Apalagi jika makanan itu terhidang hangat dan di nikmati bersama maka semua perkara bisa dibicarakan.


Linny membuatkan spaghetti aglio olio dengan topping jamur juga sosis panggang. Aromanya begitu harum hingga Alfa dan Jun turut lapar.


Sean perlahan terbangun dan menatap sekeliling. Wajahnya panik melihat Linny tidak ada di tempat tidur dan infus ditinggal begitu saja.


"Linny!!"  Sean langsung berlari menuju kamar mandi dan walk in closet mencari Linny.


Hidung Sean mencium aroma lezat dari arah dapur. Sean perlahan bergerak menuju dapur.


"Aroma apa ini?"  Gumam Sean.


Matanya membola terkejut melihat Linny yang sedang memasak. Sesekali gerakan Linny terhenti dan terlihat Linny menahan sakit pada perutnya.


Sean memang pernah menikmati masakan Linny sekali saat di apartemen lama Linny. Namun Linny tidak pernah lagi mau memasak.


Linny memang lebih suka hal yang instan dan simpel. Maka dari itu Sean yang selalu berinisiatif memasak untuk Linny selama ini.


Hati Sean merasa hangat melihat Linny yang memaksakan diri memasak padahal dalam kondisi yang masih belum sembuh.


"Linny"  Panggil Sean perlahan.


"Pergilah bersihkan wajah dan gosok gigi. Sudah hampir siap. Ah. Jun - Alfa kalian juga. Makanlah dengan yang lain. Aku memasak banyak"  Ucap Linny terdengar sangat lembut bagi Sean.


Belum pernah Linny selembut itu berbicara. Entah karena ingin lembut dan berubah untuk Sean atau karena luka di perutnya membuat dia tidak memiliki tenaga untuk emosi saat ini.


Sean baru saja berjalan hendak berbalik ke arah kamar mandi, dia mau membersihkan wajah di kamar mandi sebelum sarapan bersama namun di kejutkan dengan suara sendok yang terjatuh.


"Linny!!"  Pekik Sean syok melihat Linny hampir terduduk menahan sakit di perutnya.


Terlihat sedikit rembesan darah di perutnya. Liny terlalu banyak bergerak dan itu membuat lukanya semakin nyeri dan mengeluarkan sedikit darah.


Melihat itu Alfa dan Jun menggantikan Liny menyiapkan sarapan ke atas piring agar Sean bisa membawa Linny beristirahat.


Mereka tau jika hanya Sean yang bisa merawat Linny dengan baik dan mungkin itu bisa membuat Tuan dan Nona mereka kembali berbaikan. Sungguh bodyguard yang sangat pengertian.


Sean langsung mengendong Linny ke dalam kamar dan memeriksa lukanya.


"Aku akan ambilkan baju ganti. Kau jangan bergerak"  Ucap Sean dengan lembut.


Perlahan Sean melepaskan pakaian Linny, menyeka tubuhnya dengan wash lap. Membersihkan rembesan darah pada luka Linny dengan hati-hati lalu memakaikan kembali baju Linny.


"Maaf"  Ucap Linny tiba-tiba.


Sean terkejut mendengar Linny meminta maaf. Dan itu terdengar sangat tulus. Linny terdengar sangat rapuh saat itu.


"Aku yang minta maaf. Aku sudah membentak mu. Padahal yang kau lakukan hanya untuk melindungiku seperti janji mu selama ini"  Ucap Sean merasa bersalah sudah di kuasai emosi semalam.


"Aku tau aku sangat dominan. Bahkan aku tidak tau cara mengurangi hal itu. Aku tidak ingin di injak lagi oleh siapa pun Sean. Maaf jika itu membuatmu tertekan"  Ucap Linny jujur.


Linny mulai paham dengan Sean yang merasa dirinya di injak karena tidak di hargai perkataannya. Padahal Sean selalu baik dan lembut padanya. Bahkan lebih mencintai Linny di banding keluarga kandungnya sendiri.


"Tidak masalah. Aku senang kau seperti itu. Itu karena Kau sangat tegas dan berpendirian. Hanya aku memang merasa sedih, sepertinya aku tidak pernah bisa ada dalam hatimu. Tapi mulai sekarang aku tidak akan mempermasalahkannya lagi"  Ucap Sean yang sudah memikirkan matang-matang.


Sean sudah berkata dia akan selalu mencintai Linny dan tidak mengharapkan Linny mencintainya sebesar yang dia lakukan. Maka seharusnya dia bisa menerima jika Linny akan sangat keras kepala dan tidak bisa di atur.


Linny menarik Sean mendekat lalu menciumi bibir Sean dengan lembut.


"Aku akan membuat pengecualian untuk mu jika itu terkait keselamatan dan kesehatanku. Tapi jika menyangkut keputusanku dalam hal lain termasuk melenyapkan siapa pun jangan pernah kau usik. Mengerti?"  Tanya Linny serius.


Sean tersenyum senang. Linny mengalah padanya kali ini meskipun hanya untuk hal yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan Linny. Tentu itu hal yang ajaib bagi Sean. Dia tidak menyangka Linny akan melakukan hal itu untuknya.


"Aku mengerti. Aku mencintaimu Linny. Maafkan aku sudah kasar semalam. Aku tidak akan mengulanginya lagi"  Ucap Sean terdengar tulus.


"Aku mungkin keras. Tapi hal yang harus kau tau. Kau itu jantung bagiku. Apa pun yang aku lakukan itu karena aku ingin melindungi jantungku itu agar terus berdetak dengan baik. Kau paham?"  Tanya Linny serius.


Mata Sean membola. Dia tidak percaya jika dirinya sudah sepenting itu bagi Linny. Ungkapan Linny itu lebih romantis bagi Sean di banding perkataan ' I Love You '.


"Benarkah? Aku sudah menjadi jantung mu?"  Tanya Sean tidak percaya.


"Dan aku akan membunuh mu jika kau berulah"  Ucap Linny mengancam.


"Maka kau akan ikut mati"  Jawab Sean sambil tersenyum senang.


"Lebih baik. Karena jika kau ke neraka pun pasti akan aku kejar dan aku habisi lagi"  Ucap Linny.


Sean sangat senang dan memeluk Linny erat tanpa sadar.


"Argh!"  Pekik Linny kesakitan.


Perut Linny terasa nyeri karena tertekan saat di peluk Sean dengan erat.


"Ah maaf. Aku tidak sengaja"  Ucap Sean merasa bersalah.


"Aku lapar"  Ucap Linny mengalihkan pembicaraan.


"Ayo aku gendong"  Ucap Sean.


Linny tak lagi menolak membiarkan Sean menggendongnya hingga ke dapur.


Alfa dan Jun yang melihat itu tersenyum lega. Akhirnya Tuan dan Nona mereka berbaikan dan bisa saling memahami lebih lagi.


.


.


.