A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Mimpi Dan Ketakutan Sean...



"Maaf. Tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik sesuai janji ku sebelumnya. Dan tolong jangan pernah meninggalkan ku ya Linny. Aku takut sendirian "


Linny hanya diam membiarkan Sean memeluknya. Mata Linny menyiratkan hal yang sulit di terka siapa pun.


"Bersihkan dirimu. Setelah itu ayo makan malam. Aku lapar "  Ucap Linny sambil mengurai pelukan Sean.


Sean mengangguk lalu segera masuk ke kamar mandi. Linny melepas jas dan juga pakaian atasnya lalu melempar pakaiannya ke tas laundry.


Sejenak Linny berdiri menghadap ke kaca besar yang ada di kamar itu. Linny melihat ke pantulan dirinya, Perlahan tangannya menyentuh kembali luka di bahunya.


"Ternyata bukan hanya aku yang sakit. Dia juga. Dua orang yang sakit ini mungkin suatu saat akan saling menyakiti lebih dalam bahkan membunuh satu sama lain "  Ucap Linny lirih lalu memejamkan mata nya.


Linny menarik nafas panjang lalu membuka kembali matanya menatap pantulan dirinya itu.


" Tidak ada cinta yang bisa kau terima Kimberly Fransisca Pratama. Ingat kau hanya monster penuh luka. Dan suatu saat kau pasti akan melukai orang yang kau cintai. Jangan pernah jatuh cinta Kimberlyn. Kau tak pantas. Kau harus menghentikan semua ini sebelum terlambat"  Ucap Linny pada dirinya sendiri dengan tatapan penuh amarah.


.


Di dalam kamar mandi Sean membersihkan tubuhnya dengan guyuran air dingin. Tangan Sean mengepal dan memukuli dinding di dekatnya.


"Sial... Kau bodoh Sean... Lebih baik tidak usah menjenguk Erik jika kau akan kembali lemah seperti ini.... Kau tidak boleh menyerah, kau pasti bisa Sean. Kau ini normal. Kau pasti bisa kembali normal..." Ucap Sean lirih pada dirinya sendiri.


Sean menutup matanya dan menarik nafas dalam menetralkan emosinya.


"Linny saja sudah membela mu Sean. Linny yang dingin dan tidak mau memiliki kedekatan dengan pria bahkan mau membela mu dengan tegas di hadapan Erik. Dia saja bisa meyakinkan orang bahwa kau sudah bisa bereaksi terhadap tubuh wanita. Jadi kenapa kau malah ragu pada dirimu sendiri. Kau memang bodoh Sean "  Lanjut Sean memarahi dirinya sendiri.


"Kau munafik Sean! Kau masih menyukai p****!"


DEG!!!


Kalimat yang di ucapkan oleh Erik kembali terngiang di kepala Sean.


Sungguh dia merasa sudah salah menemui orang yang sangat paham kelemahan dan isi pikirannya.


Sean segera menyelesaikan mandinya. Dia tidak ingin Linny terlalu lama menunggunya.


Terlihat Linny sudah berganti pakaian santai.


"Kau tidak ingin mandi Linny? "  Tanya Sean heran.


"Nanti saja. Aku sudah memesan makanan "  Ucap Linny lalu berjalan menuju ruang makan di ikuti Sean.


Sean tampak dengan cekatan mengambilkan nasi dan lauk untuk Linny. Sean bergerak ingin menyuapi Linny seperti biasanya namun Linny tidak meresponsnya.


"Makan saja makanan mu. Tidak perlu mengurusi ku "  Ucap Linny dengan datar dan dingin.


Wajah Linny tanpa ekspresi. Linny kembali dalam mode menjaga jarak dan dingin kepada lawan jenisnya.


Hal itu membuat Sean cukup terkejut. Selama ini Linny sudah cukup terbuka dan mau bermanja-manja dengannya. Terlebih lagi hari ini Linny bahkan ikut dengan nya menemui Serik dan membela  Sean di hadapan Erik.


Tapi apa yang terjadi. Baru beberapa waktu berlalu dan Linny kembali pada sikapnya yang dingin dan menjaga jarak terhadap sentuhan.


"Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan? "  Tanya Sean bingung.


Linny hanya diam enggan menjawab. Dia hanya menyantap makanannya secepat mungkin lalu bergerak menjauh.


Linny berjalan menuju ruang kerjanya dan menutup pintu.


Melihat sikap Linny membuat Sean merasa sedih dan gelisah.


' Apa Linny marah denganku? Atau dia berpikir aku masih suka berhubungan dengan pria lain di luar sana. Astaga Sean. Seharusnya kau memang tidak menemui Erik lagi. Apalagi membawa Linny. Kau bodoh Sean ' Umpat Sean pada dirinya sendiri.


Sean menyelesaikan makannya. Dia tampak tidak bernafsu makan. Dirinya hanya memakan beberapa suap nasi lalu berhenti.


Di bersihkannya meja makan dan piring kotor yang ada. Setelahnya Sean masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas ranjang.


Sean merasa dingin dan hampa. Biasanya selama ini sebelum tidur, dirinya dan Linny akan berbincang tentang kejadian apa yang dia alami hari itu juga berbagi saran untuk pekerjaannya.


Tidak lama Sean terlelap dalam tidurnya. Pikirannya yang terlalu lelah itu mengantarkan dirinya lebih cepat masuk dalam dunia mimpi.


Di dalam mimpi, Sean berada di sebuah padang rumput yang luas tak berujung. Dirinya berlari mengelilingi padang rumput mencari jalan keluar dari tempat yang tak berpenghuni itu.


Hingga Sean mulai lelah tidak bisa menemukan cara keluar dari tempat asing itu, Sean melangkah gontai pasrah. Dirinya melihat ke sebuah pohon rindang yang besar. Terlihat orang berada di sana.


Sean tampak bahagia. Dirinya berlari menuju pohon itu karena akhirnya dia bisa menemukan manusia di saat ketakutannya mulai menggerogoti.


Sean melihat seorang wanita. Itu Linny. Tapi tubuhnya penuh darah. Terlihat Linny memegang sebuah pisau. Linny membunuh banyak orang. Terlihat seorang pria terakhir yang masih hidup kini di cekik oleh Linny.


Eh itu? Sean?? Ya Sean melihat dirinya sedang di cekik oleh Linny. Mata Linny tampak membara. Dan dalam sekejap. Jleb! Linny menusuk perut Sean yang di lihat oleh Sean saat itu. Seolah dirinya benar-benar tertusuk membuat Sean mual seketika.


"Hahhh. Hahh... " Sean terbangun.


Nafas Sean tersengal-segal. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Padahal Ac di kamar Linny sangat lah dingin. Mustahil bagi Sean untuk bisa berkeringat.


Sean melihat ke sebelahnya. Tidak ada Linny di sana.


Tidak lama pintu kamar terbuka. Linny masuk dan menatap Sean dengan dingin.


Linny mengabaikan Sean lalu masuk menuju kamar mandi membersihkan diri.


' Apa Linny tidak tidur di kamar ini? ' Batin Sean.


Hal itu mengusik pikiran Sean karena tempat tidur itu tampak rapi di bagian sisi Linny biasanya tidur. Dan juga dingin tanpa hawa panas manusia yang tidur di sisi itu.


Sean mengusah kasar wajahnya dan mencoba berpikiran positif. Mimpinya benar-benar mengerikan.


Terdengar suara gemercik air di kamar mandi. Linny sedang mandi.


Sean hanya mampu diam. Selesai mandi Linny masih tampak diam tidak banyak berbicara. Hanya kalimat-kalimat penting dan seperlunya saja yang dia ucapkan.


Bahkan sepanjang perjalanan menuju kantor juga saat Sean di umumkan sebagai Kepala Manager Pemasaran yang baru dan akan menggantikan tugas Andrean khusus di bagian pemasaran , tetap saja Linny diam seribu bahasa. Andrean lah yang mewakilinya berbicara.


Linny juga tampak tidak memanggil Sean ke ruangannya. Linny memilih berada di dalam ruangan CEO seharian tanpa ada yang paham apa yang terjadi padanya. Terutama Sean yang merasa sakit dan sedih karena Linny yang kembali menjauhinya.


.


.


.