A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Ending Terbaik



"Jadi benar ini maharnya kami akan di berikan" Tanya Mama Alice memastikan.


Wajah orang tuanya begitu sumingrah dan senang karena akan menerima mahar yang besar.


"Ya dan tanda tangani surat penyerahan mahar dan perjanjian tidak ada tuntutan dan tidak ada hak ikut campur urusan rumah tangga Alice dan Willy"


Tegas Linny yang membuat Mama Alice terkejut. Ingin sekali dia marah dan protes pada Linny.


"Diam! Aku belum selesai bicara"


Suara Linny yang tegas dan keras membuat Mama Alice merasa ciut. Alice yang ada bersama mereka juga terkejut.


"Kau meminta mahar apa kau sadar itu sama dengan kau menjual anakmu sendiri? Kalau sudah menjual sesuatu maka pemilik lama sudah tidak ada hak atas barang itu bukan? Jadi kenapa kau harus marah? Keinginan kalian sudah aku penuhi. Dan kini keinginan ku yang harus di jalankan"


"Sedikit saja kalian berani mengusik dan mengganggu kehidupan Alice dan Willy apalagi membuat mereka bertengkar karena keegoisan kalian lagi. Maka kalian berhadapan dengan ku dan hukum serta aturan yang aku buat"


Tegas Linny yang membuat bungkam kedua orang tua Alice. Linny sudah jengah melihat sikap orang tua Sean maupun orang tua Alice yang tidak ada satu pun yang benar.


"Kalian memilih harta dan ego kalian tanpa memikirkan perasaan putri kalian yang sedang hamil. seolah menyalahkan si pria sudah cukup padahal si pria sudah mau bertanggung jawab. Masalah mahar adalah pembicaraan antar orang tua secara sepihak tanpa bertanya pada  anak mereka yang akan menjalankan pernikahan. Luar biasa sekali ya. Uang bisa membeli kebahagiaan putri kalian ternyata"


Ucapan telak Linny sangat menyentil perasaan Papa Alice. Dia bahkan tidak berani menatap mata Linny yang menatapnya tajam.


"Alice. Ambil keperluanmu yang paling penting. Selebihnya tinggalkan. Kau akan mendapatkan yang baru nanti. Dan uang 2 Miliar yang kalian inginkan sudah dikirim. Silakan cek rekening kalian" Ucap Linny pada Alice dan orang tuanya.


Gary memastikan tanda tangan di berkas pernyataan penyerahan mahar itu sudah selesai.


Mereka pun pergi dari rumah itu membawa Alice bersama mereka. Meskipun sedih harus meninggalkan orang tuanya dan melihat mereka mendapat kemarahan dari Linny.


Alice tidak mampu berbuat apa-apa. Perkataan Linny memang benar. Dan Alice juga sangat mencintai Willy.


"Fokus untuk kehamilan mu dan kesembuhan Willy. Kau dan Willy akan pindah dari negara ini. Itu jauh lebih baik untuk kalian"


Ucap Linny di dalam mobil saat perjalanan menuju rumah Om Donald. Alice hanya mengangguk paham tanpa berani membantah.


Tiba di rumah Om Donald terlihat Willy sedang mencari udara segar di halaman belakang.


Willy terkejut melihat Alice yang datang bersama Sean dan Linny.


Mereka berpelukan dan saling melepas rindu. Baik Willy ataupun Alice memang sangat saling mencintai satu sama lain.


"Maafkan aku. Maaf" Ucap Willy sambil menangis.


"Tidak. Kau sudah hebat bisa bertahan. Kau pasti akan menjadi ayah yang hebat" Ucap Alice menenangkan Willy.


Melihat itu tanpa sadar Sean menitikkan air matanya. Dia senang bisa membantu Willy.


"Kenapa menangis?" Tanya Linny heran.


"Tidak. Terima kasih Linny. Terima kasih" Ucap Sean sambil mengecup punggung tangan Linny.


Linny hanya menghela nafas kecil.


Sean dan Linny pamit, mereka membiarkan Willy dan Alice tinggal di rumah Om Donald. Keduanya akan melangsungkan pemberkatan pernikahan tanpa pesta. Itu keinginan Alice. Dia tidak butuh pesta karena orang tuanya sudah meminta mahar yang begitu besar.


Santo membantu mengurus kepindahan mereka ke luar negeri. Willy akan menjadi bagian dari perusahaannya di negeri gajah putih.


Selain itu Willy masih terus menjalani perawatan dan rehabilitasi singkat. Beruntung dia bisa segera bebas dari ketergantungannya.


Mungkin karena adanya Alice dan calon anak mereka di sisinya. Itu membuat Willy sangat bersemangat untuk kembali hidup normal.


Hari-hari berlalu dengan damai kini. Ancaman sudah berakhir. Sean dan Linny sudah cukup tenang. Proses hukum para manusia kotor itu sedang berlangsung dan panjang karena kasus itu sangat mengguncang publik.


.


Santo meminta beberapa pengawal mengawal perjalanan Willy dan Alice hingga tiba di negara gajah putih. Santo juga menyiapkan rumah sederhana dan kendaraan untuk mereka selama di sana.


Hal yang perlu di lakukan Willy hanya bekerja dengan bakik di perusahaan Santo dan jangan berkhianat.


"Ingat. Jangan coba mengkhianati Santo. Jika bukan karena dia maka kau tidak akan pernah bisa keluar dari lubang itu"


Tegas Linny mengingatkan Willy.


"Aku paham Kakak ipar. Aku tidak akan mengecewakan kalian. Sampai jumpa lagi lain waktu dan semoga kalian cepat memberiku keponakan. Biar anak ku juga bisa bermain dengan sepupu mereka"


Ucap Willy sambil merangkul Alice di sebelahnya.


"Ya sudah. Hati-hati di sana ya. Sering-sering telepon. Jika perlu apapa-apa kabari aku" Ucap Sean pada Willy.


"Iya Kak tenang saja" Jawab Willy sambil menepuk pundak Sean.


Linny menatap pengawal Santo yang akan mengawal Willy dan Alice.


"Kalian. Tolong jaga dengan baik mereka. Jangan sampai lecet. Jika lecet sedikit saja kalian akan tau balasan ku"


Ucap Linny dengan tegas pada pengawal-pengawal itu.


"Baik Nona Kim. Kami paham" Ucap mereka serempak.


Mereka sangat tau siapa Linny. Jika Tuan mereka - Santo Wisnu Negara sangat kuat dan mengerikan. Maka Linny setingkat di atas Tuannya. Dia tidak pernah bermain-main jika sudah mengamuk. Dan mereka tau Linny lah yang mengajari Tuan mereka bertarung dengan pisau.


Jadi sudah di pastikan Linny lebih mengerikan di banding Tuan mereka yang sering mereka anggap psikopat gila.


"Kami berangkat ya Kak. Kakak Ipar" Ucap Willy berpamitan.


Sean dan Linny memperhatikan mereka berjalan semakin menjauh memasuki pintu untuk menaiki pesawat.


"Ayo pulang. Kita harus segera membuat sepupu untuk anak Willy dan Alice"


Ucap Sean menggoda Linny.


"Bilang saja kalau kau sedang ingin. Alasan macam apa itu"


Ucap Linny tak ingin kalah.


Keduanya tersenyum dan segera kembali ke parkiran mobil.


Mobil melaju kembali menuju penthouse mereka. Dan tentu saja mereka kini sudah mulai melaksanakan proses membuat Sean dan Linny junior.


Seolah tak ada lelahnya mereka terus saling memacu kenikmatan itu hingga mencapai pelepasan berkali-kali.


Keduanya merasa lega karena sudah berakhir. Baik Sean maupun Linny begitu senang dan lega.


Akhirnya mereka bisa hidup dengan tenang karena semua hal sudah berakhir. Kini mereka bisa fokus dengan kehidupan pernikahan mereka juga keluarga kecil yang akan mereka bangun.


Linny juga tak lupa akan Farid. Anak itu sudah mendapat bagian tersendiri dari Linny. Baginya Farid adalah putra pertamanya dan Sean. Farid juga tampak sangat baik dan mematuhi Linny serta Sean.


Hidup mereka kini terasa membaik dan benar-benar terasa lengkap layaknya keluarga pada umumnya. Seperti ending terbaik dalam perjalanan hidup mereka.


.


.


.