A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Help...



Keesokan harinya Rendy bersiap akan pindah tempat tinggal. Dia yakin pihak Linny akan mencari tau siapa orang yang sudah berani mencoba mencuri data perusahaan.


Rendy cukup beruntung sudah menyimpan cukup banyak uang selama bekerja, baik dari gaji hariannya maupun dari tips jika dia membersihkan apartemen, hotel ataupun restoran dengan baik.


Rendy cukup rajin dan bersih karena itu dia selalu di minta menggantikan rekannya yang berhalangan untuk masuk kerja.


"Untung uang ku cukup banyak. Sepertinya aku lebih baik mencari kost an kecil saja"  Ucap Rendy sambil menghitung kembali uang yang dia miliki.


Rendy teringat Eka. Dia sangat menyukai gadis itu. Ingin sekali dia membawa Eka ikut bersamanya ke mana pun.


"Eka. Eka kau cantik sekali" Gumam Rendy sambil tersenyum.


Dia kembali bergegas membereskan barang-barangnya yang tak banyak agar bisa segera pergi dari kontrakan itu.


.


.


FP Corporation~


"jadi namanya Reno dan hanya petugas pengganti?" Tanya Linny memastikan laporan yang di dapat Andrean dari pihak outsourcing.


Andrean mencari tau data setiap pekerja outsourcing yang keluar masuk perusahaan. Dari semua data dan keterangan dia bisa menunjuk ke satu nama. Yaitu, reno, office boy lepas di perusahaan outsourcing yang baru bergabung sekitar sebulan di tempat itu.


"Iya. Menurut informasi, Reno sangat rajin dan cekatan. Dia juga sangat pintar membersihkan setiap sudut ruangan. Makanya dia selalu di tunjuk untuk menggantikan rekannya yang sakit. Hanya aneh dia di tawarkan menjadi pegawai tetap di perusahaan itu tapi dia menolak" Ucap Andrean.


"Menolak? Kenapa?" Kini Sean ikut penasaran.


"Di perusahaan itu jika mau kontrak harus menyediakan data identitas asli yang lengkap. Jika hanya pekerja lepas tidak perlu. hanya butuh nama dan nomor telepon agar bisa di panggil sewaktu-waktu" Jawab Andrean.


"Dan itu artinya dia sengaja tidak mau di kontrak agar tidak terlacak. Benar bukan?" Tanya Linny sambil menatap Andrean.


"Tepat sekali. Tidak ada kartu identitas, tidak jelas alamat, dan nomor ponselnya juga sudah tidak bisa di hubungi" Ucap Andrean.


Mereka berpikir licik dan pintar sekali orang itu. Bahkan Sean dan Linny sempat menduga orang itu adalah suruhan Rain. Tapi tidak mungkin Rain berani masuk ke perusahaan. Dia cukup berhati-hati dan tidak akan membuat dirinya terekspose meskipun dia kebal hukum selama ini.


"Apakah pencarian kita buntu? tidak ada informasi lebih lanjut???" Tanya Linny pada Andrean.


"Untuk sementara tidak ada. Tapi aku tetap akan mencari tau lagi dan menemukan wajah pelakunya. Mungkin kita bisa mendapat informasi lebih jika memiliki foto wajahnya" Ucap Andrean.


"Baiklah" Linny tampak paham.


Pekerjaan mencari orang memang tidak mudah. Akan lebih sulit lagi jika benar orang itu adalah kiriman dari Rain. Sudah pasti pihak aparat pemerintah akan melindunginya. Mereka merupakan rekanan Rain tentu tidak ingin Rain terjatuh.


"Ya sudah, bahan meeting sudah siap?" Tanya Linny pada Sean.


"Sudah. Ayo kita ke ruang meeting" Ucap Sean mengajak Linny dan yang lainnya.


.


.


.


Rendy sudah menemukan tempat baru untuk sementara dengan harga sewa yang jauh lebih murah daripada menyewa kontrakan meski ukurannya sangat kecil dan cukup untuk 1 orang tidur saja. Kamar mandinya juga kamar mandi bersama.


Tapi Rendy tidak peduli. Yang dia butuh kan hanya sebuah ruangan untuk beristirahat dan tidur. Rendy memutuskan untuk tidak ke mana-mana di siang hari untuk sementara itu. Dia harus menjaga pandangan orang-orang yang mungkin mengenalinya sebagai office boy.


Hingga malam menjelang, Rendy memutuskan keluar dari kost-an nya untuk mencari makanan.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Rendy mencari penjual nasi goreng pinggir jalan yang masih buka.


Setelah menikmati sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat, dia memutuskan berjalan-jalan sebentar sambil menata kembali rencananya untuk menghancurkan Linny.


Tanpa sadar Rendy mendekati Bar RB. Dia melihat Eka yang keluar dari Bar dan sedang membuang sampah di dekat ujung jalan yang sepi itu. Rendy mendekati Eka.


"Hai Eka" Sapa Rendy yang membuat Eka sedikit terkejut.


"Eh. Mas Reno. Astaga aku terkejut kirain siapa" Ucap Eka yang memang sedikit takut apalagi suasana sudah gelap dan sepi.


"Maaf tidak bermaksud mengejutkan mu. Aku tadi habis makan di dekat sini malah melihat mu dan ingin menyapa" Ucap Rendy semanis mungkin.


Eka hanya mengangguk dan tersenyum manis mendengar perkataan Rendy.


"Aku masuk dulu ya Mas. Masih ada costumer di dalam" Ucap Eka.


Namun Rendy menahan tangannya dan ingin berbicara.


"Ah maaf. Bisa bicara sebentar?" Tanya Rendy.


Dia memasak muka setebal mungkin dan yakin Eka hanya karyawan Bar saat melihat celemek dan name tag yang dia pakai. Tentu dia juga dari kalangan bawah dan pasti akan mau menerima Rendy.


Semua wanita kalangan ekonomi bawah pasti akan senang jika ada pria yang menyukai mereka dan mau membiayai hidup mereka. Begitu pemikiran Rendy.


"Ya? Ada apa ya Mas?" Tanya Eka bingung dengan wajah polosnya.


"Aku menyukai mu. Aku mencintai mu Eka. Kau mau kan hidup bersamaku. Aku akan membiayai mu. Kau tidak perlu susah bekerja di Bar lagi" Ucap Rendy dengan percaya diri.


Mendengar itu Eka tersenyum dan melepas perlahan genggaman tangan Rendy.


"Maaf Mas. Aku sudah ada tunangan. Kami akan menikah akhir tahun nanti" Ucap Eka sambil tersenyum sopan.


Mendengar ucapan Rendy tentu membuat Eka merasa tidak nyaman dan di rendahkan. Namun dasarnya Eka yang baik dan polos masih berusaha sopan menanggapi perkataan Rendy.


"Maaf Mas. Itu urusan saya. Saya permisi dulu" Ucap Eka sambil berbalik hendak kembali ke dalam Bar.


Rendy yang merasa sakit hati di tolak dan melihat ada kesempatan malah berencana melecehkan Eka di tempat itu.


Rendy langsung menarik Eka menjauh dan mencoba membungkam mulutnya.


"To-Tolong!!!!!' Teriak Eka berusaha melepaskan diri dari Rendy.


Rendy yang meskipun kurus namun karena dia pria tentu tenaganya jauh lebih kuat dari Eka yang sangat lemah itu.


Rendy menarik Eka ke arah sudut gang yang kumuh dan sepi berdekatan dengan tempat sampah.


Dalam sekjap Baju Eka di robek oleh Rendy. Dengan kasar Rendy berusaha mencumbu Eka.


Ponsel Eka terus berbunyi disakunya. Geram Rendy mengambil ponsel itu dan membantingnya.


Eka terus menangis meminta tolong namun sayangnya tidak ada satu orang pun yang lewat. Bayangan dia yang hampir di perkaos oleh majikannya dulu kini kembali menghantui Eka.


Dia begitu ketakutan dan menangis tanpa henti.


Sedangkan di luar Bar terlihat Aston berkeliling mencari Eka. Dia bingung ponsel Eka mendadak tidak bisa dihubungi dan Eka tidak tampak di luar Bar.


"Ke mana dia. Tadi bilang mau buang sampah dekat sini" Gumam Aston bingung.


Beruntung dia memasang GPS di ponsel Eka dan bisa melihat posisi terakhir Eka.


Melihat posisi Eka yang ada di sudut gang membuat Aston mengernyit bingung.


"Kenapa buang sampah harus sampai ke sana??" gumam Aston yang langsung berjalan menuju arah lokasi terakhir posisi gps Eka.


Hingga di dekat gang itu Aston mendengar suara rintihan minta tolong seorang gadis.


"To-tolong. Jangan sentuh aku.. Tolong"


Aston terkejut, dia mengenali suara Eka. Aston berlari sekencang mungkin dan melihat Eka yang sudah terbuka pakaian bawahnya dan bajunya juga sudah robek acak-acakan.


Tampak seorang pria menindih tubuh Eka dan sedang berusaha memasukkan kejantanannya ke dalam inti tubuh Eka.


"Bajingan!!!!" Umpat Aston yang langsung menabrak tubuh pria itu dan memukulinya berkali-kali.


Dengan brutal Aston memukuli pria yang hendak memperkaos calon istrinya itu.


Pria itu menyerang balik dan memukul Aston. Hingga Aston berhasil menendang pria itu hingga tersungkur ke tanah.


Baru saja Aston hendak memukulinya lagi, Aston mendengar suara Eka yang menangis ketakutan.


"Tolong lepaskan saya. Maaf. Jangan" Suara Eka terdengar menangis lirih.


Aston tau jika Eka kembali trama akan kejadian masa lalunya. Aston memilih mengabaikan pria itu dan langsung menenangkan Eka.


"Maaf. Maaf. Aku tidak menjaga mu dengan baik. Maaf" Ucap Aston sambil memeluk Eka.


Dia segera menelepon seseorang untuk minta bantuan karena dia tidak bisa membawa Eka kembali ke Bar dengan pakaian yang rusak dan kondisi yang kacau.


Aston sempat melihat pria cabul itu berlari kabur darinya. Aston memilih mengabaikannya dan akan mencari pria itu nanti. Hal utama yang harus dia lakukan adalah mengurus Eka terlebih dahulu.


.


.


"Sial!" Umpat Rendy.


Wajahnya babak belur di pukuli oleh Aston yang tidak dia kenal.


"Gadis itu benar-benar mujur. Aku yang sial. Sialan" Umpat Rendy lagi sambil berlari kecil kabur.


Dia tadinya sudah sangat senang akan merasakan surga dunia yang sudah sangat lama tidak dia rasakan karena keterbatasan uang dan kondisinya itu.


Baru saja hampir berhasil menembus inti tubuh gadis cantik itu malah dia sudah di pukuli hingga babak belur.


Saat hendak menyeberang, Rendy hampir di tabrak sebuah mobil mewah.


"Sial!!!" Umpat Rendy kesal.


Seseorang turun dari mobil itu dan mendekati Rendy.


"Ikuti kami. Kau mau menghancurkan CEO Kim bukan?" Ucap pria muda yang turun dari mobil itu.


"Kau siapa?" Tanya Rendy heran.


Dia takut dia terjebak dan di tipu. Pria muda itu tersenyum mengerikan dan pandangan Rendy tiba-tiba menggelap.


.


.


.