
Kesibukan Sean dan Linny selama dua hari ini di kantor sangat menyita waktu. Di sela-sela kesibukannya, Linny terus mencari celah untuk menyelamatkan Willy dari cengkeraman Rain.
Semua bukti mengarah jika Willy sudah menjadi koleksi Rain. Linny semakin khawatir jika Sean tau apa yang terjadi pada Willy.
"Kau tidak mau memberi tau Sean?"
Andrean dan William tampak saling memandang mendengar cerita dari Linny. Mereka turut prihatin dengan kondisi Willy yang terjebak di dalam dunia itu.
"Aku takut dia trauma dan menyalahkan dirinya sendiri. Kau tau kondisi Willy di kabarkan selalu termenung dan tidak bersemangat. Bahkan kabarnya dia sudah tidak bekerja lagi"
Jelas Linny yang memang khawatir jika Sean tau kondisi adiknya dan menyalahkan diri sendiri akan segala sesuatu yang terjadi pada Willy.
"Sepertinya kita butuh Santo. Dia sangat ahli dalam menculik orang dari si penculik bukan?"
Ucap Andrean memberi ide, dia paham sekali sifat Santo yang tidak kenal takut itu. Dia bahkan tega membunuh saudara se-ibu lain ayahnya karena dendam dan kebencian yang begitu besar.
"Kau benar. Sepertinya aku butuh dia masuk ke sana. Tapi percuma. Aku tidak hanya mau dia membawa Willy keluar. Aku butuh bukti jika Rain dan juga pejabat daerah ini terlibat kasus yang benar-benar menjijikkan itu"
Ucap Linny. Dia tidak bisa lagi mundur dan hanya bertahan dengan serangan Rain. Meskipun dia berhasil membawa Willy keluar dari sana, Rain pasti tetap akan mengincar yang lainnya.
Linny harus mematikan pergerakan Rain dan membuatnya benar-benar buron hingga tidak bisa dengan mudah menyerang mereka lagi. Karena dengan lumpuhnya asupan dana, usaha, dan juga komplotan yang melindunginya maka akan semakin mudah untuk Linny membunuhnya tanpa di ketahui orang.
"Linny benar. Jika terus mundur dan bertahan hanya akan sia-sia. Rain sudah menyerang dengan cara yang kotor maka kita harus menghancurkannya. Tentu di mulai dari bisnis haramnya juga memecah komplotan yang melindunginya selama ini"
William tampak setuju dengan perkataan Linny. Mereka masih memikirkan cara agar bisa melaksanakan rencana itu.
.
.
Sean yang baru selesai bertemu dengan investor menggantikan Linny di sebuah acara salah satu hotel mewah di kota itu.
Sean berjalan menuju ke arah kamar mandi di loby, namun karena penuh Sean di arahkan dan di ijinkan menuju kamar mandi di lantai atas yang berisi kamar-kamar tamu VIP.
Saat memasuki kamar mandi Sean bertabrakan dengan seseorang.
"Will?"
Sean terkejut bertemu dengan adiknya di sana. Willy yang bertemu Sean di sana juga terkejut. Refleks Willy langsung menarik Sean masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
"Kak~"
Willy menangis dan memeluk Sean. Sean kebingungan dengan Willy yang memeluknya dan menangis.
"Kau kenapa?"
"Awh"
Willy tampak mengerang kesakitan saat Sean menggenggam erat pundaknya.
Curiga Sean langsung memeriksa tubuh Willy. Dia terkejut melihat tubuh Willy penuh luka dan lebam.
"Kau??"
Tiba-tiba seseorang mengetuk dari luar pintu kamar mandi.
"Anda masih lama tuan Willy?? Setelah ini Madam minta segera kembali ke Bar. Ada yang memesan Anda"
Suara seorang pria memanggil Willy dari luar. Sean terkejut mendengar perkataan orang itu. Willy memberi gesture agar Sean diam tak bersuara.
"Se-Sebentar. Aku mau bersihkan dulu. Rasanya tidak nyaman" Ucap Willy menjawab perkataan orang itu.
"Baiklah. Aku tunggu di parkiran seperti biasa. Jangan coba-coba kabur"
Ucap pria itu lagi. Willy menelan salivanya dengan kasar.
"Baiklah. Aku tunggu di bawah"
Suara langkah kaki pria itu menjauh. Willy menunggu beberapa menit memastikan suasana sudah hening dan aman. Dia mencoba mengintip keluar kamar mandi dan memastikan tidak ada siapa pun lagi.
Sean masih membeku mendengar ucapan pria itu. Dia tidak menyangka bertemu Willy dalam kondisi seperti ini.
"Will"
Sean tampak sangat terkejut dan sedih.
"Aku sekarang paham perasaan dan kondisi kakak dulu. Maaf dulu aku tidak bisa membela kakak dari amukan Papa dan sempat merasa jijik dengan Kakak"
Ucap Willy menangis. Kini dia merasakan apa yang pernah Sean lalui. Dia benar-benar terjebak di dalam pusaran hitam itu.
"Kenapa bisa? Kenapa kau harus terjebak di sana?" Tanya Sean yang masih tidak percaya sang adik bernasib sama dengannya.
"Aku saat itu merasa kesal dan melarikan semua beban dengan minum di bar. Sampai ada yang mengenalkan aku ke salah satu bar yang ternyata isinya manusia seperti itu. Bangun-bangun aku sudah tidak memakai apa-apa dan tubuhku terasa sakit.Mereka juga merekam aksi ranjangku yang tampak ganas dan mengancam. Aku tidak punya pilihan kak. Selain itu aku juga sering di paksa ikut menggunakan obat terlarang di pesta mereka"
Jelas Willy yang tampak merasa sangat terpuruk. Sean yang mendengar kisah Willy dan melihat kondisinya sangat iba.
"Siapa yang mengenalkan mu tempat itu?" Tanya Sean.
"Carlie"
Jawaban Willy bagaikan petir yang menyambar di kepala Sean. Dia benar-benar terkejut Carlie yang menjebak Willy.
"A-Apa nama Madam itu, Rain?" Tanya Sean perlahan.
Willy terkejut Sean tau nama Rain. Willy mengangguk membenarkan.
Sean semakin syok. Jika Rain dan Carlie yang membuat Willy seperti itu sudah di pastikan itu adalah aksi balas dendam kedua pria gay gila itu.
"Kau bertahan ya. Kakak akan segera menyelamatkan mu"
Ucap Sean berusaha menegarkan hati Willy agar tidak menyerah apalagi mengakhiri hidupnya karena merasa tidak sanggup lagi. Seperti apa yang pernah terlintas di pikiran Sean dulu saat di jebak oleh Agus.
"Kak~"
Willy tampak semakin berkaca-kaca. Dia kini hanya bisa berharap pada Sean. Karena Willy yakin Sean sangat paham dengan keadaannya.
"Kakak janji. Bertahan ya? Sekarang pergilah sebelum mereka curiga" Ucap Sean sambil menepuk pelan pipi Willy.
Willy langsung mencuci wajahnya sebentar lalu keluar dari kamar mandi itu. Sean menatap punggung Willy yang berjalan semakin menjauh darinya.
Setelah Willy pergi, tangis Sean pecah sejadi-jadinya. Dia merasa sangat bersalah pada Willy. Semua yang terjadi pada Willy merupakan imbas akibat dia yang pernah salah jalur dan membuat kaum pelangi terobsesi untuk mendapatkannya.
Karena dia tidak mau kembali membuat Rain menyerang ayahnya dan kini Willy juga menjadi korban bahkan di jebak dan menjadi koleksi Rain.
Sean menangis meratapi semua kejadian yang menimpa dia dan orang di sekelilingnya. Dia merasa sangat bersalah pada semua orang. Linny yang pernah terluka karenanya hingga juga keguguran, ayahnya yang tertabrak dan harus di rawat, Erik yang berusaha membantunya agar tidak diambil Rain, dan kini Willy yang menjadi sasaran Rain serta di jebak di dalam dunia itu.
Jun tampak sibuk mencari Tuannya. Di kamar mandi lobby dia tidak bisa menemukan Sean hingga dia mendapati Sean di kamar mandi lantai atas. Jun terkejut melihat Sean yang menangis di sana.
"Tuan. Ada apa?? Tuan kenapa??"
Jun begitu panik melihat Sean yang menangis sesenggukan.
Sean masih terus menangis tanpa henti.
.
.
.