A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Om Donald...



Sikap Sean tentu tak luput dari perhatian Linny, tapi Linny berpura-pura tidak melihat tingkah Sean yang menurutnya sangat lucu itu.


Tiba di depan kamar 1508, Linny langsung menekan bell kamar.


Pintu kamar terbuka, terlihat seorang Om-Om yang tampak sedikit buncit yang seusia Ayah Sean membukakan pintu.


"Hai sayang, kau sudah tiba. Ayo masuk"  Ucap Pria itu langsung memeluk hangat Linny dan mengecup kening Linny.


Mata Sean seperti hendak loncat keluar dari tempatnya melihat kedekatan Linny dengan pria tua itu.


Linny melangkah masuk ke dalam kamar itu, namun Sean masih membeku di luar pintu. Menyadari itu Linny menoleh melihat ke arah Sean.


"Hei! Ngapain di luar?? Masuk!!!"  Ucap Linny dengan ketus.


Sean menahan rasa cemburu dan tidak sukanya itu pun melangkah masuk ke ruangan kamar itu. Terlihat seorang wanita muda mengenakan lingerie merah sedang duduk di sofa dekat tempat tidur.


Wanita itu tampak acuh tak acuh dengan kehadiran Linny dan Sean yang masuk ke kamar.


"Om. Siapa tuh?"  Tanya Linny sambil melirik wanita muda itu.


"Biasa lah. Om masih cowok normal"  Ucap Om Donald dengan santai.


"Oh. Makanya menikah dong Om"  Ucap Linny tertawa.


Sean heran, Linny memanggil pria itu dengan sebutan Om, apa dia saudara dari Papa atau Mama Linny. Namun tidak mungkin. Linny berkata seluruh keluarganya sudah jauh tidak ada di negara ini lagi. Dan kebanyakan sudah meninggal dunia, hanya tersisa keturunan mereka yang tidak dekat dengan Linny sejak Mama Linny memutuskan menikah lagi.


"Tidak mungkin dengan bisnis Om saat ini. Malah bisa berbahaya nanti"  Ucap Om Donald sambil meneguk segelas whiskey.


"Eh Tante Tiara gimana tuh? Bukannya kalian sudah punya anak?"  Tanya Linny sambil meraih botol whiskey di meja dan menuangnya.


"Kami tidak menikah. Om hanya memberi biaya hidup untuknya dan anak kami secara layak. Jika kami menikah, maka nyawa dia dan anak kami akan terancam"  Ucap Om Donald.


Hanya itu pilihan yang bisa di lakukan Om Donald, sebagai pebisnis dunia gelap, sangat riskan jika dia memiliki istri dan anak, karena mereka bisa menjadi sasaran empuk dari pesaing-nya yang tidak menyukai Om Donald.


"Oh ya, siapa pemuda itu. Om belum pernah melihat kau bersama pria selain Andrean dan Nicolas adikmu"  Ucap Om Donald meledek Linny.


"Ah, kenalkan ini Sean. Dia teman ku sekaligus Kepala manager di perusahaan ku, Om"  Ucap Linny sambil menatap Sean.


Merasa harus memperkenalkan diri, Sean melangkah mendekati Linny dan Om Donald.


Om Donald mengulurkan tangan untuk bersalaman, Sean menyambutnya dengan sopan.


"Ini Om Donald. Sahabat dekat mendiang Papa ku dan sudah ku anggap seperti Papa ku juga. Dia bukan Om-om yang pernah berbagi pengalaman ranjang-nya dengan ku, jadi jangan salah paham lagi"  Ucap Linny langsung.


Wajah Sean kini memerah, bukan memerah karena marah seperti sebelumnya. Tapi merah karena malu. Apalagi di kata-katai seperti itu di hadapan orang yang dicurigai Sean tadinya.


Om Donald langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Linny.


"Hahaha. Astaga. Jadi kau mengira aku meniduri Linny? Wah haram sekali bagiku menyentuh wanita yang sudah menjadi anak ku ini sejak dulu. Hahaha"  Ucap Om Donald yang masih tertawa geli.


"Sudah? Masih mau sembarang berpikir? Makanya bicara dan tanya, jangan berasumsi sendiri. Ck!"  Ucap Linny.


"Ma-maaf Linny"  Ucap Sean merasa tidak enak kepada Linny dan juga Om Donald.


Sungguh saat ini Sean merasa sangat malu, ingin sekali dia menghilang dari tempat itu.


"Wah, berarti dia tahu kebiasaan mu Linny?"  Tanya Om Donald yang memang sudah tahu kebiasaan Linny melakukan ONS dengan pria yang merupakan suami atau pasangan wanita lain. Ingin sekali Om Donald menegur kebiasaan buruk Linny namun setelah tahu apa yang dialami putri sahabat baiknya itu membuat Om Donald hanya memaklumi bahkan membantu membereskan masalah yang kadang timbul.


"Iya, sejak kenal dia juga aku berhenti mengganggu pria lain. Lagi pula aku juga terlalu sibuk Om"  Ucap Linny sambil mengeluarkan rokok elektriknya untuk di hisap.


Om Donald terkejut mendengar Linny bisa menghentikan kebiasaannya karena pria muda bernama Sean itu. Om Donald merasa Pria ini pasti memiliki tempat penting di hati Linny.


"Apa kalian berpacaran? Sean?"  Tanya Om Donald pada Sean.


Belum sempat Sean menjawab, Linny sudah berbicara terlebih dahulu.


"Tidak Om. Kami hanya teman. Kebetulan saja dia bisa mengerti aku. Itu tidak seperti yang Om kira"  Ucap Linny tampak santai.


"Andrean juga teman mu, bahkan sahabat. Kalian sudah dekat sejak kecil dan dia sangat mengerti dirimu. Tapi dia tidak bisa mendekati ranjang mu bukan?"  Ucap Om Donald meledek.


Sean terkejut, Andrean yang sedekat itu dengan Linny tidak pernah bersentuhan tubuh dengan Linny. Padahal Sean sempat mengira Linny dan Andrean kemungkinan menjalani hubungan itu juga tanpa ikatan, apalagi Linny termasuk wanita yang memiliki gairah yang tinggi.


"Dia hanya sahabatku. Aku juga tidak tertarik berhubungan lebih dengannya"  Ucap Linny jujur.


Om Donald tampak mengerti, Linny belum menyadari kehadiran Sean sangat penting untuknya.


"Oh. Ya sudah. Om menyuruh mu datang karena ada hal penting yang mau Om serahkan"  Ucap Om Donald lalu berjalan menuju kopernya.


Om Donald mengeluarkan dan menyerahkan sebuah map besar kepada Linny.


"Itu ada beberapa aset milik Papa mu yang Om pegang selama dia hidup dulu. Papa mu meminta Om menjaganya, entah mengapa mungkin dia memiliki firasat juga. Om sempat lupa, kemarin saat membongkar brankas di markas, Om menemukan ini. Jadi Om membawakannya untuk mu. Sekalian ada beberapa informasi penting yang kau inginkan kemarin."  Ucap Om Donald.


Linny menatap map besar ditangannya itu dengan berkaca-kaca. Setiap hal yang menyangkut sang Papa pasti akan membuat Linny sedih.


Melihat itu Sean mendekati Linny dan merangkulnya.


"Biar aku yang pegang saja Linny"  Ucap Sean.


Linny menghela nafas menetralkan perasaannya.


"Terima kasih Om. Lain kali akan aku traktir makan siang"  Ucap Linny sambil tersenyum.


"Sudah seharusnya. Anaknya Frans juga anak ku. Oh ya Om juga menempatkan orang menjaga Nicolas dari dekat. Kau tahu lah dunia luar berbahaya. Om tidak mau Nicolas kenapa-kenapa nantinya"  Ucap Om Donald.


"Terima kasih Om sudah banyak membantuku"  Ucap Linny lalu memeluk Om Donald.


"Apa pun yang kau perlukan, katakan saja. Om dan seluruh anggota Om pasti akan melindungi mu"  Ucap Om Donald sambil menepuk pelan punggung Linny.


Linny kemudian pamit meninggalkan hotel.


"Kita akan kembali ke kantor?"  Tanya Sean.


"Iya. Kita kembali ke kantor. Kau ikut meeting dengan ku dan Andrean serta Sisilia. Langsung ke ruangan ku. Mengerti?"  Perintah Linny.


"Okey"  Jawab Sean tanpa membantah.


Mobil Linny mengarah kembali ke perusahaan. Sepanjang perjalanan Linny memikirkan banyak hal termasuk semua rencananya.


.


.


.