A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Pelindung...



Sean mengambil cuti di minggu terakhir bekerjanya. Dia mencoba untuk menikmati hari-hari sebelum masuk ke perusahaan baru.


Beruntung perusahaan lamanya mengerti keinginan Sean mengambil cuti hingga hari terakhir bekerjanya.


Kepala bagian sales bahkan menghadiahi Sean voucher menginap satu malam di hotel mewah..


Tentu Sean menerimanya. Rejeki tidak boleh di tolak bukan??


Sean ingin mengajak Erik menginap bersama, namun apa daya. Kekasihnya itu belum sembuh total. Masih bed rest karena ternyata Erik mengalami gejala sakit tifus.


Terpaksa lah Sean menginap sendiri dan berencana mencari teman ons (one night stand) untuk menemaninya nanti.


Siang itu Sean berencana ingin makan di luar sebelum malamnya mengunjungi Club untuk mencari sasaran teman one night stand (ons) untuknya.


Saat berjalan keluar kamar, dirinya bertabrakan dengan seorang wanita.


" Linny?? "  Sean terkejut.


Linny tampak kacau dengan bajunya yang urak-urakan dan terlihat koyak di beberapa bagian.


Seorang pria gagah yang tampak berusia 50-an mendekati mereka.


" Linny. Kemari lah. Maafkan Aku"  Ucap pria itu membujuk Linny.


" Lebih baik kau menyingkir bajingan. Sudah Ku katakan Aku tidak suka di paksa dan di atur! "  Bentak  Linny yang tampak kesulitan bernafas karena berlari kencang menghindari pria itu.


" Astaga, come on baby! Kita sudah sama-sama dewasa. Apa salahnya jika Aku ingin lagi"  Ucap pria itu tanpa malu.


Linny tersenyum smirk ke arah pria itu.


" Masalahnya Aku tidak akan mau menyentuh orang yang sama kedua kalinya. Apalagi Kau sama sekali tidak membuatku bergairah" Ucap Linny setengah berbisik di telinga pria itu.


Sean masih bisa mendengarkan perkataan Linny yang terkesan merendahkan pria itu.


" Kau!! Sialan!! Akan Ku buktikan Kau tidak akan bisa berjalan hingga besok!! "  Ucap pria itu marah dan berusaha menarik tangan Linny.


" Sialan! Lepaskan!! "  Pekik Linny.


Ingin sekali Linny memukuli pria itu hingga babak belur. Tentu bisa namun apa daya mereka berada di dalam hotel yang penuh CCTV. Linny tidak ingin menjadi sorotan media nantinya.


Sean tampak kesal melihat perlakuan kasar pria itu pada Linny, Sean menendang perut pria itu hingga pria itu jatuh tersungkur.


" Lepaskan wanita ini. Jangan coba menyentuhnya jika dia tidak ingin! "  Ucap Sean dengan tegas.


" Siapa Kau! Jangan ikut campur! " Ucap pria itu sambil menahan sakit.


" Sekali lagi Kau muncul jangan salahkan Aku bisa membunuh mu. Jangan mencoba menyentuh wanitaku! "  Tegas Sean yang langsung membawa Linny masuk ke dalam kamarnya.


Sean menelepon resepsionis dan melaporkan ada pria mencurigakan yang mencoba melukai wanitanya. Resepsionis di hotel itu mengerti dan meminta maaf akan mengurusi hal itu agar tidak terjadi kondisi yang tidak di inginkan.


Linny tampak kacau, dia masih diam. Dirinya tidak takut dengan siapa pun. Namun dia hanya menahan diri tidak memukuli pria itu.


" Kau baik-baik saja? "  Tanya Sean memperhatikan Linny.


Linny masih diam enggan berbicara dengan Sean. Dia masih menyimpan kekesalan saat terakhir berbicara dengan Sean.


Sean bergerak ke arah tasnya mengeluarkan sebuah kaos untuk dipakai Linny.


" Pakai ini. Baju mu sudah rusak"  Ucap Sean sambil menyerahkan baju kepada Linny.


Linny langsung membuka pakaiannya yang rusak itu di hadapan Sean dan berganti dengan kaos milik Sean.


Melihat hal itu Sean langsung memalingkan wajahnya. Dirinya merasa tidak enak melihat pemandangan menggiurkan itu. Jantungnya merasa tidak sehat setiap melihat segala sesuatu yang ada pada Linny.


Padahal sebelumnya dia biasa saja bahkan saat wanita tanpa busana apa pun di hadapannya tidak akan mempengaruhi jantungnya


Entah kenapa Linny sanggup membuat jantung Sean tidak sehat, bahkan hanya dengan sebuah senyuman!


" Thanks"   Ucap Linny singkat.


Sean menempatkan diri duduk di samping Linny.


" Kau kenapa di sini? Siapa orang tadi? "  Tanya Sean penasaran.


" Hanya teman ONS Ku! Dia saja yang baperan"  Ucap Linny dengan santai lalu mencari sekaleng bir di dalam kulkas mini.


" Mau? "  Tanya Linny kepada Sean.


" Nanti saja "  Jawab Sean.


Linny memang unik. Tadinya tampak takut, marah, dan sekarang seperti tidak ada yang terjadi.


Luar biasa sekali sifat wanita satu ini.


" Kau biasanya bisa mengancam dan memukuli pelanggan yang kurang ajar. Kenapa sekarang tidak kau lakukan?"  Tanya Sean penasaran.


" Terlalu banyak CCTV. Aku malas berurusan dengan publik dan polisi"  Ucap Linny dengan santainya.


Sean mengangguk mengerti.


" Kau mau mentraktir Ku? "  Tanya Linny.


" Jika Kau mau akan Aku lakukan"  Ucap Sean tersenyum.


Mereka memesan room service untuk makan siang karena Linny malas keluar ruangan. Dirinya lelah karena habis bersitegang dengan pria gila tadi.


Siang itu keduanya menyantap makanan yang tersedia dan menghabiskan banyak bir yang ada di dalam kulkas.


Mereka kembali berbincang-bincang seperti saat bertemu di bar RB.


" Bagaimana dengan RB? Masih ramai kah?"  Tanya Sean penasaran. Dia memang sudah tidak mengunjungi bar milik Linny sejak perdebatannya dengan Linny kemarin itu.


" Kehilangan Kau sebagai pelanggan tidak akan mengurangi keuntungan Ku!"  ucap Linny cuek.


" Kau ini. Aku heran bagaimana pria itu bisa tergila-gila dengan mu. Padahal sifat dan sikap mu yang kasar seperti ini"  Ujar Sean terdengar pedas di telinga.


" Pria tidak butuh ucapan manis. Yang mereka butuh kan hanya ranjang panas yang membuat mereka puas hingga ketagihan! "  Ucap Linny tak kalah pedasnya.


Meskipun terdengar menyudutkan kaum pria, tapi apa yang di katakan Linny benar adanya.


Sean saja ingin puas dalam urusan ranjang meskipun kepuasan yang di carinya adalah bersama seorang pria.


" Aku mau tidur siang sebentar. Aku tidur di sofa saja. Kau tidur di kasur sana!"  Ucap Linny lalu merebahkan diri di atas sofa dekat jendela.


Sofa itu berukuran besar dan muat untuk Linny tidur di sana.


Sean hanya menggelengkan kepala lalu merapikan bekas kaleng-kaleng bir yang sudah habis. lalu menutup seluruh gorden di kamar itu, mematikan lampu hanya menyisakan sebuah lampu kecil di sudut ruangan kamar hotel.


Hal itu dilakukan Sean agar dirinya dan Linny bisa tidur siang dengan nyaman dan tidak merasa silau akan cahaya.


Setelahnya Sean kemudian merebahkan tubuh di tempat tidur.


Ya ada baiknya mereka tidak tidur di ranjang yang sama karena jantung Sean terus berdegup kencang sejak bertemu dengan Linny tadi.


.


Di tengah tidurnya, Sean mendengar suara orang yang terengah-engah.


Dirinya terbangun dan menyalakan beberapa lampu agar ruangan agak terang.


Sean melirik jam yang baru menunjukkan pukul 16.30.


" Haahh... hahhh. Enggak.. Pergiiiii. Jangan sentuh aku.... Pergi sialan!!! "


Terdengar suara Linny mengigau.


Suaranya tampak menyimpan ketakutan dan menyiratkan rasa sakit.


Melihat Linny mengigau, Sean mendekatinya dan menyentuh kening Linny.


Demam. Linny demam , Sean langsung mencoba menyadarkan Linny.


" Hei. Linny bangun. Kau kenapa? "  Tanya Sean cemas.


" Pergi!!! "


Teriak Linny yang terbangun. Dia menatap seluruh ruangan lalu bernafas lega.


" Oh Sh*it!!!"  Umpat Linny sambil memegangi kepalanya. Dirinya merasa pusing.


" Kau bermimpi buruk?"  Tanya Sean.


Linny masih terdiam tidak menjawab.


" Linny... Jawab aku.. Kau kenapa?? Kau tampaknya demam.. Aku carikan obat ya?? "  Ucap Sean yang khawatir.


" Jangan.... Jangan pergi. Aku tidak apa-apa"  Ucap Linny yang tampak mulai kesulitan bernafas.


" Heii kau kenapa?? Apa kau sesak?? "  Tanya Sean yang mulai panik/


Linny tidak menjawab, dirinya langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Dari dalam kamar mandi, Sean merdengar suara shower yang di buka.


Sean hanya diam terpaku. Dia bisa melihat sorot ketakutan dan luka dari mata Linny.


Gadis yang ceria dan pemberani itu tampak berbeda.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-WAKTU-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT TERHADAP SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN.


-linalim-