
"Bawa pencuri itu ke ruangan belakang"
Ucap Linny dengan raut wajah serius. Sean hanya mampu diam membiarkan apa yang akan Linny lakukan setelahnya.
"Baik Nona"
Jun dan Alfa segera meminta pengawal lainnya membawa gadis pencuri itu ke ruangan belakang villa.
Terlihat pencuri itu seorang gadis kecil yang tampak masih muda.
Duh, masih muda sudah jadi pencuri. Kenapa dunia begitu aneh. Malah seorang perempuan pula.
"Siapa namamu?" Tanya Linny dengan datar dan dingin.
Gadis itu hanya diam dan menatap kosong pada Linny.
"Siapa yang menyuruhmu ke sini?" Tanya Jun dengan tegas.
Jun tidak ingin jika gadis itu ternyata bukan hanya ingin mencuri tapi juga ingin mencelakakan Sean dan Linny.
Memang tidak baik berburuk sangka pada seseorang. Tapi jika orang itu tidak jelas asal usulnya tentu boleh bukan?
Setidaknya itu yang Jun pikirkan, sama juga dengan Alfa yang terus memperhatikan bahkan mengeledah seluruh bawaan si gadis. Niat hati ingin memeriksa tubuh dan pakaiannya namun tidak di lakukan karena mereka berlainan jenis.
"Kalaupun kau tak menjawab tentu akan mudah bagiku menemukan siapa dirimu dan keluarga mu. Jika niat mu lebih buruk dari sekedar mencuri maka akan ku pastikan seluruh keluarga mu lenyap di tanganku"
Kalimat Linny itu membuat si gadis langsung bereaksi menatap nanar pada Linny. Entah mengapa di tatap seperti itu mengingatkan Linny pada Eka.
Karyawan Bar terbaik Linny dan yah memang hanya dia satu-satunya karyawan di Bar RB. Tatapan itu persis saat Eka hampir menabrak mobil Linny dulu. Matanya penuh sorot ketakutan dan keputus asaan hidup.
"Apa kau di suruh atau kau terpaksa untuk bertahan hidup?" Tanya Linny lagi.
Gadis itu meneteskan air mata tanpa suara. Melihat itu Sean dan yang lainnya ikut bingung. Belum juga gadis itu di pukuli namun kini malah menangis.
"Jun. Bawakan makanan yang berlebih tadi" Ucap Linny memerintah.
Jun langsung beranjak membawakan sebungkus nasi babi guling yang tadi mereka beli. Nasi yang terkenal di daerah itu.
Jun menyerahkan bungkusan nasi itu pada Linny dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Makan lalu bicaralah" Ucap Linny yang menyodorkan nasi itu pada si gadis.
Linny memberi isyarat pada Sean untuk keluar dari ruangan itu bersama yang lainnya. Dia ingin berada di dalam ruangan itu hanya berdua berbicara dengan si gadis.
Sean yang paham pun langsung bergerak keluar dari ruangan di ikuti Jun - Alfa dan pengawal lainnya.
Kini di ruangan luas itu hanya tersisa Linny dan si gadis pencuri.
"Makan atau kupaksa makan?" Tanya Linny terdengar menyeramkan.
Gadis itu terburu-buru segera memakan nasi yang di berikan Linny. Dari setiap gerakannya Linny bisa melihat si gadis tampak kelaparan. Seperti sudah beberapa hari tidak menikmati nasi masuk ke perutnya.
Selain itu Linny juga melihat luka lebam di beberapa bagian tangannya yang kelihatan dan di sudut bibirnya. Dia yakin pengawal-pengawalnya tidak akan sembarang memukuli fisik seorang gadis kecuali dia terbukti berbahaya.
Dan dari luka itu Linny bisa memastikan itu luka lama yang masih berbekas. Bukan luka pukulan yang baru di terima beberapa saat sebelum Linny menemui gadis itu.
"Kau di siksa siapa? Apa kau di paksa mencuri atau malah di paksa melakukan hal yang lebih buruk lagi?" Tanya Linny di sela-sela si gadis menikmati makanan dengan rakusnya.
Gadis itu menunduk takut mendengar pertanyaan Linny. Paham jika ada sesuatu yang membuatnya tertekan Linny langsung mengirimkan pesan chat menyuruh Jun mencari informasi tentang gadis itu tanpa satupun yang terlewatkan.
"Jika kau masih diam maka tidur di tempat ini hari ini. Aku tidak akan melepaskan mu sebelum tahu apa niat dan tujuan utama mu" Ucap Linny terdengar dingin.
Namun meskipun begitu Linny sebenarnya membiarkan gadis itu tidur di ruangan yang lebih baik di banding di jalanan. Linny memiliki feeling jika gadis itu bukan suruh Rain maupun Erik.
Naluri Linny jauh lebih tajam jika sudah berurusan dengan musuh terburuk yang dia ketahui itu.
Linny meninggalkan gadis muda itu di dalam ruangan dan memerintahkan para pengawal menjaganya dengan baik.
Sean yang melihat Linny sudah keluar dari ruangan dengan cemas langsung memeriksa tubuh Linny. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Linny karena gadis itu.
Linny yang melihat keresahan Sean langsung mengecup perlahan bibir pria itu seolah berkata dia baik-baik saja.
Sean langsung membawa Linny duduk di ruang santai dan menyuapi Linny dengan buah-buahan.
Sembari duduk bersantai mereka menunggu kabar dari Jun yang di tugasi Linny untuk mengecek tentang asal usul gadis pencuri itu.
Tak lama Jun kembali dan melaporkan tentang gadis pencuri itu. Jun sudah menelusuri dan mencari informasi paling akurat.
Gadis pencuri itu hidup bersama seorang adik laki-lakinya dan ayah tirinya. Sang Ayah pemabuk dan penjudi sudah memaksa Gadis itu bekerja. Jika tidak memberi uang pada sang Ayah maka dia dan adik laki-lakinya akan di siksa bahkan di jual ke rumah bordil sebagai budak.
Mungkin karena gelap mata karena tidak bisa mendapatkan sejumlah uang sesuai permintaan sang ayah serta takut adiknya di pukuli lagi membuat gadis itu nekat mencuri di villa-villa di sekitar sana.
Namun karena masih di telusuri maka gadis pencuri itu masih sempat mencoba mencuri di tempat Linny.
Sialnya dia masuk ke sarang macan dengan antek-anteknya yang kuat dan garang. Meskipun dia seorang gadis tentu tetap akan di tangkap dan mendapat konsekuensinya.
Jangan lupa jiwa mafia Linny begitu kuat, jadi para pengawal nya tentu menjaganya seperti menjaga sang Tuan Donald Mafia penguasa itu.
"Dimana adiknya?" Tanya Linny pada Jun.
"Di rumahnya. Bersama Ayah tirinya" Ucap Jun melaporkan.
Linny langsung berdiri menuju ruangan tempat gadis pencuri itu yang meringkuk dalam diam.
Ketika pintu kamar terbuka, Linny langsung menatap tajam pada gadis pencuri itu.
"Kau mau lepas dari Ayah bajingan itu? Kalau mau ikuti aku" Ucap Linny tanpa basa basi.
Mendengar perkataan Linny membuat si gadis menatap berharap pada Linny.
"Aku akan membawa mu dan adikmu. Kau mau bekerja pada ku?" Tanya Linny lagi.
Gadis itu berlutut di hadapan Linny dan menangis. Di sela-sela tangisannya terdengar suara lirih si Gadis.
"Saya mau Bu. Saya mau bekerja apapun asal adik saya bisa selamat. Tolong adik saya Bu"
Terdengar suara lirih gadis itu yang penuh keputusasaan.
"Kenapa kau mencuri? Banyak pekerjaan lebih baik dan kau tampaknya tidak bodoh" Ucap Linny penuh tanya.
"Ayah meminta uang 2 juta seminggu ini. Gaji saya tidak cukup. Saya takut Farid di jual lagi ke teman-teman Ayah. Luka di bagian tubuh belakangnya belum sembuh" Ucap gadis itu penuh kesakitan di setiap ucapannya.
Linny menatap horor mendengar perkataan gadis itu. Adik laki-laki si gadis menjadi mainan para p3d0fil kelainan otak itu.
Kembali lagi Linny harus di hadapkan dengan orang-orang seburuk itu. Rasa kasihan melihat kondisi gadis itu membuat Linny merasa semakin kasihan.
"Siapa namamu?" Tanya Linny yang masih terdengar dingin dan datar.
"Dewi. Dewi cempaka" Jawab gadis yang bernama Dewi itu.
"Asli sini?" Tanya Linny lagi.
Dewi menggelengkan kepalanya pertanda dia bukan orang asli Bali.
"Pendatang?" Tanya Linny lagi memastikan.
Dewi kembali menganggukkan kepalanya.
"Umur?" Tanya Linny.
"16 tahun" Jawab Dewi.
"Masih sekolah?" Tanya Linny yang di jawab dengan gelengan kepala dari Dewi.
Merasa cukup dengan apa yang ingin dia tanya membuat Linny terdiam beberapa saat.
"Ikuti aku" Ucap Linny yang membuat Dewi perlahan berdiri dari posisi berlututnya. Tubuhnya yang kurus dan tampak lunglai membuat Linny memikirkan penderitaannya dulu.
Linny dan yang lainnya segera menuju ke rumah tempat Dewi tinggal.
Tiba di sana pemandangan menyakitkan terlihat. Farid -Adik Dewi tampak sedang di tindih pria dewasa. Terdengar suara jeritan menyayat hati dari bibir Farid.
"Tolong!! Kakak!! Tolong Farid" Suara jeritan itu membuat Dewi berlari cepat.
Namun tak ayal Dewi di tendang oleh pria lain yang juga ada di sana.
Linny yang kesal langsung membanting pria yang sudah menendang Dewi hingga pria itu terkapar. Pria lainnya yang menindih Farid terkejut dan hendak kabur. Dia berpikir Linny adalah polisi yang berpatroli di sekitar sana karena mampu membanting temannya.
Tanpa menunggu tentu Sean langsung menarik pria itu sebelum dia kabur lalu melumpuhkan pria itu dan mengikatnya.
Kedua pria itu tampak ketakutan menatap Linny.
"Bereskan!"
Titah Linny pada Jun yang membuat kedua pria itu ketakutan setengah mati melihat ternyata orang-orang itu memiliki senjata.
.
.
.