
Sean sedang menyiapkan laporan untuk meeting. Tampak ponselnya berbunyi. Terlihat panggilan masuk dari Danu.
"Sean!! Pacar kau masuk rumah sakit!! " Ucap Danu setengah berteriak panik juga di telepon.
"Apa? Erik kenapa? " Tanya Sean cemas. Pikirannya sudah memburuk tentang pria muda yang pernah menemaninya selama tiga tahun lebih.
"Dia mau bunuh diri. Beruntung aku sama adikku cepat tiba di rukonya. Dia lagi di rawat" Jelas Danu di telepon.
" Astaga. Dia tidak bisa berubah juga ternyata" Ucap Sean merasa kesal.
" Kau mau kesini kagak? " Tanya Danu lagi di telepon.
" Aku sedang kerja. Nanti aku lihat dulu. Lagi pula aku ke sana apa yang bisa ku lakukan. Aku enggak mungkin balikan sama dia" Ucap Sean tegas.
" Terserah deh. Kalau memang mau jenguk dia bilang aja. Kalau ragu biar aku dan yang lainnya temenin kau menjenguknya" Ucap Danu memberi saran.
" Baiklah. Makasih ya Bro. Aku mau meeting dulu sama CEO" Ucap Sean.
" Meeting beneran apa meeting berduaan? " Tanya Danu meledek.
" Meeting beneran lah! Udah dulu. Nanti Linny marah kalau aku telat ikut meeting " Ucap Sean lalu mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban Danu lagi.
Sean segera mengambil berkas laporan penjualan dan menuju ruangan meeting.
Saat masuk di dalam ruangan meeting tampak beberapa orang sudah mulai berkumpul menunggu CEO hadir di ruangan. Sean segera duduk di kursinya.
Tak lama Linny masuk ke dalam ruangan bersama Andrean dan Sisilia. Seperti biasa, meskipun mereka akrab namun profesionalitas dalam bekerja selalu mereka junjung.
Meeting dimulai dengan laporan penjualan dari masing-masing lini bisnis yang ada di perusahaan itu. Hingga giliran pelaporan kinerja dari Sean, kenaikan penjualan yang terus bertambah membuat orang-orang berdecak kagum.
"Dan bagaimana strategi Anda Pak Sean, untuk produk baru kita. Selain memastikan produk lama tetap eksis namun juga harus membuat produk baru booming di waktu bersamaan?" Tanya Linny yang secara tidak langsung ingin manager pemasaran lain melihat bahwa Sean merupakan orang yang sangat kompeten.
"Boleh ijin untuk menjelaskannya CEO Kim? Saya ada membawa PDF dari rancangan team saya terkait hal ini" Ucap Sean dengan sopan.
"Ya silahkan"
Linny tampak tersenyum tipis. Dia sudah menduga Sean sangat cepat tanggap.
Sean menunjukkan rancangan rencana dari team nya serta menjelaskan garis besar yang akan mereka lakukan. Untuk memastikan Sean paham dengan rencana nya, Andrean bertanya tentang detail dari rencana itu.
Sean yang memang mengerjakan semua itu sendirian mampu menjawab dengan lugas, semua orang terbengong memperhatikan kelugasan Sean dalam presentasi.
Dan yang membuat orang-orang semakin kagum adalah Sean mendapat tepuk tangan langsung dari CEO mereka. Karena memang rencana Sean sangat bagus dan matang.
"Aku harap apa yang Pak Sean rencanakan benar-benar bisa di jalankan dengan baik. Dan untuk yang lainnya aku ingin kalian mencontoh kerja Pak Sean. Dia selalu fokus dalam pekerjaannya dan menunjukkan yang terbaik serta mengabaikan suara-suara sumbang yang ingin mencecarnya. Semoga mata kalian bisa terbuka setelah ini" Ucap Linny tegas yang secara tidak langsung menegur mulut-mulut lambe beberapa manager di sana.
"Aku akan selalu menempatkan orang yang kompeten di tempat yang pantas. Jangan terkejut jika kalian mendapat perubahan peraturan dari ku apabila kalian masih tidak meng-upgrade diri masing-masing" Ucap Linny lalu menutup meeting itu.
Linny keluar dari ruangan meeting di ikuti Andrean, Sisilia masih berada di ruangan dengan semua manager itu serta di tambah para karyawan admin dan audit untuk membahas hal lainnya.
Di dalam ruangan CEO-nya Linny, dia tampak santai duduk di kursi kebesarannya.
"Mau kopi?" Tanya Andrean menawarkan secangkir kopi yang baru siap dari mesin kopi di ruangan itu.
"Nanti saja. Apa ada yang ingin kau bahas? Sepertinya dari tadi kau tidak tenang dan ingin berbicara" Ucap Linny.
"Sean tinggal bersama mu?" Tanya Andrean langsung.
"Pasti para bodyguard itu yang melapor bukan?" Linny tampak santai menjawab pertanyaan Andrean.
"Jika sampai dia membuat masalah maka akan aku pastikan dengan tangan ku sendiri aku akan mencabut nyawanya" Jawab Linny tegas.
Andrean paham sekeras dan setegas apa sikap Linny, dia juga bukan wanita lemah yang bisa di lecehkan saat ini. Bahkan Linny sedang menarik kembali usaha pakaian milik mendiang Papa kandungnya dari tangan keluarga tirinya itu, sekaligus menghancurkan beberapa usaha yang di bangun oleh keluarga tirinya.
Entah bagaimana cara Linny bisa menemukan celah untuk menghancurkan mereka dari dalam. Hanya saja hal itu belum membuat Linny puas. Dia ingin menghancurkan keluarga itu dan menginjak wajah mereka dengan kakinya sendiri.
Sama seperti saat dia di injak dan di lecehkan dulu. Dia masih belum bisa membiarkan hidup keluarga itu bahagia setelah menghancurkan kehidupannya.
"Setelah ini kau ingin melakukan apa lagi?" Tanya Andrean.
"Aku dengar mereka mau bekerja sama dengan perusahaan perhiasan mewah di luar sana. Cari tahu berapa investasi yang sudah mereka kucurkan. Aku ingin menghancurkan perlahan ekonomi mereka" Ucap Linny sambil tersenyum smirk.
"Baiklah. Kalau begitu aku keluar dulu, beberapa kolega ingin mengajak makan siang dirimu namun aku sudah mengatakan kau tidak bisa di ganggu, jadi aku yang akan menggantikan mu nanti" Jelas Andrean yang tau Linny tidak suka di dekati oleh kolega yang hanya ingin mencari keuntungan darinya.
"Hmmmmm" Linny hanya berdehem setuju dan membiarkan Andrean keluar melakukan tugasnya.
Linny melamun sendiri, ponselnya berbunyi ada panggilan masuk dari Nicolas.
"Hei anak nakal!!" Sapa Linny menjawab videocall dari adiknya itu.
"Hai Kak.. Kakak baik baik saja?" Tanya Nicolas yang mencemaskan Linny.
"Sangat baik, kau lihat aku bahkan sudah rajin ke perusahaan" Ucap Linny sombong menunjukkan posisi-nya duduk di kursi kebesaran.
"Hahaha.. Memang seharusnya begitu Kak. Kakak lebih cocok di sana ketimbang hanya di meja bar" Ucap Nicolas mengejek.
"Dasar anak nakal! Ada apa menelepon jam segini??" Tanya Linny.
Di panggilan video call itu tampak Nicolas seperti sedang memanggil seseorang mendekat ke arahnya. Seorang gadis yang manis dan tampak sederhana.
"Wah.. Kau ku suruh belajar malah pacaran ya" Ucap Linny bercanda.
Wajah gadis di video call itu tampak tidak enak, Nicolas terkekeh karena Linny begitu iseng.
"Dia pacar ku Kak. Kami sudah dekat dari tahun lalu. Cuman baru resmi pacaran belakangan ini. Aku ingin mengenalkannya kepada Kakak. Kakak wajib tahu bukan?" Ucap Nicolas menjelaskan sambil terkekeh.
"Bawa dia pulang, sepertinya dia bukan asli Australia ya?" Tanya Linny menelisik.
Gadis itu tampak berusaha tersenyum seramah mungkin, Nicolas meminta gadis itu berbicara memperkenalkan diri.
"Ha-Halo Kak, Nama saya Ayu Lestari, saya asli dari negara yang sama dengan Nic. Maaf jika saya mengganggu waktu Kakak" Ucap gadis itu tampak takut-takut.
"Lain kali saat liburan ikutlah datang ke tempat ku. Tidak ada bantahan. Mengerti?" Ucap Linny.
"I-Iya Kak" Gadis itu masih takut-takut.
Aura Linny seolah bisa menembus melalui video call itu. Gadis bernama Ayu itu tampak kagum juga takut menyinggung Linny.. Tampak aura wajahnya bukan seperti wanita muda pada umumnya.
"Ya sudah. Aku tutup teleponnya ya. Masih banyak pekerjaanku. Bye anak nakal!" Ucap Linny dan langsung memutuskan video call itu.
Linny melihat jam dinding menunjukkan pukul 11.30. Dirinya mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu.
.
.
.