
Markas Rain~
Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Sejak pagi tadi Rain sudah berangkat ke Amerika bersama dengan beberapa pengawal kepercayaannya membawa Zin.
Mereka melakukan penerbangan khusus bahkan di dampingi dokter khusus yang tentu berada di bawah ancaman Rain untuk ikut.
Seprotektif dan seniat itu seorang Rain jika sudah mencintai seseorang, dia akan melakukan apa saja demi kekasihnya. Termasuk membalaskan dendamnya.
Erik tampak sedang mencari beberapa barang di dalam markas milik Rain. Bukti Rain yang meminta sang kekasihnya untuk menabrak Mahaprana. Namun di cari bagaimana pun Erik tidak bisa menemukannya.
Erik kembali fokus mencari hal lain yang sekiranya akan di gunakan Rain untuk membahayakan Sean. Namun tak ada yang bisa lagi dia dapatkan.
Segera Erik meninggalkan tempat itu tanpa menyadari salah satu pengawal Rain terus memperhatikan gerak gerik Erik bahkan menyiapkan senjata api di sakunya.
Erik yang baru tiba di tokonya terkejut dengan suara ribut di luar toko yang selalu sepi di malam hari itu.
Beberapa orang berpakaian hitam menerobos masuk tempak Erik. Awalnya Erik berpikir Rain tau apa yang dia lakukan dan akan membunuhnya.
Namun Erik tersikap beberapa orang itu tampak menghormat dan menyapa Erik dengan sopan.
"Silahkan ikut kami Tuan. Kami akan memindahkan anda ke tempat yang lebih aman" Ucap salah seorang pria.
"Kalian siapa?" Tanya Erik terkejut sambil mencoba meraih sesuatu di meja tokonya yang bisa dia jadikan senjata jika orang-orang itu benar-benar mau mencelakakannya.
"Kami di perintah Nona Kim. Maksud kami Nona Linny. Ada yang sudah mencurigai Anda" Ucap pria itu.
Lalu yang lainnya membawa seseorang ke hadapan Erik.
"Loh? Joe? Kau?" Erik terkejut.
Joe adalah orang yang paling dia percaya baik dan sepaham dengannya. Apalagi sealam ini Joe tampak selalu baik dan mendukung Erik.
"Ya. Kau gila Erik. Kau malah mau berkhianat kan? Dasar bodoh!" Umpat Joe kesal.
Dia kesal karena Erik mau berkhianat dan bisa membuatnya kehilangan nyawa. Joe menyukai Erik sejak lama. Dia hanya takut jika Erik terus seperti itu maka Erik akan di lenyapkan Rain. Sama seperti yang sebelum-sebelumnya.
"Sesuai perintah Nona, kami akan melenyapkan siapapun yang mau mencelakakan Tuan Erik" Ucap pria suruhan Linny dengan tegas.
Erik tersikap. Linny tak kalah kejamnya dengan Rain. Tapi itu wajar untuk orang-orang seperti Rain dan Linny. Jika ada tikus berbahaya pasti akan mereka lenyapkan sebelum menjadi virus berbahaya.
"Tolong jangan. Dia teman ku" Ucap Erik memohon.
Joe memang satu-satunya pengawal Rain yang paling memihak pada Erik. Banyak info hal tentang markas dan kegiatan Rain yang malah di dapatkan Erik dari Joe.
"Kalau begitu kami akan menyita semua alat komunikasinya dan dia akan di bawa ke Markas tuan Donald" Ucap pria suruhan Linny yang membuat Erik maupun Joe terkejut.
"Donald? Maksud mu si Naga Hitam Asia??" Tanya Joe terkejut.
Sisapapun di dunia gelap tau sekejam apa Donald. Jika Rain adalah iblis, maka Donald Rajanya Raja iblis. Dia bahkan berani membunuh petinggi negara lain yang sudah mencoba menganggu kehidupan dan bisnisnya hingga anak cucunya.
Erik kini paham bahwa Linny begitu kuat dan mampu melindungi Sean tanpa takut karena adanya Donald di belakang mereka.
"Silahkan Tuan. Ikut saya. Nona sudah memanggil dokter untuk anda juga" Ucap pria suruhan Linny.
Erik pun mengikutinya dengan patuh dan Joe juga di bawa dengan mobil lain.
Joe di bawa ke markas Donald. Entah bagaimana nasib pria itu. Sedangkan Erik di bawa ke sebuah rumah villa di ujung kota yang jauh dari keramaian. Seluruh tempat itu tampak di jaga ketat oleh banyak pria bertatto.
Erik masuk ke dalam rumah yang sederhana dari luar namun ternyata dalamnya begitu mewah dan kompleks.
"Kau yang bernama Erik?"
Suara bariton terdengar membuat Erik tersikap.
"Kau Donald?" Tanya Erik berhati-hati.
"Ya. Linny menyuruhku untuk menjaga mu sementara waktu. Dan pria yang mengikuti mu akan aku habisi karena sudah menganggu" Ucap Donald dengan santai.
"Ah jangan. Ku mohon jangan bunuh dia. Dia tidak bersalah" Ucap Erik yang tidak tega Joe di habisi.
Donald menatap heran pada Erik. Tatapan yang penuh tanya itu.
"Aku yakin dia hanya ingin memastikan ku baik-baik saja. Aku yakin dia tidak melaporkan apa-apa pada Rain. Dia biasanya selalu bertanya pada ku sebelum melaporkan apapun pada Rain" Ucap Erik yang begitu yakin Joe tidak akan mencelakakannya.
Donald menghembuskan nafas dengan kasar.
"Itu bukan hak ku. Linny lebih berhak. Dan tugas mu hanya ikuti dokter itu dan di rawat. Jangan banyak membantah atau akan ku patahkan kaki dan tanganmu!" Tegas Donald lalu menyuruh dokter kepercayaannya segera mengurus Erik.
Melihat tubuh lemah, kurus dan pucatnya Erik membuat Donald yakin jika pria muda itu sedang sakit parah dan harus segera di obati.
Kanker rektum bisa di tangani jika segera di ketahui sejak awal. Namun jika di biarkan hingga parah maka kemungkinan selamat juga akan tipis. Belum lagi Erik mengidap Hepatitis B.
Sungguh PR yang rumit bagi para dokter untuk menyembuhkan pria tulang luank itu. Karena jika gagal Linny pasti akan meradang.
Dokter pilihan itu sudah terkenal baik kinerjanya. Dan Donald juga mengenali mereka.
.
.
Penthouse Linny~
"Kau kenapa Linny?" Tanya Sean heran melihat Linny yang sepanjang hari dari mulai dia berangkat ke kantor hingga pulang tampak banyak merenung.
Mereka tidak jadi mengunjungi makam anak-anaknya. Linny dan Sean hanya semat melakukan fitting baju itu pun hanya sebentar karena Linny tampak tidak fokus.
"Tidak. Besok aku akan menemui Om Donald setelah itu kita kunjungi anak-anak ku ya" Ucap Linny sambil tersenyum.
"Ada masalah?" Tanya Sean cemas.
Mendengar Linny bertemu Donald langsung biasanya pasti ada hal yang menjadi masalah dan harus di bahas.
"Tidak. Hanya ada yangingin aku bicarakan dengannya. Jangan terlalu di pikirkan. Ayo tidur. AKu lelah" Ucap Linny lalu berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan diri.
Sean mengecup kening Linny lalu merebahkan dirinya juga di samping Linny.
Keduanya tertidur dan masuk ke alam mimpi masing-masing. Sean bermimpi Linny terluka tembak karena Erik. Tampak pria muda itu hendak membunuh Linny. Hingga Sean ternegah-engah dan terbangun.
"Astaga" Gumam Sean sambil mengusap kasar wajahnya.
Sedangkan Linny masih tertidur pulas. Dia bermimpi berada di sebuah taman bunga dan melihat Sean sedang mengendong dua anak perempuan.
Mereka tampak bermain bersama dan sangat bahagia. Wajah Sean begitu bahagia bersama anak-anak itu. Linny ikut tersenyum dalam tidurnya.
Melihat wajah Linny yang tersenyum dalam tidur membuat Sean sedikit tenang.
"Itu hanya mimpi. Tidak akan ada hal buruk. Aku akan menjagamu Linny" Gumam Sean sambil membelai perlahan kepala Linny agar tak menganggunya.
Sean kembali merebahkan diri dan tidur di samping Linny.
.
.