
Sayup-sayup telinga Linny mendengar seseorang minta tolong.
"To--Long....."
Linny langsung mencari sumber suara itu.
"Linny ada apa?" Tanya Sean heran.
"Ssstttt. Ikut aku" Ucap Linny terus menajamkan telinganya.
"To--Long---"
Linny mendekati gang-gang pertokoan yang cukup jauh dari stand terakhir di pasar malam itu.
"Linny. Hati-hati" Ucap Sean berbisik.
Linny melangkah tanpa suara mendekati sumber rintihan minta tolong yang dia dengar. Di sebuah toko yang tampak tak tertutup rapat pintunya, terlihat cahaya temaram.
Linny menyuruh Sean juga kedua bodyguard-nya untuk diam. Dia ingin mendengar lebih jelas.
"Sialan! Sudah Aku bilang diam!" Terdengar suara bentakan seorang pria.
"Ampun Ayah~ Ampun...." Rintihan suara seorang gadis terdengar begitu lirih.
"Diam! Kau ini tidak bisa di bilangi! Padahal sudah biasa juga kau melayaniku!" Ucap seorang pria.
"Jangan Ayah. Aku mohon, ingat aku ini anakmu. Tolong sudahi ini. Aku benar-benar sakit" Lirih gadis itu terasa menyayat hati.
"Persetan! Salahkan saja Ibu mu yang ****** itu! Siapa suruh dia meninggalkan keluarganya! Kau sebagai anak tentu harus membalas jasaku merawat mu!" Ucap pria itu dibarengi teriakan si gadis yang kembali meminta tolong.
Linny merasa kesal langsung menerjang masuk ke dalam toko itu. Terlihat si pria sudah menurunkan celana-nya sedangkan si gadis meringkuk ketakutan.
"Bangstttt!!!" Umpat Linny yang langsung menendang bokong pria paruh baya itu hingga dia terjungkal.
"Argh!! Siapa kau????!!" Ucap pria itu menjerit kesakitan saat di tendang Linny.
"Diam kau! Bangst!!!" Linny tampak mengamuk dan langsung memukuli pria itu.
Beruntung Sean menariknya sebelum Linny membunuh pria itu.
Jun dan Alfa langsung mengamankan pria paruh baya itu. Sedangkan Sean berusaha menenangkan emosi Linny.
Linny menatap gadis itu, tampak pakaiannya telah rusak, tubuh gadis itu penuh memar dan luka yang meneteskan darah.
Seketika Linny merasa sesak. Tubuhnya hampir terjatuh jika Sean tidak sigap memeluk Linny.
"Linny!!" Teriak Sean terkejut melihat Liny yang kesulitan bernafas.
"Nona!" Alfa dan Jun ikut terkejut.
Alfa segera membantu Sean memegang Linny, sedangkan Jun mengikat pria paruh baya itu dan menelepon polisi.
"Alfa, tolong urus gadis itu. Tutupi tubuhnya dengan jas kalian" Perintah Sean yang langsung di patuhi Alfa.
Alfa juga mengangkat gadis itu duduk di salah satu kursi dan memeriksa lukanya apakah parah. Terlihat luka-luka itu terdapat luka lama yang membekas.
Melihat hal itu Linny semakin merasa tidak nyaman, wajahnya semakin pucat dan berkeringat dingin.
"Linny. Kau kenapa?? Linny!! Hei!!!" Ucap Sean semakin panik melihat Linny yang kesulitan bernafas.
Sean langsung mengendong Linny ala bridal keluar dari toko itu.
"Kau~ Apa kau masih trauma??" Tanya Sean yang mengerti kasus Linny yang pernah mengalami kekerasan dulu.
Linny hanya diam dan berusaha menenangkan dirinya. Tangan Linny mencengkeram erat lengan Sean hingga kuku nya melukai kulit Sean.
Meskipun terasa pedih, Sean menahan hal itu. Dia yakin Linny sedang tidak baik-baik saja dan butuh pegangan.
"Linny... Tenang, ada aku." Sean yang cemas berusaha menenangkan Linny dengan memeluknya.
15 menit kemudian sebuah mobil polisi dan ambulance tiba di tempat itu dan mengundang perhatian orang-orang yang ada di pasar malam.
Semuanya terkejut melihat seorang gadis kecil yang terluka parah dan pria paruh baya yang sudah setengah telanjang itu.
Polisi segera mengamankan pria itu. Sean yang mewakili Linny menjelaskan situasi dan memberi keterangan tentang kejadian yang mereka lihat.
"Boleh Pak. Silakan. Ini kartu nama saya" Ucap Sean memberikan kartu nama yang berisi nomor yang dapat dihubungi.
"Baik terima kasih atas laporan Pak Winsen dan tindakan cepatnya membantu korban. Kami sangat senang ada warga yang ikut memperhatikan kejadian di sekitarnya" Ucap polisi itu menyalami Sean.
Setelah mobil polisi dan ambulance pergi. Sean segera membawa Linny ke mobil mereka di bantu oleh Alfa dan Jun.
Mereka segera kembali ke penthouse. Linny masih dalam gendongan Sean. Dia merasa lemas sejak melihat kejadian tadi.
Sean membaringkan Linny di atas tempat tidur dan hendak menelepon dokter kenalan mereka. Linny memegang tangan Sean erat.
"Ada apa?" Tanya Sean heran.
"Jangan pergi. Aku-- takut" Ucap Linny yang tampak bergetar.
"Aku mau menelepon dokter" Ucap Sean.
"Tidak usah. Kau di sini saja" Ucap Linny sambil memejamkan matanya.
Sean menuruti keinginan Linny lalu duduk di dekatnya. Perlahan tangan Sean mengelus rambut Linny perlahan. Sean menghela nafas.
Bukan hanya dia yang merasa tak nyaman jika mengingat masa lalu, Linny juga merasakan hal yang sama.
"Aku bantu kau berganti pakaian ya. Tidak nyaman bukan memakai pakaian ketat begini" Ucap Sean dengan lembut.
Linny hanya mengangguk membiarkan Sean membantunya berganti pakaian tidur yang lebih nyaman.
"Tidurlah. Aku akan menjaga mu" Ucap Sean sambil tersenyum.
Linny memaksakan dirinya untuk tidur. Dia berusaha melupakan semua yang dia lihat tadi.
Sean ikut tertidur di samping Linny. Hingga menjelang tengah malam Linny terbangun terengah-engah.
"Hah-- Hah... Hah..." Linny merasa kepalanya sangat sakit.
Sean yang mendengar suara Linny pun ikut terjaga dan langsung bangun memeluk Linny.
"Tenang. It's okay Linny. Tidak ada apa-apa" Ucap Sean sambil menepuk pelan punggung Linny menenangkannya.
"Kepalaku sakit" Ucap Linny sambil memegang kepalanya yang terasa tidak nyaman.
"Aku ambilkan obat untuk mu. Tunggu di sini ya" Ucap Sean dengan lembut lalu membaringkan Linny terlebih dahulu.
Sean segera menuju dapur mencari kotak obat dan menuangkan air hangat untuk Linny.
Terlihat Linny memang merasa tidak nyaman. Sean membangunkan Linny dan menyuapi Linny dengan obat pereda nyeri kepala itu.
Setelahnya Sean kembali membaringkan Linny di atas tempat tidur kembali. Dan mengelus kepala Linny hingga dirinya terlelap.
Setelah memastikan Linny sudah tertidur, barulah Sean ikut tidur di samping Linny dan terlelap.
.
Matahari pagi mulai bersinar terang. Sean segera bangun. Dia melihat Linny masih tertidur, Sean membiarkannya. Dirinya memutuskan untuk terlebih dahulu mandi dan menyiapkan sarapan ringan untuk Linny.
Sean membuat roti bakar, sosis bakar, juga telur mata sapi serta jus buah segar untuk sarapannya dengan Linny.
Bertepatan dengan selesainya Sean menyiapkan sarapan, Linny baru bangun dan mendekati dapur tempat Sean berada.
Linny tersenyum memperhatikan Sean. Pria itu tampak tampan saat memakai apron dan memasak.
Tanpa sadar Linny mulai mengagumi Sean. Kebaikan dan kesabaran Sean sedikit menggerakkan hati Linny untuk sedikit melembut padanya.
Sean merasa ada yang sedang memperhatikannya sejak tadi lalu menoleh melihat ke arah Linny.
"Loh, Linny sudah bangun? Mandilah setelah itu kita sarapan. Ini sudah selesai" Ucap Sean sambil tersenyum.
"Okey" Jawab Linny singkat lalu menuju kamar mandi.
.
.
.