
"Jadi apa yang bisa aku bantu? Dan apa yang kau ingin kan? Aku orang bisnis. Tentu aku paham tidak ada bantuan yang gratis"
"Kau yakin bisa melakukannya untukku?"
"Tergantung apa itu. Apa pun bisa seorang Linny lakukan kecuali membiarkan kau mengambil Sean kembali!"
Keduanya saling bertatapan.
"Jika itu yang aku mau bagaimana? Kau akan menyerahkan Sean untukku?" Tanya Erik dengan tatapan yang serius.
Mata keduanya bagai laser dan saling menatap tajam.
.
.
.
Penthouse~
"Ah sebaiknya aku bawakan lebih banyak **********. Dia benci berkeringat" Ucap Sean yang memasukkan beberapa dalaman yang di minta Linny.
Selain itu Sean membawa lilin aroma terapi untuk Linny. Dia tau Linny sangat membenci aroma rumah sakit. Jika bukan karena terpaksa maka Linny pasti akan langsung meminta pulang saat dia sudah sadar.
Setelah memasukkan semua yang akan dia bawa, Sean menuju dapur untuk membuatkan roti lapis juga buah untuk Linny.
"Apa perlu saya bantu Tuan?" Tanya Jun yang melihat Sean begitu sibuk.
"Tidak usah. Biar aku sendiri saja. Tolong masukkan tas itu ke mobil. Jangan sampai ada yang ketinggalan ya Jun" Ucap Sean sambil menata roti di atas kotak makan.
"Baik Tuan. Ah hasil cek up Tuan sudah keluar. Semuanya baik-baik saja untuk pengecekan HIV dan Hepatitis juga virus yang mungkin menyerang darah semua negatif. Tinggal hasil pengecekan paru-paru serta masalah pencernaan saja harus menunggu besok pagi Tuan" Ucap Jun menginformasikan.
Sean menghela nafas lega. Setidaknya yang paling buruk dan mungkin bisa menular pada Linny terbukti negatif.
"Baguslah. Setidaknya aku tidak membahayakan Linny" Ucap Sean lega.
"Tuan pasti sehat-sehat saja. Tuan selalu menjaga pola hidup selama ini" Ucap Jun sambil menatap Sean.
"Tapi gaya hidupku dulu tidak sehat. Aku selalu berganti pasangan pria hampir setiap harinya. Setidaknya seminggu 3 kali meskipun aku selalu menggunakan pengaman. Entah mengapa saat ingat hal itu aku benar-benar merasa jijik dengan diriku yang dulu. Dan takut mungkin aku membawa penyakit untuk Linny sehingga anak kami tidak bertahan" Ucap Sean mencurahkan rasa galaunya pada Jun.
"Tidak mungkin Tuan. Jika itu terjadi maka sudah lama kesehatan Nona akan terpengaruh juga. Buktinya Nona juga cepat pulih meskipun mendapat luka tusuk waktu itu" Ucap Jun mencoba memberi pengertian yang logis pada Sean.
"Kau benar. Ya sudah aku harus segera menyiapkan camilan ini untuk Linny. Sebelum kemalaman kita tiba di rumah sakit" Ucap Sean yang kembali fokus menyiapkan makanan untuk Linny.
Jun pun paham tak ingin mengganggu Tuannya lagi. Jun segera memasukkan tas bawaan Sean ke mobil dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Setelahnya mereka kembali ke rumah sakit. Sean segera berjalan cepat menuju ruang rawat Linny. Dia sangat merindukannya dan takut Linny sendirian serta terluka lagi saat dia masih lemah.
Saat membuka pintu ruang rawat Sean terkejut Linny tidak ada di atas tempat tidur. Alfa juga tidak ada. Hanya ada Body guard yang berjaga. Baru saja Sean hendak menanyai Bodyguard-nya, Sean mendengar pintu kamar mandi terbuka.
"Linny" Ucap Sean yang langsung menyongsong memeluk Linny.
"Ada apa?" Tanya Linny heran.
"Aku kira kau menghilang tanpa di ketahui" Ucap Sean terdengar bergetar.
"Astaga. Begitu banyak pengawal mana mungkin aku hilang. Aku lapar. Kau bawa sesuatu?" Tanya Linny.
"Ah iya aku ada membuat roti lapis. Biar aku suapi" Ucap Sean lalu menuntun Linny kembali duduk di atas ranjang.
Jun mengeluarkan semua kotak makanan dan menaruh tas yang di bawa Sean di atas sofa. Setelahnya Jun keluar tidak mau mengganggu waktu Tuan dan Nonanya itu.
Di luar ruangan tampak Alfa membawa dua gelas kopi panas dan memberikannya pada Jun.
"Sudah selesai?" Tanya Jun.
"Kita tetap harus waspada. Suruh pengawal berganti jaga agar tidak kelelahan dan tetap fokus" Ucap Jun lagi.
"Tenang saja. Sudah aku atur" Jawab Alfa sambil meneguk kopinya.
Di dalam ruangan Sean selesai menyuapi Linny dan membantunya berganti pakaian bersih.
"Kapan bisa pulang?" Tanya Linny yang sudah tidak sabar ingin keluar dari tempat itu.
"Tunggu beberapa hari lagi. Aku ada bawa lilin aroma terapi biar aku nyalakan" Ucap Sean sambil mengancingkan baju pasien Linny.
Linny menatap Sean dengan pandangan sulit di artikan. Linny kembali teringat permintaan Erik.
"Aku mungkin akan segera mati. Tapi sebelum mati bisakah aku melihat kau dan Sean menikah? Aku ingin melihat wajahnya yang bahagia karena bisa menikah dengan mu. Aku paham betul keinginannya. Dia sangat suka anak-anak. Dia pasti bisa menjadi ayah yang hebat kelak"
Linny bingung dengan Erik yang begitu ingin Linny menerima ajakan Sean menikah. Padahal sebelumnya Erik sangat ingin merebut Sean kembali.
Dia sudah sempat mengira Erik akan menyerangnya tadi dan akan mengambil Sean kembali namun Linny salah. Erik malah tertunduk lesu bahkan sempat berlutut memohon pada Linny.
Erik terlihat begitu rapuh saat memohon dengan tulus pada Linny. Berbeda dengan Erik sebelumnya yang tampak menyebalkan dan angkuh.
"Aku tulus mencintai Sean dan aku tau kami tidak akan pernah bisa menikah. Wakili aku setidaknya untuk menikah dengannya. Aku hanya mau melihat dari jauh wajahnya tersenyum saat memakai tuxedo di depan altar. Kau tau? Sean pria terbaik yang pernah aku temui. Dia yang selalu mengulurkan tangannya terlebih dulu. Dia yang selalu bersabar dan memilih mengalah. Dia yang tidak peduli dengan masa lalu orang yang dia cintai. Dia yang akan selalu menurut apa pun yang dikatakan orang yang dia cintai. Dia pria sehangat itu. Karena itu aku benar-benar takut kehilangan dia"
Perkataan Erik benar adanya. Linny yang begitu keras seperti batu karang saja masih tetap Sean bertahan. Entah sudah berapa kali sikap dan perkataan Linny membuat Sean sakit hati. Tapi pria itu tidak pernah menyerah dengan Linny.
"Dia akan mempertahankan cintanya sesulit apa pun kecuali kau berkhianat. Dia juga akan bersabar dan memilih mengalah jika kau tidak mau mengikuti kemauannya. Contohnya pernikahan. Aku yakin dia pasti menyinggung hal itu tapi dia tidak akan berani memaksa meskipun dia sangat ingin"
Linny menghela nafas berat. Keinginan Erik sungguh berat untuknya. Dia belum yakin untuk menjalani kehidupan pernikahan.
Mendengar Linny yang menghela nafas berat seolah ada yang sangat mengganggu pikirannya membuat Sean menatap heran pada Linny.
"Ada apa Linny?" Tanya Sean lagi.
"Rahasiakan kondisi ku dari Sean. Biarkan dia membenci ku sampai aku mati. Aku tidak mau dia mengasihaniku dan mencariku lagi. Jika masih bersama ku dia akan selalu berbahaya. Aku percaya kau bisa menggantikan ku menjaganya dari Rain. Rain sangat menginginkannya sejak dulu. Sementara aku akan bertahan di sisi Rain untuk tau apa niatnya lagi. Kecelakaan itu perbuatan Rain, tapi kau tidak akan bisa menuduhnya karena tidak ada bukti"
Linny hanya tersenyum dan menggeleng. Dia bingung apakah harus membiarkan Sean tau yang sebenarnya. Di sisi lain dia juga cukup kasihan melihat Erik yang benar-benar pucat dan terlihat sering menahan sakitnya.
Erik sendirian tanpa ada keluarga yang menemaninya. Tapi Erik juga benar, Jika Sean menemuinya maka Sean akan semakin terancam. Tidak ada jaminan orang-orang Rain tidak mengikuti Erik diam-diam.
"Kau tidak menjenguk Erik?" Tanya Linny.
Sean menatap Linny dengan menahan amarahnya.
"Tidak perlu bicarakan orang itu. Aku tidak mau melihatnya lagi" Ucap Sean terdengar datar.
"Tapi dia yang sudah menyelamatkan kita" Ucap Linny perlahan.
"Itu hanya akal-akalannya. Dia hanya mencari celah agar aku mengasihaninya dan mengira dia sudah berubah. Sudahlah. Jangan berurusan dengan dia lagi. dan jangan membahas dia" Ucap Sean terdengar sangat membenci Erik.
"Sean jika sudah membenci seseorang maka dia tidak akan pernah mau berurusan dengan orang itu. Untuk melihatnya saja meskipun sudah di bantu tetap saja Sean tidak akan peduli. Tapi lebih baik begitu, jangan biarkan dia mendekatiku kecuali saat aku sudah tidak bernyawa baru biarkan dia datang ke makamku"
Ucapan demi ucapan Erik terbukti benar. Sean mungkin sangat baik tapi dia juga sangat pendendam dan akan terus membenci orang yang berani menyakiti orang yang dia cintai.
"Sean. Temani aku tidur" Ucap Linny.
Sean pun ikut merebahkan diri di samping Linny. Beruntung ranjang untuk Linny di minta berukuran lebih besar. Sisilia dan Andrean sudah tau jika Sean dan Linny pasti akan tidur seranjang.
Keduanya kini sangat sulit di pisahkan.
,
,
,