
Sean mengerjap. Dia terkejut tubuhnya terikat dalam posisi X. Dia berada di tempat yang tidak dia kenali.
"Hai Boy. Sudah sadar kau rupanya"
Suara Rain terdengar berjalan mendekati Sean.
Mata Sean membelalak terkejut, bukan karena bertemu dengan Rain tapi karena pria di samping Rain.
Sean melihat Erik berjalan berdampingan dengan Rain.
"Erik~"
Sean tidak percaya melihat Erik sudah bisa berjalan dan bersama Rain. Seketika dia merasa di khianati oleh Erik.
"Haha. Kau merindukan mantan mu ini ya? Akhirnya kau kembali kan. Akan aku pastikan kau mati kali ini jika berani menjauh dari genggamanku"
Ucap Rain sambil tersenyum mengerikan. Dia benar-benar seperti iblis di mata Sean.
Rain memberikan dua botol cairan obat pada Erik.
"Berikan dia obat baru ini. Setelah ini dia akan menjadi milik mu dan milikku sepenuhnya hingga dia mati"
Ucap Rain pada Erik. Erik menerima dua botol obat itu dan menatap bingung pada Rain.
"Ini akan membuatnya hilang ingatan sebagian juga bisa gila. Dia juga akan kehausan dan terus butuh ini untuk bertahan hidup. Dan itu hanya bisa dia dapatkan dengan mengikuti keinginan kita"
Jelas Rain sambil tertawa mengerikan. Mendengar perkataan Rain membuat Sean terkejut juga takut. Dia tidak mau lagi terseret ke dalam kubangan itu.
"Bisa kalian tinggalkan aku. Aku ingin berduaan dengan Sean" Ucap Erik pada Rain.
Rain tersenyum dan mengiyakan permintaan Erik.
"Baiklah. Aku yakin kau merindukan batangannya Sean bukan. Tapi setelah itu jangan lupa giliranku" Ucap Rain sambil tersenyum dan mengajak orang-orangnya keluar dari ruangan itu.
Erik memastikan tidak ada siapa pun dan tidak ada kamera di sana. Dia berjalan mendekati Sean perlahan.
"Maaf Sean" Ucap Erik lalu menuang paksa sebotol cairan ke dalam mulut Sean.
"Bangsaat kau Erik!! Sialan!!!" Umpat Sean.
"Maaf. Aku tidak bisa membiarkan Joe mati" Ucap Erik datar.
Sean mengerjap kebingungan, tidak lama dia merasa pusing dan panas di seluruh badannya.
Erik hanya memperhatikan Sean dan menatap lirih pada botol di tangannya.
.
.
Di markas Rain~
Linny dan Joe mendobrak masuk namun tak ada satu orang pun. Semua isi markas juga sudah kosong.
"Mereka tidak ada di sini" Ucap Joe.
Jun berlari mendekati Linny dan Joe , "Apartemen kosong"
Lapor Jun yang memerintah beberapa orang mengintai dan mencari ke apartemen Rain sesuai info dari Joe.
"Ke mana mereka~" Gumam Joe yang mulai kehabisan harapan.
Linny menatap Joe dalam seraya berkata, "Apa dia punya tempat lain?"
Joe yang ditanyai seperti itu mulai berpikir keras. Dia selalu di tugaskan berjaga di markas besar ini. Joe hanya pernah datang ke apartemen Rain juga Bar milik Rain.
Tapi tunggu, dia ingat pernah sekali mengantarkan obat-obatan ke pelabuhan. Dan dia tidak sengaja mencuri dengar dari pengawal di sana jika itu markas cadangan Rain yang khusus agar tidak terdeteksi.
"Pelabuhan! Ya Pelabuhan! Dia pernah meminta ku membawa obat ke sana tapi aku kira dia mau transaksi di sana! Kalau tidak salah ada pengawal yang bilang dia punya markas kecil di sana!" Ucap Joe spontan.
Tanpa menunggu lagi mereka langsung melaju kencang menuju pelabuhan. Linny juga mengabari Andrean untuk bersiap atas semua kemungkinan yang terjadi. Karena perang itu pasti akan membuat kekacauan dan reaksi publik.
"Kalian harus berhati-hati dan selamat"
Itu pesan dari Andrean saat Linny mengatakan dia akan membunuh Rain hari itu juga dalam keadaan apa pun.
Linny memegang perutnya sambil bergumam, "Kau harus kuat sayang. Kita harus melindungi Papa mu".
Perjalanan menuju pelabuhan terasa sangat lambat bagi Linny. Dia terus berdoa agar Sean tidak kenapa-kenapa. Pikirannya hanya satu. Dia takut Sean di berikan obat seperti Rendy.
"Berpencar. Temukan lokasi mereka!" Titah Linny.
Semuanya paham dan berpencar. Linny dan Joe berusaha bergerak cepat dan memeriksa setiap sudut pelabuhan.
Plang!!!
Suara sesuatu terjatuh di dekat tumpukan kontainer di ujung pelabuhan.
Joe dan Linny saling menatap, keduanya saling mengangguk untuk bersiap bergerak tanpa suara.
Benar saja tampak beberapa pengawal di sana sedang berjaga. Tanpa ragu Joe dan Linny melumpuhkan semuanya dalam sekali serangan.
Pengawal Linny juga menerobos masuk ke dalam kontainer yang ternyata sudah di ubah sangat luas itu.
Baku tembak pun tak terhindarkan. Pengawal Rain berjatuhan, begitu juga beberapa orang milik Linny terluka.
"Haha! Kalian ternyata berani kemari!" Ucap Rain berjalan mendekat ke arah Linny.
Linny menatap geram pada Rain. Seharusnya dari awal dia membunuh pria kelainan s3x itu.
"Bagaimana kalau kita bertarung,. Aku dengar kau jago bermain pisau" Ucap Rain menantang Linny.
"Tidak akan pernah bahkan sampai aku mati. Erik sudah bersedia kembali bersama ku. Dan Sean~ Ah Sean tidak akan mengenali mu lagi. Dia sudah dalam kuasa ku" Ucap Rain sambil tersenyum menyeringai.
"Bangsatttt!!"
Linny langsung memukul Rain. Bagi Linny bertarung bukan hal yang sulit namun dia harus melindungi perutnya. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya lagi.
Mereka bertaruh hingga lengan Linny maupun lengan Rain terluka. Melihat hal itu Joe segera bergerak membantu Linny.
Jun dan Alfa yang baru selesai membersihkan dan melumpuhkan pengawal Rain di luar sana segera menolong Sean. Sean tampak seperti orang mabuk dan sedikit linglung.
"Tuan!! Tuan tidak apa-apa??" Tanya Jun yang sangat panik.
Dia langsung memotong tali yang mengikat kaki dan tangan Sean.
"Bawa Tuan keluar! Cepat!!" Teriak Jun.
Mereka bersama-sama mengungsikan Sean dari tempat itu.
"Sial!!" Rain tampak tidak terima melihat Sean di selamatkan.
Dia mengeluarkan pistolnya. Melihat itu Linny langsung menubruk badannya hingga pistol mengarah ke atas dan menembak lampu hingga padam.
Dewi yang ada di sana melihat Linny akan di tusuk, dengan sigap dia menahan pisau Rain hingga tangannya terluka.
"Dewi!"
Linny langsung menarik Dewi menjauh.
"Pergi! Bawa Sean pergi!" Titah Linny.
"Tapi Nona~"
"Pergi aku bilang!!!!"
Mendengar teriakan Linny membuat Sean tersadar. Dia hanya merasa pusing.
Rain mengarahkan p1stolnya ke arah Sean. Linny refleks berlari menghalangi tembakan Rain hingga bahu Linny yang tertembak.
Dor!
"Linny!!!"
Joe berteriak terkejut melihat Linny tertembak. Namun Linny masih bertahan dan menembaki tangan Rain juga sebelah kakinya.
Dor! Dor!
"Argh!!!!" Rain terjatuh saat kaki kirinya tertembak.
Tangan kanannya juga tertembak hingga dia menjatuhkan pistolnya.
"Linny awas!!!"
Joe menyelamatkan Linny dari reruntuhan kayu penopang lampu di atasnya.
Linny mengerang kesakitan saat terjatuh.
"Argh!!"
Darah mengalir dari bahu juga kaki Linny.
Sean yang mulai sadar penuh berlari dan memeluk Linny.
"Linny!"
Sean panik melihat luka tembak pada bahu Linny. Dia semakin terkejut melihat darah yang mengalir di paha Linny.
"Linny kau~"
Sean teringat kejadian Linny keguguran waktu itu. Linny hanya tersenyum pahit. Dia pasrah dengan kondisi yang terjadi.
Terlihat Erik berjalan mendekat ke arah mereka dengan membawa p1stol di tangannya.
"Erik!"
Joe senang melihat kekasihnya baik-baik saja.
"Jangan mendekati dia Joe! Dia pengkhianat!"
Tegas Sean penuh amarah.
"Tembak mereka Erik! Bunuh mereka semua! Kau dan aku akan selamat! Kita akan memulai hidup baru di luar sana!"
Ucap Rain berusaha meprovokasi Erik.
"Ingat! Nyawa Joe di tanganku!"
Rain sengaja mengucapkan itu dan tersenyum menyeringai.
"Maafkan aku"
Ucap Erik menatap Sean dan dia mulai menembak.
Dor! Dor!
.
.
.