A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Rencana Menikah...



Sudah seminggu Andrean tinggal bersama Angel di apartemen milik Linny itu.


Alasannya tidak ingin jauh dari Angel dan bayinya. Dia ingin menjadi ayah yang siaga.


Dan menurut Andrean, bayi mereka sangat rewel dan ingin selalu di elus sebelum tidur.


Meskipun Linny tau itu hanya akal-akalan. Bilang saja pengen tidur bisa pelukan dan mesra-mesraan.


Pakai acara bawa-bawa si bayi menjadi alasan. Tapi terserahlah. Linny malah senang melihat  Andrean bisa sepeduli itu pada calon anak dan istrinya itu.


"Apa yakin tidak mau di buat resepsi mewah?"  Tanya Linny pada Angel.


"Tidak usah deh. Buang-buang uang aja. Pemberkatan pernikahan aja udah cukup"  Jawab Angel sambil menikmati snack.


Sejak hamil, Angel memang sangat suka ngemil di banding makan berat. Berbeda seperti biasanya dia cenderung menjauhi camilan demi menjaga bentuk tubuh.


"Sayang sekali~"  Ucap Linny yang ikut ngemil bersama Angel.


"Kenapa?"  Tanya Angel heran.


"Aku berencana menjadi sponsor pesta pernikahan kalian"


Jawab Linny dengan santai. Ekspresi Angel tampak membola tak percaya dengan perkataan Linny.


"Gak usah lihat segitu-nya. Aku serius. Lupa pesta Sisilia seperti apa.. Ah iya, kemarin kau berhalangan untuk ikut ya di acara Sisilia"  Ucap Linny dengan santai.


"Kalau begitu aku berubah pikiran!"  Ucap Angel langsung.


"Hah?"


Linny menatap heran pada Angel yang tiba-tiba berseru dengan semangat.


"Ya aku mau adakan pesta tapi kau yang harus jadi sponsornya"  Ucap Angel sambil tersenyum seribu watt pada Linny.


"Sialan kau! Ck!"  Umpat Linny kesal.


Lalu Linny tampak berpikir sebelum memutuskan di mana Angel akan dia sponsori untuk pernikahan.


"Nanti akan aku minta Sean atur di hotel Alexxander. Kita tidak mungkin berlayar jauh. Kau sedang hamil"  Ucap Linny.


"Baiklah. Terserah kau saja. Toh Kau yang bayar"  Ucap Angel sambil tersenyum senang.


Kapan lagi bukan di sponsori oleh Linny jika bukan untuk pernikahannya.


"Jangan lupa kabari orang tua mu"  Tambah Linny.


Angel mengerjap. Dia menatap Linny dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Mereka tetap orang tua mu. Sejauh mereka tidak menghina mu dan memilih mempercayai orang lain saat kau hampir mati dan di lecehkan maka mereka masih pantas kau anggap hidup"  Lanjut Linny yang tahu ucapan Nyonya Friska Zen sudah menyakiti sang putri.


Angel hanya menghela nafas tanpa mau berkomentar tentang perkataan Linny.


Keduanya tampak diam dan melanjutkan menikmati snack mereka hingga habis total.


.


.


.


Malam menjelang, Linny tampak memasak untuk Sean yang baru saja tiba di penthouse.


Linny yang masih sering mual dan kelelahan terpaksa harus bekerja dari rumah. Sean melarangnya untuk keluar. Dan Linny hanya bisa menurut sebelum Sean kembali mengambek seperti kemarin.


Linny benar-benar menuruti dan tidak membuat ulah meskipun Linny tampak terus mengajari Dewi cara menembus rumah orang dan mencari master video termasuk membobol brankas dan alat elektronik tanpa ketahuan.


Sungguh luar biasa sekali bukan seorang Linny. Mengajari seorang mantan pencuri abal-abal menjadi pencuri yang luar biasa.


Mau heran tapi itu Linny. Di sela-sela dia mengajari masih sempatnya dia menasihati Dewi agar tidak melakukan hal itu tanpa seizinnya. Memang lucu wanita satu itu.


"Sudah sampai? Mandilah. Sebentar lagi makanan siap"  Ucap Linny saat melihat Sean yang masuk ke dalam dapur.


Sean langsung memeluk Linny dari belakang dan mencium pipinya.


"Rasanya seperti di sambut istri saat pulang kerja. Apa kita juga harus menikah berbarengan dengan Andrean?"  Tanya Sean.


Linny tersikap, dia terdiam dan tak ingin menjawab. Sean paham itu, Linny always Linny. Membujuknya untuk menikah bukan hal mudah.


"Aku akan mandi sebentar"  Ucap Sean lalu mengecup kening Linny dan berjalan menuju kamar mandi.


Liny kembali melanjutkan menata masakannya namun pandangannya cukup penuh tanya kini.


Linny menatap cincin pemberian Sean. Begitu indah dan Linny tau itu di berikan penuh cinta oleh Sean. Hanya dia belum bisa menerima jika harus menikah di saat dia tidak yakin dengan dirinya sendiri.


Pernikahan apa yang akan dia jalani dengan kondisi dia yang selalu penuh kebencian dan memburu manusia-manusia yang pernah menyakitinya.


Selesai makan keduanya tampak duduk bersantai di ruang televisi. Jun dan Alfa sudah kembali ke unit apartemen Jun untuk mengajari Dewi dan Farid berbahasa asing.


"Ada apa?"  Tanya Sean saat melihat Linny yang masih merasa tidak enak dan selalu muntah.


"Sepertinya obat ku harus di ganti. Perutku masih tidak nyaman"  Ucap Linny mengeluh.


Jarang sekali Linny mengeluh jika sampai dia mengeluh maka tandanya tubuhnya benar sangat tidak nyaman.


"Apa kita ke dokter saja?"  Tanya Sean cemas.


"Tidak usah. Coba minta obat yang lebih tinggi aja dosisnya untuk meredakan"   Ucap Linny yang kekeh tak ingin ke dokter.


Dia merasa itu hanya Gerd biasa namun kondisinya memburuk karena dia juga stress beberapa waktu ini.


"Ya sudah. Mau ku pijit kepalanya?"  Tanya Sean sambil mengelus kepala Linny perlahan.


Linny hanya mengangguk lalu merebahkan diri di kedua paha Sean.


Tangan Sean dengan lembut memijat kepala Linny dengan penuh cinta.


"Oh ya. Lusa pemberkatan pernikahan mereka. Jangan lupa ya"  Ucap Linny pada Sean.


"Tentu mana mungkin aku lupa. Tapi kenapa resepsinya di tunda seminggu lagi?"  Tanya Sean heran.


Biasanya orang malah ingin segera mungkin melaksanakan resepsi agar lelahnya tidak dua kali.


"Entahlah. Mungkin memikirkan kondisi kandungan Angel. Takut dia kelelahan kalau di paksa langsung resepsi di waktu berdekatan"  Ucap Linny yang memang tidak tahu menahu,


Yang Linny tahu dia hanya harus menjadi pemberi sponsor dan hadiah terbaik untuk kedua calon suami istri itu. Dan Linny sudah menyiapkan hadiah sebuah apartemen mewah untuk keduanya.


.


.


Apartemen Rain~


"Kau aturkan seseorang. Tabrak saja mereka kalau bisa sampai mati kedua orang itu"


Suara Rain tampak memerintah pada seseorang.


"Gimana kalau ketahuan ini rencana kita. Kau tau perempuan itu bukan sembarangan. Jika dia selamat dan tau kita bisa mati"


Jawab orang yang bersama Rain.


"Berikan saja obat-obatan. Paling juga polisi akan mengira dia pemakai dan tidak akan ada yang curiga jika pemakai yang balapan dan membunuh banyak nyawa bukan?"  Ucap Rain dengan santai.


"Baiklah. Akan aku aturkan"


Kedua pria itu tampak tertawa dan tidak sadar jika Erik sedang menguping pembicaraan mereka.


"Dia mau membunuh Sean?"  Gumam Erik lirih.


.


.


.


Los Angels~


"Sialan!! Siapa yang tau markas senjata tajam dan obat-obatan kita???!! Kenapa bisa bocor??!!"  Tanya Hendra pada Rendy -anak semata wayangnya.


"Entahlah Pa. Tapi feeling ku itu orang yang sama yang sudah mengacaukan kerja sama kita dengan Mister Lee. Orang itu terus saja mengganggu kita. Entah apa maunya"  Ucap Rendy kesal.


"Sialan! Cari siapa orang itu! Habisi kalau perlu. Berani-beraninya cari masalah dengan Hendra Abdi Wijaya. Belum tau dia siapa diriku!"  Ucap Hendra dengan penuh amarah.


"Baik Pa. Tapi Mama bagaimana? Sudah berapa hari dia tidak pulang?"  Tanya Rendy yang khawatir dengan ibu sambungnya itu.


Siapa lagi jika bukan Natalie - Ibu Kandung Linny dan Nicolas. Rendy tampak tulus menyayangi ibu sambungnya yang memang sangat baik pada Rendy.


"Biarkan saja ****** itu! Lagi pula dia tidak berhak marah jika aku punya perempuan lain! Siapa suruh miliknya sudah tidak menarik dan bau! Lagi pula dia taunya hidup enak dan belanja saja!"  Ucap Hendra kesal saat membicarakan Natalie.


Rendy tampak hanya diam melihat sang Ayah yang kesal dan mengamuk akibat video ranjangnya tersebar hingga menjadi terror para wartawan terhadap keluarga Abdi Wijaya.


Belum lagi salah satu markas senjata dan obat-obatannya di bekuk oleh polisi. Entah siapa yang bisa tau dan berani melawannya. Hingga tentu kerugian besar di alami Hendra meskipun polisi tidak bisa menemukan siapa pemilik dari markas itu.


.


.


.