A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Resmi Hari Pertama...



Hari ini Sean mulai bekerja di FP Corporation. Dirinya tampak bersemangat untuk bekerja.


"Perkenalkan semuanya. Ini adalah Pak Winsen Darren Mahaprana. Beliau akan menjadi manager pemasaran mulai hari ini"  Ucap kepala HRD memperkenalkan Sean dalam pertemuan pagi di kantornya.


Semua orang bertepuk tangan menyambut Sean.


" Selamat pagi. Nama saya Winsen Darren Mahaprana. Biasanya di panggil Sean. Senang bisa bergabung dengan teman-teman semua di perusahaan besar ini"  Ucap Sean memperkenalkan dirinya dengan sopan.


" Selamat datang ya Pak Sean, semoga bisa betah di sini. Kami beruntung bisa memiliki manager pemasaran yang dikenal dengan kemampuan sales-nya yang luar biasa"  Puji salah satu manager di sana.


" Ah Anda berlebihan. Saya yang bersyukur di beri kesempatan bergabung di sini"  Ucap Sean tersenyum.


Terlihat Sean berbincang dengan beberapa orang sebelum masing-masing sibuk dengan kegiatan mereka.


Sean di berikan ruangan khusus untuk posisinya sebagai manager. Ruangan yang cukup luas dan lengkap dengan semua keperluannya.


" Aku harus bekerja lebih baik. Ah ya. Aku kabari Linny ah"  Ucap Sean lalu mengambil fotonya di dalam ruangan dan mengirimkan kepada Linny.


Mereka semakin akrab saat ini. Ponsel Sean berbunyi tanda pesan masuk.


' Muka om mesum banget! ' -tulis Linny-


' Awas Kau ya. Om mesum ini yang bisa bikin puas kan?! ' -balas Sean-


Sean tersenyum geli sendiri dengan isi chatnya bersama Linny.


' Terserah! ' -balas Linny-


Sean tertawa puas melihat chat Linny yang singkat. Tandanya Wanita itu sudah kehabisan kata-kata.


Dirinya kemudian menyibukkan diri untuk bekerja. Di hari pertama dia berusaha untuk bekerja lebih baik dari pada sebelumnya di perusahaan lama.


Tampak karyawan ada yang menyukai dan juga tidak menyukai kehadiran Sean.


Sean yang sangat rapi, tidak suka sesuatu berantakan atau kotor. Dia juga selalu harus di patuhi dengan aturan-aturan yang dia buat kepada anggotanya.


Apalagi jika berkaitan tentang pencapaian sales di perusahaan.


Sebagian beranggapan Sean sangat gagah dan memang cocok menjadi manager pemasaran.


Sebagian merasa kehadiran Sean mengganggu waktu bersantai mereka.


Sean sementara ini di percayakan mengurus pemasaran untuk produk makanan dan minuman perusahaan itu.


.


Sepulang kerja Sean segera kembali ke apartementnya untuk bersantai.


Dia dan ke empat sahabatnya berjanji akan pergi bersama ke bar RB.


Sean tidak mengabari Linny karena ingin memberinya kejutan.


" Pasti Aku akan di omelin Linny. Apalagi para berandalan itu ribut semua"  Ucap Sean tertawa geli sendiri.


Sean berpakaian seperti apa yang di harapkan Linny, mereka pernah membicarakan type orang yang mereka sukai masing-masing. Entah mengapa dia menjadi sangat peduli dengan cara pandang Linny terhadapnya.


Padahal Sean juga belum yakin dia benar-benar sudah kembali pada kodratnya sebagai laki-laki.


Sean juga masih berhubungan dengan Erik meskipun dia akui. Rasa memburu dan sayangnya kepada Erik kini hanya sebatas rasa sayang terhadap teman lama dan tanpa nafsu yang menggebu-gebu seperti sebelumnya.


30 menit perjalanan yang di tempuh Sean menuju bar RB. Terlihat mobil Aston sudah terlebih dahulu tiba di sana.


Sean turun dari mobil dibarengi ke empat sahabatnya yang berada di mobil yang sama dengan Aston.


" Lama amet? Dandan Kau ini? Eh, Tumben lain bener hari nih? "  Tanya Danu syok melihat penampilan Sean yang berbeda di banding sebelumnya.


Sean tampak tetap tampan meskipun dengan pakaian yang lebih casual tanpa banyak barang branded yang digunakan.


Biasanya Sean akan berpenampilan seperti boss besar dengan segala barang branded di tubuhnya. Hal itu sesuai permintaan Erik.


" Udah masuk yuk! Entar rame mesti antri! "  Ucap Sean.


Beruntung bar RB belum ramai. Masih terlihat dua tamu yang duduk di meja biasa. Sedangkan kursi di meja bar masih kosong.


" Eh Kak Sean. Loh tumben sama temen"  Ucap Eka menyambut Sean masuk.


Aston terpukau melihat Eka yang manis, Eka memang masih muda dan wajahnya manis. Meskipun berpakaian tertutup namun Eka tetap tampak cantik.


" Di sini bar menjual minuman bukan menjual wanita! Kalau berharap melihat gadis-gadis penggoda dengan pakaian minim bukan di sini, Anda salah server! "  Tegur Linny yang mendekati kelima anak manusia itu.


Aston tercekat. Biasanya dia pintar membantah atau ribut bahkan dengan wanita. Namun entah mengapa melihat Linny, nyalinya ciut.


Doni tertawa melihat Aston yang tampak takut melihat Linny.


Sean hanya menggeleng kepala. Sebelum Linny marah dia segera memperkenalkan keempat sahabatnya kepada Linny.


" Linny, ini sahabat Aku. Kenalkan itu Doni, Danu, William sama itu Aston. Sorry mulutnya memang rada bocor. Tapi dia enggak jahat kok"  Ucap Sean menjelaskan.


Linny hanya menganggukkan kepala nya mengerti.


" Mau duduk di mana? "  Tanya Linny kepada Sean.


" Meja bar boleh? Tapi cuman 4 kursi ya"   Ucap Sean bingung.


Mereka berlima bagaimana bisa berkumpul di meja bar yang hanya memiliki 4 kursi tinggi itu.


" Bentar Aku suruh Eka ambil kursi cadangan"  Ucap Linny langsung memerintahkan Eka mengambil 1 kursi baru di dalam gudang.


Kelima pria itu duduk di meja bar menghadap Linny.


" Aku kira cuman ada kursi cadangan yang biasa"  Ucap Sean membuka pembicaraan.


" Ada dua kursi cadangan meja bar. Tapi memang Aku enggak kasih tahu dan enggak pernah keluarkan. Kalau pada tahu nanti semua sibuk berdempetan. Aku enggak suka"  Ucap Linny.


Sean tampak paham. Linny kurang suka jika terlalu di dekati pelanggan.


Aston masih tampak takut pada Linny. Melihat hal itu Linny tersenyum.


Ke empat sahabat Sean langsung terpukau melihat senyuman indah Linny yang memamerkan lesung pipinya.


" Woi. Mata!! "  Tegur Sean yang kurang suka sahabatnya mengagumi Linny juga.


" Gila. Pantesan aja Kau bisa tobat bro! Perfecto mah ini namanya"  Ucap Danu ceplos mengagumi kecantikan Linny.


Linny langsung menoleh ke arah Danu lalu tertawa lebar.


Sean malu sekali, ingin rasanya dia menenggelamkan wajahnya saat itu juga.


" Aku tidak se-perfect itu tuan Danu. Ah mau minum apa? "  Tanya  Linny.


Mereka semua sepakat untuk meminum whiskey, Linny langsung menyajikan whiskey untuk ke lima pria lajang di hadapannya.


" Kenapa Kau tidak bilang kalau mau ajak sahabat mu ke sini? Beruntung Bar belum ramai"  Protes Linny kepada Sean.


" Maaf. Mereka ingin berkenalan dengan mu. Jadi Aku pikir sekalian buat kejutan untuk mu. Nambah 4 pelanggan baru"  Ucap Sean dengan santai.


" Dasar sialan! "  Ucap Linny sambil melemparkan lap bersih ke arah Sean dan langsung di tangkap Sean dengan refleks.


Mereka semua tertawa dan bercanda. Sambil berbagi cerita tentang kegiatan masing-masing.


Tak segan ke empat sahabat Sean memuji Linny sebagai wanita yang mandiri dan luar biasa.


Pembawaannya saat berbicara menunjukkan Linny berbeda dengan wanita pada umumnya.


Tidak akan ada yang menyangka seorang pemilik bar seperti Linny punya pengetahuan yang luas serta mampu mengimbangi pembicaraan pengusaha seperti Doni dan William yang melanjutkan perusahaan keluarga mereka.


" Aku ragu Kau hanya pemilik bar biasa. Kau sungguh hebat! "  Ucap Danu ceplos.


" Sudah Aku bilang. Aku hanya punya bar kecil ini untuk menyambung hidup. Mungkin karena banyak tamu Ku dari berbagai kalangan makanya bisa nyambung pembicaraan kalian", Ucap Linny dengan santai.


Aston menatap Linny dengan penuh tanya. Dirinya seperti pernah melihat dan mendengar suara Linny. Tapi di mana.


Bukan wanita yang pernah menjadi teman ranjangnya bukan? Entah lah. Aston masih menerka.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-