A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Tidak Ingin Kehilangan...



 "Kalau kau tidak ingin kembali padaku maka tidak ada yang bisa memiliki mu Sean!"


Jleb!!!!


Sean terdiam membeku, Linny berada di hadapannya menghadang serangan Erik.


"Sepertinya kau memang meminta mati hari ini"


"Linny!!!"


Sean baru menyadari perut kiri Linny tertusuk pisau Erik. Namun Linny tampak tenang dan menendang Erik hingga terjatuh ke belakang.


Linny mencabut pisau kecil yang masih menancap di perut kirinya itu. Terlihat darah mulai membasahi perut Linny.


Pandangan Linny tampak sangat marah. Linny kembali menendang tubuh Erik. Tentunya Erik kalah kuat dengan Linny yang memang jago bela diri itu.


Melihat Linny yang meraih pisau kecil dan hendak menusuk Erik membuat Sean langsung menarik Linny dan mencegahnya.


"Jangan Linny. Kumohon jangan. Kita harus pergi dari sini, kau terluka"  Ucap Sean berusaha menghentikan Linny.


Linny yang masih marah menarik Erik keluar dari ruangan lalu melemparnya keluar dari ruangan itu.


Jun dan Alfa tampak bersiap sedia karena beberapa orang mulai mendekati mereka dan mencoba menyerang Linny. Linny yang terluka masih menahan sakit di perut kirinya dan melawan penjaga-penjaga itu.


Jun dan Alfa segera membantu Linny dan memberi kode kepada pasukan mereka untuk melindungi Linny dan Sean.


Keributan dan pertarungan tentu tak bisa terhindar hingga se isi Bar porak-poranda. Semua pengunjung Bar berlarian keluar dari Bar itu.


Linny terus mengincar Erik dan hampir menusuk Erik. Melihat kemarahan Linny itu membuat Sean kembali menarik Linny dan meminta dia berhenti.


"Sudah Linny, jangan kumohon"  Ucap Sean lalu menatap sejenak pada Erik.


Tatapan sedih dan kasihan. Sean masih merasa kasihan pada Erik yang pernah menemaninya selama 3 tahun lebih itu.


Semua penjaga milik Bar Madam Pelangi tidak dapat menandingi Linny dan orang-orangnya.


Linny menatap tajam pada mereka semua.


"Bakar tempat ini!"  Ucap Linny tanpa ragu.


Jun dan Alfa segera membawa Linny dan Sean pergi dari tempat itu dan membakar Bar itu hingga menjadi keributan di kota itu.


Linny meminta Jun dan Alfa mengeluarkan semua orang tanpa mengakibatkan korban jiwa. Keinginan Linny membakar tempat itu hanya sebagai peringatan untuk Erik juga agar Sean paham jika semua masa lalunya sudah di bakar habis oleh Linny.


"Apa???!!! Siapa yang berani menghancurkan BAR ku??!!"  Tanya seorang pria tampan seperti salah satu artis negara ginseng. Pria itu adalah Rain-pemilik Bar Madam Pelangi.


"Maaf Madam. Mereka orang-orangnya Mantan si Erik. Orang-orang kita kalah jumlah, ternyata mereka sudah merencanakan menghancurkan Bar Pelangi"  Ucap salah satu orang kepercayaan Rain.


"Bangsssttt!! Berani sekali mereka menantangku!! Sialan!!"  Umpat Rain kesal dan marah.


Bar terbesar miliknya dan paling aman itu malah di hancurkan, bahkan polisi dan pemerintah saja tidak berani menyentuh Bar miliknya.


Rasa dendam dan marah Rain tersulut dan ingin membalas perbuatan Sean.


.


Linny yang terluka langsung di bawa ke rumah sakit secepat mungkin untuk di obati. Beruntung luka itu tidak terlalu dalam karena pisau itu hanya pisau kecil. Walaupun begitu Sean tetap takut Linny kenapa-kenapa karena darah yang terluka terlihat mengalir deras sejak tadi.


"Tenang. Jangan berpikir aneh-aneh. Hanya luka kecil"  Ucap Linny dengan santai.


Walaupun begitu raut wajah Sean tetap cemas dan takut sesuatu terjadi pada Linny.


Tiba di rumah sakit, Linny segera di tangani oleh dokter yang kemarin juga sempat menangani Sean saat Sean terluka.


"Tolong di jaga jangan sampai luka basah terkena air ya. Tunggu sampai kering dan silakan datang kembali. Silakan obatnya ditebus ya dan rutin di minum"  Ucap Dokter sambil tersenyum.


"Terima kasih Dok"  Ucap Sean.


Alfa segera pergi menebus obat Linny sedangkan Jun dan beberapa orang berjaga di luar ruangan tempat Linny dirawat.


Wajah Sean yang masih tegang dan cemas malah membuat Linny tertawa.


"Kenapa tertawa?"  Tanya Sean heran.


"Hanya aneh. Kau kenapa melindungi Erik. Harusnya tadi biarkan aku membunuhnya saja"  Ucap Linny.


"Dia juga manusia. Dia juga tidak bisa menandingimu. Dia juga pernah menyelamatkanku dari perbudakan Agus. Tadi kau sudah memukulinya, itu sudah cukup"  Ucap Sean sambil menghela nafas.


Linny menatap heran pada Sean.


"Kau pikir aku masih mencintainya? Jawabannya TIDAK Linny. Aku hanya kasihan dengan dia yang berpikiran pendek begitu padahal dia memiliki hidup yang lebih baik dibanding diriku"  Ucap Sean jujur.


"Apa bisa pulang sekarang?"  Tanya Linny mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar lagi. Alfa sedang menebus obat mu"  Ucap Sean sambil tersenyum.


Sepanjang jalan Sean mengendong Linny ala bridal tanpa memedulikan tatapan setiap orang pada mereka.


Sean tidak ingin luka Linny yang baru di obati dan dijahit malah terbuka karena terlalu banyak bergerak.


"Aku bisa jalan sendiri"  Ucap Linny kesal.


"Sudah diam saja"  Ucap Sean yang tetap menggendong Linny masuk ke dalam mobil.


Linny hanya diam melihat wajah Sean yang begitu serius.


Hingga tiba di dalam penthouse Sean terus menggendong Linny. Linny yang hendak ke kamar mandi di gendong, ingin ke meja makan di gendong, ingin menonton di ruang nonton juga di gendong.


Sean sudah menjadi kaki bagi Linny hingga Linny merasa bingung di perlakukan begitu.


"Hei! Apa kepala kau terbentur?"  Tanya Linny mencibik.


Sean menatap Linny dengan tatapan heran.


"Aku hanya terluka tusuk bukan cacat kaki atau lumpuh"  Ucap Linny kesal.


"Dokter bilang harus menjaga mu. Luka itu tidak boleh terkena air juga kau tidak boleh banyak bergerak"  Jelas Sean.


"Astaga. Kau ini!"  Linny tampak kesal dan heran dengan cara berpikir Sean.


"Besok akan aku kabari Sisilia dan Andrean. Kau tetap kerja di rumah saja. Jangan banyak bergerak"  Ucap Sean menasihati.


"Ya Tuhan Sean. Aku bahkan bisa salto di hadapan mu sekarang"  Ucap Linny yang tidak ingin bekerja di rumah. Tentu dia akan merasa bosan jika terus berada di dalam penthouse itu.


"Jangan macam-macam Linny. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa"  Ucap Sean sedikit emosi.


Dia memang sangat cemas melihat Linny yang terluka sampai mengeluarkan darah banyak tadi.


"Ya palingan aku mati doang"  Ucap Linny dengan santai sengaja menggoda Sean.


"Dan aku akan menyusulmu jika sampai itu terjadi"  Ucap Sean sambil menggenggam erat kedua bahu Linny.


Sean tampak bergetar. Melihat hal itu Linny berhenti berbicara. Sean tampak bergetar dan menahan air matanya.


Linny menarik Sean dan memeluknya dengan hangat. Tampak Linny menghela nafas berat.


"Sudah aku katakan aku tak selemah itu. Jangan terlalu berpikir buruk. Kenapa kau tidak percaya"  Ucap Linny dengan nada kesal.


"Aku tidak bisa memikirkan hal lain jika sesuatu terjadi padamu. Aku memang bisa bertarung dengan siapa pun tapi jika terjadi sesuatu dengan mu aku pasti akan hancur"  Ungkap Sean.


"Ini belum seberapa. Mungkin kau akan segera melihat segila apa diriku. Aku bahkan bisa membiarkan diriku tertusuk dan tertembak asal aku bisa membunuh musuh dan orang yang sudah pernah menghancurkanku"  Ucap Linny terdengar dingin.


Sean melepas pelukan Linny dan menangkup kedua wajah Linny dengan tangannya.


"Tolong berhati-hatilah. Aku tidak ingin kehilangan mu. Aku bisa gila tanpa mu" Ucap Sean meneteskan air matanya.


Linny tertawa kecil melihat sikap Sean yang berlebihan menurutnya.


"Sudahlah. Aku mau membuat roti bakar. Lapar"  Ucap Linny lalu bangkit dari duduknya.


Padahal baru saja mereka makan malam bersama.


Terlihat gantungan kunci terjatuh di lantai. Gantungan berbentuk kucing dengan beberapa manik-manik seperti buatan tangan sendiri.


Sean mengambil gantungan kunci itu dan menatapnya dengan heran seolah mengenali gantungan itu.


"Ini~ Dimana kau dapat gantungan ini Linny? "  Tanya Sean penasaran.


"Sudah lama. Saat masih kecil"  Ucap Linny.


"Siapa yang memberikan ini?"  Tanya Sean lagi.


"Seseorang yang pernah menyelamatkanku. Ah aku bertemu dengannya lagi setelah dia menyelamatkanku di taman. Karena melihatku sedih dan sendirian dia memberikan itu katanya jika aku berdoa setiap malam dengan memegang itu maka doa ku dikabulkan"  Ucap Linny jujur.


Linny tidak ingat wajah pemuda yang menolongnya tapi dia masih ingat setiap perkataan orang itu.


"Kau... Si Gadis cengeng?"  Tanya Sean.


Mata Linny menatap heran ke arah Sean.


"Cengeng?"


.


.


.


Silahkan di follow IG Visual karakter @lunagelim.author