
Di ruang keluarga tampak Sean dan Om Donald sedang duduk santai dan berbincang.
"Bagaimana hubungan mu dengan Linny? Apa dia masih sekeras dulu?" Tanya Om Donald.
"Sudah jauh lebih menurut di banding dulu Om. Meskipun dia masih keras kepala tapi setidaknya dia mau mendengar perkataan ku jika itu untuk kebaikannya" Ucap Sean jujur.
"Dia masih menolak untuk menikah?" Tanya Om Donald.
Sean menatap Om Donald dan menghela nafas. Sejauh ini setiap menyinggung masalah pernikahan maka Linny hanya akan diam tak menanggapi.
"Dia hanya diam Om. Mau berapa kali pun aku singgung soal menikah, dia akan hanya diam tidak mau berkomentar" Ucap Sean lirih.
Lebih tepatnya Sean mulai pasrah. Dia tau Linny always Linny. Tidak mungkin Linny akan mengubah pemikiran dan prinsipnya dengan mudah.
Namun mendengar itu Om Donald malah tertawa bahagia. Sean menatap heran pada Om Donald.
"Bagus kalau begitu. Itu tandanya dia mulai goyah" Ucap Om Donald sambil tersenyum pada Sean.
"Goyah?" Tanya Sean tidak mengerti.
"Kau tau kalau Linny keras bukan? Dan dia tidak bisa menyimpan rasa tidak suka-nya jika dia memang tidak nyaman" Ucap Om Donald.
Sean mengangguk mengiyakan perkataan Om Donald. Linny memang sejujur itu. Jika tidak nyaman maka akan terlihat langsung dari gestur tubuhnya bahkan Linny terang-terangan akan mengatakannya. Dia tidak bisa berpura-pura menyukai sesuatu.
"Jika dia memang tidak mau menikah dan tidak suka menikah dengan mu. Maka saat kau membahas pernikahan dia pasti akan dengan lantang menolak dan bahkan marah. Masa kau sudah selama ini menemaninya tidak paham juga?" Ucap Om Donald sambil tertawa.
Sean tersikap, dia tidak memikirkan hal itu. Sean pun teringat ajakannya dulu pada Linny untuk menikah dan memang Linny menolak mentah-mentah bahkan tampak marah pada Sean.
Namun sekarang jika Sean menyinggung masalah pernikahan maka Linny hanya akan diam tidak mau menanggapinya.
"Itu artinya kau memang sudah sepenting itu. Dan dia mau menghabiskan hidupnya bersamamu. Tapi mungkin ada bagian dari sisi-nya yang merasa tidak bisa mengiyakan ajakanmu. Kau tau seperti apa kehidupannya selama ini bukan? Dia pasti pesimis dan takut kalau masa lalunya menjadi boomerang jika kalian menikah dan memiliki anak" Ucap Om Donald menjelaskan.
Om Donald yang sangat paham karakter dan cara berpikir Linny tentu tidak sulit menerka apa yang ada di pikiran Linny. Tak jauh berbeda dengan Om Donald. Hanya saja Om Donald tidak bisa berkeluarga karena akan membahayakan anak istrinya jika terdeteksi musuh.
"Apa dia tidak percaya kalau aku bisa melindungi dan melakukan yang terbaik untuknya dan anak kami kelak, Om?" Tanya Sean yang begitu serius.
"Aku rasa dia sangat percaya pada mu. Jika tidak maka dia tidak akan seyakin itu dengan apapun yang kau berikan untuknya. Pakaian, makanan, bahkan Om dengar beberapa proyek dan pekerjaan dia percaya dengan keputusan mu bukan?" Tanya Om Donald sambil tersenyum pada Sean.
Sean mengangguk. Mungkin benar Linny memiliki ketakutan tersendiri akan pernikahan. Dan tugas Sean adalah meyakinkan Linny jika semua akan baik-baik saja.
"Terus maju. Jangan berhenti. Percayalah. Akan ada saatnya dia akan mengiyakan ajakan mu, Teruslah berjuang, itu kesempatan mu untuk menunjukkan kau bisa menjadi suami yang baik untuk Linny" Ucap Om Donald menyemangati Sean.
"Terima kasih Om" Ucap Sean sambil tersenyum.
"Ya jauh lebih baik jika kalian memiliki anak setelah menikah. Itu akan lebih baik untuk reputasi Linny. Kau tau bukan dia sering di liput publik yang sudah kehabisan bahan gosip?" Ucap Om Donald sambil tertawa.
Sean menanggapinya dengan senyuman dan ikut tertawa.
"Ayo minum lagi. Tenang ini tak akan membuat mabuk. Hanya membuat kau spanning nanti. Ah kasihan harus puasa ya karena Linny masih belum bisa" Ledek Om Donald.
Sean merasa malu di ledeki Om Donald seperti itu. Dia hanya mampu menegak wine di gelasnya perlahan.
Sean terkejut mendengar perkataan Om Donald hingga terbatuk-batuk. Om Donald malah tertawa melihat Sean yang terkejut.
"Jangan grogi. Om cuman bercanda" Ucap Om Donald sambil tertawa.
"Iya Om. Gak mungkin juga aku kembali ke hal itu Om. Bisa mati aku di tangan Linny" Ucap Sean meringis ngeri membayangkan Linny yang akan mengamuk dan merusak si Pluto jika sampai berani kembali seperti itu.
"Hahahaha. Kau sepertinya sangat takut pada Linny. Bagaimana bisa nanti kau menjadi kepala keluarga. Kau ini" Ucap Om Donald menertawakan Sean yang tampak gugup dan takut pada Linny.
.
.
.
"Kau akan membunuhnya Linny? Ku mohon jangan" Ucap Erik memohon pada Linny.
"Kenapa?" Tanya Linny pada Erik dengan tatapan penuh tanya.
Erik menghela nafas berat. Dia teringat seperti apa Joe memperlakukannya dengan baik. Joe bahkan memilih mengikutinya sampai ke Ruko itu tanda Joe tidak ingin Erik celaka. Dia hanya ingin memastikan dan melihat sendiri apa yang sebenarnya Erik lakukan.
"Jika dia memang memihak Rain. Dia akan langsung membunuhku atau melumpuhkan ku saat aku ada di markas Rain. Dia salah satu pengawal kepercayaan Rain yang bertugas menjaga markas. Dia sering memberiku informasi yang kadang juga tidak aku ketahui dari Rain" Ucap Erik mengingat kebaikan Joe.
"Kau menyukainya?" Tanya Linny langsung.
"Dia yang menyukai ku" Ucap Erik dengan yakin.
Linny tersikap mendengar Erik yang begitu percaya dirinya berkata seperti itu.
"Aku tau jika dia mencintaiku. Tapi dia tidak pernah lancang menyentuhku. Dia sangat baik sebenarnya. Ku mohon beri dia kesempatan untuk tetap hidup" Ucap Erik.
"Kalau baik kenapa harus jadi algojo di tempat Rain. Tau sendiri seperti apa dunia Rain bukan?" Ucap Linny heran.
"Dia anak yatim piatu. Sejak di panti asuhan juga dia di siksa di sana. Di suruh mengemis dan mengamen. Saat sudah remaja dia kabur dan akhirnya mengenal dunia seperti itu. Merampok membunuh dan akhirnya bergabung dengan Rain. Justru bergabung dengan Rain adalah pilihan terbaik daripada terus mencuri dan merampok sampai harus membunuh" Ucap Erik menjelaskan.
Erik dan Joe cukup sering berbicara berdua. Dan Joe memang pernah menceritakan kisah hidupnya yang tragis. Di buang oleh orang tuanya yang merasa keberatan membiayai anak. Berujung di panti asuhan yang malah membuatnya kini menjadi orang yang buruk.
"Kalau dia berkhianat dan menghubungi Rain? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Linny serius.
"Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Lalu aku akan membunuh diriku" Ucap Erik dengan yakin dan tanpa gentar.
Mata Erik dan Linny saling bertatapan seolah mencari kebenaran di dalamnya.
.
.
.