A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Salah Paham...



"Erik????"


Serentak keempat pria lajang itu tampak terkejut melihat Erik di ruangan Sean.


Sean terkejut teman-temannya masuk saat Erik membuka kancing baju Sean.


Dirinya langsung menyentak tangan Erik.


"Sayang..."  Lirih Erik.


Sean tampak lelah  dan menghela nafas berat.


"Pergilah. Nanti Sahabat-sahabatku bisa membantu ku. Terima kasih atas kunjungan mu tapi aku harap jangan pernah menemuiku lagi. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman "  Ucap Sean menahan emosinya. Dia tidak boleh emosi dan banyak bergerak saat ini.


"Sayang. Aku akan menemani mu. Sudah aku bilang kan kalau kau akan baik-baik saja jika dengan ku. Lihat lah apa yang terjadi karena kau mau putus dengan ku"  Ucap Erik seolah merasa dia sudah menang memiliki Sean seutuhnya.


"Aku bilang pergi Erik! Sebelum aku menyuruh orang mengusirmu! Aku diam sejak tadi karena aku tidak ingin kehilangan akal sehat ku untuk tidak memukul mu! "  Bentak Sean dengan keras.


Sean berusaha untuk duduk di pinggir ranjangnya perlahan.


Meskipun Erik terkejut karena Sean tampak marah namun Erik tidak peduli. Dia malah mendekat dan mencoba membelai dan memaksa mencium Sean lagi di hadapan sahabat-sahabatnya.


' Gila tuh anak! ' Batin Danu


' Gawat dia sudah tak tertolong lagi '  Batin Doni.


William dan Aston turut menggeleng melihat tingkah Erik yang memaksa itu. ingin ikut campur tapi bukan ranah mereka.


Sean mendorong keras tubuh Erik agar menjauh, namun tangan Erik sempat menarik kerah Sean hingga Sean turut terjatuh dari ranjang-nya.


"Argh!!!"


Pekik Sean tertahan saat terjatuh di lantai kamar. Darah di perutnya kembali mengalir.


"Sean!! "


William terkejut langsung membantu Sean berdiri.


Para bodyguard yang mendengar suara ribut itu langsung masuk ke ruang rawat Sean.


"Panggil dokter! Cepat!"  Ucap William memerintah.


Bodyguard itu dengan sigap mencari dokter.


"Bangsttt anak ini!! " Umpat Danu.


Meskipun Erik masih saudara jauhnya namun dia sudah muak dengan tingkah Erik yang gila itu.


Aston langsung menerjang dan memukuli Erik dengan dua bogem mentah di wajahnya.


" Kau bukan hanya monster gay yang menjijikkan! Tapi kau juga psikopat gila! " Ucap Aston mengumpat dan merendahkan Erik.


Aston kembali ingin memukuli Erik namun di cegah oleh Doni.


"Sudah Ton. Jangan kotori tangan mu menyentuh monster menjijikkan itu!"  Ucap Doni menenangkan Aston.


Pertama kalinya Erik mendapat makian dari sahabat-sahabat Sean. Padahal selama ini mereka begitu baik memaklumi hubungan Sean dan Erik bahkan melindungi mereka dari sorotan mata yang lain. Tapi kini Erik bukan hanya di maki dengan kasar. Bahkan dirinya juga di pukuli oleh Aston.


Dokter dan dua orang suster masuk ke ruang rawat Sean untuk memeriksa kondisi Sean. Sean masih meringis kesakitan. Luka operasi yang belum kering itu kini sedikit terbuka karena sentakan tubuh Sean saat terjatuh.


Luka itu kembali di jahit. Sean segera ditangani oleh dokter.


"Bawa sampah itu pergi dari sini! Jangan pernah ijin kan sampah itu masuk menemui Sean lagi atau kalian akan aku laporkan pada Andrean! Mengerti?!"  Ucap William dengan tegas.


"Baik Tuan"   Ucap bodyguard itu lalu menyeret Erik keluar dari area rumah sakit.


Akhirnya luka Sean bisa di tangani dengan baik, darah pun tampak berhenti mengalir keluar dari luka tusuk itu.


"Lain kali tolong hati-hati. Lukanya masih belum mengering karena cukup dalam "  Ucap dokter mengingatkan.


"Baik Dok. Maaf sudah merepotkan "  Jawab William.


"Tidak masalah Pak. Sudah tugas saya. Kalau begitu saya permisi dulu"  Ucap Dokter itu lalu keluar dari ruangan bersama kedua suster.


"Masih sakit Bro?"  Tanya Doni yang cemas melihat luka di tubuh Sean sampai mengucurkan darah segar itu.


"Sudah lebih baik " Ucap Sean lirih.


"Kenapa dia bisa datang? " Tanya William


"Entahlah. Dia mendadak datang dan bilang ingin berbicara dengan ku. Jadi aku biarkan masuk dan menyuruh bodyguard agak menjauh. Aku takut mereka mendengar Erik membahas hubungan kami " Ucap Sean menjelaskan dengan perlahan.


"Pantas Linny langsung pergi "  Ucap Danu


Sean terkejut mendengar perkataan Danu.


"Linny? Linny tadi datang? "  Tanya Sean yang terkejut.


" Iya tapi sepertinya dia tidak jadi menemui mu. Soalnya ini dia titip makanan untuk mu " Ucap William menujuk tas berisi kotak makanan titipan Linny.


"Kau emang ngapain aja dengan Erik? Linny sampai tidak jadi menemui mu"   Tanya Doni heran.


Sean berpikir sebentar. Dia teringat saat dia masih merebahkan diri, Erik mencuri ciuman darinya.


"Hah~ Astaga. Dia pasti melihat Erik menciumi ku tadi "  Ucap Sean lalu mengusap wajahnya perlahan.


"Hah? Gila kalian!" Ucap Aston terkejut.


"Tadi aku masih rebahan. Erik tiba-tiba mencium ku. aku langsung menolaknya kok. Cuman aku memang tidak bisa banyak bergerak. Dia mengatakan masih mencintaiku , aku hanya mendiamkannya saja " Jelas Sean terhadap kesalahpahaman itu.


" Wah. Linny pasti berpikir kau balikan dengan Erik. Apalagi jika melihat Erik yang mencoba membuka pakaian mu saat kau duduk bersandar tadi, bisa jadi drama percintaan negeri ginseng tuh"  Ucap Doni menambahi.


"Sial! Baju ku basah saat tadi dia menyerahkan air minum ku. Tangan kiri ku masih belum bisa banyak bergerak, nih tangan kanan ku kan terpasang infus. Aku mau lepas baju ini takut yang basah malah meluber mengenai bekas luka ku"  Jelas Sean yang memang bajunya sebagian basah itu.


"Ck. Itu palingan akal-akalan si gila itu mau menyentuh mu!"  Ucap Aston kesal.


Mereka semua tampak bingung. Dipastikan Linny akan salah paham dengan hal itu.


"Ya sudah. Makan lah dulu. Linny tampaknya memasak yang sehat untuk mu"  Ucap William sambil membukakan kotak makan untuk Sean. Terdapat dua porsi bubur dan satu porsi besar sup obat ayam kampung.


Mereka semua menatap makanan itu sambil mengiler. Aromanya harum sekali.


Sean yang melihat bubur itu ada dua porsi paham kalau tadi Linny datang untuk bisa sarapan bersama.


Sean mencoba mengambil ponsel di nakas sebelahnya.


Melihat itu Doni dengan sigap membantu mengambilkan ponsel Sean.


Sean langsung memotret makanan itu dan mengirimkan pesan kepada Linny.


' Aku sudah menerima makanannya. Kenapa langsung pergi? Bukan kah kau bilang lebih baik bicara dan bertanya. Aku yakin kalau kau melihat sesuatu tadi. Tapi percayalah itu tidak seperti yang kau kira. Aku ingin berbicara dengan mu langsung. Maaf jika aku membuat mu kecewa ' -tulis Sean-


Sean mengirim pesan panjang kepada Linny. Dia berharap Linny tidak salah paham dengannya. Baru saja Linny mulai kembali menghangat padanya.


"Gimana? "  Tanya Danu.


" Belum di baca " Jawab Sean.


" Ya sudah makan lah dulu "  Doni menyodorkan bubur yang ada di hadapan Sean.


" Kalian makan juga, ini kebanyakan. Aku juga belum boleh makan terlalu banyak " Ucap Sean.


Dokter memang menyarankan Sean makan sedikit demi sedikit terlebih dahulu.


" Baiklah. Kalau gitu kami enggak segan-segan lagi"  Ucap Aston.


Pria-pria lajang itu akhirnya menikmati sarapan yang di buat oleh Linny bersama-sama sambil membahas acara pertunangan William yang tinggal sekitar dua mingguan lagi.


.


.


.