
Linny dan Sean bersiap-siap menuju restoran yang sudah di booking untuk makan malam bersama Nicolas dan Ayu.
Linny dan Sean memilih baju yang model dan warnanya senada, seolah mereka sedang ingin memamerkan milik satu sama lain.
Keduanya tiba di restoran dan langsung masuk ke salah satu ruangan VIP yang tersedia. Alfa dan Jun turut ikut masuk ke dalam ruangan sesuai perintah Linny. Bodyguard mereka juga duduk dan makan bersama.
"Kakak sepertinya makin cantik deh. Ya kan Kak Sean?" Tanya Nicolas mengejek.
"Linny selalu cantik" Ucap Sean sambil tersenyum.
"Haha. Kak Sean sepertinya takut banget sama Kakak. Di kasih makan apa sih? Nurut banget sama Kak Linny" Ucap Nicolas tertawa puas.
Baginya ini merupakan hal yang menyenangkan bisa mengejek sang Kakak dan calon Kakak Iparnya itu. Eh?? Memang yakin Linny mau nikah?? Entah-lah, hanya Linny dan Tuhan yang tahu. Juga author tentunya :)
"Justru aku mau tanya. Kenapa Ayu bisa suka sama anak nakal sepertimu!" Ucap Linny yang tetap asyik mencomot daging sapi bakar yang terhidang di meja.
"Kak.... Jangan bilang begitu. Nanti Ayu mikir yang aneh-aneh" Ucap Nicolas kesal.
"Loh. Kan aku cuman bilang kau nakal. Emang kenapa? Apa yang salah coba???" Tanya Linny sengaja meledek Nicolas.
"Ah Kakak enggak seru. Sengaja banget!" Ucap Nicolas berpura-pura kesal.
"Sudah, makanlah. Kalian butuh apa lagi. Biar besok Kakak belikan" Ucap Linny mengalihkan pembicaraan.
"Enggak sih, lagian Kakak kemarin sudah belikan kami banyak banget barang di Singapore" Ucap Nicolas di barengi anggukan dari Ayu.
"Besok siang datanglah ke kantor. Kita makan siang bersama. Bisa kan Ayu??" Tanya Linny.
"Tentu bisa Kak" Jawab Ayu dengan sopan.
Mereka kembali makan, namun Linny hanya makan sedikit dan menyuruh bodyguard mereka makan lebih banyak.
"Loh, Kak? Kenapa makan sedikit?" Tanya Nicolas heran.
Padahal menu yang di pesan merupakan menu kesukaan Linny.
"Aku dan Sean mau ke pasar malam untuk mencoba jajanan kuliner di sana. Nanti terlalu kenyang kalau aku makan banyak di sini" Ucap Linny jujur.
"Oh~ Mau kencan rupanya. Baiklah kalau begitu. Aku mau antar Ayu kembali ke rumah setelah itu mau bertemu beberapa teman lama-ku dengan Kak Andrean" Ucap Nicolas yang sudah menyelesaikan makan nya.
"Okey. See ya besok" Ucap Linny lalu memeluk Nicolas dan Ayu bergantian.
Sean juga berpelukan dengan Nicolas. Namun tidak dengan Ayu tentunya.
Linny menatap Sean dan kedua bodyguard-nya, memastikan mereka sudah selesai menikmati makanan yang ada.
"Sudah selesai? Bisa jalan sekarang?" Tanya Linny pada bodyguard-nya.
"Sudah Nona" Jawab Alfa dan Jun berbarengan.
Mereka pun segera menuju mobil dan melaju ke arah salah satu pasar malam di kota itu. Tampak tidak terlalu ramai karena hari itu merupakan hari biasa. Jika Weekend tentu tempat itu akan lebih ramai di banding biasanya.
Sean bergandengan tangan dengan Linny, di belakang mereka Alfa dan Jun mengikuti dalam jarak tertentu agar tidak mengganggu privasi Tuan dan Nona yang mereka jaga itu.
"Mau coba itu?" Tanya Sean menunjuk stand yang menjual camilan jajanan Korea.
"Boleh" Ucap Linny singkat.
Sean langsung memesan corndog, dakbal (ceker ayam tanpa tulang), odeng atau fish cake, juga tteobokki (kue beras) pedas.
Tak lupa dia juga membelikan corn dog dan odeng untuk kedua bodyguard mereka. Memang sebaik dan sedekat itu mereka pada orang yang loyal.
"Duduk di sana saja" Ucap Sean lalu menggandeng Linny menuju meja dan kursi dekat pohon.
Mereka duduk dan menikmati makanan, seperti biasa Sean akan menyuapi Linny dengan telaten. Kedua bodyguard mereka saling melirik. Tidak mungkin mereka saling suap-suapan bukan???
"Apa ini tidak terlalu pedas?" Tanya Sean yang cukup terkejut dengan rasa dakbal yang di minta Linny ekstra pedas.
"Tidak. Aku suka" Ucap Linny dengan santai menikmati ceker ayam tanpa tulang itu.
"Linny, minum sup ini dulu. Jangan terlalu banyak makan pedas nanti perut mu sakit" Ucap Sean khawatir dengan lambung Linny.
Sean menyodorkan sup odeng ke hadapan Linny.
Linny menyesap sedikit sup itu yang terasa manis dan asin di lidahnya.
"Lebih enak yang pedas" Ucap Linny tidak suka dengan sup odeng itu.
"Jangan. Lambung mu nanti terkejut. Ayo sini aku suapi" Ucap Sean yang tetap menyuapi Linny sup itu sedikit demi sedikit agar menetralkan rasa pedas dakbal yang baru saja di makan Linny.
"Itu apa?" Tanya Linny menunjuk kerumunan orang yang tampak bermain sesuatu.
Sean menajamkan penglihatannya, di sana ada permainan menembak sasaran untuk mendapatkan boneka ataupun hadiah lainnya yang diinginkan.
"Oh itu permainan tembak. Kalau berhasil menjatuhkan sasaran bisa dapat hadiah" Jelas Sean singkat.
"Main itu yuk! Seru sepertinya bisa menembak!" Ucap Linny antusias.
Menembak versi Linny tentu berbeda dengan menembak versi pengunjung. Sean bisa membayangkan bisa rugi bandar yang membuat permainan itu.
"Ah. Baiklah. Habiskan dulu makanan ini" Ucap Sean yang melanjutkan menyuapi Linny.
"Mas! Aku mau main!" Ucap Linny langsung.
Karyawan yang berjaga langsung menyerahkan sebuah alat tembak yang terbuat dari plastik dan 10 buah peluru plastik.
"Harus bisa menjatuhkan minimal 8 sasaran ya Kak baru bisa mendapat hadiah" Ucap karyawan itu menjelaskan aturannya.
"Okey" Jawab Linny yang tampak sangat senang.
Namun kenyataan yang di kira Sean tidak terjadi. Linny bahkan hanya sanggup menembak dengan tepat 2 papan sasaran. Cukup sulit karena papan itu cukup kecil dan butuh tingkat fokus yang tinggi.
Hanya saja jika Linny yang berlatih bela diri dan benda tajam juga senjata api itu tidak bisa menembak dengan tepat, apalagi dengan orang lain.
Sean sudah pernah melihat cara Linny menembak Agus tepat di setiap titik vital yang dia harapkan. Jadi tentu Linny bukan penembak abal-abal.
Linny merasa kesal dan kembali membayar 10 buah peluru lagi. Hingga percobaan kelima Sean menghentikan Linny.
"Sudah Linny. Ayo kita lihat yang lain" Ucap Sean menenangkan Linny yang tampak kesal karena masih gagal setelah menghabiskan 50 buah peluru.
"Argh. No! Aku harus menang sesuatu di sini!" Ucap Linny kesal.
Dia tidak mau kalah dengan permainan yang menurutnya bodoh dan mudah itu. Penembak sepertinya tentu tidak menerima kalah oleh alat tembak palsu itu.
Tak hanya Linny, kedua bodyguard-nya pun tampak kesal karena Linny gagal. Mereka tahu seberapa jitu dan hebat Nona CEO-nya itu dalam menembak.
Sean menghela nafas berat. Linny yang dalam mode dingin dan datar maupun Linny dalam mode manja tetap saja keras kepala tak bisa di bantah.
"Biar aku coba" Ucap Sean yang ingin mencoba.
Dia sendiri tidak yakin bisa berhasil menaklukkan 8 papan sasaran karena Linny saja tidak bisa.
Tapi alangkah ajaib, penembak amatiran seperti Sean berhasil menembak 10 papan sasaran dengan tepat.
"Okey! Selamat Kak. Silakan dipilih hadiahnya" Ucap karyawan itu memberi selamat pada Sean.
Mata Linny membola terkejut juga senang, begitu pula dengan Sean. Dia tidak percaya bisa berhasil memenangkan hadiah di permainan itu. Keduanya melompat-lompat senang.
Di belakang Sean dan Linny tampak Jun dan Alfa juga melompat kegirangan melihat keberhasilan Sean dalam sekali percobaan.
Sean memilih sebuah boneka panda merah dan menghadiahkannya untuk Linny.
"Panda merah??" Tanya Linny heran Sean memilih boneka itu untuknya.
"Panda merah itu mirip dengan mu. Panda merah terkenal tidak suka bergaul dengan teman-temannya, mereka cenderung menyendiri dan membatasi ruang mereka dan makhluk luar. Mereka hanya mau berkumpul jika ingin bercinta atau musim kawin" Ucap Sean menjelaskan.
"Oh. Benar juga. Mirip denganku" Ucap Linny yang tidak marah.
Memang kenyataan sifat dan sikapnya dulu begitu.
Meskipun sekarang dia juga tidak banyak berubah, hanya perubahannya dia tidak sembarang mau berhubungan dengan laki-laki lain lagi. Dia sudah cukup memiliki Sean di sampingnya.
Sean melihat stand yang menjual aksesoris yang lucu. Terlihat jepitan kupu-kupu yang indah. Sean segera membawa Linny ke arah stand itu.
"Mas, saya mau ini. Berapa?" Tanya Sean kepada penjualnya.
"Itu 15 ribu Kak" Ucap si penjual.
Sean menyodorkan uang 15 ribu kepada si penjual dan langsung memasang jepitan kupu-kupu itu di rambut Linny.
"Cantik. Cocok dengan mu" Ucap Sean sambil menatap Linny.
Dan Linny tetap pada mode cueknya, tidak berekspresi dan biasa saja menanggapi perlakuan Sean.
Yang meleleh melihat perlakuan Sean malah bodyguard mereka juga orang-orang yang berlalu lalang memperhatikan Sean dan Linny.
"Mau duduk di tepi sungai itu? Biar aku belikan kopi dan camilan lain" Ucap Sean mengajak Linny.
"Ayo.." Ucap Linny mengikuti saja perkataan Sean.
Sayup-sayup telinga Linny mendengar seseorang minta tolong.
"To...Long....."
Linny langsung mencari sumber suara itu.
"Linny ada apa?" Tanya Sean heran.
"Ssstttt. Ikut aku" Ucap Linny terus menajamkan telinganya.
"Tolonggg.."
Suara itu semakin jelas terdengar. Linny melihat ke arah gang gelap yang berada di pertokoan kosong dan cukup jauh dari stand-stand di pasar malam itu.
.
.
.
Yuk silahkan di follow IG Visual Karakter @Lunagelim.author