
"Linny!!!"
"Tuan, Nona ada di rooftop"
"Apa yang terjadi??"
Kekhawatiran Sean memuncak saat melihat Alfa menemuinya dengan baju yang penuh cipratan darah.
Tanpa banyak bicara Sean langsung berlari menuju ke arah pintu darurat yang langsung menghubungkannya dengan rooftop.
Terlihat Linny sedang berada di sebuah ruangan kaca membelakangi Sean.
Sean langsung berlari memeluk Linny dan mengecek seluruh tubuhnya.
"Kau terluka?? Mana yang sakit??" Tanya Sean penuh khawatir.
Linny malah tersenyum tipis melihat ekspresi khawatir Sean.
"Aku tidak apa-apa" Jawab Linny singkat.
"Tidak mungkin. Darah ini.." Ucap Sean tidak percaya melihat cipratan darah di tangan Linny.
"Itu darah pria milik Rain, Tuan" Ucap Alfa yang sudah berada di belakang Tuan dan Nona-nya itu.
Mata Sean membola terkejut. Sean menatap Linny heran.
"Aku menyuruh beberapa orang memantau keluarga mu sebelum aku menghancurkan Bar milik Rain. Tapi aku kecolongan. Rain ternyata menyuruh kekasihnya untuk menyerang keluargamu secara fisik. Dan ternyata kekasihnya orang yang kita kenal" Ucap Linny dengan santai.
"Hah?" Sean kebingungan dengan perkataan Linny.
"Dia dokter yang mengoperasi dan merawat kau kemarin itu. Dia hampir melukai Papa mu lagi di rumah sakit. Aku menyuruh orang membawanya dan sedikit bermain-main dengannya. Kuat juga dia" Ucap Linny sambil tersenyum mengerikan.
Sean tampak marah dan kesal mendengar hal itu. Sean hanya menatap dingin Linny lalu pergi dari rooftop meninggalkan Linny sendirian tanpa sepatah kata pun.
Melihat respons Sean membuat Linny heran. Ada apa dengan mantan Gay itu. Seharusnya dia senang atau malah akan terus khawatir pada Linny. Tapi respons Sean saat ini malah tidak bisa di tebak Linny.
Sean malah diam dan meninggalkan Linny tanpa sepatah kata apa pun.
"Kenapa dia?" Gumam Linny heran.
Linny kemudian mengikuti Sean turun kembali ke penthouse.
Tampak Sean masih diam tidak mau berbicara bahkan sekedar memandang Linny pun tidak dia lakukan.
Linny semakin kebingungan. Biasanya dia yang cuek dan tidak peduli pada Sean. Kali ini malah Sean yang mendiamkannya dan tidak mau berbicara apa pun.
"Hei! Kau kenapa?!" Tanya Linny heran.
Sean hanya menatap dingin Linny dan kembali bergerak menjauhi Linny. Sean memasak mie instan untuknya sendiri. Padahal tadi dia sudah berbelanja banyak bahan masakan. Entah apa yang di pikirkan Sean.
Sean marah. Ya dia sangat marah Linny tidak menuruti perkataannya. Dia merasa tidak berguna. Dia memang di lindungi tapi dia merasa Linny tidak menghargai dan menghormati perkataannya.
Padahal Linny masih terluka dan sepertinya Linny juga mengalami luka lainnya karena sejak tadi Sean tahu Linny berusaha menekan beberapa bagian tubuhnya agar darah tidak mengalir.
Tapi Sean berpura-pura tidak tahu dan tidak memedulikan Linny. Sean sangat marah hingga dia tidak bisa berkata atau bersikap apa pun. Emosi Sean memang mengerikan bisa dilihat bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dan memutuskan hubungan dengan orang tuanya tanpa ragu. Hanya dengan Linny dia benar-benar tunduk selama ini.
Linny mulai merasa Sean sedang marah. Jika keduanya saling mendiamkan diri maka masalah tidak akan selesai pikirnya.
"Kau kenapa? Kau marah karena aku membunuh dokter itu? Sudah aku katakan aturan kedua jangan membantah keputusanku termasuk hal seperti ini" Omel Linny kesal.
Bukan Linny namanya jika dia bisa mengalah dan membiarkan orang menghapus aturan dan keputusannya.
"KAU TIDAK MENGHARGAIKU!" Ucap Sean terdengar marah dan penuh emosi.
"Hei! Aku cuman--"
"Cuman apa?? Membunuh?? Aku tidak akan menghalangi mu jika kau dalam kondisi sehat! Apa tidak bisa kau mendengarkanku sekali saja?! Tidak bisa kau peduli dengan dirimu sendiri yang terluka???!!!!!"
"Kau anggap apa aku selama ini? Hanya boneka yang akan menuruti mu? Apa aku pernah membantahmu? Apa aku pernah melanggar aturan darimu? Tapi kenapa sulit sekali untuk mu mendengarkanku sekali saja?"
"Kau sama saja seperti Papaku. Selalu ingin di dengarkan dan di turuti tapi tidak memikirkan perasaanku!"
Kalimat terakhir Sean terdengar menyentak di hati Linny. Sean menyamakannya dengan Mahaprana -Papa Sean yang sangat Arogan dan diktator itu.
"Sean"
Belum sempat Linny berbicara, Sean pergi meninggalkannya dan membawa kunci mobilnya sendiri.
"JANGAN IKUTI AKU!" Bentak Sean pada semua pengawal termasuk Jun.
Walaupun dilarang, Jun membawa beberapa orang mengikuti Sean diam-diam. Dia bisa di penggal jika terjadi sesuatu pada Sean.
Melihat sikap Sean tentu Linny terkejut. Sean tidak pernah marah. Sean selalu sabar dan tenang. Bahkan malah Linny yang selalu keterlaluan memperlakukan Sean jika di pikirkan kembali.
"Astaga. Kenapa dengan pria itu. Apa dia sedang PMS?" Keluh Linny kesal.
Alfa yang melihat hal itu merasa paham jika Sean sebenarnya marah karena takut Linny terluka lagi. Dan memang Nona CEO yang dia lindungi itu terlalu keras kepala dan Dominan. Wajar Sean marah karena Linny terus saja tidak bisa mendengar perkataan Sean padahal itu demi kebaikan Linny.
"Nona. Maaf jika saya menyela dan ikut campur" Ucap Alfa yang tidak ingin melihat Linny dan Sean bertengkar apalagi sampai berpisah.
Linny menatap heran pada Alfa seolah berkata teruskan apa yang ingin kau katakan.
"Tuan Sean sangat khawatir pada Nona. Sebagai sesama Pria, saya bisa paham terlebih Tuan Sean sangat mencintai Nona. Dan Nona sudah tidak mengindahkan perkataannya bahkan terluka lagi. Tentu Tuan Sean merasa tidak di hargai oleh Nona"
"Bagaimanapun sebagai Pria, kami punya harga diri dan ingin di dengar oleh pasangan kami. Jika pasangan kami malah tidak mendengar perkataan kami bahkan melakukan sesuatu tanpa diskusi terlebih dahulu maka lama kelamaan kami akan merasa tidak di hargai dan di rendahkan walaupun itu demi kebaikan kami"
Jelas Alfa yang kemudian membuat Linny paham kenapa Sean begitu marah.
Linny memang sangat dominan dalam segala hal. Linny yang memang tidak ingin lemah dan tampak takut dengan apa pun membuatnya lupa jika Sean seorang pria dan punya harga diri.
Terlebih Sean selama ini tampak mengalah dan menurutinya. Malah membuat Linny semakin dominan dan tidak berubah sikap dan sifatnya.
"Apa aku seperti Mahaprana?" Tanya Linny pada Alfa.
"Jika mau jujur, mungkin sifat dominan dan keras Nona membuat Tuan Sean merasa seperti tertekan di rumahnya. Tapi saya yakin bukan itu yang di rasakan sebenarnya oleh Tuan Sean. Tuan Sean hanya sedang marah karena banyak masalah yang terjadi"
"Nona terluka dan baru saja Papa Tuan Sean juga terluka dan semua berhubungan dengan masalah Tuan Sean dengan orang yang bernama Erik itu"
Alfa menjelaskan dengan sesopan mungkin agar tidak menyinggung Linny juga.
"Bawakan kotak obat ke kamarku. Suruh orang ikuti Sean dengan baik. Jangan sampai dia terluka" Ucap Linny lalu kembali ke masuk ke kamarnya.
Alfa mengangguk patuh dan membawakan kotak obat sesuai permintaan Linny.
.
.
Di sisi lain Sean tampak berhenti di pinggir pantai. Dia berjalan menuju ke arah pantai dalam diam.
"Kau memang tidak pantas Sean. Tidak ada satu orang pun yang menghargaimu" Gumam Sean sambil menjambak kepalanya sendiri..
Sean merasa sangat frustrasi dengan keadaan yang dia hadapi..
.