
"Quick morning s**. Can you?"
"Jangan Linny. Semalam kau baru mengeluh sakit pada pinggang. Ayo kita sarapan"
Ucap Sean berusaha mencegah tangan Linny yang begitu lincah mencari posisi si Pluto yang tertidur di balik celana kain Sean.
"Ck!"
Linny tampak kesal melihat penolakan Sean. Dia sangat kesal hingga ingin sekali memukuli Sean.
"Terserah lah! Bilang saja kau lebih berminat pada terong-terong lemas di luar!"
Linny tampak kesal dan langsung keluar dari kamar meninggalkan Sean yang mematung terkejut dengan kemarahan Linny.
Tingkah Linny yang kesal karena di tolak olahraga pagi yang nikmat itu tampak imut bagi Sean. Dia merasa Linny sedang cemburu hanya karena mimpi anehnya.
Di ruang makan yang luas itu terlihat Jun- Alfa dan 10 pengawal lainnya sudah menunggu Linny.
"Selamat pagi Nona" Ucap semua pengawal berbarengan menghormat pada Linny.
Pemandangan di sana terlihat seperti suasana seorang ketua mafia yang di sambut para anggotanya.
"Selamat pagi Tuan" Para pengawal juga tak lupa mengucapkan salam hormat pada Sean yang tiba di belakang Linny.
"Duduk dan makanlah" Ucap Linny terdengar dingin.
Melihat ekspresi sang Nona membuat Jun dan Alfa menerka ada pertengkaran kecil di antara keduanya.
Meskipun begitu Sean tampak melayani Linny. Wajah Linny datar dan cuek seolah ingin menunjukkan protesnya pada Sean.
Selesai makan Linny kembali ke kamarnya untuk beristirahat sebentar dan membersihkan tubuh sebelum menuju lokasi tanah yang akan mereka lihat nantinya.
Melihat hal itu membuat Sean mendekati dan memeluk Linny dari belakang.
"Kenapa marah?" Tanya Sean sambil mencium tekuk Linny dari belakang.
Linny masih diam membisu tak ingin berbicara apapun. Entah mengapa perasaannya tidak nyaman setelah bermimpi hal buruk semalam.
"Kau masih marah karena mimpi itu?" Tanya Sean memastikan.
Linny hanya membalas menatap Sean dingin tanpa mau bersuara sedikitpun.
"Pukul aku kalau begitu"
Ucap Sean sambil membawa tangan Linny tepat di dada Sean.
"Pukul aku sepuasnya. Asal itu bisa meredakan marah dan kekesalan mu. Aku bertanggung jawab untuk kebahagiaan mu meskipun dalam mimpi. Jika sesuatu yang aku lakukan bahkan di dalam mimpi membuat mu tidak nyaman dan kesal, maka pukuli saja aku"
Sean berbicara begitu panjang. Dia berharap perkataannya itu mampu membuat Linny tenang dan yakin jika Sean tak akan melakukan hal buruk seperti mimpi itu.
Beruntung ucapan Sean ternyata membuat Linny merespon. Linny memeluk Sean dengan erat sambil memejamkan matanya. Entah mengapa kini Linny begitu nyaman dan selalu ingin menghirup aroma tubuh Sean.
"Entahlah. Aku sangat kesal walaupun itu hanya mimpi" Ucap Linny jujur.
Sean tersenyum karena Linny memeluknya begitu erat seakan takut Sean pergi darinya detik itu juga.
"Aku akan meninggalkan mu hanya saat kematian menjemputku. Percayalah. Aku mohon" Ucap Sean sambil mengecup perlahan pucuk kepala Linny.
Linny hanya menghela nafas berat. Dia tidak tau harus merespons apa. Dia masih merasa galau. Ingin marah namun merasa bodoh karena itu hanya mimpi. Ingin memaafkan tapi bingung juga karena tak ada kesalahan Sean dan bukan Sean yang mengatur mimpi untuknya.
"Mau aku mandikan?" Tanya Sean tersenyum nakal pada Linny.
Linny hanya mengangguk dan membiarkan Sean menggendongnya ke dalam kamar mandi.
Ya seperti yang bisa di tebak kawan-kawan. Tidak ada sesi mandi normal jika keduanya berada di dalam kamar mandi.
Sean memanjakan Venus dengan baik hingga Linny mengalunkan suara merdu penuh cinta. Mungkin suara mereka terdengar oleh para pengawal yang bergantian berjaga di luar kamar Sean dan Linny.
"Ah~" Erang Linny saat Sean kembali memasukinya.
Si Pluto tampak sangat bersemangat dan bekerja keras memuaskan Venus.
"Entah kenapa aku ingin sekali memiliki anak dari mu" Ucap Sean di sela-sela gerakan tubuhnya memompa tubuh Linny.
Linny menatap Sean heran, namun sedetik kemudian Linny kembali mendesah panjang "Ahh~~~".
Sean terus memacu tubuh Linny hingga sejam lamanya mereka bermain di dalam kamar mandi.
Selesai? Tentu tidak. Sean membawa Linny untuk tidur di atas ranjang dan kembali memacu kenikmatan bersama.
Linny kini memimpin di atas. Gerakan tubuh Linny tampak begitu sensual di mata Sean. Sambil sesekali Sean meremas perlahan puncak gundukan indah milik Linny yang terpampang nyata di hadapan Sean.
Erangan keduanya seolah paduan suara alam terindah yang terus bergema di seisi kamar tidur itu.
Hingga di pelepasan Sean kedua kalinya baru lah mereka berhenti. Bagaimana dengan Linny? Tentu sudah tak terkira. Sean begitu tangguh jika sudah menyangkut masalah ranjang. Dia tidak pernah membiarkan Linny hanya mencapai pelepasan satu kali. Minimal tiga kali lah. Jika bisa puluhan kali.
Selesainya Sean membawa Linny untuk membersihkan diri. Kali ini benar-benar hanya membersihkan diri alias mandi.
Catat : Hanya mandi.
"Pakai yang ini saja" Ucap Sean sambil memakaikan baju Linny.
Linny merasa cukup lelah setelah permainan panas mereka tadi. Untuk mengerakkan tubuh mencari pakaian yang akan dia pakai saja dia merasa lelah.
"Okey" Jawab Linny singkat mengiyakan apapun pilihan Sean.
Sean memilihkan gaun bertali spagetti yang simple dengan motif bunga kecil. Sangat cocok di pakai Linny.
Linny tampak begitu manis hingga membuat Sean gemas dan menciumi wajahnya berkali-kali.
"Argh! Apaan sih!" Ucap Linny yang risi di ciumi Sean bertubi-tubi.
"Kau tampak sangat manis berpakaian begini" Ucap Sean sambil mencubit perlahan pipi Linny.
"Ck! Sudahlah. Ayo. Ada tiga tempat yang harus kita lihat" Ucap Linny.
Keduanya pun segera keluar dari kamar dan menuju mobil yang sudah terparkir menunggu Sean dan Linny masuk ke dalamnya.
Mobil melaju menuju lokasi tanah yang ingin di lihat Linny sebelum memutuskan akan membelinya atau tidak.
.
.
Tampak di Ruko milik Erik, pria muda itu sedang menyusun beberapa pakaian baru di boneka etalase tokonya.
Erik mendandani boneka model itu semenarik mungkin untuk menarik minat pembeli.
Terlihat Danu dan Doni memasuki toko milik Erik. Keduanya hampir tidak pernah mendatangi tempat itu tanpa Sean.
Dulu beberapa kali kelima sahabat itu memang pernah datang ke Ruko Erik untuk barbeque bersama atau merayakan hari ulang tahun Erik.
Erik yang melihat kedatangan Danu dan Doni tampak terheran. Tidak biasanya kedua sahabat Sean akan mendatanginya tanpa bersama Sean.
"Ada apa kalian kemari?" Tanya Erik dengan dingin.
Doni dan Danu saling berpandangan sebelum berbicara.
"Sudahi permainan mu. Kami sangsi jika kau benar-benar mencintai Sean. Tidak mungkin seseorang tega menghancurkan kehidupan orang yang dia cintai. Apalagi dengan cara yang picik" Ucap Doni tanpa basa basi.
"Apa maksud kalian?" Tanya Erik seolah tidak paham arah pembicaraan Doni.
"Jangan berpura-pura Erik! Kami sudah muak dengan sikap mu! Kau yang melukai Pak Mahaprana, kau juga yang sudah menyebarkan video itu ke berbagai group. Jangan sampai aku membunuhmu dengan tangan ku sendiri terlepas kau itu saudara ku atau bukan!" Tegas Danu merasa kesal pada saudara sepupu jauhnya itu.
Wajah Erik memerah kesal di katakan seperti itu. Benar jika dia yang memiliki master video Sean, tapi bukan dia yang menyebarkan apalagi sampai melukai Papa Sean.
Dia memang hanya memerintahkan untuk mengirimkan foto dirinya dan Sean yang tanpa busana sama sekali di atas tempat tidur dan tampak mesra itu pada Mahaprana.
"Aku tidak ingin membuang tenaga ku bertengkar dengan kalian. Terserah kalian percaya atau tidak, bukan aku yang menyebarkan video itu ke public. Aku hanya mengirimkan foto pada Mahaprana. Mengerti?!" Ucap Erik tak kalah tegasnya.
"Jika bukan kau siapa lagi! Kau sungguh gila" Ucap Doni kesal.
Hampir saja Doni memukuli wajah Erik karena kesal dengan ekpresi Erik yang meremehkan perkataan Doni dan Danu itu.
"Kau pikir hanya aku yang tidak suka Sean keluar dari komunitas? Seburuknya aku tentu aku tidak akan membiarkan wajahku juga di lihat public saat bercinta!" Tegas Erik tampak menantang Doni dan Danu.
Doni dan Danu berusaha bersikap tenang dan menahan emosi mereka.
"Terserah! Ini peringatan terakhir kami. Jangan coba-coba melukai atau menghancurkan Sean. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi"
"Jika sampai itu terjadi maka itu akan menjadi hari terakhir hidupmu. Kami rela masuk penjara untuk menghabisi beban virus seperti mu!"
Tampak Danu dan Doni sangat tegas, mereka bersungguh-sungguh dengan perkataan mereka itu.
Keduanya sudah terlalu kesal dengan tindakan Erik yang sudah sangat menganggu Sean. Tidak akan mereka biarkan Sean kembali pada jalur yang salah, setelah bertahun-tahun berteman dengan Sean dan menasehati pria itu untuk bisa kembali pada kodratnya.
Doni dan Danu pergi meninggalkan ruko milik Erik.
Pandangan Erik tajam menatap pada Doni dan Danu.
"Sial!"
.
.
.