A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Sakit?



Back to Jakarta~


Rencana untuk membawa Farid menjalankan sesi terapi di  klinik Angel malah berujung sang psikiater di boyong ke Jakarta oleh Linny.


Dan kini Angel tinggal di salah satu unit apartemen milik Linny yang berada tepat di bawah penthouse Linny.


Angel menolak saat Linny mengajaknya tinggal bersama di penthouse.


"Kenapa?"  Tanya Linny saat Angel menolak.


"Aku ingin sendiri"  Jawab Angel singkat.


"Apa karena aku? Kau marah karena aku?"  Tanya Linny langsung.


Angel terdiam. Dia tidak menyalahkan Linny. Tapi dia tidak bisa memungkiri dia tidak nyaman jika harus tinggal bersama dengan Linny.


Kehadiran Linny membuat Angel teringat pada Andrean. Setiap perkataan dan malam terburuk itu masih melukai hati Angel.


"Maaf. Aku tidak tau jika Andrean masih menyimpan perasaan sejauh itu. Aku kira itu hanya perasaan singkat di masa lalu"  Ucap Linny.


Sean dan Angel saling berpandangan. Jadi Linny tau Andrean menyukainya.


"Aku bukan orang bodoh yang tidak peka. Aku tau Andrean pernah menyukai ku. Tapi aku tidak tau dia masih bertahan dengan perasaannya itu. Maaf membuat mu turut terseret dan di rugikan Angel"  Ucap Linny sambil menatap Angel dengan tulus.


Angel tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Bukan salah mu. Bukan salah siapapun. Ini sudah takdir ku"  Jawab Angel terdengar lirih.


Hati siapapun akan sedih dan teriris mendengar ucapan Angel. Rasa pasrah dan tidak bisa menyalahkan siapapun.


"Kenapa kau tak bilang itu anak Andrean? Setidaknya Mama mu tidak akan mengamuk begitu"  Tanya Linny heran.


Angel menatap Linny dan Sean bergantian lalu tersenyum.


"Tidak perlu. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak pernah mencintai ku. Dan juga tidak pernah mencoba mencintaiku. Lagi pula anak ini aku yang akan lahirkan. Tidak ada yang lebih berhak dari pada aku bukan?"  Ucap Angel.


Linny dan Sean sama-sama menghela nafas bingung. Mereka tidak bisa berkata-kata karena benar Andrean tidak mencintai Angel.


"Dia hanya ingin melakukan tugasnya untuk tanggung jawab. Tapi bisa kau bayangkan Linny. Bagaimana kehidupan keluarga tanpa cinta. Bagaimana perasaan anak ini jika tau dia dilahirkan bukan karena cinta tapi kesalahan. Dan kedua orang tuanya hidup seperti tidak saling mengenal nantinya"


Setiap penjelasan Angel terdengar begitu logis. Apa pun itu anak yang di kandungan Angel tidak bersalah.


"Jadi kau mau bagaimana? Orang tua mu sudah mengusirmu dan kekacauan itu pasti akan menyulitkan mu untuk praktik kembali di negara mu"  Tanya Linny khawatir.


Apa pun yang terjadi Angel tetap butuh pekerjaan jika harus menafkahi anaknya seorang diri.


"Aku bisa menjadi SPG atau apa pun itu. Hanya aku butuh bantuan mu memproses kewarganegaraan ku kembali ke sini"  Ucap Angel sambil tersenyum.


Senyuman yang menyiratkan rasa sakit dan sedih itu terpampang jelas di mata Linny.


Linny menghela nafas berat. Semua menjadi begitu rumit karena manusia yang ingin menjebak Andrean itu. Ingatkan Linny memberi pelajaran pada manusia itu. Setidaknya menghancurkan perusahaan pria itu dan menginjaknya ke tanah.


"Ya sudah. Kau istirahatlah. Jangan memikirkan apapun. Masalah biaya hidup mu jangan pikirkan. Fokus untuk kesehatanmu dan kandunganmu saja"  Ucap Linny yang sudah benar-benar kelelahan.


Angel melihat wajah Linny yang tampak pucat.


"Kau sakit?"  Tanya Angel khawatir.


"Hanya kelelahan"  Ucap Linny sambil tersenyum.


"Gerd mu kumat?"  Tanya Angel lagi.


"Maybe, Tapi tidak masalah. Akan aku suruh Alfa mengantarkan mu ke unit di bawah"  Ucap Linny sambil tersenyum.


"Ah ya. Kau kenapa datang tiba-tiba?"  Tanya Angel yang baru ingat Linny tiba-tiba mengunjunginya ke klinik.


"Aku ingin kau melakukan sesi terapi untuk korban pelecehan. Aku takut nanti saat dewasa dia malah menyimpang"  Ucap Linny.


"Besok bawa dia ke unit ku. Akan aku lakukan sesi terapi"  Ucap Angel.


Kini Sean terkejut melihat Angel tampak baik-baik saja dengan segala pergolakan batin yang sedang dia alami.


"Kau lebih baik istirahat saja. Biar aku cari psikiater lainnya"  Ucap Linny menolak halus.


"Hei! Kau meragukan ku sebagai psikiater? Ngapain cari psikiater lain kalau aku juga ada di sini?"  Tanya Angel dengan nada kesal.


Sean yang melihat nada bicara Angel merasa itu sedikit mirip dengan sikap Linny yang kini sensitif dan suka uring-uringan tak jelas.


"Ya sudah terserah kau saja. Nanti datanglah ke sini. Kita makan bersama. sekarang kau lebih baik beristirahat"  Ucap Linny sambil memberi kode pada Alfa untuk mengantarkan Angel.


Angel pun pergi bersama Alfa dan dua bodyguard lainnya. Untuk memastikan Angel masuk ke unit apartemennya dengan aman.


Selain itu Linny sudah memesankan secara online beberapa pakaian ganti untuk Angel. Tidak mungkin sepanjang hari Angel memakai pakaian yang dia kenakan itu.


Angel tidak sempat lagi mengambil pakaiannya di rumah dan ikut bersama Linny ke negara asal Linny tanpa bersiap apapun.


Hanya sebuah tas dan laptopnya saja yang dia bawa. Tak ada yang bisa di bawa Angel dari rumahnya.


Selang tidak lama tampak Andrean dan Sisilia menyusul dan masuk ke penthouse Linny.


"Dimana Angel?"  Tanya Sisilia tergesa-gesa.


Wajah Andrean tak kalah gusarnya saat mendengar Angel di usir keluarganya dan kini tengah mengandung.


"Dia sedang istirahat di salah satu unit di bawah"  Jawab Sean mengantikan Linny.


"Aku akan bicara dengannya"  Ucap Andrean yang hendak menyusul Angel.


Belum sempat Andrean bergerak suara keras Linny mengejutkan mereka semua.


"MAU KAU APAKAN DIA? MAU KAU LUKAI LAGI HATINYA?"  Tanya Linny dengan nada tinggi.


Semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka Linny bisa berbicara sekeras itu pada Andrean.


"Sudah cukup Dre! Biarkan dia menenangkan dirinya dulu! Apa yang bisa kau lakukan? Menawarkan pernikahan? Lantas pernikahan macam apa yang akan kalian jalani jika kau tidak pernah bisa menerima dia di hatimu?" Tanya Linny kesal.


Andrean terdiam. Dia tidak bisa menyangkal dari kemarahan Linny.


"Cukup Dre! Setiap perkataan mu hanya akan melukai dia! Dia sedang hamil. Dan kau tau benar kalau wanita hamil tidak boleh stress kan?"  Tanya Linny lagi.


Andrean hanya menganggukan kepalanya tak mampu membantah.


"Jangan pernah lagi menawarkan pernikahan tanpa cinta untuk seorang Angel. Dia juga wanita yang ingin di cintai. Jangan memberi pernikahan cangkang untuknya. Pernikahan bukan bisnis ataupun permainan. Ingat itu!"  Tegas Linny lalu masuk ke kamarnya.


Tubuh Linny sudah tidak sanggup bertahan. Dia merasa sangat pusing dan mual. Linny kembali memuntahkan semua makanan yang baru dia telan saat dalam perjalanan kembali ke Jakarta itu.


"Linny.. Kau tidak apa-apa?"  Tanya Sean khawatir.


"Sepertinya Gerd ku kuamt"  Ucap Linny yang masih muntah.


"Biar aku panggil dokter ya?"  Tanya Sean hendak mengambil ponselnya.


"Tidak usah. Obat ku masih ada. Mungkin juga terlalu stress. Tolong bantu urus masalah kewarganegaraan Angel ya. Biasanya Andrean yang melakukan itu semua. Tapi aku tidak bisa menyuruhnya untuk itu"  Ucap Linny sambil memegang tangan Sean.


"Baiklah. Ayo sekarang kau tidur dulu. Biar aku yang urus masalah Angel"  Ucap Sean yang langsung menggendong Linny ke atas tempat tidur.


.


.


.