A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Dia Rendy...



"Ini rumahnya. Cocok untuk kontrakan sendiri"


Ucap seorang wanita menunjukkan rumah kontrakannya pada Rendy. Rendy baru tiba kembali ke kota tentu dengan menyamar. Dia yang dulunya tampak putih bersih menjadi hitam akibat sering berjemur di desa dan membantu para warga di sana bertani.


Namun hal itu menguntungkan Rendy karena dia tampak berbeda dari yang di kenla orang-orang. Tubuhnya yang menjadi kurus dan hitam membuatnya lolos dari incaran aparat kepolisian saat berpatroli.


Terlebih karena luka di kakinya itu membuat jalan Rendy sedikit pincang dan di kasihani banyak orang.


" Baik Buk. Saya sewa untuk sebulan dulu. Ini uangnya"


Ucap Rendy menyerahkan uang tunai sebesar 1,5juta hasil yang dia kumpulkan selama membantu menjualkan barang-barang di desa juga sedikit yang sempat dia simpan pada saku celannya setelah meninggalkan semua dompet dan ponselnya di mobil kemarin.


"Ah ini saya kasih korting deh Mas. Cukup bayar 1,15juta saja"


Ucap pemilik kontrakan yang iba melihat Rendy. Jika dia menerima full uang yang tampaknya hanya itu yang tersisa dari Rendy maka tentu pria muda di hadapannya itu akan mati kelaparan.


"Terima kasih Bu" Ucap Rendy sambil tersenyum ramah.


"Oh ya Mas namanya siapa?" Tanya si pemilik kontrakan.


"Reno. Ah ya maaf identitas saya menyusul ya Bu. Saya baru melaporkan kehilangan barang saya yang di copet. Butuh proses" Ucap Rendy beralasan.


"Tidak masalah. Ah, Mas sudah makan? Kalau belum ayo makan bareng di rumah saya di sebrang sana. Tidak jauh dari sini" Ucap pemilik kontrakan itu.


"TIdak usah Buk. Tidak apa-apa" Ucap Rendy menolak halus.


Dia tidak ingin telalu dekat dengan orang-orang di sana karena dia hanya akan tinggal sementara dan berpindah lagi. Dia tidak boleh terlacak dan menetap sebelum berhasil membalas orang yang sudah melukainya.


Rendy yang tinggal di rumah kontrakan kecil itu mulai mencari cara untuk bisa menemui Ibu sambungnya - Sisca Natalie.


Rendy melamar berbagai pekerjaan yang tentunya pekerjaan rendah dan tidak akan di perhatikan orang lain.


Rendy bekerja sebagai tukang bersih-bersih lepas. Alias Office boy jika bahasa kerennya.


Dia sengaja memilih menjadi pekerja lepas membersihkan tempat yang di suruh oleh atasannya, alias cadangan saja. Kenapa? Karena jika dia mau di kontrak maka dia harus menyerahkan data identitas lengkapnya.


Tentu saja Rendy tidak bisa memberikan identitas aslinya. Rendy yang kini menyamar menjadi Reno itu.


Hingga satu hari dia di tugaskan menggantikan teman sesama office boy untuk membersihkan lapas yang ternyata merupakan tempat Sisca Natalie di kurung.


Mendapat kesempatan itu, Rendy mencoba mendekati Sisca Natalie yang tampak kurus dan tak terawat itu.


"Ma~"


Panggil Rendy lirih dan perlahan agar tidak ada penjaga yang mendengar suaranya.


Sisca Natalie yang sangat hafal suara anak sambung kesayangannya itu langsung melihat ke arah suara.


"Ren~"


"Ssssttt"


Rendy membuat gesture agar Sisca Natalie tidak menyebut namanya. Sisca Natalie yang paham hal itu langsung diam dan bergerak perlahan mendekati putranya itu.


"Kau kenapa kurus begini?" Tanya Sisca Natalie dengan suara sekecil mungkin.


"Tidak apa-apa, Ma. Mama kenapa begini?" Tanya Rendy yang sangat sedih melihat kondisi Sisca Natalie.


"Ini semua gara-gara Kimberlyn" Ucap Sisca Natalie geram.


Dia masih memendam amarah dan dendam pada anak kandungnya itu.


"Kimberlyn?" Tanya Rendy bingung.


"Iya. Dia yang sudah membuat Papa mu di tangkap" Ucap Sisca Natalie.


Mendengar perkataan Sisca Natalie membuat Rendy sangat marah dan membenci Linny.


"Aku akan membuat dia membayar semua ini, Ma" Ucap Rendy kesal.


Tiba-tiba salah satu sipir berpatroli melihat Rendy dan Sisca Natalie sedang berjongkok dan berbicara.


Sisca Natalie langsung menerik kerah Rendy dan berpura-pura mengamuk dan mengancam Rendy.


"AKU MAU KELUAR!! KELUARAN AKU!!! DASAR MISKIN!!!! KELUARKAN!!!" Umpat Sisca Natalie demi mengecoh si sipir.


Melihat Sisca Natalie yang mengamuk membuat Sipir itu langsung menolong Rendy dan memukuli tangan Sisca Natalie agar melepas kerah baju Rendy.


"Dasar gila! Kumat lagi! Kau akan aku pukul kalau tidak diam!" Bentak sipir itu.


Rendy yang melihat itu merasa sedih dan miris dengan nasib ibu sambung kesayangannya itu.


"Kau tidak apa-apa? Kau tukang bersih-bersih baru di sini?" Tanya sipir itu pada Rendy.


"I-Iya" Jawab Rendy terbata-bata.


"Oh ya sudah. Lain k ali jangan terlalu dekat dengan para tahanan khususnya ibu gila itu. Dia itu suka mengamuk tidak jelas. Untuk kau tidak apa-apa" Ucap Sipir itu mengira jika Rendy di serang tiba-tiba oleh Sisca Natalie.


"I-Iya. Terima kasih" Ucap Rendy lalu melanjutkan tugasnya.


Sipir itu kembali memantau satu persatu tahanan memastikan mereka tidak ada yang melakukan hal berbahaya.


Rendy yang sudah tau siapa pelaku yang menghancurkan kehidupan keluarganya tampak murka. Dia merencanakan untuk bisa masuk ke perusahaan Linny secepat mungkin.


.


.


.


Linny dan Sean sedang menghadiri acara makan bersama beberapa investor. Sean kini bukan hanya menjabat sebagai Manager bagian pemasaran. Dia sudah menjadi wakil CEO dan memantau khusus bagian pemasaran di bawah kuasanya.


Setiap orang memandang iri dengan pasangan itu yang selalu mesra dan dekat setiap saat.


"Sayang. Minum ini dulu" Ucap Sean sambil menyodorkan segelas teh hangat untuk Linny.


Linny dengan patuh meraih gelas itu dan menegak habis isinya. Semua orang yang melihat interaksi Sean dan Linny semakin terkagum-kagum.


"Wah. Apa rahasianya bisa semesra ini. Pak Sean juga tampak sangat mencintai Nona CEO Kim ya" Ucap salah satu investor yang begitu iri melihat kemesraan Sean - Linny.


"Tidak ada rahasianya Pak Imron. Kita hanya menyesuaikan sifat masing-masing. Memang saya tipikal yang lebih suka menunjukkan sesuatu dengan tindakan" Ucap Sean dengan sopan menjawab.


"Ah begitu. Luar biasa sekali kalian sama-sama tampan dan cantik, juga hebat dalam berbisnis. FP Corporation pasti akan semakin maju dan berjaya nih" Ucap investor yang lain.


Suasana acara makan itu menjadi sangat riuh karena membahas Sean  dan Linny. Sean dan Linny hanya menanggapi perkataan mereka dengan senyuman.


"Kau mau pulang sekarang?" Bisik Sean di telinga Linny.


"Tidak usah. Makanan di sini sangat enak" Jawab Linny dengan santai.


Sean hanya mengangguk mengikuti kemauan Linny. Bukan tanpa alasan dia bertanya pada Linny ingin pulang atau tidak. Karena Sean tau jika Linny sangat tidak suka orang-orang mengomentari kehidupan pribadinya.


Namun jika Linny merasa nyaman saja maka Sean juga tidak keberatan. Dia terus melayani Linny dengan mengambilkan berbagai makanan kesukaan Linny.


Tanpa mereka sadari di sudut ruangan mata Rendy menatap tajam pada pasangan itu. Sebuah tatapan kesal dan penuh kebencian.


"Aku akan mencari tau kelemahan kalian dan menghancurkan perusahaanmu Kim" Gumam Rendy penuh kebencian itu.


"Reno!! Sini!!"


Teriak salah satu pelayan di restoran itu.


"Iya!!" Reno segera berlari bergegas menuju ke arah suara karena dia sedang bekerja di sana.


.


.


.