A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Sebuah Maaf..



"Wah suami mu dan pacarku senyum-senyum tuh"


Ucap Joe yang tampak terengah-engah kelelahan menghadapi Linny.


"Kenapa? Kau cemburu?"


Tanya Linny mengejek Joe.


"Ck! Cemburu tapi mau gimana lagi"


Joe tampak pasrah. Dia memang tidak punya pilihan. Mau marah juga tidak bisa, kondisi Erik masih tahap pemulihan dan harus menjaga suasana hati si tulang lunak itu.


"Tenang lah. Erik sangat menyukai mu. Sejak tadi dia mencuri pandang melihat mu yang hampir K.O ku buat"


Ucap Linny yang memang selalu memperhatikan sekelilingnya.


Joe menatap heran Linny. Sejak kapan Linny melihat Erik. Joe merasa dari tadi Linny fokus mencari celah menjatuhkan Joe.


"Apa perlu aku banting kau agar bisa melihat sepanik apa Erik?"


Tanya Linny menawarkan ide gilanya itu.


"Oh tidak terima kasih. Bagaimana jika kau yang aku banting. Aku penasaran gimana reaksi Sean"


Ucap Joe meledek Linny.


"Tenang saja. Aku tidak selemah itu"


Ucap Linny yang langsung menyerang Joe kembali.


Joe belum siap saat Linny menyerang dan itu membuatnya terjatuh ke atas matras di sisi kanan. Matras yang memang di sediakan agar mengurangi cedera jatuh saat terbanting.


"Joe!!!"


Erik berteriak terkejut melihat Joe yang jatuh cukup kuat itu. Ingin berlari tapi tidak bisa. Erik kini duduk di kursi roda itu hanya bisa berusaha mengerakkan roda secepat mungkin mendekati Joe.


Melihat itu Sean membantu mendorongkan kursi roda Erik untuk mendekat ke arah Linny dan Joe.


Pengawal yang lain juga terkejut dan berhenti berlatih, mereka langsung membantu Joe untuk bangun.


"Ck! Lemah!"


Ucap Linny meledek Joe. Sebenarnya tidak lah menyakitkan ataupun berbahaya karena Joe mengambil posisi jatuh yang aman.


Bagi petarung seperti mereka sudah terlatih untuk bisa mengantisipasi serangan dan cara jatuh agar tidak membahayakan.


"Joe~"


Erik yang sudah di dekat mereka tampak khawatir. Dia paham itu sesi latihan dan Linny bukan sengaja membuat Joe terjatuh, Tapi tetap saja Erik sangat khawatir.


Joe tampak berlutut di depan Erik menyesuaikan tingginya dengan Erik untuk berbicara.


"Mana yang sakit? Kau terluka? Hei Linny! Kenapa begitu keras pada kekasihku. Ini bukan latihan tapi percobaan pembunuhan!"


Ucap Erik terdengar kesal. Walaupun dia tau Linny tidak berniat begitu tapi tetap saja dia khawatir Joe terluka.


"Astaga! Kau ini! Sebucin apa pun lihat kondisi dong, Lihat tuh Joe aja gak kenapa-kenapa. Kalau petarung seperti kami langsung terluka hanya karena jatuh begitu, bukan lagi petarung namanya! Tapi lenong! topeng monyet!"


Ucap Linny terdengar ketus menanggapi sikap Erik.


"Sudah Joe! Urus sana istri mu! Untuk lagi sakit, kalau gak udah aku pukul kepalanya"


Tambah Linny yang membuat Sean tersenyum mendengar hal itu. Sean merindukan suara dan ekspresi Linny itu. Sudah beberapa waktu Linny diam dan tidak berekspresi.


"Eh Linny. Temani aku ke dalam. Aku ada membuat makanan segar. Biar Sean dan Joe menunggu di sini"


Ucap Erik. Joe tampak ingin menggantikan Linny namun Linny tau Erik ingin berbicara empat mata dengannya.


"Oke. Joe. Aku titip suamiku. Awas kalau kau melukainya karena cemburu Erik tadi tersenyum pada Sean"


Ucap Linny dengan sengaja. Wajah Joe memerah karena Erik menatap Joe saat Linny berkata seperti itu.


Dia merasa tidak enak pad Erik juga Sean. Awas saja Linny. Akan aku balas. Tentu itu yang di pikirkan Joe.


Linny mendorong kursi Erik menuju dapur di rumah itu. Keduanya masih diam hingga Erik membuka salah satu pintu kulkas besar di dapur itu.


Tanya Erik menerka. Dia tampak sibuk meraih es serut buah yang sudah dia buat tadi. Tampak beberapa pelayan dengan sigap membantu Erik tanpa harus di perintah.


"Ya. Apa dia meminta maaf padamu?"


Tanya Linny memastikan. Karena dia sempat melirik ekspresi wajah Sean yang merasa sedih dan bersalah saat berbicara pada Erik tadi.


"Iya. Sudah maafkan dia. Dia sudah tau salahnya. Dia bisa meminta maaf padaku adalah satu kemajuan. Biasa dia akan tetap membenci dan tidak mau meminta maaf pada orang yang sangat dia benci. Kasihan dia. Dia tidak bisa tanpa mu Linny"


Ucap Erik terdengar seperti juru bicara isi hati Sean itu.


"Entahlah. Aku berniat mendiamkannya sebulan lagi"


"Hey itu terlalu kejam. Kau mau dia mencari batangan lagi?"


"Jika dia berani maka akan langsung aku kebiri saja dan aku tinggalkan"


"Ck! Jangan begitu. Dia sangat membutuhkanmu. Wajahnya tampak kusam dan kurus. Dia pasti tidak bisa makan dan tidur dengan nyenyak karena mu"


"Wah perhatian sekali mantan satu ini"


Linny tampak meledek Erik yang terus membujuknya memaafkan Sean.


"Ck! Sebagai mantan pacar yang baik tentu aku mau Sean bahagia di pernikahannya. Kau terlalu kejam. Baru juga menikah dan Honeymoon sudah menghukumnya sekeras itu"


Ucap Erik mengomentari sikap Linny pada Sean.


"Itu karena dia malah bersikap buruk. Bahkan dengan tega mau kau mati saja. Ck!"


Linny tampak kesal Erik malah memarahinya karena sudah memberi pelajaran berharga pada Sean.


"Ya ya ya. Sudahlah itu memang bisa terjadi dan aku masih hidup. Sudah jangan seperti itu lagi. Ayo kita kembali. Cuaca panas cocoknya nyemil es serut buah ini"


Ucap Erik mengajak Linny kembali ke halaman belakang. Para pelayan tampak membantu membawakan es buah itu. Model es buah Korea yang di buat oleh Erik.


Erik juga menyuruh para pengawal yang di rumah itu untuk mencicipinya sendiri di dapur tanpa sungkan. Dia banyak berubah setelah apa yang dia alami.


Sean semakin tenang, Erik terlihat tulus dan berubah. Dia tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi.


Mereka pun duduk bersama dan menikmati es buah itu. Sean menyuapi Linny dan Joe menyuapi Erik.


Om Donald yang memperhatikan mereka sejak tadi turut tersenyum lega. Dia senang jika masalah di antara ke empat anak manusia itu bisa berakhir dengan baik. Mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing tanpa harus saling membenci dan bersinggungan lagi.


Linny mencerna ucapan Erik. Mungkin dia memang sudah harus memaafkan Sean. Dia yakin Sean sudah belajar dari kesalahannya.


Selesai menghabiskan waktu yang lama di rumah Om Donald. Sean dan Linny kembali ke penthouse mereka.


Linny merasa lelah seusai berlatih dadakan tadi. Tapi dia cukup senang. Dia bisa mengasah kembali kekuatan fisiknya yang ternyata masih sangat kuat.


"Linny"


Panggil Sean yang membuat Linny berhenti dan menoleh.


Sean memeluk erat Linny. Dengan lembut dia mengecup kening Linny.


"I love you , Bee. I'm sorry"


Ucap Sean terdengar lirih. Linny menghela nafas dan kemudian mengecup bibir Sean dengan lembut.


"Maaf aku terlalu keras dan mendiamkanmu. Aku hanya takut kau menjadi Mahaprana jilid kedua. Aku tidak bisa membayangkan anak-anakku nantinya akan tertekan karena mu"


Ucap Linny jujur. Sean tersikap. Dia sudah menerka hal itu tapi mendengar langsung Linny berbicara membuat Sean cukup terkejut.


"Maaf. Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk menjadi suami dan seorang ayah"


Ucapan Sean begitu tulus. Linny pun memeluknya dan menepuk pelan punggung Sean.


Keduanya kembali berdamai dan saling memahami. Pertengkaran itu bisa mereka akhiri dengan pelukan hangat.


.


.