
Sean yang merasa gerah dan tidak diperbolehkan mandi membuat Linny membantunya membersihkan seluruh tubuh agar lebih segar menggunakan wash lap.
Linny juga membersihkan bagian inti tubuh Sean secara perlahan berhubung Sean memang sangat lah pembersih.
Namun di perlakukan begitu membuat pedang sakti a.k.a Pluto milik Sean malah menunjukkan taringnya.
Linny langsung menatap tajam ke arah Sean.
"Kau beneran sakit atau pura-pura sakit?" Tanya Linny ketus.
"Eh.. I-itu...." Sean gugup.
sial sekali si Pluto benar-benar tidak bisa di ajak kerja sama agar mau tertidur. Semakin lama si Pluto malah makin mengeras sempurna.
"Ck! Kau ini. Sakit begini masih saja mesum!" Ucap Linny sambil menyentil pelan Pluto karena geram.
"Aw.... Shhhh"
Sean meringis karena Pluto di sentil oleh Linny.
"Eh.. Sakit???" Tanya Linny heran.
Dia merasa hanya menyentil pelan si Pluto mesum itu.
"Tentu saja sakit...." Lirih Sean.
"Siapa suruh dia bangun. Padahal badan mu masih luka begitu" Ucap Linny sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia selalu merespon semua sentuhanmu Linny. Apa kau lupa?" Tanya Sean menatap dalam mata Linny.
Melihat hal itu Linny merasa kasihan. Tentunya tidak mudah untuk menidurkan apa yang terbangun itu.
Linny langsung menyentuh perlahan Pluto dengan tangannya lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Ahhhh... Linnyyy....." Suara Sean terdengar mengerang saat Linny mulai memanjakan si Pluto mesum itu.
Linny terus memberikan sentuhan hingga Sean merasa tidak karuan. Ingin rasanya Sean menarik Linny dan membiarkan Pluto bertemu si Venus sebentar. Tapi kondisi tidak memungkinkan.
Suara nyanyian merdu mereka cukup terdengar hingga keluar. Tampak para bodyguard dan pengawal di luar menjauhkan diri dari depan pintu. Mereka tidak ingin mendengar suara alam yang bisa menyebabkan diri ikut kecanduan itu.
William dan Sisilia yang baru tiba terkejut mendengar suara itu dari dalam ruangan rawat Sean.
Niat hati ingin menjenguk sekaligus mengantarkan berkas untuk Linny malah mereka melihat adegan live di depan mata.
William menahan Sisilia agar tidak mengganggu aktivitas dua manusia mesum itu di dalam hingga mereka selesai.
Tak lama kemudian terdengar suara erangan panjang Sean lalu suara gemercik air di wastafel.
William dan Sisilia pun memutuskan masuk menemui Sean dan Linny.
"Hei Bro" Sapa William sambil meletakkan buah di atas meja dekat sofa.
"Kenapa datang lagi? Bukannya sibuk?" Tanya Sean heran.
"Nemenin Sisilia sekalian nanti kami mau fitting baju sekali lagi sebelum acara" Jawab William.
Linny tampak baru keluar dari kamar mandi dengan bibir yang sedikit basah.
"Udah nih ceritanya?" Tanya Sisilia yang sengaja meledek Linny.
"Udah apa?" Tanya Linny heran.
"Ck! Suaranya sampai depan pintu tau. Gila amet kalian berdua. Kagak lihat sikon apa" Ucap Sisilia.
Wajah Sean memerah malu seolah dirinya ketahuan menonton video vpn oleh orang tuanya.
"Ya jangan di dengar. Atau anggap aja pelajaran buat kau nanti setelah resmi nikah sama William" Ucap Linny dengan santai.
Linny memang sedekat itu dengan Sisilia sehingga tidak masalah baginya.
Linny hanya tertawa menanggapi ucapan Sisilia.
"Oh ya, nih berkas yang harus kau baca dan tanda tangani. Terus berkas tadi pagi sudah kau baca belum?" Tanya Sisilia.
"Belum, nanti deh. Pusing banyak banget yang harus aku baca. Bisa gila aku" Ucap Linny lalu menggeser barang-barang yang ada di meja sebelah ranjang Sean.
"Mau ngapain?" Tanya Sisilia heran melihat Linny yang menggeser barang-barang itu.
"Aku butuh meja kali buat kerja" Ucap Linny tanpa menoleh.
William pun membantu Linny membersihkan barang-barang dari meja itu. Linny segera mengeluarkan berkas juga laptopnya.
Wajah Linny tampak serius duduk sambil membaca berkas-berkas yang ada.
"Ah kalau gitu kami pergi dulu. Dua minggu lagi acara pertunangan. Setelah itu Dua minggu lagi acara nikahan. Hah~ Benar-benar sibuk ya ternyata untuk urusan menikah" Ucap Sisilia.
"Ya enggak usah nikah kalau enggak mau sibuk" Ucap Linny tanpa melihat ke arah Sisilia.
"Ck! Kau ini! Aku bukan kau yang tidak mau menikah! Sudah lah. Cepat sembuh ya Sean, aku ingin kau hadir di acara ku. Mengerti?" Ucap Sisilia menatap Sean yang terbaring itu.
"Iya aku tahu. Aku pasti hadir. Tenang saja" Ucap Sean sambil tersenyum menatap Sisilia dan William.
William mengacungkan jempolnya untuk menyemangati Sean.
"Oh ya. setelah ini pergilah ke showroom yang sudah aku kirim alamatnya di chat. Sekaligus bukti pelunasannya tunjukkan ke mereka" Ucap Linny menatap Sisilia.
"Kau ganti mobil? Bukannya mobil yang sekarang masih baru?" Tanya Sisilia heran.
Linny menghela nafas. Memang Sisilia sungguh tahu apa saja yang di beli oleh dirinya. Terkecuali yang ini karena dia diam-diam membelinya tanpa sepengetahuan Andrean dan Sisilia.
"Itu hadiah untuk pertunangan mu dengan William. Aku tidak menerima penolakan apa pun. Paham?" Ucap Linny tak mau di bantah.
"Astaga Linny. Kau memang sahabat terbaik. Ya meskipun kau tidak bisa menjadi ipar ku tidak masalah, asal aku terus mendapat banjir hadiah darimu" Ucap Sisilia lalu menghambur memeluk Linny.
"Sialan kau ini!" Ucap Linny membalas pelukan Sisilia.
Kedua wanita itu tertawa. Linny tahu Sisilia hanya mencandainya. Persahabatan mereka bukan sebatas materi maupun barang mewah. Mereka sudah seperti saudara kandung.
"Aku pergi dulu ya. Awas jangan ronde kedua kalian. Pasang peredam dulu, kasihan yang lain enggak bisa ikutan enak-enak" Sindir Sisilia.
"Ck! Pergilah! Ganggu saja!" Ucap Linny mengusir pasangan yang akan segera bertunangan itu.
Setelah Sisilia dan William pergi. Ruangan kembali Sepi. Linny tampak masih sibuk membaca berkas-berkas yang ada.
"Apa perlu aku bantu?" Tanya Sean yang melihat Linny sangat sibuk.
"Tidak usah. Kau tidur saja. Hanya segini masih bisa aku atasi sendirian" Ucap Linny dengan santai.
Sean melirik ke arah laptop Linny yang terbuka dan menghadap ke sisi Sean. Terlihat fotonya memakai apron di Bar RB. Sean tersenyum kecil. Sepertinya Linny memang selalu memperhatikannya.
"Kalau lapar bilang ya. Aku tidak bisa menanyaimu setiap jam" Ucap Linny tanpa melihat ke arah Sean.
"Kau sudah makan? Ingat kau punya riwayat GERD" Ucap Sean.
"Iya aku tahu. Sudah tidur sana, ingat janjimu akan hadir di acara Sisilia dan William. Jangan mengecewakan mereka jika kau belum juga sembuh" Ucap Linny mengingatkan.
"Ya aku mengerti" Jawab Sean sambil memperhatikan wajah cantik Linny yang sangat serius memeriksa pekerjaannya.
.
.
.
Disclaimer : CERITA INI MURNI HANYA KARANGAN FIKSI BELAKA. JIKA TERJADI KESAMAAN CERITA-TOKOH-WAKTU-TEMPAT-KEADAAN MOHON UNTUK DI MAKLUMI KARENA TIDAK BERNIAT MENYINGGUNG ATAU MERENDAHKAN SIAPAPUN. SEMOGA CERITA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-