A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Memantau..



"Kau yakin Rain dalang di balik serangan Rendy?"


Om Donald tampak memandang serius pada Linny. Hari ini Linny memutuskan menemui Om Donald di markasnya tanpa membawa Sean.


Linny tidak ingin Sean terbawa dalam masalah ini lebih jauh. Rain sangat licin dan pasti dengan mudah mengelabui Sean.


"Kondisi Rendy persis dengan efek obat yang aku minta Santo untuk mengeceknya. Dan juga racun bunga yang dia pakai itu jenis racun bunga yang dulu di gunakan orang kerajaan korea untuk membunuh lawan. Bunga itu banyak di tanah liar di sana"


Jelas Linny yang sangat yakin dengan instingnya. Dia tidak pernah salah dalam memburu orang. Rendy yang dia kenal juga tidak berbakat dalam hal racun. Jadi tidak mungkin Rendy bisa membuat Racun itu sendiri.


"Selain itu dia adalah buronan. Dia pasti butuh koneksi untuk bertahan dan bisa menyelinap masuk ke dalam perusahaan ku. Siapa lagi orang di negara ini yang bisa segila itu jika bukan mafia seperti Rain"


Tambah Linny yang tampak ikut merokok bersama Om Donald. Padahal Linny sudah lama menghentikan kebiasaan merokoknya. Namun akibat masalah yang terus menerpa belakangan membuat Linny merasa sangat pusing dan membutuhkan rokok.


"Kau butuh tambahan pasukan? Apa benar Rain sudah menginjak kan kakinya disini? Kalau dia ada di sini maka biar Om yang bunuh dia saja"


Om Donald tampak dengan santai menanggapi. Membunuh Rain bukan masalah besar untuknya. Paling hanya akan terjadi perang antar geng mafia itu. Dan kekuatan Om Donald jauh lebih besar.


"Tidak. Jika dia harus mati maka dia harus mati di tanganku. Dia berani mengacau dan melukai orang-orang ku. Akan aku pastikan setiap detik menuju kematiannya adalah hal paling menderita"


Linny tampak begitu geram mengingat banyaknya kejadian beruntun yang menimpa orang-orang di sekitarnya. Bahkan Eka hampir di lecehkan oleh Rendy. Dan menurut Linny, Rendy bisa tau tentang Eka dan sengaja mendekatinya karena perintah Rain.


"Berhati-hatilah Linny. Kau juga tau dia sangat licin. Jangan terjebak"


Om Donald tampak khawatir Linny mendapat jebakan jackpot dari Rain yang gila itu.


"Ah ya bagaimana kondisi Erik? Dia baik-baik saja bukan?"


Linny teringat dengan kondisi Erik yang belum banyak perubahan sejak menjalani terapi selama ini. Erik yang sudah mereka palsukan kematiannya demi menjaganya tidak menjadi sasaran Rain lagi tidak bisa sembarang berkeliaran.


"Baik. Dia semakin membaik selama ada Joe. Ah ya satu hal. Kemarin kau minta Om mencari dimana Willy - adik Sean bukan? Ada kabar baik dan kabar buruk"


Om Donald tampak mematikan cerutunya dan mengambil sebuah map. Linny membuka isi map itu. Terlihat laporan Gps dan foto Willy yang berkeliaran di sekitar Bar baru di kota itu juga keluar masuk motel.


"Ini maksudnya?"


Linny bingung dengan laporan yang di berikan Om Donald.


"itu bar yang baru buka tidak lama. Tapi dari orang-orang yang Om tempatkan mencari tau. Bar itu persis Bar Pelangi, hanya saja pemiliknya  tidak di sebutkan jelas. Kabarnya salah satu oknum pejabat terlibat dalam pembangunan bar itu sehingga tidak ada yang berani menyebarkan siapa pemilik asli. Jika tebakan Om itu milik Rain"


Om Donald tampak menghentikan penjelasannya dan menegak wine yang ada di meja.


"Willy tampak sering mengunjungi bar itu bahkan hampir setiap hari. Dan itu ada satu foto yang di dapat. Om rasa itu mirip Carlie. Jika tebakan Om benar, Willy sudah di jebak mereka. Mungkin dia terjebak sama seperti Sean dulu"


Lanjut Om Donald sambil menghela nafas berat. Dia benar-benar bingung dengan kondisi yang di alami Sean dan Linny.


"Dan kemungkinan dia menjadi aneh karena dia di ancam seperti Sean dulu? Begitu maksud Om?" Tanya Linny memastikan.


"Ya. Menurut Om seperti itu. Dan kemungkinan besar begitu. Rain terlibat dalam dunia prostitusi mirip seperti Hendra. Tapi dia lebih mengerikan. Bukan hanya menjajakan wanita dan anak di bawah umur. Dia juga menjajakan pria-pria muda yang tampan bagi pelanggan kaya yang memiliki kelainan juga"


Jelas Om Donald. Dia tidak habis pikir dengan bisnis yang di lakukan Rain.Meskipun Om Donald juga seorang mafia tapi dia tidak pernah menjual anak di bawah umur dan menjebak orang untuk masuk ke dunia gelap.


Orang-orang yang masuk ke dalam dunia gelap itu memilih jalan itu dengan kesadaran dan kesediaan mereka. Karena mereka butuh uang yang lebih dan kesulitan memiliki pekerjaan yang baik.


Linny hanya diam mendengar informasi yang Om Donald beberkan. Dia tampak memikirkan bagaimana bisa melanjutkan apa yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan Willy.


"Dia pasti di pantau oleh Rain. CK!"


Linny tampak kesal, dia merasa tidak sanggup memberi tau Sean tentang kemungkinan Willy yang sudah menjadi koleksi Bar milik Rain.


Salah satunya karena Linny takut Sean kembali trauma dan teringat masa lalunya yang juga terjebak dan di jebak itu.


Ucap Om Donald menenangkan Linny. Dia tau Linny juga khawatir pada Willy yang merupakan adik iparnya itu.


"Terima kasih Om. Ah boleh tolong bantu sekalian pantau keluarga Sean. AKu takut Rain menargetkan keponakan Sean" Ucap Linny yang takut keponakan Sean ikut terseret dan di culik.


"Baiklah. Akan Om pantau dari jauh dan tak terlihat"


Om Donald menepuk pelan pundak Linny agar memberinya kekuatan lebih untuk bertahan. Linny hanya tersenyum dan segera kembali ke penthouse sebelum Sean pulang dari kantor.


Tiba di penthouse Linny segera memasak untuk Sean. Biasanya Sean yang memasak untuknya. Jadi jika ada waktu Linny memilih memasak untuk Sean.


Meskipun jarang memasak namun tetap saja tangan Linny tetap cekatan. Dia mampu membuat masakan yang enak untuk Sean.


Sean yang suka dengan masakan rumahan dan chinese food membuat Linny memasak beberapa jenis chinese food untuk Sean.


Saat Sean tiba di penthouse, dia terkejut mencium aroma masakan yang sangat nikmat.


"Wah, wangi sekali"


Ucap Sean sambil memeluk Linny dari belakang.


"Mandilah sana. Masakan akan segera siap" Ucap Linny.


Sean mengecup kening Linny dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelahnya mereka makan bersama sambil berbincang mengenai kegiatan hari itu. Terkecuali Linny. Dia tidak mengatakan tentang bertemu dengan Om Donald dan juga tentang Willy.


Selesai makan Sean mencuci piring dan membersihkan dapur. Dia tidak pernah berubah, selalu membantu Linny mengerjakan pekerjaan membersihkan dapur setiap selesai makan.


Keduanya kini bersantai di dalam kamar sambil menikmati lampu kota dari kaca kamar mereka.


"Sayang~"


Sean mencium tengkuk Linny dan menghirup aroma harum tubuhnya.


Linny langsung berbalik dan mencium bibir Sean.


"Kangen~"


Ucap Sean manja. Linny tau Sean menginginkan malam yang panas. Begitupula Linny, dia ingin sekali meluapkan rasa stressnya dengan bercinta bersama Sean.


Tanpa butuh waktu lama, pakaian mereka sudah terlepas semua. Sean mulai mencium setiap inchi bagian tubuh Linny.


******* dan erangan Linny memenuhi kamar mereka. Hingga Sean melesakkan miliknya sedalam mungkin di inti tubuh Linny.


"Ah~ Sean~ Harder please"


Ucap Linny sambil merintih merasakan nikmat yang teramat sangat itu.


Sean tersenyum dan langsung menggerakkan tubuhnya dengan lebih cepat. Berbagai gaya mereka lakukan hingga berkali-kali Linny mencapai puncaknya.


Hingga sejam lebih mereka baru menyudahi malam yang panas itu. Keduanya tersenyum bahagia.


.


.


.