
Sean menuju rumah sakit Sejahtera Keluarga setelah menerima telepon dari Eni-Kakak kedua Sean.
Entah apa yang terjadi kepada Papa nya hingga harus di rawat di rumah sakit. Sean tidak sempat bertanya dan segera menuju rumah sakit.
Sean segera menuju salah satu ruang rawat tempat Papa nya sedang terbaring lemah.
"Ada apa ini?" Tanya Sean pada Eni yang tampak masih menangis.
"Sean... Papa mengalami kecelakaan saat mau pergi keluar tadi" Ucap Eni menangis.
"Kecelakaan?" Tanya Sean heran.
Setahunya sang Papa cukup berhati-hati dalam berkendara. Tidak mungkin sampai begini jadinya. Sebelah tangan dan kaki Papa nya tampak di gips dan bagian keningnya tampak di perban.
"Iya Sean. Mobil yang menabrak sudah kabur setelah bertabrakan dengan motor Papa" Jelas Mama Sean yang turut menangis.
"Papa bawa motor?" Tanya Sean lagi. Jarang sekali sang Papa mengendarai kendaraan roda dua kecuali dalam keadaan genting dan ke tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah.
"Iya. Papa buru-buru. Aku dan Mama tidak sempat bertanya kenapa. Papa langsung pergi begitu saja" Jelas Eni.
Hal yang aneh bagi Sean. Papa nya meskipun keras dan emosian tapi tidak pernah sepele dalam keselamatan berkendara dalam keadaan segenting apa pun.
"Apa tidak ada saksi mata?" Tanya Sean pada sang Mama.
"Ada tapi semua sibuk membantu Papa. Tidak ada yang memperhatikan plat nomor mobil itu" Jelas Mama.
"Jadi bagaimana kata dokter?" Tanya Sean melihat kondisi sang Papa.
"Dokter berkata harus menunggu kesadaran Papa dulu. Untuk bagian kaki dan tangan yang mengalami retak langsung di gips. Dan untuk bagian kepala harus menunggu kesadaran Papa" Ucap Mama.
"Sudah lapor polisi?" Tanya Sean.
"Sudah. Tadi polisi juga sudah datang dan sudah kami jelaskan. Namun seperti yang kau tau jika polisi masih menunggu korban memberi informasi juga mengolah lokasi kejadian terlebih dulu" Jelas Eni.
"Tenanglah. Apa sudah di urus administrasinya?" Tanya Sean.
Eni dan sang Mama saling memandang dan menggelengkan kepala. Raut keduanya tampak semakin muram.
"Kesulitan dana?" Tanya Sean langsung yang membuat Eni dan sang Mama langsung menatap Sean.
Bagaimana tidak. Penghasilan sang Papa harus membiayai Eni dan sang Mama juga kebutuhan lainnya. Belum lagi keperluan Papa yang sering berkumpul dengan Bapak-bapak sosialita di group mobil antiknya.
"Ya sudah biar aku yang urus. Jika ada kabar apa pun beritahu aku. Aku masih ada pekerjaan lain" Ucap Sean lalu hendak keluar dari ruangan itu di temani Jun.
"Sean" Panggil sang Mama dengan lembut.
Sean menoleh menatap wajah Mamanya yang sudah mulai menua itu. Tampak kelelahan dan kesedihan tersirat dari raut wajah sang Mama.
"Ada apa Ma?" Tanya Sean datar.
Entah sejak kapan Sean merasa lelah dan tidak ingin terlalu banyak berbicara lagi dengan keluarganya.
"Kau ke mana saja? Sekarang kau tinggal di mana dan kerja di mana? Kami tidak bisa menemukan mu selama ini. Bahkan kata Eni, kau tidak membalas semua pesannya" Tanya sang Mama tampak khawatir.
Sean menghela nafas berat. Pertanyaan yang selalu di tanyakan keluarganya selama ini. Tentang pekerjaan, aset, gaji dan semuanya.
"Aku berada di tempat di mana orang selalu bisa menghargaiku terlepas dari apa pun yang aku capai" Ucap Sean tanpa ekspresi.
Mama dan Eni tertegun melihat sikap Sean. Mereka tahu jika sifat sang Papa yang membuat Sean menjadi seperti itu. Maka jangan menyalahkan Sean yang menjadi keras dan dingin saat ini.
"Maaf Sean" Ucap sang Mama saat Sean berbalik hendak keluar dari ruangan itu.
Sean hanya diam tanpa mau menoleh ke arah sang Mama.
"Fokus dengan kesehatan Papa saja. Ada apa-apa telepon aku" Ucap Sean lalu keluar dari ruangan itu bersama Jun.
Eni dan sang Mama hanya bisa menatap punggung Sean yang pergi dari ruangan itu.
Mama tampak sedih, anak kesayangannya kini benar-benar menjauh dari dirinya.
"Ma. Apa Sean sudah jadi boss? Lihat tadi pria yang menemaninya tampak sangat menghormati dan memperlakukannya seperti boss besar" Ucap Eni yang memang memperhatikan sikap Jun memperlakukan Sean.
"Mungkin rekan kerja atau anggotanya. Dia itu dulu juga team leader bukan?" Ucap sang Mama yang tidak begitu peduli dengan pria yang bersama dengan Sean.
.
Sean menuju bagian administrasi dan menyelesaikan pembayaran biaya rawat sang Papa termasuk menambahkan deposit 20 juta untuk berjaga-jaga jika dibutuhkan dana tambahan untuk tindakan yang dibutuhkan.
Pikiran Sean melayang, bagaimana sang Papa bisa mengalami kecelakaan seperti itu. Tidak seperti biasanya, dia merasa janggal.
"Ada apa Tuan?" Tanya Jun yang melihat wajah Sean yang tampak risau.
"Ada yang aneh. Papa bukan orang yang ceroboh berkendara. Dia selalu menjaga keselamatan. Jika sampai dia bisa terjatuh dan mengalami luka seperti itu berarti ada yang patut dicurigai" Ucap Sean menjelaskan.
"Maksud Tuan, ada yang ingin mencelakakan Papa Tuan? " Tanya Jun memastikan.
Sean menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai dan mengambil kuitansi pembayaran dari pihak Rumah Sakit, Sean meminta Jun menemaninya berbelanja kebutuhan di penthouse.
Mereka tiba di sebuah supermarket yang cukup besar dan lengkap di kota itu.
Sean memilih beberapa bahan segar, bahan beku, sayur-sayuran, buah, snack, dan minuman ringan. Tak lupa dia berbelanja beberapa bahan makanan untuk Jun - Alfa - juga para bodyguard yang berganti jaga di penthouse Linny.
Sepanjang memilih dan mengambil apa yang ingin dia beli, Sean merasa ada yang menatapnya. Namun setiap dia mencoba melihat ke arah yang dia curigai tidak ada yang bisa dia temukan.
"Kenapa Tuan?" Tanya Jun yang melihat Sean cemas.
"Kau merasa kita diikuti?" Tanya Sean pada Jun.
"Iya" Jun menganggukkan kepalanya. Dia juga merasakan hal yang sama dan memang waspada sejak tadi.
"Berarti benar feeling ku sejak tadi" Ucap Sean merasa tidak nyaman.
Dia mengira bahwa yang menerornya adalah orang-orang dari suruhan Erik. Yang lebih gawat adalah orang-orang itu malah juga suruhan Rain yang tidak terima Bar-nya sudah di hancurkan.
"Tenang Tuan. Ini cukup ramai. Tidak mungkin orang-orang itu gegabah dan menarik perhatian publik" Jelas Jun menenangkan Sean yang tampak gelisah.
Sean hanya mengangguk dan sesegera mungkin menuju kasir untuk membayar
Setelahnya Sean dan Jun kembali ke penthouse.
Mereka melihat mobil mencurigakan terus mengikuti mereka bahkan sampai ke penthouse.
Sungguh mencari mati orang-orang itu jika berani berada di sekitar penthouse Linny. Pasti Linny tidak akan tinggal diam.
Jun semakin waspada melihat mobil itu ikut berhenti di pelantaran parkir.
"Tuan. Biar saya turun dulu dan memastikan" Ucap Jun tidak ingin Sean dalam bahaya nantinya.
Namun Sean tidak membiarkan Jun turun sendiri dari mobil itu.
Bersamaan dengan Jun dan Sean yang keluar dari mobil. Terlihat empat orang pria berpakaian serba hitam keluar dari mobil mereka mendekati Sean.
Jun langsung bersiap merogoh pistol yang dia selipkan di pinggang.
"Berhenti!" Ucap Jun tegas dan menodongkan pistol di hadapan empat orang itu. Jelas mereka tampak seperti algojo dengan tubuh dan tato di sekujur tubuh mereka.
"Turunkan pistol mu" Ucap salah satu dari pria itu.
"Tidak! Katakan siapa kalian!" Ucap Jun dengan tegas.
Jun memberi kode pada Sean agar berlindung di belakangnya.
"Turun kan pistol mu!" Terdengar suara keras dari seseorang di belakang Jun yang membuat Jun menodongkan pistol ke arah suara itu.
"Eh???"
.
.
.
IG Visual Karakter @lunagelim.author