A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Madam Pelangi..



NOTE : PERHATIAN!!! CERITA INI MENGANDUNG UNSUR AKTIVITAS SEKSUAL!!! DIHARAPKAN BIJAK DALAM MEMBACA DAN TIDAK MENIRU ADEGAN DALAM CERITA INI!!! KHUSUS 18+ !!! MOHON MEMPERHATIKAN USIA LAYAK MEMBACA CERITA INI!!!


"Ada apa sih Liam?? Apa yang kau ketahui??"


"Kau pasti masih mengantung status Erik kan??"


Sean terdiam, pikirannya semakin bingung akibat ucapan William.


"Entah lah, aku merasa Erik tidak mungkin bisa menerima kenyataan kau sudah mencintai Linny. Lebih baik kau coba bicarakan dengan baik-baik kepada Erik atau cari cara agar Erik bisa mendapatkan pasangan lain"  Ucap William memberi saran.


Sean tampak berpikir keras. Ucapan William tidak ada salahnya.


"Maaf aku ikut campur dengan urusan pribadi mu. Tapi jujur aku tidak ingin kau semakin dalam dengan hubungan yang tidak baik itu. Apalagi sekarang kau sudah ada Linny. Bagaimana pun dia pasti takut kau sembarang berhubungan dan membawa masalah kesehatan nantinya"  Ucap William menjelaskan.


Sean menghela nafas panjang teringat permintaan Linny agar dia tidak berhubungan badan lagi dengan teman-teman gay nya. Hanya itu yang di minta Linny. Linny tidak masalah kalau Sean masih berteman dengan para gay.


"Aku mengerti. Terima kasih atas peringatan mu"  Ucap Sean sambil tersenyum.


"Hati-hati lah. Setahu ku, kalau sudah masuk dalam perkumpulan mereka akan sangat sulit keluar baik-baik. Kecuali ada yang membeking mu. Coba lah perlahan memberi pengertian Erik agar dia mau melepasmu sehingga lebih mudah kau bisa terlepas dari club itu"  Ucap William memberi saran.


"Iya, akan aku coba. Terima kasih"  Ucap Sean sambil merangkul William kembali masuk ke dalam bar RB.


.


Paginya Sean dan Linny kembali berangkat bersama ke kantor. Pandangan orang semakin takut pada Sean. Semua berpikir Sean adalah suami dari Linny yang selama ini bersembunyi dan masuk ke kantor untuk mengawasi karyawan lebih dekat.


Sean berharap jika itu benar namun itu sulit, tidak mungkin bisa membuat Linny berubah pemikirannya dengan mudah. Linny sangat lah tegas dan konsisten.


"Kau ingin sarapan apa? Biar nanti aku belikan"  Tanya Sean saat di dalam lift bersama Linny.


"Aku ingin bubur ayam dengan banyak jeroan ya"  Ucap Linny.


"Baiklah yang mulia Ratu. Akan hamba pesankan"  Ucap Sean yang langsung menekan aplikasi di ponselnya untuk memesan makanan secara online.


Lift menunjukkan lantai ruangan Sean.


"Aku duluan, nanti makanan nya aku antar ke ruangan mu ya"  Ucap Sean berpamitan.


Linny hanya berdehem tanda oke karena dia fokus dengan laporan kiriman Andrean di ponselnya.


.


Sean memulai meeting dengan team sales-nya. Tampak seorang Office boy mengantarkan pesanan ke ruangan Sean.


"Maaf Pak, ini pesanan bapak"  Ucap Office boy itu dengan sopan.


"Oh. Makasih ya Pak"  Ucap Sean sambil tersenyum ramah.


"Sama-sama Pak"  Ucap Office boy itu mengundurkan diri.


Sean kembali fokus membicarakan strategi dan iklan yang ingin dia revisi kepada team-nya. Semua mendengarkan dengan seksama saat Sean berbicara.


"Kalian sudah mengerti? Fokus lah untuk hal ini. Kita harus membuat dobrakan yang lebih baik"  Ucap Sean menutup meeting pagi itu.


Sean harus segera mengantarkan sarapan untuk Linny.


Semua anggota sales Sean tampak paham. Sean segera beranjak dari kursi sambil menenteng sarapan untuk Linny.


Tiba di ruangan Linny, baru saja Sean mau mengetuk pintu, kunci pintu sudah berbunyi terbuka.


"Masuk lah"  Ucap Linny saat Sean baru membuka pintunya sedikit.


"Kau tahu aku datang?"  Tanya Sean heran.


Linny menunjuk ke arah layar LED yang besar di dinding sebelah kanan ruangan.


Tampak seluruh tampilan CCTV terpampang di sana.


"Sejak kapan ada itu?"  Tanya Sean heran.


Sebelumnya benda itu memang belum ada.


"Semalam sore, Andrean yang menyuruh orang memasangnya karena agar terekam siapa saja keluar masuk ruangan ku. Jika ada masalah atau kehilangan barang bisa aku ketahui"  Ucap Linny dengan santai.


Sean hanya manggut-manggut mengerti dan menyerahkan sarapan Linny.


"Mau makan sendiri atau di suap?"  Tanya Sean.


"Suapin. Aku harus membalas banyak email dan menandatangani semua berkas ini. Tangan ku terlalu sibuk"  Ucap Linny berpura-pura lelah.


Sean tertawa melihat sikap manja Linny yang hanya muncul saat makan.


"Baiklah. Aku suapi. Kau bisa fokus membaca saja"  Ucap Sean yang dengan telaten menyuapi Linny.


Sena teringat janjinya dengan Erik malam ini untuk pergi ke bar.


"Linny. Aku malam ini akan pulang larut. Apa kau bisa sendiri pergi ke Bar RB?"  Tanya Sean.


Linny menatap Sean dengan heran seolah bertanya ada keperluan apa.


"Aku ada janji dengan Erik. Aku tidak bisa mengingkari hal itu. Erik bisa mengamuk dan melukai diri sendiri jika aku membatalkan janji dengannya"  Jelas Sean.


"Ya sudah. Pergi lah"  Ucap Linny yang paham hal itu. Entah mengapa dia tidak suka mendengar Sean akan  pergi dengan pasangan gay-nya itu.


.


Malam itu Sean menjemput Erik di ruko miliknya. Keduanya menuju Bar Madam Pelangi. Erik tampak sangat senang awalnya, namun dia kembali cemberut karena melihat pakaian Sean yang casual dan berbeda dari biasanya.


"Kenapa lagi?"  Tanya Sean yang menyadari ekspresi Erik yang murung itu.


"Kenapa pakai baju begini. Jelek!"  Ucap Erik manja.


"Sama saja pakaian apa pun. Yang penting aku menepati janjiku kan"  Ucap Sean berusaha tersenyum ramah kepada Erik.


Erik hanya diam hingga mereka tiba di Bar madam pelangi. Bar yang penuh dengan orang-orang sejenis mereka.


Baru saja masuk sudah tampak beberapa orang saling berciuman dengan bebas dengan sejenisnya.


Entah mengapa Sean merasa menggelikan melihat pemandangan itu. Padahal dulu dia tidak peduli dan malah tergoda melihat pemandangan itu.


"Kita masuk ke ruangan exclusive saja ya"  Ajak Sean.


Erik hanya manut-manut mengikuti permintaan Sean.


Ruang exclusive biasanya digunakan oleh pasangan gay yang tidak ingin di ganggu orang luar atau di lihat aktivitas private mereka.


"Kau sudah tidak sabar? Minum saja belum"  Ucap Erik yang manja menempelkan dirinya pada Sean.


"Tidak. Aku ingin santai  saja. Di luar terlalu ramai"  Ucap Sean berusaha menjauhkan tangan Erik darinya.


"Oh begitu. Ya sudah. Kau tidak perlu takut aku peluk sayang. Ini tempat yang aman untuk kita kok"  Ucap Erik seperti mengingatkan Sean akan tempat itu yang tidak mungkin orang lain membocorkan tentang tamu di situ.


Sean hanya tersenyum langsung menarik tangan Erik memasuki ruangan yang sudah dipesannya.


Keduanya duduk menikmati minum sambil mendengarkan Erik yang bernyanyi.


Terlihat dua orang pria tampan ikut masuk ke dalam ruangan itu.


Mereka mengenali Sean dan Erik yang sudah menjadi tamu VIP di sana.


"Hai Sean, Hai Erik. Lama tidak bertemu"  Ucap salah satu pria itu.


Kedua pria itu juga merupakan Gay TOP (berperan sebagai pria untuk pasangannya).


"Iya, lagi sibuk aja belakangan. Apa kabar bro?"  Sapa Sean berbasa-basi.


Erik di peluk oleh pria yang satunya lagi dari belakang. Tampak pria itu tidak sabar langsung menciumi Erik.


Sean mengabaikan hal itu karena Erik juga tampak menikmati nya.


Terlebih juga Sean sejak dulu membebaskan Erik jika memang ingin mencoba bermain dengan pria lain mengingat dirinya sering melakukan One Night Stand (ONS) juga tanpa sepengetahuan Erik. Dan saat ini Sean juga sudah tidak berminat dengan sesama jenisnya.


"Aku ingin memakan mu"  Ucap pria itu berbisik di telinga Erik.


"Jangan, ada pacar ku di sini"  Ucap Erik mencoba menolak tanpa usaha alias malu-malu mau.


"Tidak apa-apa. Sean tampak enjoy saja tuh"  Ucap Pria itu yang langsung menyentuh milik Erik yang masih terbalut pakaian lengkap.


Erik langsung tergoda. Tak butuh waktu lama bagi pria itu melepaskan pakaian Erik seluruhnya sedangkan dirinya hanya melepaskan celananya.


Tampak milik pria itu yang besar dan sudah berdiri sempurna membuat Erik menelan salivanya.


Tak lama Erik memekik merasakan lubang belakangnya dimasuki milik pria itu.


"Arghhh.. Aduh, pelan-pelan punya mu besar sekali"  Ucap Erik menahan sakit saat di masuki tiba-tiba.


"Tahan, kau akan merasa enak setelah ini"  Ucap pria itu yang kemudian menggerakkan kasar tubuh Erik hingga benar saja Erik semakin liar dan mencapai langit ke tujuh.


Tampak pria itu masih belum puas dan melakukannya lagi hingga Erik lemas.


Namun tidak sampai di situ saja, pria yang satunya lagi yang berbincang dengan Sean kini turut menyentuh dan menikmati tubuh Erik.


Sean hanya diam dan membuang pandangan dari pergumulan antar pedang itu. Sean hanya terus menatap ponselnya.


Namun pria yang pertama kali tadi menyentuh Erik tampak mencoba menggoda Sean.


"Kau ingin coba milik mu di masuki?"  Tanya pria itu sambil mengelus miliknya di hadapan Sean.


"Sorry, aku bukan bottom"  Ucap Sean menolak.


"Ayolah, kau akan merasakan nikmatnya di masuki dari belakang. Kau lihat pacar mu sampai lemas keenakan tuh"  Ucap pria itu tertawa. Tangan pria itu mencoba mengelus milik Sean.


"MINGGIR!!!"  Bentak Sean dengan kasar.


Pria itu terkejut, begitu juga dengan Erik. Belum pernah Sean membentak pria yang mencoba menyentuhnya selama ini.


"Jangan lancang menyentuhku!"  Ucap Sean dengan tegas.


.


.


.