
Semua manager pemasaran yang bertanggung jawab di setiap lini bisnis yang di jalankan oleh perusahaan Linny tampak berkumpul, tak terkecuali Sean.
Semua manager itu lalu menyerahkan laporan penjualan ter-update kepada Linny.
Linny menatap satu persatu wajah manager di sana, dengan tatapan yang datar dan dingin lalu menghela nafas berat.
" Aku tidak mengerti bagaimana bisa produk yang sudah bagus di pasaran bukan-nya meningkat, malah anjlok penjualannya. Jangankan mempertahankan kestabilan penjualan, ini merosot, 10%. Apa yang salah? " Tanya Linny santai namun dari nada bicaranya tampak dirinya sedang menahan marah.
" Jika di antara kalian ada yang tidak sanggup, silakan mundur. Jangan memberi alasan dan berkoar-koar bahwa perusahaan hanya meminta angka penjualan. Bagaimana tidak, 3 bulan merosot di banding sebelumnya yang sudah bagus. Padahal produk juga sudah lama eksis. Bukankah ini menjadi pertanyaan besar?? Dan yang aku heran bisa ada yang berkata tidak menguasai produknya"
" Kalian di sini, masuk melalui test, dan di awal test kalian dengan berbangga hati mengatakan sanggup. Jadi di mana kesanggupan itu sekarang? Atau aku yang terlalu bodoh karena percaya mendengar bualan kalian Permintaan gaji serta fasilitas yang kalian minta juga sudah di penuhi oleh perusahaan. So? Kewajiban kalian dan tanggung jawab pekerjaan kalian bagaimana?" Tanya Linny dengan tegas.
" Aku sanggup membayar gaji berapa pun yang kalian minta, fasilitas juga akan tersedia. Tapi aku juga butuh feedback yang bagus. Sepertinya perusahaan juga tidak kaku terhadap kalian, kalian di bebaskan kapan jam bergerak ke mana pun, dan aku hanya butuh angka. Tapi kalau seperti ini, mungkin aku akan ubah peraturan menjadi ketat hingga kalian tidak bisa bernafas. Apa itu mau kalian?" Tanya Linny tegas.
Semua Manager yang bermasalah dalam penjualan tampak menggelengkan kepala ketakutan. Selama ini mereka hanya di tegur Andrean saja sudah membuat mereka terkejut. Dan kini CEO malah langsung turun tangan dalam masalah penjualan.
" 1 bulan. Waktu kalian memperbaiki kinerja kalian. Aku butuh hasil yang lebih baik daripada yang aku lihat saat ini. Dan aku tidak mau mendengarkan alasan lagi. Kalian berada di posisi manager, sudah seharusnya kalian memantaskan diri untuk posisi itu,.", ucap Linny sambil menghela nafas.
" Silahkan keluar " Ucap Linny menyuruh semua Manager itu keluar dari ruangannya.
Semua manager tampak berjalan menuju pintu keluar.
" Pak Sean" Panggil Linny yang membuat Sean terkejut.
" Ya, Nona Linny " Ucap Sean tergagap.
Beberapa manager terkejut. Nama Linny adalah Kimberlyn dan biasa dipanggil CEO Kim. Namun Sean memanggilnya Linny.
" Tunggu di sini. Aku ingin bicara. Yang lain kembali ke tempat masing-masing. Kau juga Andrean, urus manager-manager mu" Ucap Linny memerintahkan pada yang lain.
" Baik Nona" Ucap Andrean lalu menyuruh semua manager berkumpul di ruangan meeting dan melanjutkan pembahasan terkait masalah penjualan yang buruk itu.
Se peninggalan semua orang, hanya Linny dan Sean yang berada di ruangan itu. Linny menekan tombol di dekat meja-nya untuk mengunci pintu sehingga orang yang akan masuk wajib mengetuk pintu dan meminta ijin terlebih dahulu.
" Kenapa Sean? Sejak tadi di ruangan meeting kau memandangku seperti itu" Ucap Linny heran.
" Ya? Ah. Bukan gitu Nona Linny" Ucap Sean kebingungan
" Semua orang kantor tau-nya nama ku CEO Kim. Begitu juga investor di luar. Kau gegabah sekali, tidak lihat ekspresi yang lainnya syok mendengar kau memanggil ku dengan panggilan berbeda? " Tanya Linny sambil tersenyum smirk.
" Maaf. Aku tidak tahu " Ucap Sean sambil mengusap tekuknya.
" Duduklah. Leher ku sakit kalau berbicara sambil melihat kau berdiri " Ucap Linny dengan santai.
" Ah tapi... " Sean merasa tidak enak takut ada yang melihat kedekatannya dengan Linny.
" Kaca ku tidak bisa di lihat dari luar, dan juga aku sudah mengunci pintu nya. Santai saja " Ucap Linny lalu berjalan mendekati Sean.
" Siapa yang akan membuatku dalam masalah? Aku ada CEO juga pemilik perusahaan ini. Tidak ada yang bisa mengganggu ku. Apa kau lupa sekuat apa seorang Linny? " Tanya Linny sambil menaikkan satu alisnya.
Sean tersenyum melihat Linny yang masih sangat ramah dengannya
" Jika berdua tolong bersikap biasa. Jangan terlalu formal dan kaku. Kecuali ada karyawan atau kolega ku. Ranjang ku saja bisa kau panjat selama ini. Jadi jangan terlalu kaku, tidak cocok untuk mu " Ucap Linny dengan santai seolah tidak peduli jika ada yang mendengar.
Justru Sean yang gelagapan takut ada yang mendengar perkataan Linny itu dan tahu jika dirinya dan Linny memiliki hubungan khusus.
Apalagi dia masuk tanpa test saja sudah membuat orang heran karena berdasarkan keterangan dari HRD dan User yang meng-interview Sean bahwa CEO lah secara langsung yang memberi perintah khusus agar memasukkan Sean sebagai manager di perusahaan itu tanpa test apa pun lagi. Beruntung Sean memiliki kinerjanya sangat bagus dan terus meningkat membuat orang-orang tidak berani berkomentar negative tentang caranya bisa bergabung di perusahaan tanpa test secara normal.
Padahal semua orang juga karyawan di sana tahu jika untuk bergabung di perusahaan milik Linny memiliki tahapan seleksi yang cukup ketat. Hanya orang yang memiliki kriteria tertentu dan di anggap pantas baru dapat bergabung di perusahaan.
" Sepertinya Aku benar-benar tidak cocok duduk di kursi itu. Aku lebih suka di belakang meja bar " Ujar Linny dengan santai.
Sean tersenyum dan duduk di sebelah Linny.
" Tapi bagiku, mau di meja CEO ataupun meja bar, kau tetap yang terbaik. Aku salut dengan mu " Ucap Sean jujur.
" Benar kah? " Tanya Linny dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
" Iya. Aku harus kembali ke ruangan ku. Ada yang harus aku kerjakan" Ucap Sean ijin pamit karena memang ada yang harus dia urus mengenai promo produk.
" Baiklah. Ah, jika bertemu Andrean tolong suruh ke ruangan ku. Ada yang harus aku sampaikan penting " Pesan Linny.
" Baik, Nona Kim" Ucap Sean sambil tersenyum.
Sean harus membiasakan diri memanggil Linny dengan sebutan itu selama di kantor.
" Ya ya ya. Kerja dengan baik ya. Jika tidak kau akan ku pecat langsung! " Ucap Linny bercanda.
" Dan aku akan melamar sebagai waiters di bar RB" Jawab Sean membalas candaan Linny.
Kedua nya tertawa sebentar lalu Sean segera keluar dari ruangan itu.
Linny menatap ke arah meja CEO miliknya dengan pandangan yang sulit di pahami.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-