
Jun memberi kode pada Sean agar berlindung di belakangnya.
"Turun kan pistol mu!" Terdengar suara keras dari seseorang di belakang Jun yang membuat Jun menodongkan pistol ke arah suara itu.
"Eh???"
"Om Donald" Ucap Sean terkejut melihat kehadiran Om Donald di sana.
"Maaf anggotaku sudah membuat kau terkejut Sean" Ucap Om Donald.
Ternyata mobil yang mengikuti Sean adalah mobil dari suruhan Om Donald.
"Ada apa Om? Kenapa tiba-tiba menyuruh orang-orang itu mengikutiku?" Tanya Sean heran.
"Bisa kita bicara di dalam saja? Ini penting" Ucap Om Donald terdengar serius meskipun tersenyum pada Sean.
Sean membalas senyuman itu dan langsung mengajak Om Donald dan anggota-anggotanya ikut masuk ke penthouse milik Linny.
Sean menyajikan whiskey untuk Om Donald sebelum mulai berbicara.
"Ada apa Om? Sepertinya ada sesuatu yang serius" Tanya Sean penasaran.
"Ya. Ini berhubungan dengan mu dan komunitas mu" Ucap Om Donald sambil menegak whiskey di gelasnya itu.
Sean menatap dengan pandangan terheran dan penuh tanya pada Om Donald.
"Maksudku kejadian yang terjadi pada Papa mu" Ucap Om Donald meneruskan perkataannya.
Netra Sean membola terkejut. Kejadian kecelakaan Papanya ada hubungannya dengan komunitas pelangi di Bar Madam Pelangi. Itu artinya Erik dan Madam Rain terlibat dalam kecelakaan Mahaprana.
Sean merasa sangat kesal dan marah. Erik benar-benar sudah berani menyentuh keluarganya. Sean tidak habis pikir, kenapa tidak ada habisnya masalah dengan orang-orang itu.
"Apa saja yang Om ketahui. Bisa Om jelaskan?" Tanya Sean menahan emosinya.
"Mereka mengirimkan salah satu foto telanjang mu dengan Erik dan memancing Papa mu untuk menemui mereka. Setelah itu mereka sengaja menabrak Papa mu untuk membuat mu di benci keluarga mu, di jauhi kerabat mu sendiri, dan takut karena mereka sewaktu-waktu akan melukai keluarga mu lagi. Teknik biasa yang di lakukan para mafia jika tidak mengizinkan anggota mereka keluar dari perkumpulan. Dan bisa aku tebak semua itu ide dari Rain" Ucap Om Donald menjelaskan.
Sean menghela nafas berat. Begitu sulit baginya untuk lepas dari orang-orang penggila sesama jenis itu.
"Apa yang harus aku lakukan Om? Aku benar-benar bingung sekarang. Sulit sekali lepas dari jeratan mereka" Ucap Sean merasa gelisah. Terlebih berarti saat ini Mahaprana -sang Papa yang keras itu sudah tahu rahasia Sean.
"Kau harus tetap kuat dan teruslah di samping Linny. Selebihnya Om akan bantu. Penjagaan kalian akan Om perketat terutama untukmu. Jika mereka berani maju selangkah saja, akan Om ratakan mereka dengan tanah" Ucap Om Donald terdengar mengerikan.
Madam Rain belum tahu jika Om Donald si mafia pembunuh yang paling sadis bahkan mampu membuat mafia Eropa kocar-kacir jika bertemu dengannya itu kini merupakan orang yang sangat mendukung Sean.
Om Donald bisa melihat kebaikan Sean dan yakin Sean benar-benar tulus pada Linny terlepas dari kesalahan yang pernah Sean lakukan. Dia bahkan menganggap Sean seperti anaknya sendiri kini. Tentu siapa pun yang berani mengganggu Sean akan berurusan dengannya.
"Lebih waspada. Jangan ke mana pun sendirian. Dan kau Jun, harus lebih waspada dan tambah saja jumlah pistol mu. Letakkan juga beberapa di mobil" Ucap Om Donald memerintah pada Jun agar mengawasi Sean dengan baik.
"Baik Tuan Donald. Saya mengerti" Ucap Jun yang paham dengan perkataan Om Donald.
Om Donald lalu melihat ke arah empat orang anggota terbaik yang dia pilih khusus untuk melindungi Sean.
"Kalian, camkan ini baik-baik. Jika sampai Sean terluka sedikit saja. Kalian harus membayarnya dengan nyawa kalian. Paham?" Tanya Om Donald terdengar mengerikan.
Sean merasa dirinya kini malah lebih mirip anak ketua mafia. Di lindungi bukan hanya oleh Jun. Kini empat pria itu melindunginya dari dekat dan berkamuflase agar tidak di curigai pihak Madam Rain. Juga agar tidak terlalu mencolok bagi orang-orang kantornya.
"Bertahanlah. Om bisa dengan mudah meratakan hidup Rain. Tapi Linny tidak mengizinkannya. Dia bilang ini urusannya dengan Rain dan manusia-manusia itu. Dia ingin menghancurkan mereka dengan tangannya sendiri" Ucap Om Donald menjelaskan.
Sean terkejut. Linny sudah tau hal ini ternyata.
"Linny sudah tau?" Tanya Sean heran.
"Dia mendengar tentang kejadian kecelakaan Papa mu. Dan langsung memerintah memeriksa dengan segera. Dia sudah memperkirakan hal ini bisa terjadi tapi dia tidak menyangka mereka menyerang fisik orang tua mu. Dia malah mengira mereka akan menyerang dirimu secara langsung" Ucap Om Donald.
Sean paham, Linny memang selalu mempertimbangkan segala situasi dan berusaha menjaga sekelilingnya dengan baik.
"Terima kasih Om. Aku tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Om dan Linny. Aku pasti sudah hancur atau bunuh diri untuk bisa lepas dari mereka" Ucap Sean jujur.
Dia tidak mungkin sekuat itu jika tanpa Linny juga bantuan Om Donald. Serta juga sekeliling orang-orang dekat Linny yang tampak sangat membantu Sean dan tidak pernah merendahkan Sean yang mantan Gay itu.
"Jangan berpikiran begitu. Ya sudah Om pamit dulu. Titip salam untuk Linny. Nanti akan ada sekitar 20 orang di luar 4 orang ini yang akan mengawasi. 4 orang ini khusus akan menjaga kau dari dekat. Selebihnya akan menyebar di sekeliling tempat kau lewati termasuk gedung ini" Jelas Om Donald.
"Terima kasih Om" Hanya itu yang bisa di ucapkan Sean.
Dia tidak tahu lagi apa yang bisa dia ucapkan selain berterima kasih atas segala kebaikan yang dia terima dari Om Donald.
Om Donald hanya tersenyum lalu pergi dari penthouse Linny. Tanpa Sean ketahui, Om Donald sedang bergerak sesuai keinginan Linny untuk mencari tau sejauh mana rencana Madam Rain juga di mana master video dan foto Sean di sembunyikan.
Sean baru tersadar sejak dia tiba di penthouse, Linny tidak ada di sana.
"Linny. Astaga. Aku lupa" Ucap Sean yang langsung mencari Linny di segala sudut Penthouse.
"Linny!!!" Teriak Sean merasa cemas.
Dimana wanitanya itu yang masih terluka dan dalam pemulihan.
"Tuan" Alfa tampak mendekati Sean.
Mata Sean membola terkejut melihat Alfa sendiri. Sean melihat baju Alfa penuh bekas cipratan darah.
Darah??? Darah siapa??? Sean semakin panik.
"Linny di mana? Apa yang terjadi?" Tanya Sean khawatir sesuatu terjadi pada Linny seperti apa yang di alami Papanya.
Bukan dia meragukan kemampuan Linny melindungi diri, tapi Sean tau Linny masih terluka dan kemungkinan dia di lukai lagi akan lebih besar.
"Tuan, Nona ada di Rooftop" Ucap Alfa yang tahu kekhawatiran Sean.
"Rooftop? Ada apa?" Tanya Sean heran.
.
.
.