
Pagi ini Sean tidak berangkat ke kantor, dia mengabari pihak kantor bahwa dirinya tidak bisa masuk karena kurang sehat.
Kantor langsung memberi ijin Sean karena pria itu belum pernah mengambil cutinya selama bekerja di sana, tidak pernah bermasalah, selalu tepat waktu, dan kinerjanya benar-benar memuaskan di luar ekspektasi.
" Argh,.. " Erang Sean yang merasa tubuhnya sakit.
Dirinya segera masuk ke dalam kamar mandi dan berendam air hangat untuk merelakskan tubuhnya.
Ponsel Sean berdering. Panggilan masuk dari Eni.
Sean mengabaikannya. Dia tidak ingin membahas masalah semalam lagi.
Ting...
Terdengar bunyi pesan chat yang masuk di ponsel Sean.
'Kak Sean, ini Prilly. Maaf mengganggu. Di save nomor Prilly ya' -isi pesan itu-
Sean sungguh geram, dirinya langsung memblokir nomor Prilly tanpa berpikir lagi.
" Sial! Enggak bisa kasih orang tenang saja! " Ucap Sean kesal.
Sehabis ritual berendamnya, Sean hanya memakai boxer miliknya.
Terlihat panggilan masuk dari Erik--Kekasih Sean.
*" Hei yank. Aku kangen" * Suara Erik terdengar di telepon.
" Kapan kembali? " Tanya Sean tanpa basa basi, dirinya merasa saat ini membutuhkan Erik untuk meluapkan emosinya.
" Di sini masih ada acara, ternyata keluarga Mama ada yang menikah
*Sayang. Sabar ya" * Ucap Erik yang terdengar ceria.
" Apa aku harusnya menikah juga? " Tanya Sean dengan suara lelah.
" Apa maksud mu? Bagaimana Kau bisa menikah kalau Kau sendiri hanya bernafsu dengan Ku! Jangan bercanda! " Ucap Erik terdengar kesal. Maklum pria itu baru berusia 27 tahun. Masih labil.
" Entah-lah. Keluarga Ku terus mendesak Ku bahkan menjodohkan Ku" Ucap Sean memijat kepalanya.
" Jadi Kau mau? Kau mau meninggalkan Ku?? " Tanya Erik yang terdengar hampir menangis.
" Jangan menangis. Aku hanya bercerita. Ya sudah enjoy sana. Cepat pulang. Aku kangen" Ucap Sean lalu memutuskan panggilan telepon itu.
Dia merasa semakin sakit kepala. Dia berpikir Erik bisa memahami dirinya yang butuh dukungan. Namun apa daya, pria muda itu malah tampak mengambek dan tidak senang.
" Linny..... " Ucap Sean tanpa sadar. Baru kali ini dia merasa nyaman berbicara dengan seorang wanita. Bahkan wanita itu baru dikenalnya semalam.
" Apa aku harus ke bar itu lagi? " Tanya Sean pada dirinya sendiri.
Sean menggelengkan kepala berusaha menetralisir pikirannya.
Mana mungkin dia menyukai Linny, kebetulan wanita itu memang enak di ajak berbicara.
Sorenya Sean berencana untuk lari sore di sebuah taman umum. Dirinya berlari sambil memasang air pod di telinganya.
Beberapa wanita yang juga sedang berada di taman tampak mengagumi Sean.
Sean hanya cuek meneruskan olahraganya.
Tampak di sudut matanya dua orang wanita sedang membagikan makanan kotak kepada tunawisma dan anak-anak pengamen.
" Hei antri"
Terdengar suara salah satu di antar wanita itu.
" Tenang, aku bawa banyak hari ini. Jangan rebutan. Mengerti?!" Ucap wanita yang satunya lagi.
Sean mengenali suara itu. Dan mendekati kedua wanita yang sedang sibuk membagikan makanan kotak.
" Linny?? " Panggil Sean memastikan wanita yang sedang membagikan makanan itu.
Linny tampak memakai kaos yang oversize dengan celana pendek dan sepatu kets.
" Sean? " Ucap Linny yang juga terkejut melihat Sean ada di taman itu.
" Boleh Aku bantu?" Tanya Sean menawarkan diri.
" Silahkan" Ucap Linny sambil tersenyum, terlihat lesung pipinya yang hanya sebelah itu.
Deg!
Jantung Sean berdegup.
'Ffucck! Dia cewek. Mana mungkin bisa Aku tergoda! Sepertinya aku memang kurang sehat! ' Ucap Sean pada dirinya sendiri.
Sean membantu Linny dan temannya untuk membagikan semua makanan kotak hingga habis.
" Sama-sama. Thanks juga semalam sudah mau jadi pendengar yang baik tanpa nge-judge aku", ucap Sean mengingat pembicaraan semalam.
Linny benar-benar hanya mendengar dan bertanya seperlunya agar lebih paham.
Tidak ada kalimat dan perkataan atau pun tindakan Linny yang men-judge Sean.
"Itu temen mu kemana? " Tanya Sean.
" Oh udah duluan balik" Jawab Linny santai.
Sisilia memang lebih dulu kembali, dirinya menggunakan masker hingga Sean tidak menyadari itu adalah Sisilia.
Beberapa kali mereka pernah bertemu saat berada di bengkel milik Aston.
" Oh gitu. Aku duluan ya kalau gitu" Ucap Sean pamit.
" Ya udah duluan aja" Ucap Linny dengan santai.
" Mobil mu mana? Biar Aku temani Kau ke mobil duluan", tanya Sean yang memang semalam berada di bar RB hingga waktu tutup, sehingga dia tau Linny membawa mobil sendiri.
" Oh, aku nanti naik ojek aja. Tadi nebeng temen soalnya ke sini" Ucap Linny santai.
Linny tampak asyik mengutak-atik ponselnya.
" Aku antar aja" Ucap Sean singkat.
" Okey" Jawab Linny.
Keduanya menuju ke apartemen Linny. Apartemen sederhana bahkan jika dilihat sekilas membuat orang seram dari tampilan luar. Seperti apartemen yang dihuni para narapidana yang kabur dari tahanan.
" Kenapa liat in segitu-nya? " Tanya Linny melihat ekspresi Sean.
" Serius kau tinggal di sini? " Tanya Sean heran. Wanita lajang ini berani sekali tinggal di lingkungan seperti itu.
" Ya. Mau singgah? Aku buatkan minuman untuk mu. Sepertinya hang over mu belum hilang", ucap Linny menawarkan Sean masuk ke apartemen-nya.
Sean ikut masuk ke dalam apartemen Linny yang terletak di lantai 2 bangunan itu.
Di dalam tampak tertata rapi dan minimalis. Jauh dari kesan girly seorang wanita.
" Duduk dulu, Aku ganti baju bentar " Ucap Linny lalu masuk ke kamar berganti pakaian tank top dan celana kain yang pendek.
Melihat Linny yang berpakaian seperti itu membuat Sean terkejut.
" Apa Kau biasa berpakaian begini jika ada tamu pria? " Tanya Sean.
" Aku hampir tidak pernah mengajak orang ke sini" Ucap Linny jujur.
" Hah? "
Sean terkejut. Jadi kenapa dia boleh masuk ke apartemennya Linny??
" Yang boleh masuk cuman dua sahabat Ku sama adik Ku kalau datang. You know lah, untuk mencegah hal yang buruk terjadi" Ucap Linny jujur.
" Kok Aku boleh? " Tanya Sean heran.
" Kan Kau sendiri yang bilang enggak selera sama wanita. Kan ngaku sendiri gay" Ucap Linny tanpa sensor lagi.
Astaga wanita ini benar-benar unik pikir Sean. Sulit sekali mengabaikan Linny yang berbicara. Meskipun terkesan to the point dan cuek, Linny termasuk teman bicara yang menyenangkan.
" Ada apa? " Tanya Linny heran melihat respons Sean.
" Tidak. Hanya heran aja" Ucap Sean berusaha santai dan meminum air madu lemon dari Linny
Terasa tubuhnya lebih segar setelah meminum air madu lemon itu
" Lain kali habis minum kayak gitu, mending makan yang hangat atau pedas dulu sebelum tidur, efek pas bangun enggak bakal berlebihan hangover nya" Ucap Linny menasihati.
Sean hanya mengangguk. Meskipun dia semalam cukup sadar dan bisa mengendarai mobil kembali ke rumah, tubuhnya tetap kalah dengan jumlah alkohol yang masuk.
" Ya udah aku mau masak. Kau mau makan?" Tanya Linny yang menuju dapur mini di apartemen nya itu.
"Boleh kalau bisa" Ucap Sean sambil menghabiskan minumannya.
Linny tampak berkutat di dapur membuatkan sesuatu untuk makanannya dengan Sean, sebelum dia harus kembali ke bar RB.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-WAKTU-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT TERHADAP SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN.
-Linalim-