A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Rencana



Linny menunggu Sean kembali ke penthouse. Sudah lewat sejam dari janji Sean untuk tiba di rumah. Awalnya Linny cukup khawatir tapi mengingat Jun bersama Sean dan tidak ada laporan aneh dari Jun maka dia lebih tenang.


Selain itu GPS ponsel Sean dan Jun menunjukkan mereka masih di hotel tempat Sean bertemu dengan investor. Linny berpikir mungkin Sean masih berbincang dengan investor.


Hingga pukul 10 malam Sean baru tiba bersama Jun. Linny yang sudah menunggu sejak sore begitu lega melihat Sean sudah kembali.


Namun dari raut wajahnya Sean tampak kacau. Linny menatap Jun dan Jun hanya menggeleng, dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Sean.


"Ayo mandi. Mau aku bantu?"


Tanya Linny melembut. Sean hanya mengangguk lemah. Linny belum mau banyak bertanya. Dia hanya ingin membawa Sean membersihkan diri dan makan sebelum di ajak berbicara.


Linny yakin Sean belum makan malam tentunya.


Di dalam kamar mandi Sean masih diam. Linny yang membantunya membersihkan setiap celah tubuhnya. Pandangan Sean masih kosong dan sendu.


Selesai mandi Linny mengajak Sean untuk makan meskipun hanya sedikit yang berhasil Sean habiskan.


Di dalam kamar Linny memeluk erat Sean seolah menenangkannya meskipun belum tau apa yang terjadi pada Sean.


"Linny. Willy...."


Sean tampak menarik nafas dalam.


Mendengar nama Willy di sebut membuat Linny menerka jika Sean sudah tau apa yang terjadi pada Willy.


"Sean~"


Linny tampak merasa iba pada Sean yang begitu terpuruk.


"Willy jadi korbannya Rain dan Carlie. Gara-gara aku Willy di jebak di dalam dunia hitam itu"


Sean tampak meneteskan airmatanya terus menerus. Linny merasa semakin iba dan turut sedih dengan hal yang terjadi pada Willy.


"Semua karena aku. Kau terluka karena aku. Erik juga. Papa. Dan kini Willy. Semua salahku"


Sean terus menerus menyalahkan dirinya. Liny semakin merasa kebingungan. Inilah yang sangat dia takuti.


Linny sejak awal sangat takut Sean mulai menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi di sekelilingnya.


"Sean. Hey. Dengarkan aku. Please. Listen to me!"


Linny menangkup kedua pipi Sean dan memandangnya dengan serius.


"Listen to Me. Can You?"


Tanya Linny lagi.


Sean tampak mengangguk pasrah.


"Bukan salah mu. Semua adalah garisan takdir yang harus kita perbaiki jika salah alurnya. Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Tapi kita harus cari jalan keluar nya. Percaya padaku. Aku akan menyelamatkan Willy. Okey?"


Ucap Linny sambil menatap Sean dengan penuh kasih. Dia paham rasanya Sean yang terpuruk karena menganggap semua hal terjadi akibat dirinya.


Linny memeluk erat Sean dan membiarkannya menangis hingga tertidur. Ingatkan Linny untuk segera menemui Santo.


Dia sudah harus menyerang sebelum Rain kembali menyerang mereka.


.


.


.


Pagi ini Linny mengajak Santo bertemu empat mata. Linny melarang Sean ke kantor, dia tau Sean masih sangat terpukul dan terpuruk.


Semua pekerjaan Sean sementara di ambil alih oleh Andrean setelah Linny mengabari kondisi Sean pada Andrean.


"Kau mau bertemu Santo hari ini?" Tanya Andrean di telepon.


"Ya. Kita harus membereskan tikus itu sebelum dia makin berulah menyerang" Jelas Linny.


"Baiklah. Aku akan mengurus pekerjaan Sean. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Andrean cemas.


"Kurang baik. Sejak semalam dia masih murung dan tampak menyalahkan diri sendiri" Jelas Linny sambil memijat keningnya.


"Sore nanti akan aku ajak Angel ke sana. Mungkin Angel bisa memberi dia masukan sebagai psikiater" Jelas Andrean.


"Thanks. Aku tutup teleponnya" Ucap Linny lalu mematikan panggilan teleponnya dengan Andrean.


Linny merasa kepalanya sakit. Dia cukup sering merasa pusing belakangan ini.


"Alfa. Ayo kita ke rumah Santo" Ucap Linny yang tampak berpegangan pada meja di sampingnya.


"Tidak. Hanya sedikit pusing. Ayo"


Linny tetap memaksa dirinya untuk melakukan aktivitas. Tidak ada waktu untuknya beristirahat karena sakit.


Setelah memberitahu Jun agar tidak membiarkan Sean keluar selama Linny tidak ada, dan harus terus menemani Sean. Linny langsung menuju ke rumah Santo pagi itu.


Pria itu sudah menunggunya dan mengosongkan waktunya hari itu untuk Linny.


Tiba di rumah Santo, Linny langsung di sambut Santo dan body guard setianya.


"Masuklah"


Santo mempersilahkan Linny masuk ke dalam rumahnya dan mengikutinya ke dalam ruang kerjanya.


Ruang kerja yang bahkan kekasih Santo saja belum pernah masuki karena banyak hal rahasia tentang Santo yang dia simpan di sana.


"Dimana kekasih mu?" Tanya Linny saat duduk di sofa dalam ruang kerja itu.


"Kuliah. Hari ini jadwalnya full ada ujian" Jelas Santo dengan santai.


Santo mengeluarkan wine koleksinya dan dua gelas wine. Dengan telaten dia menuangkan Wine ke dalam gelasnya.


"Maaf mengganggu waktu mu. Kau jadi tidak bisa mengajar hari ini"


Santo tersenyum menanggapi ucapan Linny. Dia tidak merasa keberatan jika Linny membutuhkan bantuannya.


"So. Ada yang bisa saya bantu Ibu CEO Kimberlyn Fransisca Pratama yang terhormat? Kau sampai meminta waktu ku dan mau datang ke sini. Berarti ada hal penting dan rahasia"


Ucap Santo menerka arah pembicaraan yang akan Linny sampaikan.


"Tepat sekali. Kau memang dosen yang jenius" Ucap Linny sambil menegak wine yang di sediakan Santo.


"Dan aku rasa berhubungan dengan si Madam Gay itu bukan?" Tambah Santo.


"Ya. Aku mendapat informasi dia sudah membuka bar baru. Dan adik iparku menjadi koleksi barunya. Dia di jebak di dalam sana. Aku ingin mengeluarkannya dan sekaligus menghancurkan Rain serta komplotannya di negara ini. Bisa kau lakukan?" Tanya Linny dengan wajah serius.


"Menghancurkan bisnisnya mudah. Mengeluarkan orang yang kau mau bukan hal yang sulit. Untuk masalah bukti, maksud mu kau ingin aku meretas CCTV mereka? Tapi aku tidak yakin ada CCTV di ruangan khususnya dengan komplotannya di negara ini" Ucap Santo.


Linny tampak setuju dengan perkataan Santo. Rain dan komplotannya tidak mungkin menempatkan CCTV di tempat khusus mereka. Dia pasti sudah mempertimbangkan masalah yang bisa terjadi jika dia menempatkan CCTV dan rekaman itu bocor.


"Kau punya orang yang tidak dia ketahui? Mungkin orang baru yang setia pada mu. Memang akan sedikit berbahaya dan riskan jika ketahuan. Nyawa taruhannya kalau sudah masuk dan mencoba mengambil bukti dari sana"


Ucap Santo yang membuat Linny tampak berpikir keras. Siapa yang bisa dia tempatkan dalam misi itu.


"Jika ada bawa orang itu padaku. Biarkan aku melatihnya dalam dua hari. Setelahnya akan aku masukkan dia dengan koneksi ku yang lain. Tapi orang itu tentu harus paham resiko nyawa taruhannya"


Tambah Santo sambil menegak wine nya hingga habis.


"Kita tidak bisa terlalu lama bergerak San.."


Ucap Linny sambil menatap dalam mata Santo.


"Percaya pada ku. Hanya dalam 1 minggu tikus itu akan hancur beserta dengan kecoak-kecoak lainnya. Lagi pula di antara mereka ada yang aku incar"


Ucap Santo tersenyum mengerikan. Sepertinya ada orang di antara Rain yang sudah mengusik kehidupan Santo. Pantas saja pria muda ini sangat bersemangat untuk menghancurkan Rain.


Selain bisa membantu Linny, dia juga bisa mencapai apa yang dia inginkan.


"Malam nanti kita bertemu lagi di sini. Bawakan orang itu segera. Ok?"


Tanya Santo pada Linny.


"Ok"


Linny mengangguk dan mulai berpikir siapa yang bisa dan berani menjadi pionnya untuk menyusup ke dalam tempat Rain. Hanya untuk memasang kamera dan mengambil bukti Rain yang berkomplot dengan pejabat pemerintahan.


Karena jika dia hanya menghancurkan tempat itu tetap saja Rain bisa membuka tempat baru. Ataupun jika dia berhasil memenjarakan Rain pasti Rain akan segera lepas. Dan jika dia membunuh Rain mungkin saja komplotan mereka memilik Rain-Rain yang baru dan akan kembali membalas Linny.


Jika harus menghancurkan dan menebas tentu harus sampai akar. Itu yang selalu di ingatkan Om Donald pada Linny selama ini.


Jika memotong dari tengah tanpa mencabut akarnya, di pastikan suatu saat masalah baru akan muncul lagi.


Dan bisnis Rain sudah meresahkan orang-orang di sekeliling Linny. Hingga Willy - Adik Sean menjadi korban orang-orang itu.


.


.


.