A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Penangkapan



...'Seorang pebisnis terkenal yang sudah lama menetap di Los Angels berinisial HAW kini tengah dalam pemeriksaan kepolisian atas tuduhan penjualan senjata ilegal, obat-obatan terlarang dan juga perdagangan anak di bawah umur. Keluarga besar HAW selama ini di sebut sebagai keluarga dermawan nyatanya memiliki rahasia gelap hingga membuat publik marah juga tercengang. Selain itu di ketahui juga Ex-Pejabat Daerah Ibukota XXX berinisial S ikut terlibat. Polisi sedang mendalami keterlibatan pihak lainnya atas kasus ini. Sampai saat ini Istri dari HAW yaitu SN tidak dapat di hubungi begitu juga keluarga besar dari HAW...'...


Hingga beberapa hari topik tentang Hendra Abdi Wijaya masih menjadi pembicaraan hangat di semua tempat.


"Sial!!! Sialan!!!!! Kenapa dia segila itu!!!" Teriak Sisca Natalie sambil membanting semua barang yang bisa dia raih.


Sisca Natalie begitu marah dan kesal karena suami yang sangat dia cintai dan percaya itu bukan hanya berselingkuh. Tapi juga berbisnis haram dan sangat berbahaya. Bahkan anak sambung kesayangannya kini menghilang.


Rendy masih belum di temukan dan itu membuat Sisca Natalie semakin frustrasi. Dia enggan makan ataupun keluar dari rumah.


Setiap hari ponselnya berbunyi entah berapa banyak panggilan masuk dari orang terdekatnya yang ingin memberinya semangat hingga dari orang yang sekedar menelepon untuk menanyai tentang kasus suaminya.


Sisca Natalie sangat membenci itu apalagi ada juga telepon dari nomor tidak di kenali yang juga turut menerornya. Entah bagaimana nomornya bisa tersebar ke mana-mana dan itu sangat mengganggu Sisca Natalie.


Dirinya kembali teringat dengan kejadian saat sang suami meninggal dunia. Dunianya runtuh karena tidak ada seorang  sosok yang mampu menjadi tempatnya  bersandar maupun membiayai kehidupan sosialitanya.


Sejak dulu tanpa Linny dan Nicolas sadari, sang Mama sudah terbiasa hidup dengan kalangan sosialita. Salah satu penyebab kegagalan pabrik adalah Mama nya yang tidak mampu me-manage dengan baik kondisi keuangan pabrik dan lebih banyak di gunakan untuk keperluan pribadi maupun berjalan-jalan dengan teman sosialitanya untuk menghamburkan uang.


"Dimana Rendy. Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia belum kembali"  Ucap Sisca Natalie yang sangat mengkhawatirkan anak sambungnya itu.


Sisca Natalie meringkuk di sudut rumah dan menangis meratapi nasibnya. Juga menangis karena khawatir pada anak sambung kesayangannya itu.


.


Di sisi lain tampak Rendy sedang berlari di hutan antah berantah. Dia menahan luka gores pada kakinya.


Rendy berhasil selamat dari penangkapan polisi. Body guard-nya menyelamatkan Rendy dan membiarkan dirinya menjadi tameng peluru untuk Rendy agar pria itu bisa kabur.


Flashback sekilas ^


"Tuan kita sudah di curigai polisi. Ayo pergi"  Ucap Body guard Rendy yang tiba-tiba masuk ke ruangan pribadinya.


"Kenapa? Bagaimana bisa?"  Tanya Rendy terkejut.


"Ada yang melaporkan kita. Mungkin ada tikus di markas yang sudah berkhianat"  Ucap body guard-nya.


"Sialan! Cari tau siapa orang yang berani mengganggu bisnis ku!"  Ucap Rendy kesal.


"Baik Tuan tapi kita harus kabur dulu. Tuan harus selamat"  Ucap body guard-nya.


Rendy hanya mengangguk dan mengikuti perkataan body guard-nya.


Namun mereka terlambat. Polisi datang meringkus orang-orang di markas.


Rendy dan body guard-nya tidak kehabisan akal. Mereka  masih tau jalan keluar dari belakang.


Body guard yang ada di markas semua berusaha melindungi Rendy. Baku tembak pun terjadi. Kaki Rendy sempat terluka akibat tembakan yang meleset. Meskipun tidak dalam itu cukup sakit dan mengucurkan darah.


"Argh! Sial!!"  Umpat Rendy.


"Ayo Tuan. Biar mereka yang menghadang polisi. Kita pergi dari sini"  Ucap body guard itu sambil membantu Rendy berjalan ke dalam mobil.


Mobil Rendy melaju kencang menembus jalanan. Mereka berusaha kabur sejauh mungkin. Di beberapa titik jalan tampak ada polisi berjaga.


Mereka pun beralih ke jalan alternatif lainnya untuk menghindar dari polisi. Rendy mengambi sepotong kain panjang untuk membalut lukanya itu.


"Tidak. Tenang saja"  Ucap Rendy yang memang masih bisa menahan rasa sakit di kaki nya.


Rendy berinisiatif membuka berita breaking news untuk tau apa yang terjadi. Dia terkejut sang Papa - Hendra Abdi Wijaya telah di tangkap beserta beberapa pejabat dan EX Pejabat yang ikut terlibat dalam bisnis mereka.


"Kita tidak bisa pulang. Papa di tangkap"  Ucap Rendy pada body guard-nya.


"Baik Tuan. Saya akan cari tempat yang lebih aman"  Ucap body guard-nya dengan sigap.


Rendy kembali memutar berita baru yang telah muncul. Nama Rendy sedang dalam pencarian bahkan polisi sudah mencatat nomor polisi kendaraan Rendy. Polisi juga menduga mobil Rendy mengarah ke jalur alternatif dan mereka akan mengejarnya.


"Sial. Mereka sudah menandai mobil kita. Kita harus cari cara lain untuk kabur" Ucap Rendy kesal membanting ponselnya.


Mobil mereka tiba di dekat pinggiran hutan. Sang body guard menghentikan mobil mereka.


"Tuan. Maafkan saya"  Ucap Body guard itu mengeluarkan pistolnya.


Rendy terkejut dia berpikir sang body guard akan menembaknya. Namun Body guard itu malah menyerahkan pistol dan sebuah ponsel baru untuk Rendy.


"Saya sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari. Tenang ponsel ini di daftar asal dengan nama orang lain jadi tidak akan terlacak. Dan bawa pistol ini Tuan untuk berjaga-jaga. Jalan sekitar hutan ini tidak ada CCTV yang merekam. Tuan berlari lah sejauh mungkin. setau saja di ujung sana akan mengarah ke sebuah desa terpencil dan belum banyak terjamah. Tidak akan ada yang mengenali tuan di sana"  Ucap Body guard itu.


"Kita harus pergi bersama"  Ucap Rendy yang sangat terharu memiliki body guard yang begitu setia padanya.


"Tidak. Jika mobil di tinggal di sini lambat laun kita akan terlacak. Saya akan mencari jalan lain dan mengacaukan penyidikan mereka. GPS mobil sudah saya cabut sebelumnya karena saya juga curiga akan di ketahui mereka"  Ucap Body guard-nya yang sangat cekatan itu.


"Hei. Kalau kau tertangkap kau bisa mati"  Ucap Rendy merasa tidak tega kabur sendirian.


"Tidak apa-apa Tuan. saya berterima kasih Tuan sudah menyelamatkan adik saya dulu walaupun ujungnya dia tidak selamat dari sakitnya. Hanya ini yang bisa saya lakukan. Cepat pergi. Biar saya yang mengacau mereka agar tidak bisa mendeteksi lokasi Tuan. Tuan tinggalkan saja ponsel pribadi Tuan. Akan saya buang di titik lain yang jauh"  Ucap body guard itu.


"Kau--"  Rendy kehabisan kata-kata.


"Jika Tuan selamat dan masih bisa menemukan saya meski saya mati. Saya cuman minta tolong pindahkan jasad saja di samping makam adik saya"  Ucap body guard itu.


"Astaga-- Semua ini gara-gara tikus sialan!" Umpat Rendy kesal karena semua kacau entah karena perbuatan siapa yang melapor markas tersembunyi mereka.


"Pergilah Tuan. Sudah tidak ada waktu"  Ucap body guard-nya itu terus mendesak.


"Baiklah. Aku berjanji. Jangan mati tolong. Hanya kau yang tersisa"  Ucap Rendy menatap body guard-nya.


"Akan saya usahakan"  Ucap Body guard itu.


Rendy pun turun dari mobil dan body guard-nya segera melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu entah ke mana. Dan Rendy segera memasuki hutan itu.


Flashback Off^


Rendy begitu kelelahan. Dia melihat sebuah sungai yang sangat bersih dan jernih. Rendy berhenti untuk menegak seteguk air dan membersihkan lukanya dan membalutnya kembali dengan rapi.


"Hah... Hah.. Hah.."  Suara kelelahan Rendy yang sudah berjalan jauh memasuki hutan terdengar.


"Sialan. Siapa yang sudah berani mengacau. Aku bersumpah akan membalasnya 1000 kali lebih kejam!"  Ucap Rendy penuh amarah.


.


.