A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
The END



Gary menemui Joe dan Erik keesokan harinya. Erik menceritakan segala sesuatu tanpa di tutup-tutupi pada Gary agar bisa di sampaikan pada Sean dan Linny.


Gary tampak mengerti dan segera menemui Sean dan Linny. Tentu mendengar hal itu Sean dan Linny lega. Sean tidak sempat mengonsumsi obat gila itu.


"Jadi apa yang harus saya kerjakan Nona Kim?" Tanya Gary menunggu perintah Linny.


"Bagaimana dengan tuntutan untuk Erik dan Joe?" Tanya Linny.


"Joe akan di tuntut 5-10 tahun penjara karena kepemilikan senjata api dan melakukan penembakan. Sedangkan Erik akan di tuntut maksimal 20 tahun penjara karena menembak Rain dan juga memalsukan kematian. Selain itu Erik juga di duga kaki tangan bisnis Rain sebelumnya. Dia di duga turut terlibat dalam komplotan obat-obatan itu"


Gary menjelaskan secara rinci hukuman yang bisa di terima oleh Joe dan Erik.


"Cari celah agar mereka lepas bersyarat. Jika membutuhkan jaminan maka bayar saja berapa pun. Gantinya jebloskan Rain dengan bukti yang sempat Erik dapatkan kalau Rain dalang dari bisnis kotor itu"


Ucap Linny memerintah. Gary tampak paham dengan permintaan Linny. Siapa sangka di waktu yang singkat Erik menemukan data rahasia Rain tentang bisnis gelapnya dan bukti dia terlibat bisnis haram itu.


Sebelumnya Rain sudah lepas bersyarat karena polisi tidak menemukan dia terlibat dan menganggapnya hanya kenalan bisnis para pejabat itu. Kini Rain akan di jerat dan tentu akan mendapat hukuman paling mengerikan.


Sean merangkul Linny dan tersenyum, dia tidak ikut campur akan keputusan Linny itu.


"Tumben tidak protes" Tanya Linny heran.


"Tidak. Aku sudah belajar dari mu. Melihat segala sesuatu dari berbagai aspek dan sudut pandang" Jelas Sean yang tampak belajar dari kesalahan lamanya.


"Bagus. Setidaknya aku tenang karena anakku tidak akan tertekan karena ulah Ayahnya nanti" Ucap Linny dengan sengaja meledek Sean.


"Hmmm. Kau benar. Dia harus sepintar dan sehebat Mamanya. Ya kan sayang" Ucap Sean sambil mengecup perut rata Linny.


"Dasar kau ini. Ah kapan aku boleh pulang?" Tanya Linny.


As Always. Linny benci bau rumah sakit.


"Sabar. Beberapa hari lagi setidaknya sampai luka tembak mengering" Ucap Sean sambil membelai kepala Linny.


Linny pun pasrah. Dia tidak bisa menolak perkataan Sean.


.


.


Tiga hari berlalu. Joe dan Erik berhasil bebas bersyarat. Benar-benar bagus kinerja Garry dan team nya. Erik dan Joe hanya perlu wajib lapor dan tidak melakukan masalah hukum. Karena jika melakukan tindakan melanggar hukum sekali saja maka mereka tidak bisa lagi menghirup udara bebas.


Sedangkan Rain yang sudah siuman kini mendekam di penjara. Pengadilan akan mendakwanya dengan banyaknya tuntutan yang membuatnya harus di hukum seumur hidup di dalam penjara.


Namun hal itu tidak membuat Om Donald puas. Tanpa sepengetahuan Sean dan Linny, Om Donald mengajak Joe dan Erik menjenguk Rain.


"Hai Rain"


Sapa Om Donald sambil tersenyum mengejek.


"Ah kau si Naga hitam. Masih hidup rupanya. Aku dengar kau sudah mati"


Ucap Rain dengan angkuh. Tidak ada rasa bersalah yang tersirat di matanya.


"Sepertinya kau masih belum belajar ya. Mungkin kau akan belajar setelah ini"


Ucap Om Donald memberi kode pada dua petugas penjaga di sana.


Mereka adalah kenalan Om Donald. Kedua petugas itu memegang erat tubuh Rain dan Erik menuangkan cairan ke dalam mulut Rain.


"Cuih!! Apa ini! Kau mau meracuniku? Hah?" Umpat Rain kesal.


"Itu obat yang kau suruh minumkan pada Sean. Aku menyimpannya" Ucap Erik dengan datar.


Rain membelalak terkejut. Dia hendak mengamuk dan menyerang Erik.


Namun tubuhnya di tahan kedua penjaga itu.


"Bangsstt kau! Berani nya kau memberiku obat itu!!!" Umpat Rain mengamuk.


Joe langsung merangkul Erik dan membawanya menjauh dari Rain.


Ucap Om Donald sambil tersenyum puas.


Om Donald kemudian mengajak Erik dan Joe pergi meninggalkan Rain yang terus mengamuk dan mengumpat itu.


"Om. Ini ada satu lagi. Mau di kemanakan?" Tanya Erik.


"Joe, hanguskan" Ucap Om Donald.


Joe paham dengan maksud Om Donald. Dia akan menghancurkan sisa obat itu.


.


.


.


Tiga bulan kemudian~


Kehidupan kini semakin tenang. Joe sudah menjadi penerus sah kelompok Om Donald.


Erik tampak sibuk mengurusi keperluan di rumah Om Donald. Keduanya sudah seperti anak Om Donald.


Erik tidak ada keinginan kembali ke keluarganya lagi. Dia merasa bersama Om Donald lah dia benar merasakan seperti apa itu keluarga.


Hari itu akhir pekan. Semuanya berkumpul di penthouse Linny. Termasuk Erik dan Joe.


Om Donald sedang berada di Hongkong untuk menemui anak kandung dan kekasihnya. Anaknya tampak merindukan Om Donald dan memintanya untuk mengunjunginya di hari ulang tahun.


Om Donald tak kuasa menolak keinginan darah dagingnya. Dia pun memutuskan berada di Hongkong selama sebulan dan menyerahkan urusan di tanah air pada Joe yang sudah sangat dia percayai.


"Hei duduklah. Ini Makbun yang ini kapan brojol?" Tanya Erik dengan gaya gemulai dan manjanya.


"Belum. Aku 2 bulan lagi. Kalau Sisilia masih 4 bulan lagi. kalau Linny jangan di tanya. Dia paling terakhir" Jelas Angel dengan santai.


"Terus Eka sudah fitting baju?" Tanya Erik lagi.


"Sudah kak Erik" Jawab Eka sambil tersenyum.


"Kalian jadi menikah?" Tanya Sean pada Joe.


"Iya. Kalian mau jadi saksi kami? Kami tidak bisa menikah resmi tapi setidaknya bisa secara versi kami dan kalian jadi saksinya" Ucap Joe.


"Baiklah" Aston tampak tidak keberatan.


Lagi pula Joe dan Erik sama-sama saling mencintai dan ingin menikah. Tanpa paksaan salah satu pihak. Mereka hanya bisa mendukung tanpa bisa men-judge mereka.


Mereka tampak berbincang dengan santai hingga Andrean membuka suara.


"Kau tau. Rendy sudah meninggal. Rain juga sudah kurus kering. Ibu mu dan Hendra sekarang di kurung di ruangan khusus karena menunjukkan gejala sakit jiwa"


Ucap Andrean pada Linny. Mendengar  itu Linny hanya bisa menghela nafas berat. Dia tidak bisa membantu apa pun.


"Itu pilihan hidup mereka. Semoga setelah ini mereka bisa membaik dan sadar akan kesalahan mereka sebelum ajal datang" Ucap Linny.


Sedangkan Sean mendapat kabar Mahaprana mengalami Stroke setelah kejadian Willy. Sean terus memberikan tambahan uang untuk perawatan Mahaprana sebagai wujud bakti sebagai anaknya.


Setidaknya itu y ang bisa dia lakukan karena mereka masih orang tua kandung Sean.


Willy sudah bahagia dengan keluarga kecilnya bersama Alice. Mereka sering berbagi kabar. Kini Willy dan Sean menjadi sangat dekat. Keduanya sangat kompak dan saling mendukung.


"Kuenya siap" Seru Dewi membawakan kue chiffon permintaan para ibu-ibu hamil di sana.


Mereka menikmati kue itu bersama sambil tertawa dan bercanda.


-THE END-


.


.