A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Cemburu...



Sudah tiga hari Sean tidak mengunjungi Bar RB. Dirinya masih bingung jika bertemu Linny.


Sean juga tidak mengunjungi Wingtiger Club. Dirinya memilih berdiam diri di dalam apartemen.


Ting tong.....


Bunyi bell apartemen nya terdengar.


Sean bergerak membuka apartemennya.


"Erik?? "  Sean terkejut, Erik -- kekasihnya tiba-tiba sudah berada di depan apartemennya.


Erik langsung masuk dan menutup pintu.


" Kangen"   Ucap Erik memeluk tubuh Sean.


Erik bertubuh lebih kecil dan pendek di banding Sean, dengan wajah yang tampak lebih cantik untuk ukuran laki-laki ditambah gerakannya yang lebih gemulai.


"Aku juga"


Sean membalas pelukan Erik.


Seperti yang bisa dibayangkan. Keduanya melepas rindu yang sudah menumpuk itu.


Erik selalu mampu membuat Pluto kesayangan Sean merasa puas, itu juga yang menjadi alasan Sean mempertahankan hubungan mereka.


Hanya Erik yang mengerti dan mampu membuat Sean terbang ke langit ketujuh.


Selesai melepas rindu keduanya membersihkan badan masing-masing.


Sean menuju ke dapur untuk mengambil air minum.


Entah mengapa dirinya teringat Linny lagi. Bayangan senyuman wanita itu terus menari-nari di dalam pikirannya.


" Apa aku sangat merasa bersalah sampai memikirkan mu terus Linny?"  Gumam Sean sambil menatap gelas mineral kaca berisi.


" Sedang apa sayang?"  Tanya Erik yang tiba-tiba berada di belakang Sean.


" Hanya ambil minum"  Ucap Sean sambil tersenyum.


" Sayang. Aku mau tinggal di sini"   Ucap Erik dengan gaya manjanya.


" Tidak bisa. Bahaya nanti"  Ucap Sean menolak permintaan Erik.


" Kenapa? "  Tanya Erik.


" Jika Kakak-kakak Ku tiba-tiba datang nanti bisa-bisa kita kena sesi pemeriksaan 24 jam"  Ucap Sean yang sangat paham sifat kedua kakak perempuannya yang super kepo.


" Aku ingin tiap hari bisa memeluk mu"  Ucap Erik manja.


" Kita kan bisa jumpa kapan pun. Ah jangan lakukan 'itu' di sini ya. Kita sewa hotel aja ya seperti biasa"  Ucap Sean membujuk Erik.


Beruntung Erik mudah di bujuk dengan cara lembut. Jika tidak sudah di pastikan Sean akan semakin pusing.


Masalah dengan kedua orang tuanya belum selesai, di tambah Linny yang tersinggung, dirinya sudah cukup pusing memikirkan semua itu.


Setelahnya Erik pamit pulang. Mereka berencana menghabiskan weekend besok bersama di hotel.


Ala - ala staycation ya bambang. Staycation sekaligus mencari surga dunia dan planet ya Sean!


Besoknya Sean menjemput Erik di rumahnya. Keduanya sudah memesan sebuah kamar hotel mewah.


Selesai check in, Sean mengajak Erik untuk makan bersama di luar.


Setelahnya mereka kembali ke kamar hotel dan menghabiskan waktu bercengkrama juga melakukan hal 'itu' tentunya.


Sean hampir saja meneriakkan nama Linny saat pelepasannya. Beruntung dia bisa menahan diri. Entah mengapa bayangan wajah Linny terus muncul.


Dan hal yang tergila adalah, dia tidak merasa tergoda saat di sentuh Erik.


Sean sampai harus membayangkan wajah Linny yang menyentuhnya! Gila bukan?!


Sean merasa dia sudah gila. Bagaimana bisa dia memikirkan Linny sedangkan mereka belum pernah melakukan hal yang di luar batasan itu. Sean berpikir dia mungkin terbawa suasana akan masalahnya yang di paksa untuk segera menikahi seorang wanita.


Melihat sikap dan respons Sean yang tampak memikirkan hal lain membuat Erik berinisiatif mengajaknya beraktivitas di luar ruang kamar hotel.


Erik mengajak Sean berenang bersama untuk menikmati fasilitas di hotel dan agar Sean tidak terus termenung serta tidak fokus saat dia ajak bicara.


Meskipun Sean dan Erik merupakan pasangan , yang tentunya tidak akan pernah bisa di sah-kan legalitas hubungannya di negara Konoha ini. Keduanya cukup menjaga jarak jika sudah berada di luar ruangan. Sean paham dengan batasan norma di negara Konoha. Jika sampai para netizen Maha Benar melihat dua orang laki-laki bermesraan bahkan di kolam renang, maka keesokan hari sudah di pastikan akan menjadi berita Headline News seantero jagat raya.


Namun lain hal dengan Erik, dia bersikap cuek dan tidak peduli dengan pandangan orang lain. Entah karena Erik menganut sistem bebas seperti negara tetangga Konoha yang bermusim es itu, atau karena Erik memang sudah sejati menjadi botty sesuai impiannya untuk di cintai kaum sejenisnya.


Sean dan Erik berenang dan sesekali hanya bercengkerama biasa seperti antar teman laki-laki pada umumnya.


Mata Sean tidak sengaja melihat ke arah sudut kolam. Dia melihat wajah yang selalu membayanginya belakangan ini.


*'Linny ' * Batin Sean '


'Apa Aku sudah gila sampai melihat Linny di sini? Sepertinya ada yang tidak beres dengan otakku! '


Sean menepis pikirannya. Erik menatap wajah Sean dengan pandangan penuh keheranan. Seolah dia mengetahui ada suatu hal yang sedang di sembunyikan Sean dan tidak di ceritakan oleh Sean kepadanya.


" Balik kamar yuk! "  Ajak Sean.


Erik hanya diam dan mengikuti Sean kembali ke kamar hotel.


Di lorong menuju kamar, Sean menatap sosok seorang wanita. Tidak salah lagi itu Linny. Dan dia tidak sendirian! Dia bersama seorang Om-Om. What???


Ya Sean sangat yakin itu Om-Om, kenapa?? Karena wajah pria yang bersama Linny tampak seusia Papa Sean. Meskipun dari segi penampilan dan fisik jauh lebih menarik di banding sang Papa. Tapi Sean dapat memastikan pria itu tidak di bawah 45 tahun.


Entah kenapa hati Sean terasa terbakar melihat Linny di rangkul oleh pria lain. Dirinya tidak tahan melihat ada pria yang menyentuh Linny.


Sean tidak habis pikir . Linny yang tidak suka bersentuhan dengan pelanggan di bar tapi kini Linny memilih  menemani Om-Om bersenang-senang di hotel dan menolak tawaran dari Sean yang tentunya lebih baik. Sial!


Kenapa begitu kotor pikiran mu Sean? Bisa saja Liny berada di hotel itu untuk main kartu Uno atau bermain monopoli juga ular tangga bukan? Ya pala elu Thor! Mana mungkin! Yang ada main kuda-kudaan yang tak berkuda itu! Eh???


.


.


Sedangkan di kamar yang di tempati Linny dengan pria yang tampak cukup berumur itu. Terlihat Linny dengan santai menyesap pod miliknya.


" Berhenti merokok"  Ucap pria paruh baya yang bersama Linny.


" Jangan mengatur Ku. Kau bukan siapa-siapa "  Ucap Linny dengan angkuh.


" Hei! Lebih lembut lah! Masa seorang wanita kasar begitu. Lagian apa Kau tidak puas bermain dengan Ku? "  Tanya pria itu sambil terkekeh.


" Benar Aku tidak puas. Satu hal lagi. Jangan berani mendatangi tempat Ku lagi jika Kau ingin dirimu dan keluargamu selamat. Jangan lupa Aku punya rekaman foto tak senonoh mu  dan juga rekaman saat Kau menginap di hotel bersama teman kuliah dari putri tercinta mu"  Ancam Linny lalu bergerak hendak keluar dari kamar hotel itu.


" Hei! Sialan! Kau pikir Kau siapa!! "  Bentak pria itu tidak terima.


Tentu saja dia merasa kesal karena Linny merendahkan staminanya di atas ranjang sedangkan sang Istri sah nya masih selalu memuji keperkasaannya. Belum lagi Linny tahu semua perbuatan bejatnya yang sudah berkencan dan menjebak sahabat baik dari putrinya sendiri untuk di tidurinya dan memuaskan nafsu setannya itu.


" Aku? Aku Kimberlyn! Kau tidak berhak mengatur Ku. Aku yang menentukan permainan ini Pak Tua", ucap Linny tersenyum smirk.


Linny keluar dari kamar hotel itu dan membanting keras pintu kamar hotel itu.


Dengan santai dia berjalan menuju ke lobby. Tampak beberapa pasang mata yang nelangsa melihat kecantikan tubuh Linny seolah sebuah santapan yang menggiurkan.


Linny tidak peduli hal itu. Dia sudah terbiasa dengan tatapan bejat manusia-manusia yang berpura-pura baik dan polos.


Munafik!


.


.


.


Disclaimer :  SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-