A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Teguran Untuk Aston...



" Aku tahu apa yang terjadi antara kau dan Eka"


" Maaf kalau aku ikut campur. Tapi lebih baik kau cari wanita lain untuk di permainkan. Meskipun aku curiga kalau \ kau sudah meniduri Eka"  Ucap Linny yang tepat menusuk jantung Aston.


" Ah Aston enggak mungkin segitu nya kok Linny. Ya kan Ton? Woi! Ton!" Danu mencoba membela Aston meskipun dia juga tahu Aston memang playboy cap kepala ayam.


Aston membeku. Dirinya seperti tertangkap basah berbuat tak senonoh di hadapan Linny.


Sungguh jantung dan nyali jantan nya Aston menciut jika berhadapan dengan Linny.


Mata dan tatapan Linny seolah menusuk dan mencabik-cabik organ dalam tubuh Aston.


" Aku rasa aku sudah tahu apa jawaban mu. Tolong selesaikan sebelum semakin bermasalah. Aku bertanggung jawab terhadap masa depan Eka. Jadi jika ada yang melukainya tentu akan aku habisi"  Ucap Linny dengan santai namun terdengar menusuk di telinga Aston.


" Maaf Linny. Aku kelepasan waktu itu. Tapi aku benar-benar tidak berniat.... "


Perkataan Aston terhenti saat netra nya beradu dengan netra milik Linny yang tajam.


" Mau bilang dia yang menggoda? Baiklah, anggap saja begitu. Akan aku anggap benar jika dia yang menggoda kau terlebih dahulu. Aku sudah paham maksud mu dan akan aku jelaskan pada Eka agar dia tidak menganggumu lagi"  Ucap Linny dengan santai meminum whiskey nya.


Perkataan Linny membuat Aston merasa cemas. Dia memang belum berniat untuk serius dengan Eka namun di satu sisi dia merasa tidak rela harus menjauhi Eka. Gadis itu memang sangat polos dan baik. Karena terlalu baik dia bahkan rela menyerahkan mahkota kehidupannya untuk Aston.


Sean merasa heran dengan sikap santai Linny. Itu tidak seperti Linny biasanya yang akan marah dan mengamuk kepada orang yang menyentuh karyawannya.


William memberi kode kepada Doni dan Danu agar segera membawa Aston pergi dari tempat itu.


" Kalau gitu kita permisi deh Linny. Udah malam. Sampai jumpa lagi ya" Ucap William berpamitan pada Linny.


Doni dan Danu juga berpamitan sambil menarik Aston yang masih tampak merenung.


" Kau masih mau disini atau ikut kita Bro? " Tanya Doni kepada Sean sebelum keluar dari apartemen Linny.


" Aku balik sendiri aja nanti. Kalian duluan lah"  Jawab Sean menanggapi pertanyaannya sahabat-sahabat nya.


Mereka tampak paham Sean pasti ingin berbicara empat mata dengan Linny.


Ke empat pria lajang itu kemudian berlalu dari apartemen Linny.


Tempat itu kini hanya menyisakan Sean dan Linny berdua.


Tatapan Sean yang teduh terus memandangi Linny.


" Kau mau bertanya apa? "  Tanya Linny langsung.


" Tidak. Hanya heran aja"  Ucap Sean singkat.


Linny menaikkan satu alisnya sambil menatap Sean.


" Banyak yang aku tidak tahu tentang mu. Tapi kau tahu semua hal tentangku" Ucap Sean melanjutkan.


" Aku sudah pernah bilang kalau aku lebih suka di kenal sebagai Linny. Lagi pula untuk apa kalian tahu identitas ku. Toh aku juga lebih suka di bar ketimbang datang ke kantor"  Ucap Linny dengan santai.


" Jadi. Aku bisa lolos interview tanpa masalah karena bantuan mu?"  Tanya Sean penasaran.


Linny mengangguk kan kepalanya.


" Terus. Masalah rumor di kantor yang tiba-tiba reda dan orang-orang menjadi semakin hormat dan takut dengan ku juga karena kau? "  Tanya Sean lagi.


" Pak Winsen Darren Mahaprana. Aku tidak pernah mencampur adukkan hubungan pribadi dengan pekerjaan. Pertama, kau bisa lulus itu karena record mu yang memang bagus dan kau memang kompeten, jika kau tidak kompeten sejak awal juga sudah ku tolak. Kedua, masalah rumor itu karena peraturan ku untuk para penghuni perusahaan tidak boleh saling mengucilkan ataupun mengganggu masalah pribadi orang lain. Itu cara ku agar para karyawan ku bisa menjadi pribadi yang profesional serta objektif dalam bekerja, bukan subjektif terhadap kehidupan pribadi orang lain. Mengerti? "  Ucap Linny panjang lebar menjelaskan.


Sean hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.


Pantas saja Linny menjadi CEO yang hebat, pemikirannya dan cara bersikapnya memang berbeda meskipun dia seorang wanita.


Jika dilihat dari masa lalunya mungkin orang-orang tak akan percaya jika Linny pernah mengalami masa yang sangat buruk dan gelap.


Linny malah membalas masa lalu yang kelam dengan menjadi CEO sukses yang selalu di cari orang-orang. Karena banyak orang-orang yang penasaran dengan CEO muda yang dikatakan masih belum berkeluarga itu.


" Aku salut dengan mu " Ucap Sean.


" Kenapa? Karena aku CEO? "  Tanya Linny.


" Iya. Biasanya wanita yang sepertimu akan down dan mungkin, maaf hanya menjajakan diri" Ucap Sean terus terang.


" Itu mereka, bukan aku"  Jawab Linny yang tampak menyombongkan diri.


" Orang-orang yang menyakit ku itu sudah menggunakan uang dan kekuasaan mereka untuk menginjak harga diriku. Tentu aku harus menjadi yang lebih hebat dari  pada mereka agar aku bisa membunuh mereka nantinya "  Jelas Linny yang terdengar dingin dan menusuk.


Kobaran dendam yang tak pernah padam itu. Ingatan yang selalu membekas, membuat Linny bertekad akan menghancurkan keluarga biadab itu dan menginjak-nginjak harga dirinya.


" Linny. Maafkan aku"  Ucap Sean yang masih merasa bersalah.


Linny meletakkan gelas yang ada di tangannya lalu mencium bibir Sean.


" Sekali lagi kau berkata begitu.. Akan aku keluarkan lidah mu dan ku putuskan"  Ancam Linny.


" Baiklah. Dan satu hal. Lagi. Terserah apa yang ingin kau lakukan pada orang tua ku dan wanita gila itu. Aku tidak akan melarang mu"  Ucap Sean kemudian.


" Memang kau pikir aku peduli pendapatmu? "  Tanya Linny cuek.


" Aku yakin kau tidak akan tega kalau aku bilang jangan"  Ucap Sean dengan percaya diri.


" Heh! Kepedean!!! " Ucap Linny lalu membereskan gelas bekas minum mereka.


Sean memeluk Linny dari belakang.


" Jujur aku takut kau menjauh. Sepertinya aku sudah candu dengan dirimu"  Ucap Sean lirih.


" Memang nya aku obat-obatan? Ck! "  Tanya Linny acuh tak acuh.


" Iya. Bagiku kau adalah obat. Baru kali ini aku merasa seperti ini"  Ucap Sean.


" Mesum!! "  Ucap Linny kesal lalu segera masuk ke kamarnya di ikuti Sean.


" Aku memang mesum. Melihat mu saja aku sudah tidak bisa menahan diri"  Ucap Sean yang langsung membawa tubuh Linny untuk direbahkan di atas tempat tidur.


Sean mencium bibir Linny sebelum wanita itu berkata menusuk lagi.


Cumbuan Sean membuat Linny mengerang tertahan.


" Sh*ittt!! Manusia gay ini memang mesum!! " Runtuk Linny menahan erangan.


Sean malah tertawa mendengar perkataan Linny.


" Dan hanya manusia Gay ini yang mampu membuat mu puas sayang"  Ucap Sean lalu kembali mengecup bibir Linny.


Gairah keduanya memuncak hingga si Pluto tak sabar lagi bertemu dengan Venus.


Keduanya melakukan adegan panas itu hingga sejam lamanya. Hingga keduanya mencapai pelepasan berkali-kali barulah mereka berhenti.


" Sialan kau. Badan ku rasanya mau patah hari ini"  Ucap Linny kesal.


" Biar kau tidak bisa ngamar dengan Om-Om mesum lainnya "  Ucap Sean terkekeh.


Dirinya tidak ingin Linny bertemu pria lain untuk melampiaskan hasratnya.


" Suka-suka aku lah! Kau saja bisa main dengan pacar pria mu itu! "  Ucap Linny kesal.


Pada dasarnya Linny tidak ingin terikat atau di atur pria mana pun.


" Kau cemburu? "  Tanya Sean.


" Tidak.. Aku benci di atur, benci di kekang "  Ucap Linny dengan santai.


Linny bergerak bangun dari tempat tidur dan meraih sebotol air putih dan menegaknya.


Kemudian Linny kembali menyesap pod miliknya.


Sean turut bangun lalu menarik tangan Linny mendekati kearahnya.


" Aku ingin serius dengan mu. Berhenti lah bermain-main di luar. Tetap bersama ku saja. Aku akan menikahi mu. Ini bukan tentang kontrak, tapi aku benar-benar ingin kembali menjadi pria yang sempurna Linny"  Ucap Sean menatap Linny dengan serius.


" Tapi sayangnya aku tidak bisa Sean" Jawab Linny tanpa ragu.


" Kenapa? Apa karena aku seorang gay sebelumnya? "  Tanya Sean sambil menutupi rasa sedihnya.


" Aku sudah pernah bilang bukan kalau Aku tidak akan menikah. Dan aku sudah bersumpah tidak akan pernah menikah apalagi jatuh cinta dengan makhluk ber-atas namakan Pria"  Ucap Linny menatap tajam Sean.


" Tidak ada pria yang bisa menjaga hati dan hasratnya. Semua pria itu sama berengseknya. Dan aku tidak mau menghabiskan hidupku dengan mencintai orang yang brengsek"  Ucap Linny jujur.


" Tidak semua seperti itu Linny "  Bantah Sean .


" Semua sama Sean! Dan akan selalu sama! Kau boleh menjadi partner ku di ranjang. Tapi jangan coba-coba mengikatku dengan suatu hubungan. Aku tidak suka itu! "  Tegas Linny lalu beranjak menuju kamar mandi membersihkan diri.


Sean hanya menatap pintu kamar mandi yang di tutup Linny dari dalam. Terdengar bunyi gemeresik air shower.


' Aku akan membuatmu mencabut sumpah mu itu Linny. Kau benar-benar sudah mencuri hatiku ' Batin Sean.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-