A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Kecelakaan...



"Sudah semua di bereskan?"


Tanya Sean memastikan barang-barang bawaan mereka. Linny melihat sekeliling ruangan sebelum melangkah keluar dari tempat itu.


Memastikan tidak ada hal apa pun yang tertinggal lagi.


"Sudah"


Ucap Linny sambil menggandeng tangan Sean. Mereka berjalan bersama keluar dari penginapan dan menuju bandar udara.


Tak butuh waktu lama keduanya sudah masuk ke dalam pesawat pribadi, setelah sebelumnya Linny memberi tips untuk kelompok milik Santo yang sudah membantu mengawal perjalanannya di sana.


Sean dan Linny sudah menyelesaikan liburan 1 minggu mereka di salah satu pulai milik negara gajah putih itu.


Linny tampak lelah dan tertidur dengan bersandar di bahu Sean yang sangat nyaman itu.


"Dia kelelahan" Gumam Sean sambil membelai lembut wajah Linny.


Dia merasa sedih dan bersalah sudah membuat Linny marah kemarin hari. Akibat pertanyaan bodoh dan tidak penting yang dia ucapkan.


Seharusnya dia menyadari jika Linny tidak pernah bermain-main untuk hal se-sakral pernikahan.


Dia bahkan memilih untuk tidak menikah jika pernikahan itu hanya untuk bermain-main dan saling menyakiti.


"Maafkan kebodohan ku sayang" Gumam Sean lagi kemudian mengecup kening Linny yang sudah pulas tertidur.


Perjalanan tidak memakan waktu lama untuk tiba di kota Jakarta.


Begitu mereka mendarat dengan mulus di bandar udara, Linny pun terbangun dari tidurnya. Dia memang kelelahan dan kurang tidur akibat perasaannya yang sangat tidak tenang beberapa hari itu.


Awalnya Linny mengira itu karena dia akan bertengkar dengan Sean. Namun setelah kesalahpahaman itu pun dia masih merasa tidak enak.


Tiba di Jakarta, tiga mobil sudah menunggu rombongan Sean dan Linny.


Mereka segera menaiki mobil menuju penthouse.


Tiba-tiba ponsel Linny berbunyi. Panggilan masuk dari William.


"Ada apa Liam?" Tanya Linny yang langsung mengangkat telepon dari William.


"Erik masuk rumah sakit Bunda Kasih. Dia di tabrak" Ucap William terdengar cemas.


Linny terkejut, dia berpikir apakah perasaan tidak nyamannya itu karena Erik akan mengalami kecelakaan?


"Jun. Ke rumah sakit Bunda Kasih. Sekarang!" Titah Linny dengan tegas.


"Baik Nona" Ucap Jun yang bertugas mengendarai mobil Sean dan Linny itu.


Mobil langsung melaju menuju rumah sakit Bunda Kasih secepat mungkin.


Sean menatap heran pada Linny yang begitu cemas dan terkejut.


"Siapa yang masuk rumah sakit sayang?" Tanya Sean.


Dia masih belum tau apa yang terjadi. Linny masih menyembunyikan kenyataan tentang kondisi Erik.


Tiba di rumah sakit Bunda kasih~


Linny bergegas menuju ke arah ruang operasi. Linny melihat Om Donald, William dan Joe ada di sana.


"Bagaimana kondisi Erik?" Tanya Linny langsung.


"Masih di tangani. Dia terpental cukup keras" Ucap Joe terdengar lirih.


"Dia akan baik-baik saja Joe" Ucap Om Donald menenangkan Joe yang begitu khawatir.


Pakaian Joe penuh bercak darah Erik. Joe memeluk Erik hingga bantuan tiba. Erik dalam kondisi kritis.


Sean mendengar hal itu cukup terkejut. Sejak kapan Erik dan Linny akrab. Bahkan Om Donald juga terlihat mengkhawatirkan si tulang lunak itu.


"Linny"


Sean memanggil Linny. Linny baru tersadar dia membawa Sean ikut bersamanya. Tapi dia belum ada waktu untuk menjelaskan lebih rinci lagi.


"Kau kembali lah dan istirahat dulu. Aku masih ada urusan di sini"


Ucap Linny. Dia tau Sean tidak mungkin mau menunggui Erik. Tatapan kebencian Sean akan nama Erik masih terlihat jelas.


"Tidak. Kau ikut pulang dengan ku"


Ucap Sean dengan tegas.


"Diam dulu Sean. Lebih baik kau pergi dengan Jun dan bawakan aku minuman. Aku haus"


Ucap Linny berusaha menahan emosinya berbicara dengan Sean.


Setelah Sean pergi, Linny langsung membombardir Joe dengan segala pertanyaan.


"Siapa pelakunya? Ini pasti ada kaitan dengan Rain bukan?"


Tanya Linny tanpa jeda. Joe hanya mampu mengangguk mengiyakan perkataan Linny.


"Apa pelaku di tangkap?" Tanya Linny lagi.


"Sudah tapi sama seperti sebelumnya untuk kasus mu dan Sean yang hampir di tabrak waktu itu. Si pengemudi di ketahui mengonsumsi obat-obatan dan dalam keadaan tidak sadar"


Jelas William yang memang langsung datang saat mendengar kecelakaan Erik.


Danu dan Doni juga sedang menuju rumah sakit. Bagaimanapun Danu merupakan saudara jauh Erik. Dia tentu khawatir mengingat Erik yang sudah banyak berubah dan tidak lagi menyakiti Sean dengan obsesi dan cintanya itu.


"Bagaimana bisa terjadi?" Linny menatap Joe mengharapkan jawaban yang bisa dia dengar dari bibir pria itu.


"Karena sudah terlalu lama terus di tempat Om Donald. Erik ingin keluar jalan-jalan sebentar. Karena itu kami mengusulkan pada Om Donald agar kami saja yang berbelanja untuk stok minggu ini. Tapi baru saja mau menyeberang ke pusat belanja karena mobil harus parkir jauh. Ada mobil yang cepat dan menabrak Erik. Kami tidak sempat menghindar" Ucap Joe lirih.


Linny melihat tangan dan dahi Joe mengalami luak lecet juga, Namun pria itu tampak tidak merasakan sakitnya. Lebih sakit baginya melihat kondisi Erik saat ini.


"Pantas saja perasaan ku sejak beberapa hari tidak nyaman. Aku pikir ada yang mau menyerang Sean. Tapi ternyata Erik yang di serang" Ucap Linny tampak kesal.


Dia merasa lalai menjaga orang-orangnya itu. Dia yakin Erik di serang Rain karena tau Erik sudah berkhianat.


"Aku yakin ini juga perbuatan Rain. Akan aku bunuh bajingan itu" Ucap Linny penuh amarah.


"Tenang Linny. Dia masih di luar sana. Kita harus mengiringnya ke sini untuk bisa menghancurkannya. Terlalu berbahaya mengejarnya sampai ke negara orang. Itu di luar daerah kekuasaan Om" Ucap Om Donald yang takut Linny sedang di pancing oleh Rain.


Bisa jadi Rain sudah tau tentang Om Donald yang ada di belakang Linny dan mencoba memancing Linny ke daerah di luar kekuasaan Om Donald itu.


Om Donald hanya menguasai seluruh Asia tenggara dan Australia. Daerah Barat dan Eropa lainnya bukan daerah kekuasaan Om Donald. Dia mungkin memiliki koneksi tapi tak sekuat jika dia mengurus orang di Asia tenggara.


Pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter tampak tergesa-gesa keluar dari ruangan itu.


"Maaf. Keluarga Pak Erik" Ucap Dokter itu.


Linny dan yang lainnya langsung mendekat.


"Ya dokter bagaimana?" Tanya Linny.


"Kondisi pasien sudah kami tangani tapi dia kekurangan banyak darah. Dan stok darah untuk golongan darah nya sedang kosong dan sulit di dapat"


Jelas dokter itu yang juga tampak gelisah mencari stok darah untuk pasiennya.


"Darahnya apa dok?"


Terlihat Danu dan Doni yang baru tiba langsung ikut bertanya pada dokter.


"AB+. Kita butuh setidaknya 2 kantung darah"


Dokter itu menatap Linny dan yang lainnya bergantian.


"Saya AB+, Dok. Ambil darah saya saja" Ucap Doni langsung mengajukan diri.


Dia memang ber-golongan darah AB+. Selain Doni tentu Linny dan Sean juga ber-golongan darah AB+. Golongan darah yang langka dan sulit di temukan karena yang memilikinya sangatlah sedikit di seluruh dunia.


"Aku juga. Ambil darah ku" Ucap Linny.


"TIDAK BOLEH!"


Suara Sean terdengar di belakang Linny. Mata Sean menatap tajam pada Linny.


"Kau tidak boleh memberikan darahmu untuk makhluk itu"


Ucap Sean dengan tegas. Matanya penuh kebencian hingga dia tidak mau menyebut nama Erik.


"Sean"


William mencoba menengahi dan menjelaskan kondisi.


"Lebih baik kau diam Liam! Aku sedang berbicara dengan istriku. Kita pulang!"


Sean langsung menarik tangan Linny dengan kuat meninggalkan rumah sakit itu.


Yang lainnya hanya bisa memandang Sean dan Linny yang pergi dari sana. Mereka paham kemarahan Sean pada Erik tapi tak ada yang menyangka Sean setega itu.


Erik yang sedang dalam kondisi kritis membutuhkan donor darah segera dan darahnya sangat langka.


Joe hanya bisa terdiam dan berdoa agar kekasihnya bisa di selamatkan. Dia berjanji dalam hatinya akan membalas setiap perbuatan Rain.


.


.