A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Lebih Lama...



Sean dan Linny tiba bersama di kantor pagi itu.


Linny berjalan di depan Sean dengan gayanya yang cuek dan tidak memedulikan sekitar.


Banyak tatapan heran dari karyawan yang melihat kebersamaan Sean dan Linny, namun tidak ada yang berani bertanya apalagi menggosipkan mereka. Semua takut mendapat teguran langsung dari CEO.


Sean masuk ke ruangannya sendiri begitu pula dengan Linny yang langsung meeting bersama Andrean dan Sisilia.


Meskipun karyawan tidak berani bergosip, ada pula rekan sesame manager yang penasaran dengan hal itu dan langsung bertanya kepada Sean.


“Pak Sean. Bapak dan CEO kita sepertinya akrab ya?”  Ucap salah satu manager bagian keuangan perusahaan itu pada Sean.


“Biasa saja Bu”  Jawab Sean sekedarnya.


“Masa sih? Saya lihat Bapak akrab sekali sampai bisa datang barengan. Seperti Bu Sisilia dan Pak Andrean”  Ucap-nya semakin kepo.


Sean menatap heran ke arah manager kepo itu.


“Maksudnya?”  Tanya Sean lagi.


“Maksudnya itu Bu Sisilia dan Pak Andrean kan sahabat CEO kita dari kecil. Mereka tangan kanan CEO kita. Apa jangan-jangan Pak Sean orang kepercayaan CEO yang di suruh nyamar jadi manager di sini?”


“Saya masuk di sini benar-benar secara interview Bu. Kalau masalah itu saya kurang paham. Sepertinya banyak juga karyawan di sini yang tidak sengaja mengenali CEO kita di luar”


“Ah, padahal saya kira Pak Sean mata-matanya, ya mana tau mau penilaian gitu dari manager bisa di naikkan jadi CFO atau apa begitu”


Sean menggelengkan kepala heran dengan perkataan manager kepo itu.


Takut semakin di tanya, Sean memilih untuk pergi ke bagian pabrik produksi makanan dan minuman ringan untuk mencari cara agar bisa meningkatkan penjualan.


Di bagian tempat produksi tampak asisten kepala produksi mendekati Sean, namanya Mita.


Sejak awal bertemu dengan Sean, Mita sudah menaruh hati kepada Sean.


“Hai Kak Sean”  Sapa Mita yang bergaya centil kepada Sean.


“Hallo” Sean tidak memedulikan nya.


Meskipun tau maksud hati Mita. Sean memilih menjaga jarak dan tidak banyak berbicara dengan wanita muda itu.


“Kak. Nanti pulang makan malam bareng yuk"  Ajak Mita.


“Maaf enggak bisa”  Ucap Sean menolak halus.


Sean mencoba beberapa sampel baru dari makanan ringan yang akan di jual. Sembari melihat bentuk kemasan baru yang akan di jual di pasaran.


Sean memang senang memahami produk agar bisa mencari cara jitu menjual produk itu sehingga lebih laku di pasaran.


“Kak Sean sudah ada pacar ya? Kenapa selalu menolak ajakan makan dari Mita?”  Tanya wanita itu lagi dengan gencar berusaha mendekati Sean.


“Status ku tidak berpengaruh, karena ada atau tidak pasangan ku tetap aku tidak punya ketertarikan dengan kamu, Mita. Bersikaplah professional. Ini adalah tempat kerja. Jangan sampai kau di pecat karena sibuk mendekati seorang pria, bukan nya focus bekerja”  Ucap Sean dengan dingin.


Hilang sudah kesabaran Sean yang selama ini menolak halus ajakan dan godaan dari Mita.


Wanita itu sulit di beritahu. Selalu saja berulah dan membuat pusing seorang Sean.


Mita tampak cemberut namun tidak menyurutkan niatnya mendekati Sean. Baginya jika sudah tertarik dengan seseorang maka apa pun itu halal di kerjakan.


Sean tampak sudah selesai berkeliling dan memahami contoh serta memfoto produk baru. Dirinya bergegas kembali ke kantor utama untuk mencoba membuat kesimpulan dan review agar bisa di meeting kan bersama dengan team sales-nya.


Hal itu tentu membuat kagum orang-orang kantor karena Sean benar-benar ekstra bekerja. Tak jarang pula ada yang mencibir mengatai Sean hanya mencari muka.


Tapi apa pun itu, Sean ternyata berhasil dengan strategi dan caranya untuk bisa memasarkan produk baru. Itu selalu menjadi booming dan menaikkan penjualan perusahaan.


“Baiklah. Apa ada yang ingin kalian tanyakan?”  Tanya Sean mengakhiri meeting bersama team Sales nya.


Semua anggota tampak mengerti dan tidak banyak bertanya. Sean memang manager yang handal.


Terlihat ponsel Sean berbunyi tanda pesan masuk.


‘ Ke ruangan ku sekarang ’ -isi chat dari Linny-


Sean tersenyum sangat manis, hal itu menarik perhatian para karyawan. Jarang sekali Sean benar-benar tersenyum manis. Selama ini Sean hanya tersenyum sekedarnya saja sebagai bas abasi dan menghormati lawan bicara.


“Kalau begitu saya sudahi meeting hari ini. Silahkan bersiap mulai melakukan promosi produk baru kita agar saat minggu depan launching sudah bisa beredar pesat di pasaran”  Ucap Sean.


Semua anggotanya pamit kembali ke tempat masing-masing.


Sean bergegas menuju ruangan Linny sambal membawa laporan kerja dan rencana penjualan produk baru itu.


Meskipun tidak mengerti maksud Linny memanggilnya untuk apa, namun setidaknya dia ingin melaporkan strategi yang akan di lakukannya. Mana tahu Linny juga bisa memberi masukan untuknya.


Sean mengetuk pintu, terdengar suara kunci pintu terbuka.


Saat masuk Sean melihat Linny sedang merebahkan diri di kursi kebesarannya.


Sean segera menutup pintu yang otomatis terkunci itu.


“Kenapa Linny??”, tanya Sean heran.


“Kepala ku sakit. Bisa kau pijit-kan? Sepertinya kepala ku terbiasa di sentuh oleh mu, sampai-sampai dia hanya menurut dengan tangan Sean si mesum ini”  Ucap Linny meledek.


“Baiklah. Sepertinya aku memiliki dua pekerjaan di sini”  Ucap Sean.


Linny menatap heran kea rah Sean.


“Manager pemasaran sekaligus tukang pijat. Hahhhh… Aku harus meminta kenaikan gaji nih”  Keluh Sean mencandai Linny.


“Kau sudah dapat gaji tambahan yang khusus. Tinggal di apartment ku dengan gratis!”  Ucap Linny tidak mau kalah.


“Hahaha. Aku bercanda. Baiklah sini aku pijit. Mau rebahan di sofa atau tetap mau duduk di kursi mu?”  Tanya Sean.


Linny memilih merebahkan diri di sofa , dia tidur di pangkuan Sean sambil kepalanya di pijit perlahan oleh Sean.


Romantis sekali bukan? Siapa pun yang melihat hal itu pasti akan salah paham dengan hubungan keduanya.


“Bagaimana? Sudah mendingan?”  Tanya Sean.


“Lumayan..”  Jawab Linny dengan santai.


“Sudah makan?”  Tanda Sean lagi.


“Belum”


“Aku pesankan ya.. Mau makan apa?”


“Sepertinya kari jepang enak deh”


“Ya sudah aku pergi belikan dulu”


“Tidak usah. Kau di sini saja. Suruh OB atau anggota lain belikan saja. Aku masih mau rebahan Sean”


“Baiklah. Sebentar aku suruh anggota ku untuk membelikan. Mau kari yang seafood atau isi daging sapi?”


“Terserah. Apa saja ok”


“Baik lah kalau begitu”


Sean segera mengirim pesan kepada anggota-nya untuk membelikan dua porsi kari jepang dan minuman serta di antar ke ruangan CEO mereka.


Selang 30 menit, pintu ruangan di ketuk dari luar.


“Tekan tombol di balik meja itu. Ada tombol pembuka kunci pintu di sana”  Ucap Linny yang masih memejamkan matanya sambil di pijit oleh Sean.


Sean mengikuti kemauan Linny, pintu terbuka. Anggota yang disuruh oleh Sean tampak terkejut melihat posisi CEO mereka yang merebahkan diri di pangkuan Sean. Keduanya tampak sangat dekat dan intim.


“Ah maaf Pak, ini pesanan untuk CEO Kim”  Ucap anggotanya itu merasa tidak enak.


“Taruh di sini saja. Sudah saya transfer ya tadi uangnya” Ucap Sean sambil tersenyum.


“Iya Pak. Saya kembali ke ruangan dulu”  Ucap anggota itu buru-buru, merasa tidak enak berlama-lama memperhatikan manager dan CEO-nya itu.


“Tutup pintunya ya"  Pesan Sean.


Setelah anggotanya pergi Sean merasa malu dan tidak enak.


“Sebentar lagi akan muncul gossip kalau aku dan kau berpacaran” Ucap Sean menggoda Linny.


“Setelah itu akan ku pecat mereka. Ribut sekali kepo dengan kehidupan orang lain”  Jawab Linny tidak peduli.


“Kau ini benar-benar. Hahhhhh , sudah lah ayo makan, sudah siang. Nanti lambung mu kumat Linny"  Ucap Sean yang tahu Linny memiliki riwayat GERD.


“Baiklah. Setelah makan aku ingin memakan mu juga”  Ucap Linny tanpa merasa bersalah.


“Apa katamu??”  Mata  Sean membola terkejut.


“Aku lapar ingin me-ma-kan-mu”  Ucap Linny menggoda.


“Jangan menggoda ku. Kau tau aku paling tidak tahan dengan mu”


“Kau harus tahan, kita harus makan siang dulu bukan?”


“Sepertinya aku harus membiarkan mu memakanku dulu”


Sean langsung menarik Linny dan menciuminya dengan penuh cinta.


“Om mesum mulai ya”


“Kau yang memancing ku”


Sean kembali menciumi Linny, keduanya sangat bergairah. Tidak butuh waktu lama untuk mereka melepas pakaian bawah.


“Aku mau lebih lama”  Bisik Linny menggoda.


Nafsu Sean benar-benar bergelora apalagi semalam mereka hanya melakukannya sebentar.


“Kau ini…..”


.


.