A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Datang Ada Maunya...



Hendra yang marah melajukan mobil dengan kencang. Tak berbeda dengan Sisca Natalie yang menggenggam erat tas bermereknya karena kesal merasa di permalukan sang putri kandungnya sendiri.


"Sialan! Bagaimana bisa dia menjadi CEO"  Ucap Hendra kelepasan.


"Apa maksud mu? Jadi maksud kau putri seorang Sisca Natalie tidak berhak menjadi CEO?"  Tanya Sisca Natalie terdengar marah.


"Diam kau! Kau lupa kau itu bodoh berbisnis dan hanya bisa menghabiskan uang! Siapa sangka anak mau itu bisa sukses!"  Ucap Hendra dengan kasar menghardik Sisca Natalie.


"Sialan! Jangan sesuka hatimu merendahkan orang!"  Ucap Sisca Natalie tak kalah kesalnya.


"Diam Kau! Jangan banyak membantah ku! Atau kau ku tendang dari rumah sekarang juga!"   Ancam Hendra dengan kasar.


Sisca Natalie hanya bisa terdiam. Dia sudah tidak memiliki apa pun karena aset almarhum suaminya dulu sudah di ambil Hendra dan tentu sudah di jual oleh Hendra satu persatu.


"Tau begitu aku tak akan mengusir anak itu. Setidaknya dia akan membantu membiayai masa tua ku"  Ucap Sisca Natalie terdengar menyesal.


Hendra tampak berpikir saat istrinya berkata seperti itu. Senyum menyeringai terlihat. Muncul ide di benaknya.


"Kalau begitu besok kita ke FP Corporation. Kau itu ibu kandungnya, Ibu sahnya tentu kau yang berhak atas semua yang di miliki Linny. Kita harus mengambil semuanya kembali. Kau harus menguasai anak mu itu"  Ucap Hendra dengan senyum jahatnya.


Sisca Natalie hanya diam menerima ide itu. Dia tidak mau hidup kesusahan lagi karena dia bukannya tidak tau kondisi keuangan Hendra yang mulai terganggu itu.


Cara satu-satunya agar bisa hidup tenang hanya dengan mencari putrinya - Kimberlyn dan mengancamnya untuk membantu Hendra juga membiayai hidupnya.


CEO besar seperti Kimberlyn pasti akan takut jika tersiar kabar buruk dia membuang ibunya sendiri.


.


.


Sean dan Linny masih berada di dalam pesta. Linny mengajak Santo berbicara berdua saat Sean sedang asyik berbincang dengan Wisnu Negara. Wisnu Negara sangat menyukai Sean yang tampak pintar dan pekerja keras. Dia bahkan tak segan memberi kiat untuk lebih sukses lagi.


"Bisa kau bantu cari tau apa cairan ini?"  Tanya Linny pada Santo.


Linny menyerahkan botol cairan itu pada Santo.


"Baiklah. Akan aku carikan. Ah ya, besok akan aku kirimkan semua informasi tentang Hendra. Aku sudah selesai menyelidikinya"  Ucap Santo sambil menerima botol cairan itu.


"Terima kasih. Ayo kembali sebelum Sean dan Papa mu sadar kita terpisah"  Ucap Linny.


Santo dan Linny kembali bergabung dengan Sean juga Wisnu Utama. Sedangkan Celly -kekasih Santo tampak baru kembali dari kamar kecil.


Mereka berbincang ringan hingga acara selesai dan mereka kembali ke rumah masing-masing.


.


.


.


Pagi itu Sean dan Linny berangkat ke kantor bersama. Linny memimpin meeting penting di temani Sean dan Sisilia.


Mereka tampak begitu fokus dan serius. Hingga mendekati waktu makan siang Sean memilih memesan makanan pesan antar untuknya, Linny juga Sisilia.


Mereka berkumpul di ruangan Linny sambil berbincang dan tertawa hingga salah satu pengawal terdengar marah di luar ruangan.


"Ada apa itu?"  Tanya Linny pada Alfa.


Alfa segera mengecek dan melihat ternyata Hendra dan Sisca Natalie datang membuat onar.


Linny membiarkan kedua tamu tak di undang itu masuk ke ruangannya.


Mata Hendra dan Sisca Natalie tentu semakin kagum dan yakin Linny seorang CEO besar.


Sisca Natalie berjalan hendak mendekat dan memeluk Linny namun Linny menjauhinya.


"Jangan menyentuhku atau kau akan merasakan akibatnya!"  Ucap Linny dengan tegas.


"Kau! Sifat apa ini! Berani sekali kau begitu pada Ibu kandung mu! Kau itu anak ku! Apa pantas kau bersikap begitu?!"  Tegas Sisca Natalie kesal.


"Oh ya? Sejak kapan aku anakmu. Kau sendiri yang membuang ku"  Ucap Linny lagi.


"Kim! Kau benar kurang ajar"  Ucap Hendra menghardik dan hendak menampar Linny.


Sean langsung memarahi Hendra dan mendorongnya menjauh.


"Jangan coba-coba menyentuh CEO Kim atau kau akan berhadapan dengan ku!"  Tegas Sean dengan penuh amarah.


"Pergi dari sini sebelum kalian di seret oleh satpam!"  Ucap Sisilia menambahi.


Sisilia memang sangat tidak menyukai kehadiran dua manusia laknat itu.


"Kim! Kau jangan lupa aku masih ibu mu! Seharusnya kau menyambutku dan wajib merawatku! Apa ini sikap seorang anak berbakti? Bagaimana bisa seorang CEO besar tidak bermoral seperti mu!"  Ucap Sisca Natalie.


Linny malah tertawa mendengar ucapan Sisca Natalie yang menyebut soal kewajiban dan moral.


"Sejak kapan aku wajib merawat orang yang mencampakkan ku sejak kecil. Aku membangun usaha ini dari 0 dan dengan keringat ku tanpa sepeser uang pun dari mu. Jadi jangan harap bisa memiliki apa pun dari ku. Ah aku paham sekarang kau datang karena melihatku memiliki semua ini bukan? Sayangnya kau tidak akan pernah bisa mendapatkan itu. Karena milikku hanya milik Sean"  Ucap Linny dengan tenang dan nada mengejek.


Hendra dan Sisca Natalie semakin berang tentu mereka tidak terima dan tidak akan membiarkan Linny memberikan hartanya untuk orang lain. Sisca Natalie merasa dia lah yang paling berhak di antara semua orang. Dia adalah ibu kandung Linny dan memiliki darah yang sama.


"Kau mau memberikan aset mu untuk Gay menjijikkan itu? Astaga kau benar bodoh"  Ucap Hendra mengejek.


Sean terkejut Hendra bisa mengatainya seperti itu namun Linny tetap bersikap tenang tidak terprovokasi.


Hendra mendengar kabar burung itu dari beberapa temannya yang bisex jika Sean adalah pelanggan tetap bar madam pelangi dan seorang gay meskipun mereka tidak bisa memberikan bukti tentang itu.


Hendra tidak peduli itu benar atau tidak yang penting dia bisa mencaci maki dan menjatuhkan mental Linny saat itu.


Namun sayangnya Linny masih santai dan tidak terprovokasi atas ucapan Hendra.


"Lebih baik aku memberikannya pada Gay yang mampu menjaga ku seperti keluarga dari pada orang yang katanya keluarga tapi jauh lebih biadab dari pada musuh asli"  Ucap Linny dengan santai.


"Kau! Jangan coba-coba melakukan hal tanpa seizinku. Aku ibu mu dan apa pun itu harus seizinku. Gay itu hanya mengincar harta mu bodoh!"  Ucap Sisca Natalie semakin marah.


"Oh ya? Dia yang mengincar harta ku atau kalian? Oh ya ingat satu hal lagi kalau sepertinya aku tidak pernah ada dalam kartu keluarga mu dan dalam kartu keluarga ku juga tidak ada namamu. Kedua orang tua ku sudah mati jadi tidak ada yang bisa mengganggu gugat apa pun keputusanku"  Ucap Linny dengan santai menanggapi Sisca Natalie.


"Kau!!! Kau berani-beraninya mengatakan ibu mu sudah mati???" Ucap Sisca Natalie dan hendak menampar Linny.


Sayangnya sebelum bisa menampar Linny tangan Sisca langsung di cekal dan di hempas oleh Sean.


"Sedikit saja kalian berani menyentuh CEO Kim maka akan aku pastikan kalian akan hidup lebih menderita di banding neraka!"  Ucap Sean yang sangat geram pada tingkah dua manusia yang tak tau malu itu.


"Jun - Alfa. Seret dua manusia ini keluar dari gedung dan blacklist mereka. Jika berani menerobos pukul saja"  Ucap Linny dengan santai.


Mata Hendra dan Sisca Natalie membola terkejut mendengar perkataan Linny yang begitu tega mengusir mereka dengan tidak hormat.


"Kau akan menyesal! Akan aku katakan pada publik kalau kau itu sudah tega dan kurang ajar pada ibu kandung mu sendiri!"  Ucap Sisca Natalie yang masih tidak terima di usir Linny.


"Silakan. Aku tunggu ya. Jangan lupa foto wajah mu di buat sesedih mungkin agar lebih seru"  Ucap Linny dengan mengejek.


Hendra dan Sisca Natalie pun di usir paksa oleh para pengawal Linny.


Akhirnya ruangan itu lebih tenang. Sean memeluk Linny dan menguatkannya.


"Aku tidak apa-apa. Oh ya. Sisil. Panggil Andrean. Kita harus memperjelas masalah ini. Aku tidak mau wanita menjijikkan itu mengambil apa pun milikku dan mengacau semua rencanaku"  Ucap Linny yang khawatir Sisca Natalie akan berusaha mengambil asetnya dengan dalih ibu kandung.


Karena pada faktanya memang Sisca Natalie masih ibu kandung dan wali sahnya Linny. Linny harus segera mengubah hal itu agar Sisca Natalie tidak berhak atas apa pun yang ada padanya dan Nicolas.


"Baiklah" Ucap Sisilia yang langsung menelepon Andrean.


Sean menatap Linny dengan dalam. Dia yakin Linny begitu kesulitan dan terganggu dengan tingkah kedua orang tadi.


.


.


.