
Ponsel Sean berbunyi, tampak pesan masuk dari Linny.
' Makan siang di luar yuk?? ' -Tulis Linny-
Sean tersenyum, dia baru selesai meeting lanjutan tadi langsung menuju ruangan Linny.
Lebih baik langsung menemui wanita yang sudah membuat hatinya selalu berbunga dari pada hanya berbicara melalui chat.
Baru saja Sean mau mengetuk pintu Linny, tampak wanita itu sudah keluar dari ruangan dengan menenteng tasnya.
"Ayo jalan, kita makan seafood di pelabuhan" Ucap Linny tanpa menunggu persetujuan Sean.
Haaaa... Memang wanitanya itu sungguh tidak bisa di tebak, lokasi pelabuhan dari kantor cukup jauh, butuh waktu satu setengah jam untuk tiba di sana.
Sepertinya sebentar lagi Sean akan berubah status dari manager pemasaran menjadi manager pribadi Linny.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Linny heran melihat ekspresi Sean yang mengulum seyumnya.
"Tidak. Aku hanya senang bisa makan di luar bersama mu" Ucap Sean dengan lembut.
"Lebay banget! Cepatlah supir dan bodyguard sudah menunggu di lobby" Ucap Linny masuk ke dalam lift.
Mereka turun menuju lobby dan benar saja, mobil Linny sudah menunggu. Linny segera masuk ke dalam mobil di ikuti Sean.
Tampak sepasang mata menatap heran ke arah Linny yang masuk ke dalam mobil dengan seorang pria.
"Kimberlyn??", pria itu masih tidak menyangka apa yang dia lihat.
.
.
Sepanjang perjalanan Linny memainkan ponselnya. Sean yang merasa bosan mengajak Linny berbicara.
"Sibuk?" Tanya Sean penasaran.
"Ah tidak juga. Hanya lagi lihat-lihat ini" Linny menunjukkan layar ponselnya.
"Ini? Kau mau ganti mobil??" Tanya Sean heran.
Linny sedang melihat-lihat rekomendasi mobil berlambang segitiga.
"Hadiah untuk William dan Sisilia, sebentar lagi pertunangan mereka. Jika tidak di pesan sekarang nanti tidak keburu" Ucap Linny.
Sean cukup kagum dengan Linny yang royal kepada orang-orang yang baik dan setia kepadanya.
Belakangan Sean juga baru tahu, Linny bahkan mengalihkan nama pemilik bangunan Bar RB untuk Eka, juga membelikannya sebuah apartemen sederhana di dekat Bar RB. Tidak hanya itu, adik Eka yang sudah akan masuk kuliah juga mendapat biaya dari Linny.
"Ada apa sih? kenapa senyum-senyum terus! Dari tadi kau aneh begitu" Ucap Linny heran.
"Enggak, hanya semakin mengenal mu membuatku semakin terkejut. banyak hal yang baru aku ketahui tentang mu" Ucap Sean jujur.
"Kau belum tahu semuanya. Aku juga kejam. Jangan lupakan hal itu!" Jelas Linny tidak peduli .
" Aku tahu hal itu" Jawab Sean.
Sepanjang perjalanan Sean dan Linny membahas masalah produk baru juga beberapa hal lain mengenai pemasaran semua aspek produk milik perusahaan Linny.
Sean tampak mempelajari semua hal tentang perusahaan Linny, Sean juga menyarankan berbagai cara promosi untuk lini usaha perusahaan.
"Kalau aku mengangkat mu sebagai Kepala Manager gimana?" Tanya Linny pada Sean.
Sean menatap Linny dengan pandangan heran.
"Apa maksud mu? " Tanya Sean.
"Kemarin aku sudah membahas dengan Andrean dan Sisilia agar mengangkat mu menjadi kepala dari seluruh divisi pemasaran perusahaan. Jadi kau yang akan membawahi semua manager pemasaran yang ada di perusahaanku" Ucap Linny dengan santai.
"Kenapa aku? Bukannya semua manager pemasaran harus melapor dan menjadi bawahan asistenmu? Andrean bukan yang bertanggung jawab atas hal itu?" Tanya Sean heran.
"Pekerjaan Andrean akan semakin bertambah, aku sedang melakukan proyek lainnya. Dan juga aku yakin kau sangat kompeten dalam menangani pemasaran" Jelas Linny.
Memang bukan tanpa alasan Linny menginginkan Sean menggantikan tugas Andrean khusus memimpin manager pemasaran, selain untuk meringankan pekerjaan Andrean yang harus bolak balik luar negeri, juga Linny tahu bahwa Sean sangat cocok dan pantas menjabat bagian itu.
"Aku akan mengikuti apa pun keputusan mu, selama itu bisa membantu mu dalam perusahaan maka aku siap" Sean menjawab dengan penuh keyakinan.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam di tambah kemacetan ibu kota, mereka tiba di sebuah restoran seafood yang berdekatan dengan pelabuhan.
"Ayo turun" Ucap Linny yang langsung turun tanpa menunggu bodyguard-nya membukakan pintu mobil.
Sean dan bodyguard serta supir pribadi Linny mengikuti langkah Linny masuk ke dalam restoran.
"Baik Nona Kim" Jawab kedua orang itu serempak.
Linny memilik duduk di meja yang menghadap ke arah pelabuhan. Sean menatap wajah Linny yang tampak memikirkan sesuatu dengan serius.
"Ada apa?" Tanya Linny yang menyadari Sean menatapnya terus.
"Tidak, kau sepertinya banyak pikiran" Ucap Sean.
"Lagi memikirkan strategi pengembangan proyek baru" Jawab Linny santai.
"Hm?" Sean tidak paham maksudnya Linny.
"Sudahlah, kau tak perlu terlalu banyak. Berbahaya untuk mu terlalu ikut campur" Ucap Linny.
Sean yakin Linny punya alasan sendiri jika tidak ingin membicarakan hal itu. Karena jika sudah siap Linny yang akan menceritakannya sendiri.
Seorang pelayan restoran mendekati meja Linny dan Sean.
"Maaf Tuan dan Nyonya, apakah sudah mau memesan?" Tanya pelayan itu dengan sopan.
"Ah iya. Kau mau makan apa Linny?" Tanya Sean sebelum memesan menu.
"Apa saja aku tidak ada pantangan. Sekalian juga pesankan untuk meja anggotaku" Ucap Linny.
Sean mengangguk mengerti lalu melihat sebentar isi menu yang ada.
"Mbak , Kalau gitu saya pesan udang mentega, kepiting saus padang, cumi pedas manis, ikan pari bakar dan sayurnya kangkung tumis terasi ya" Ucap Sean menyebutkan nama-nama menu pesanannya.
"Nasi putih dan minumnya Tuan?" Tanya pelayan itu lagi.
"Nasi putih untuk meja ini satu saja. Meja belakang sesuaikan dengan jumlah orangnya ya. Menu juga samakan saja. Kalau di sini teh pahit hangat dua. Kalau untuk meja belakang coba tanyakan mereka mau minum apa" Ucap Sean menjelaskan.
"Baik Tuan. Mohon ditunggu lebih kurang 30-45 menit untuk pesanannya terhidang" Ucap pelayan itu dengan sopan.
Sean membalas perkataan pelayan itu hanya dengan senyuman.
Linny tampak masih sibuk dengan ponselnya. Wajahnya sangat serius. Sean menyadari banyak hal yang menjadi pikiran dari Linny. Meskipun dia tampak santai dan hidup semaunya, tapi Linny banyak melakukan gebrakan dalam bisnisnya.
Buktinya di usia yang baru awal 30-an. Seorang Linny sudah menjadi CEO sebuah perusahaan besar dan di segani banyak pebisnis lainnya.
Bahkan di saat Linny masih berada di belakang layar. Jika orang mendengar kalimat CEO Kim dari FP Corporation maka orang-orang sudah segan.
Ponsel Linny berbunyi, Linny tampak mengangkat teleponnya.
"Halo Om"
"..."
"Ah aku sedang di daerah pelabuhan. Om dimana?"
"..."
"Baiklah nanti aku akan ke sana setelah makan. Kamar berapa?"
"..."
"Oh. Okey om. See ya"
"..."
Linny mematikan panggilan itu.
Sean menatap Linny dengan raut wajah yang tampak cemburu. Pikiran Sean sudah bercabang ke mana-mana.
' Dia masih sering berhubungan dengan om-om random ternyata' Batin Sean merasa kecewa.
Selama ini Sean berharap Linny menjadikannya satu-satunya pria yang bisa menemani Linny di ranjang.
Makanan pesanan mereka sudah terhidang. Keduanya segera menyantap makanan yang ada. Namun Sean tampak tidak begitu berselera.
Melihat hal itu membuat Linny heran. Padahal tadi Sean sangat bersemangat memesan banyak makanan itu.
"Kau kenapa?"
.
.
.