A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Semakin Lengket...



Kapal pesiar milik Linny sudah kembali berlabuh di pelabuhan tanah air. Setelah acara pesta sekaligus liburan singkat itu, seluruh tamu kembali ke rumah masing-masing dan mengerjakan aktivitas masing-masing. Termasuk juga Sean dan Linny juga sahabat mereka.


Sean tampak semakin menempel dan posesif pada Linny, terlihat bagaimana caranya memeluk pinggang Linny tak ingin lepas.


"Yang pengantin baru kalah nih sama yang bucin tak tertolong"  Ucap Danu meledek.


"Maklum dong yang udah bener servernya setelah sekian lama error"  Lanjut Doni.


"Duh aku jadi pengen bisa sebebas itu. Ya kan sayang?"  Ucap Aston pada Eka.


Eka tampak tersenyum malu-malu. Bukan tidak bisa Aston se-bucin itu memperlakukan Eka, hanya Eka selalu menolak dan malu jika Aston terlalu memanjakannya di depan umum.


Sean tampak tidak peduli dengan ejekan sahabat-sahabatnya. Dia kini sangat bahagia bisa bersama Linny sepanjang waktu dan menunjukkan kedekatan mereka tanpa ragu.


"Kau akan ke perusahaan langsung atau besok saja Linny?"  Tanya Andrean sebelum berpisah menaiki mobil masing-masing yang sudah menunggu.


"Aku mau mandi dulu di penthouse setelah itu ke kantor. Kau duluan lakukan meeting saja dengan manager-manager mu itu. Setelahnya nanti laporkan"  Ucap Linny.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan langsung ke kantor"  Ucap Andrean lalu terlebih dahulu menuju mobil di kawal oleh beberapa bodyguard.


Masing-masing kini berpisah untuk melanjutkan aktivitas mereka.


Akhirnya Linny dan Sean tiba di penthouse. Seperti tak ingin lepas dari Linny, Sean memilih mandi bersama dengan Linny.


Catat :  Hanya mandi bersama.


Linny pun tampak tidak keberatan, terlebih Sean memperlakukannya dengan baik dan me-ratukan dirinya di setiap kesempatan.


Selesai mandi keduanya langsung berangkat menuju perusahaan milik Linny. Sepanjang langkah menaiki lift bahkan masuk ke ruangan pun tetap saja Sean merangkul posesif pinggang Linny.


Banyak mata memperhatikan kedekatan keduanya. Meskipun sudah lama karyawan-karyawan itu berspekulasi tetap saja sikap Sean pada Linny hari ini menjadi sebuah pemandangan luar biasa dan menarik pada penggosip di kantor itu.


Tentunya group chat di kantor menjadi ramai akan pembicaraan tentang Sean dan Linny,


 A : Wah, lihat-lihat CEO kita dan Pak Sean. Gila mesra banget!


 B : Iya sepertinya benar deh mereka punya hubungan khusus.


 D : Lebih tepatnya mungkin mereka beneran sudah menikah. Kau lihat saja Pak Sean begitu posesif.


 F : Kira-kira siapa yang duluan jatuh cinta ya?


 J : Sudah pasti Pak Sean. Siapa sih yang bisa tahan dengan pesona CEO kita. Bahkan pemilik perusahaan lain yang sudah punya dua istri saja masih tergila-gila dengan CEO.


 L : Nah sudah aku bilang apa. Mereka itu pasangan! Terbukti kan?


 A : Iya-iya heboh banget kau ini!


 C : Tapi kenapa mereka enggak pernah umumkan hubungan resmi ya?


 D : Iya juga ya. Heran sih. Padahal bukan masalah besar kalau di umumkan. Masa Pak Sean enggak mau kalau mereka resmi umumkan hubungan. Kagak takut apa CEO kita di incer yang lain?


 E : Hei bubar-bubar. Bu Sisil datang tuh. Sepertinya laporan bermasalah. Semua di suruh kumpul!


 F : Waduh, pengantin baru sungguh mengerikan auranya.


 K : Ssstttttt. Udah ayo kerjakan kerjaan masing-masing!


Para karyawan yang bergosip ria itu pun berhenti dan fokus pada pekerjaan mereka sebelum mereka mendapat teguran keras.


Sedangkan di ruangan CEO tampak Sean sedang membantu Linny membaca semua berkas agar tidak ada yang luput dari perhatian Linny.


Ditinggal beberapa hari membuat banyak berkas yang harus Linny tanda tangani dan teliti kembali. Dia tidak ingin jika dirinya lupa dan teledor yang bisa menyebabkan kerugian bagi perusahaan.


"Masih banyak?"  Tanya Linny yang mulai lelah.


"Lumayan. Kau ingin istirahat dulu?"  Tanya Sean yang paham Linny kelelahan. Baru saja kembali dari liburan singkat tentunya tubuh Linny bisa lelah.


"Sedikit. Kepalaku mulai enggak enak"  Ucap Linny sambil memijit keningnya.


Sean langsung bangkit dan menarik Linny agar tiduran di sofa beralaskan kedua paha Sean.


"Kenapa?"  Tanya Linny namun dia masih saja menurut saat Sean membaringkan tubuhnya.


Linny tampak begitu nyaman di perlakukan begitu oleh Sean. Wajah Sean tersenyum melihat Linny yang tidak menolak perlakuannya. Namun sedetik kemudian Sean kembali teringat masalahnya dengan Erik yang belum selesai.


Sean belum sempat membaca isi pesan yang ditulis Linny pada Erik.


"Linny. Boleh aku bertanya?"  Tanya Sean penasaran.


"Ada apa?"  Tanya Linny tanpa membuka matanya.


Dirinya masih terpejam menikmati pijatan lembut di kepalanya.


"Kemarin apa yang kau tulis? Erik sampai tidak menggangguku sepanjang waktu kita di kapal"  Tanya Sean yang memang penasaran.


"Oh. Aku bilang akan menemuinya weekend ini di bar madam pelangi"  Ucap Linny dengan santai.


Mata Sean membola terkejut. Sean tidak habis pikir Linny bahkan tahu bar madam pelangi dan membiarkannya menemui Erik di sana.


Tangan Sean berhenti memijit kepala Linny hingga membuat mata Linny terbuka dan menatap Sean.


"Kenapa?"  Tanya Linny lalu bangkit dan duduk di samping Sean.


"Aku tidak ingin menginjak tempat itu lagi"  Ucap Sean merasa tidak nyaman jika harus ke tempat penuh dengan orang-orang yang sejenisnya dulu.


"Tenang. Aku akan ikut. Kita harus selesaikan apa yang ada. Jangan di biarkan kalau tidak dia akan semakin gila!" Ucap Linny tegas.


Sean menatap Linny, dia masih merasa ragu dan takut harus datang ke tempat itu lagi. Dia paham sekali tempat itu penuh orang-orang madam Rain -pemilik bar itu. Bisa jadi malah Sean kembali di jebak untuk masuk bersama mereka lagi.


"Kau meragukanku?"  Tanya Linny saat melihat wajah Sean yang tampak kaku dan menyembunyikan rasa takut.


"Bukan. Hanya saja---"


Belum sempat Sean berbicara, Linny langsung menciumnya.


"Percayalah. Aku bukan seperti mantan mu ataupun keluarga mu yang akan membiarkan mu lemah sendirian dan diinjak. Jangan pernah sekalipun meragukan kegilaanku jika aku sudah bertindak"  Ucap Linny sambil tersenyum smirk.


"Linny..."  Sean merasa benar-benar beruntung bisa mengenal Linny.


Meskipun Linny terkadang kasar dan dingin. Tapi Linny selalu menolongnya dan menepati perkataannya.


"Jangan ragu. Kau harus hadapi mereka jika kau ingin bebas dari cengkeraman gila mereka"  Ucap Linny serius.


Sean hanya mengangguk mengikuti perkataan Linny. Memang benar dia tidak bisa menghindar dari Erik lebih lama lagi. Pria muda itu sangat nekat dan gila.


"Malam ini mau ke pasar malam?"  Tanya Sean pada Linny.


"Pasar malam?"  Tanya Linny heran.


"Aku ingin mengajak mu kencan di tempat itu. Banyak sekali jajanan kuliner di sana"  Ucap Sean.


"Kuliner?"  Tanya Linny menimbang ajakan Sean.


"Iya. Mau?"  Tanya Sean lagi.


"Baiklah. Ayo selesaikan pekerjaan hari ini. Ah tapi kita harus menemani Nicolas dan Ayu makan malam terlebih dahulu"  Ucap Linny yang baru ingat janji makan bersama dengan Nicolas dan Ayu.


"Tidak masalah. Asal jangan terlalu kenyang biar nanti kita bisa puas mencicipi jajanan lokal di pasar malam"  Ucap Sean.


Linny mengangguk setuju dan kembali fokus dengan berkas-berkas yang banyak dan menumpuk itu. Hingga waktu menunjukkan pukul 5 sore, keduanya baru selesai dengan berkas-berkas itu.


Linny meregangkan tubuhnya yang kaku. Sean tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Terima kasih. Aku mencintaimu"  Ucap Sean tiba-tiba.


.


.


.


Silahkan di follow IG Visual Karakter @lunagelim.author