Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Gila bersama



Dua puluh menit kemudian, berpuluh-puluh polisi datang dengan memakai seragam tempur lengkap dan beberapa penembak jitu, polisi dengan hati-hati mulai bergerak perlahan memasuki gedung mall sedangkan penembak jitu memisahkan diri untuk mencari posisi yang tepat, Alexander turut di dalam rombongan polisi itu.


Pria pembuat onar itu tampak kalap dan ketakutan ia mengancam akan membunuh wanita yang di sanderanya, namun beruntungnya wanita yang di todong pistol dikepalanya itu tidak panik, ia hanya memejamkan matanya sambil berlinang air mata, melihat wanita yang di sandera itu bukanlah Prilly, Alexander merasa lega.


Tidak berapa lama pria itu tersungkur di lantai karena peluru yang tembakkan oleh seorang penembak jitu tepat mengenai lengannya. Alexander segera menghubungi Harun melalui ponselnya untuk memastikan keberadaan Prilly, Alexander dengan langkah panjang segera mencari keberadaan Harun, ternyata Harun berada tidak jauh dari tempat itu.


“Harun!” Suara Alexander membuat Harun terperanjat dengan ekspresi salah tingkah karena nyonya kesayangan tuannya berlindung di belakang punggungnya sambil menggenggam erat bagian pakaian belakangnya.


“Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kau ketakutan? Apa kau terluka?” Alexander langsung merengkuh Prilly ke dalam pelukannya. Ia bahkan mengabaikan Jovita yang berada di samping Prilly, kedua wanita itu berlindung di belakang punggung Harun. Meskipun postur tubuh Jovita jauh lebih tinggi dan besar di banding tubuh Prilly, faktanya Prilly lebih terlihat di mata Alexander.


Jovita mengepalkan telapak tangannya, semua perkataan Charles benar adanya. Mereka diam-diam telah bermain di belakang punggungnya.


“Ayo kembali, keadaan telah aman, maafkan aku, aku tidak tahu akan menjadi seperti ini.” Sesal Alexander.


“Tidak, tidak masalah, aku hanya merasa seluruh tubuhku lemas,” erang Prilly yang merasakan seluruh tubuhnya kehilangan tulangnya.


“Harun... sejak saat ini kuperingatkan kau, jaga jarak dari Prilly, kau hanya di izinkan berada dalam radius tiga meter setiap kali menjaga Prilly,” ucap Alexander dengan nada sangat dingin kepada Harun.


Harun mengernyit, bosnya pasti telah sinting, ia bahkan melindungi kedua istri bosnya dengan tubuhnya agar tidak terkena peluru dari penembak yang membabi buta dan kini ia justru terkena amarah? Bossnya tidak masuk akal dan sinting! Untuk pertama kali Harun mengatai dalam hatinya bossnya itu sinting dan tidak tahu berterima kasih.


“Saya mengerti, Sir.” Harun menjawab dengan patuh meski dalam hatinya mengatai Alexander sinting.


“Sekali lagi kau terlalu dekat, bonus akhir tahun dan cutimu akan kuhanguskan,” ujar Alexander.


“Maafkan saya, Sir,” kata Harun meski dalam hatinya terus mencibir bosnya yang di anggap sinting.


“Harun, jangan dengarkan dia,” kata Prillly yang telah berada di gendongan Alexander dengan gaya Bridal style tanpa mempedulikan semua mata yang kini tertuju pada mereka.


“Hu... A-Alex, turunkan aku, semua orang melihat ke arah kita,” kata Prilly lirih.


“Kau mengatakan kau lemas bukan?” tanya Alexander dengan nada penuh kasih sayang.


“Aku masih bisa berdiri,” ucap Prilly sambil sedikit memberontak hendak turun.


“Tidak, aku tidak mengizinkanmu berjalan,” jawab Alexander tegas.


“Jadi, kalian memang dalam hubungan terlarang?” tanya Jovita yang sedari tadi menyaksikan betapa Alexander memperlakukan Prilly seperti seorang putri. Akhirnya wanita itu angkat bicara, ia merasa wajahnya telah begitu panas, bukan hanya marah, ia juga malu. Ia a adalah istri Alexander, tetapi di depan umum, di tengah ratusan bahkan mungkin ribuan mata yang memandang, suaminya justru lebih menghawatirkan wanita lain dan menggendong wanita itu.


Alexander mengernyit, ia benar-benar melupakan keberadaan Jovita di antara mereka, ia bahkan tidak ingat dan tidak melihat ada Jovita di sana.


“Harun, kau urus Jovita, antar dia kembali,” kata Alexander memerintahkan Harun. “Jovita kita akan berbicara nanti.”


“Prilly, aku tidak menyangka kau benar-benar tega kepadaku, kalian membohongiku." Jovita masih berusaha mengontrol suara dan emosinya agar tidak meledak.


“Jangan salahkan Prilly, aku yang mengejarnya hingga dia tak bisa melarikan diri,” kata Alexander dengan nada sangat lembut, ia bahkan mengecup pucuk kepala istrinya. Sementara Prilly, wanita itu lebih baik menyembunyikan wajahnya di dada Alexander, ia malu karena ia tahu semua mata kini tertuju kepadanya, ia ketakutan karena besok pasti seluruh masyarakat di London akan mencemoohnya sebagai wanita yang merebut suami wanita lain, dan parahnya pria itu mantan suaminya sendiri.


“Hubby, kau keterlaluan, semua orang akan mencemooh kita dan aku pasti akan menjadi bahan gunjingan di seluruh kota,” gerutu Prilly ketika mereka telah berada di dalam mobil.


Alexander tak mempedulikan omelan istrinya ia mengambil ponsel yang berada di dalam saku celana kain yang dikenakannya.


“Bungkam semua media yang berani memberitakan dan mengambil fotoku dan Prilly, jika masih ada yang berani memasukkan ke dalam berita, bangkrutkan mereka bagaimanapun caranya,” kata Alexander dengan nada dingin kepada seseorang, entah siapa itu.


“Kau puas, Nyonya Johanson?” tanya Alexander setelah ia selesai berbicara.


“Tidak, aku tidak puas, meskipun semua media bisa kau bungkam tapi tetap saja semua orang yang telah melihat kita tadi akan menggunjingkan kita,” keluh Prilly dengan nada khawatir, citra baiknya pasti akan hancur berkeping-keping. Sandra ibunya akan semakin marah, juga Anthony, mereka berdua adalah pasangan menakutkan bagi Prilly.


“Kenapa kau sangat peduli pada perkataan orang sayang?” Alexander mendekati wajah istrinya, mengecup bibirnya dengan lembut.


“Aku, aku takut mereka mengataiku,” erang Prilly lirih.


“Tidak perlu ada yang di takutkan, kita akan melalui ini bersama, kita saling mencintai, jangan pedulikan perkataan orang lain.”


“Kau pemaksa, kau selalu tidak sabar, seharusnya semua berjalan sesuai rencana,” keluh Prilly.


“Kau membuatku nyaris gila, kau tahu? Begitu membaca berita, jantungku terasa terlepas dari rongga dadaku, aku bahkan tidak melihat Jovita di sana, otakku penuh denganmu.” Alexander mengatakan hal yang sebenarnya.


“Kau berlebihan,” kekeh Prilly sambil memegangi dada Alexander dengan sebelah tangannya.


“Nyonya Johanson, aku mencintaimu dan aku nyaris di buat gila karena mencintaimu, apa yang kau lakukan padaku? Hmmmmm?” geram Alexander, bibir mereka sangat dekat bahkan kening mereka telah bersatu.


“Kalau begitu ayo kita gila bersama, aku juga mencintaimu hingga nyaris gila,” erang Prilly lirih.


Penuh cinta dan kelembutan, biibir mereka bertaut, lidah mereka saling membelit dalam ciuman mesra yang memabukkan, ciuma penuh cinta yang perlahan-lahan menjadi penuh gairah yang berapi-api, ciuman yang berubah menuntut ke hal-hal yang lebih dari hanya sekedar ciuman. Erangan-erangan halus mulai terlepas di bibir Prilly, apalagi jemari Alexander berada di bawah perut Prilly, dia antara kedua pahanya.


Prilly semakin membuka kakinya agar jemari Alexander bebas menari di sana hingga Prilly mendapatkan puncaknya.


“Hubby,” erang Prilly. “Ayo kembali,” pintanya.


“Aku ingin melakukan di sini,” geram Alexander.


“Jangan konyol, kita masih di mobil,” protes Prilly dengan suara tertahan.


“Kita belum pernah mencobanya, Sayang.” Alexander memundurkan kursinya dan memindahkan Prilly di atas pangkuannya, sangat pelan dan lembut, ia membiarkan Prilly memimpin permainan. “Berhati-hatilah, jangan sampai mobil ini bergoyang.”


TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤


DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE JIKA KALIAN SAYANG AUTHOR ❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤